
Kartika datang ke sekolahan anak Kanaya yang juga satu sekolah dengan anaknya. Dia melihat ada mobil hitam yang sedikit mencurigakan karena terlihat sekali mereka seperti memperhatikan anak-anak yang keluar dari sekolah. Dia langsung masuk ke dalam gerbang sekolah mencari anaknya dan juga anak-anak Kanaya.
"Raisya, kamu disini dulu ya sama Raniya. Mama mau jemput Revan dulu".
"Revan dikelas berapa Raniya? " tanya Kartika ke Raniya.
"Kelas satu B tante. Biasanya dia nunggu di perpustakaan main sama Akbar anaknya pak Ryan wali kelas Revan" kata Raniya santai. Memang Revan tidak langsung pulang ke rumah setelah jam sekolahnya selesai. Dia bermain dengan Akbar dulu, bermain sekalian belajar. Dia menemani Akbar yang harus menunggu ayahnya selesai mengajar dan pak Ryan sangat senang Revan mau menemani anaknya. Memang Revan murid yang pintar, apalagi sekarang dia suka menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca bersama Akbar. Membuat dirinya jauh lebih pintar dari anak seusia dirinya. Meski Revan dan Akbar beda kelas tapi mereka sangat akrab.
Kartika melihat Revan berjalan dengan seorang pria yang berpakaian rapi. Wajahnya yang penuh kharismatik, dengan sedikit jambang di pipi nya membuat dia terlihat begitu seksi. Membuat Kartika terpesona, tubuhnya seperti dialiri listrik yang membuat darahnya seakan mendidih saat mata keduanya saling beradu pandang. Desiran lembut menelusuk ke dalam kulitnya, mungkin karena kelamaan menjanda kali ya jadi kaya begini.
"Kalau begini ceritanya, nggak mau aku menjanda terus".
"Gila ganteng banget sih, yuk halalin aku bang" serunya dalam hati.
"Tante Tika" sorak Revan sambil melambaikan tangan ke arah Kartika. Dia pun tersenyum ke arah mereka yang sedang berjalan mendekati Kartika. Degup jantungnya berirama tidak karuan, dia jadi merasa tegang. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.
"Permisi, saya disuruh mamanya buat jemput Revan pa" Kartika berbicara dengan wali kelas sambil menahan rasa groginya.
"Iya bu silahkan, saya juga sudah mau pulang" kata si pak guru.
"Terimakasih sudah menjaga anak teman saya pa" basa basinya yang terasa canggung diantara keduanya. Kartika mengulurkan tangan untuk berjabat tangan namun si pak guru langsung menangkupkan kedua tangannya.
"Maaf belum halal" ucap nya yang langsung membuat Kartika terkejut.
"Maaf, maksud saya bukan muhrim" si pak guru seperti salah tingkah karena telah salah berbicara. Kartika yang merasa bingung langsung menggandeng tangan Revan dan pergi meninggalkan si pak guru tanpa pamit dahulu.
Kartika berpikir, apakah si pak guru punya kekuatan telepati yang bisa membaca pikiran orang? Saat dia berucap minta halalin dan si pak guru berkata belum halal. Kartika tersenyum malu-malu mengingat ucapan si pak guru tadi. Tak menghiraukan anaknya, Randy dan Raniya yang mengekorinya di belakang.
"Ma, kenapa senyum-senyum sih? ".
"Mama kesurupan ya" Raisya berbicara kepada mamanya.
"Kamu itu berisik Raisya. Mama kamu lagi jatuh cinta" ucap Randy yang langsung menyadarkan Kartika.
"Ah, nggak apa-apa kok" ujar Kartika kemudian melihat ke arah kaca mobil di depan, dia melihat wajah Randy yang asyik memainkan handphonenya.
"Dasar, Kanaya versi cowok ternyata jauh menyebalkan" gerutu Kartika dalam hati. Dia kemudian menepuk dahinya karena telah melupakan urusan Kanaya. Dia segera melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Kanaya.
Sesampainya disana dia terkejut melihat Giselle yang tengah duduk memandangi taman di depan rumah, kartika hanya tersenyum kepadanya dan langsung masuk ke dalam. Anak-anak langsung berlarian masuk ke dalam rumah.
"Mungkin adik ipar Kanaya, adiknya aja cantik pasti suaminya ganteng. Beruntung banget sih tu bocah" ucapnya dalam hati. Dia melihat mama Kanaya tengah mengobrol dengan seseorang yang tidak dia kenal.
__ADS_1
"Tante" Kartika kemudian menyaliminya dan menyalimi Niki.
"Ada yang ingin aku bicarakan, om mana ya tan? " tantenya lagi.
"Om lagi keluar melihat-lihat pabrik sambil ngajakin suami Naya, mertuanya dan juga opanya" kata mama Kanaya tersenyum.
"Owh.... " respon Kartika.
"Memang apa yang mau dibicarakan?" tanyanya mama Kanaya.
"Kanaya diculik tan" membuat mama Kanaya terkejut dan Niki pun langsung menegang.
"Siapa yanh menculik Kanaya? Biar ku patahkan lehernya? " kata Niki yang penuh emosi setelah mendengar menantunya diculik.
