
Adrian hanya bisa diam dan menatap penuh kasih sayang kepada Kanaya. Dia akan mengingat momen perjuangan Kanaya melahirkan saat ini sampai akhir hayatnya. Ternyata begitu sulit dan penuh proses yang menegangkan. Meski masa kontraksi yang dialami Kanaya terbilang sebentar dan tidak lama. Tapi Adrian sungguh merasakan ketakutan yang luar biasa. Dia takut akan kehilangan Kanaya seperti rekan bisnisnya baru-baru ini. Riko harus bersedih karena kehilangan istri dan anak kembarnya saat sang istri melahirkan. Hal itu diakibatkan oleh maminya Riko yang menginginkan istri Riko melahirkan secara normal. Meski dokter sudah meminta berulang kali agar dilakukan operasi sesar secepatnya. Riko yang panik pun langsung menandatangani surat persetujuan operasi. Namun segera diambil dan disobek oleh mamanya. Surat atas rumah sakit tidak akan bertanggungjawab jika terjadi sesuatu kepada istri Riko. Ditandatangani sang mami secara senang hati. Setelahnya ketiga orang itu pun meninggal dunia dan membuat Riko menjadi depresi kehilangan tiga orang yang sangat disayanginya sekaligus. Istri tercintanya dan juga anak kembar perempuannya.
Adrian bergidik ngeri jika Kanaya akan mengalami hal mengerikan seperti itu. Tapi Adrian tidak akan selemah Riko yang tak berdaya atas permintaan konyol maminya itu. Adrian berkali-kali mencium wajah Kanaya. Raut bahagia, khawatir serta takut bercampur jadi satu di wajah Adrian.
"Kenapa sayang?" Kanaya melepaskan pegangan tangannya dengan Adrian. Namun terkejut ketika melihat tangan suaminya merah karena cengkeraman kuat darinya.
"Tanganmu sakit sayang. Ma'afin aku" Kanaya mengusap tangan Adrian lembut. Vanya yang melihat komunikasi sepasang suami istri tersebut hanya tersenyum bahagia.
"Tidak apa-apa sayang. Sakit yang aku rasa ini tidak sebanding dengan apa yang kamu rasakan sekarang" Adrian mengecup pucuk kepala Kanaya. Kanaya benar-benar merasa begitu sangat dicintai. Mira mamanya Kanaya menitikkan air mata bahagianya. Melihat anaknya diperlakukan begitu baik dan terasa sekali betapa Adrian sangat menyayangi Kanaya. Mira mengeluarkan bungkusan plastik hitam dari tasnya.
"Apa sudah boleh dipasang stagennya dok?" Mira bertanya dengan ramah kepada Vanya. Mira memang tidak tahu siapa sebenarnya Vanya. Dia mengira jika Vanya adalah teman dekat Niki.
"Sudah boleh kok kak" Vanya berucap ramah dan menampilkan senyum terbaiknya. Dia tidak pernah merasa jika Mira adalah saingannya ataupun musuhnya karena menjadi wanita yang dicintai oleh Hendry. Ya, Vanya adalah wanita yang menyukai Hendry sejak lama. Namun hanya mencintainya dalam hati. Tingkat mencintai tertinggi seseorang yakni, melihat dia bahagia bersama orang yang dia cintai. Vanya adalah wanita yang sama superior seperti Niki. Bedanya, Vanya lebih sabar, kalem, dan lembut.
Mira pun mulai akan memasangkan stagennya. Melihat Mira yang sedikit kesulitan, Vanya dengan senang hati membantunya. Vanya sedikit terkejut karena panjang stagen yang dibalut ke perut Kanaya begitu sangat panjang. Dia tidak bisa membayangkan betapa susahnya Kanaya akan bernafas.
"Ma'af kak, apa Kanaya tidak akan kesulitan bernapas nantinya?" tanya Vanya merasa sedikit agak nyeri pada bagian perutnya.
"Tidak, dia akan baik-baik saja. Dia memang memerlukannya, sebab Kanaya akan banyak bergerak nanti" ucap Mira tanpa sadar. Vanya pun sedikit bingung dengan ucapan Mira tersebut. Namun bagi Kanaya hal itu sudah biasa. Dia sudah biasa harus merasakan stagen yang dililit di perutnya yang habis melahirkan seketat sekarang ini. Dia harus merasakan hal tersebut selama enam bulan lamanya. Jika Kanaya tidak memakainya, maka mamanya akan memarahinya karena tidak mau menjaga bentuk tubuhnya.
"Mama lupa, botolnya ada sama bapakmu" mama Kanaya menepuk jidatnya. Adrian yang tengah merogoh saku celananya terkejut karena mendapati sebuah botol pemberian sang ayah mertuanya tadi.
"Ma, apa maksud mama yang ini?" Adrian tersenyum lebar kepada mama mertuanya.
"Iya, benar itu" Mira pun langsung meraihnya.
"Cepat minum ini sayang, kamu harus segera pulih" Mira seakan terburu-buru meminta Kanaya untuk meminumnya.
__ADS_1
"Sedikit lagi, biar lebih cepat reaksinya" sikap Mira saat ini begitu berbeda seperti sebelumnya. Dulu ketika Kanaya melahirkan ketiga anaknya, mamanya selalu melarang sang suami untuk mencekoki Kanaya dengan cairan yang ada di dalam botol tersebut.
Mira selalu berdalih itu mitoslah, obatlah yang pasti menyembuhkan luka. Tapi sekarang dirinya lah yang menyuruh Kanaya meminum tersebut. Vanya sedikit penasaran dan heran dengan botol yang diberikan Adrian kepada Mira tersebut. Namun dia tengah sibuk mengurus sang bayi sekarang. Setelah selesai dia langsung menghampiri mereka.
"Kak, ma'af. Tolong jangan memberikan sesuatu hal yang aneh kepada Kanaya. Sebab, dia baru selesai melahirkan. Jadi sedikit rentan dan saya khawatir akan berdampak pada kesehatannya" Vanya masih bersikap ramah dan kata-katanya pun menyiratkan nada kekhawatiran.
"Justru itu, karena dia begitu rentan dan lemah saat ini. Dia harus bisa secepatnya segar dan bertenaga seperti sebelumnya".
"Semua itu harus butuh proses kak, ibu melahirkan harus beristirahat cukup. Mengkonsumsi makanan sehat dan minum obat dengan teratur agar kondisinya kembali membaik" mulai adu argumen antara Mira dan Vanya. Namun masih dengan nada yang sama-sama lembut dan ramah.
"Nah justru itu, kalau mengikuti proses yang normal begitu perlu waktu yang lumayan lama. Kalau seperti ini besok Kanaya sudah bisa lari kencang" ucapan Mira membuat Vanya hampir mengeluarkan bola matanya. Sebab itu hal yang mustahil terjadi. Vanya tidak pernah melihat satu pasien melahirkan pun yang bisa berlari keesokan harinya. Dalam hati Vanya, pasti Mira tengah bergurau dengan dirinya.
Setelah Adrian selesai mengadzani sang putri, dia pun menyerahkan bayinya kepada Kanaya untuk segera diberikan ASI. Ketika sang putri terlelap dalam dekapan Kanaya, Hendry datang bersama Niki untuk melihat cucu mereka. Niki tampak begitu gemas melihat cucu pertamanya yang tengah tertidur.
"Wajahnya mirip Adrian" Niki bergumam senang karena memiliki boneka mainan yang hidup dan lucu. Namun matanya menangkap sosok Mira yang tengah menahan sakit di dadanya.
"Kamu kenapa sayang?" Hendry mengelus pucuk kepala istrinya. Vanya yang melihat hal tersebut, sedikit merasa iri. Sampai sekarang Hendry tetap begitu perhatian dengan istrinya.
"Cuma terasa nyeri saja dibagian dada" Mira mengurut dada bagian kirinya.
"Saya periksa dulu ya kak?" Vanya menghampiri mereka berdua. Ini sebagai bentuk kepedulian darinya sebagai seorang ahli medis.
"Tidak apa-apa, saya baik-baik saja. Jadi tidak perlu terlalu khawatir" jawab Mira yang tidak ingin merepotkan Vanya.
"Kamu tidak usah merasa sungkan, biar saya periksa dahulu" Vanya masih bersikeras untuk memeriksa Mira.
"Tidak apa-apa, nyerinya juga sudah berkurang" tolak Mira halus.
__ADS_1
"Dia memang keras kepalanya Vanya. Jika dia sudah berkata seperti itu tidak bisa dipaksa" Hendry meleraikan. Dia bisa melihat rasa khawatir untuk istrinya dari manik mata Vanya.
"Tapi kalau merasa sakit lagi, kak Mira bilang sama saya ya. Biar saya periksa".
"Iya" Mira tersenyum ramah. Dia merasa kehangatan dari penuturan Vanya terhadap dirinya.
"Sayang, aku pergi dulu ya. Ada sedikit urusan dulu sama mama dan papa" Adrian pamitan kepada Kanaya. Niki dan Hendry sudah lebih dulu pergi.
"Ma, Adrian titip Kanaya ya ma" Adrian menghampiri Mira sang mertua dan menyaliminya.
Kini Kanaya sudah berada di ruangan pemulihan setelah dipindahkan. Saat berjalan di lorong, Adrian bertemu dengan Vanya yang akan memeriksa Kanaya. Mungkin?
"Adrian, mau pulang?" sapa Vanya.
"Iya tan, Adrian ada urusan. Adrian titip Kanaya sama putri Adrian ya tan" pamit Adrian.
"Tenang saja, jangan khawatir".
"Titip salam buat tante Rachel ya"
"Iya tan, nanti Adrian sampaikan sama oma".
Adrian berlalu pergi ke luar dari klinik. Sedangkan Vanya pergi masuk ke ruangan Kanaya. Waktu sudah menunjukkan waktu pukul delapan malam. Kanaya melahirkan jam lima sore tadi, jadi sudah tiga jam dia melahirkan putri tercintanya.
"Selamat malam, gimana keadaan kakak?" sapa Vanya ke Mira saat masuk ke dalam kamar perawatan Kanaya. Kanaya sedang terlelap tidur dengan putrinya didalam box disamping tempat tidurnya, mungkin dia kelelahan habis melahirkan tadi.
"Alhamdulillah sudah tidak sakit lagi" Mira menampilkan senyum yang mengembang. Setelahnya tidak ada lagi obrolan diantara keduanya. Vanya asyik dengan ponsel pintarnya, sedangkan Mira asyik melihat kepolosan sang cucu yang terlelap tidur.
__ADS_1
"Ada apa ini?" perkataan Vanya terdengar khawatir. Mira yang mendengar langsung menegakkan kepalanya. Vanya mengarahkan ponselnya kepada Mira. Mereka berdua pun terdiam setelah melihat video dalam layar handphone milik Vanya.