"Tante siapa? " tanya Kartika yang bingung, seharusnya kan mama Kanaya yang membuat ekspresi seperti itu.
"Dia mertuanya Kanaya" kata mama Kanaya memperkenalkan Niki. Kartika pun mengangguk kepada Niki.
"Saya coba hubungi Kanaya dulu tan" ucapnya sambil menekan tombol panggilan. Panggilan terhubung namun tidak di angkat membuat mereka semua jadi sedikit panik. Kartika mencoba menghubungi kembali namun tetap tidak diangkat. Setelah panggilan yang Kelima baru tersambung.
"Halo" suara Kanaya menerima panggilan.
"Kamu dimana? Cepat katakan, biar aku susulin ke sana" ucap Kartika penuh khawatir.
"Aku baik-baik saja, semuanya nanti biar diurus sama bapa" kata Kanaya sedikit lemas.
"Syukur lah kalau begitu, kamu sudah memberitahukan bapamu. Kamu beneran baik-baik saja kan? " tanyanya yang masih khawatir mendengar suara lemah Kanaya.
"Sudah dulu ya, aku mau menemui bapa dulu" ucap Kanaya sebelum mematikan panggilan.
"Apa kata Kanaya tadi?" tanya Niki yang lebih antusias daripada mamanya. Memang Mira sifatnya cenderung lebih memendam perasaan yang ada di hatinya. Sedangkan Niki bertolak belakang, dia lebih mengekspresikan tentang apa yang dia rasakan.
"Kata Kanaya dia sudah menghubungi bapanya untuk menyelesaikan masalah ini" jawab Kartika membuat Niki dan mira merasa lega.
"Kalau Alfian sudah tau baguslah, biar rontok semua tulang yang berani menculik Kanaya itu nantinya" ucapan Niki membuat Kartika bingung. Siapa memangnya orang yang bernama Alfian?
"Memangnya Alfian siapa ya tante? " tanyanya penasaran ke Niki.
"Bapanya Kanaya" jawabnya santai.
"Bukannya om Hendry ya panggilannya tan" mama Kanaya ingin menjawab tapi Niki seolah melarangnya.
__ADS_1
"Itu panggilan sayangku buat mantan terindahku" jawab Niki asal membuat Kartika melongo karena terkejut. Setelah sekian menit batu dia sadar kalau kata-katanya tadi bisa menyinggung Mira.
"Hah, kamu percaya ya. hahahaha" tawanya membuat Kartika jadi heran.
"Dia abang angkatku".
"Kami dulu manggilnya Alfian, disini dia dipanggil Hendry" jelas Niki tapi Kartika hanya bergumam "owh" mungkin dia masih sedikit kurang paham.
"Sorry" bisik Niki ke Mira.
***
"Pa, sudah ku sharelock ya" Kanaya mengirim pesan ke bapanya.
"Ahmad, sudah kamu hubungi kan pa Rahmannya? " tanya Kanaya ke Ahmad.
"Sudah kak" jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu ikat tangan ku. Tapi jangan terlalu kuat, biar aku nanti bisa melawannya kalau dia berbuat kasar" Kanaya berpesan kepada Ahmad yang mulai mengikat tangan Kanaya.
"Longgar aja lo ka ikatannya? " kata Ahmad.
("Longgar kan ikatannya ka? ").
"Siip".
Terdengar suara deru mobil diluar gudang, menandakan ada yang baru datang. Mungkin itu mobilnya pak Rahman yang baru saja tiba. Ahmad membuka pintu gudang kemudian pak Rahman masuk bersama empat orang yang berpenampilan seperti preman. Namun salah satunya ada yang Kanaya kenal. Dia adalah pria yang pernah dihajarnya habis-habisan setahun yang lalu karena mencoba menculik dirinya.
"Wah Kanaya kok ada disini? " tanyanya basa basi.
"Maksud bapa apa sih? Kenapa jadi bapa mengurangi pembayaran tanah tersebut? " tanya Kanaya kesal.
"Bukan saya yang mengurangi, tapi bapamu sendiri. Aku mana berani, lagian itu kan proyek almarhum suami kamu bersama bapamu Kanaya" jelasnya kini yang menyalahkan bapanya.
"Huh... Omong kosong. Itukan permainan bapa sendiri, jadi tidak usah menyalahkan bapa saya".
"Darimana anda saya tahu kalau saya ada disini? ".
"Anda sendiri kan yang membuat skenario penculikan saya? " tanya Kanaya yang membuat pak Rahman geram. Dia selalu menganggap Kanaya sombong, tidak bisa diatur olehnya. Tidak mudah ditipu dengan kata-kata manis seperti ayahnya.
"Kalau iya memangnya kenapa? Lagian kamu juga bakal mati. Aku benci melihat kamu yang berkuasa di perusahaan. Seharusnya aku yang menggantikan posisi suami kamu itu" teriaknya marah, karena semua ambisinya sirna karena Kanaya. Sia-sia perjuangan dia untuk melenyapkan Radit dahulu, kalau pada akhirnya bukan dia yang memimpin perusahaan yang didirikan oleh Radit tersebut. Serakah, memang benar dia sangat serakah. Tidak hanya ingin mengambil perusahaan yang dikelola Kanaya, namun juga perusahaan milik bapanya Kanaya.
__ADS_1