Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
part 9


__ADS_3

Tau bagaimana rasanya di peluk oleh seseorang? Tentu akan bahagia jika memiliki perasaan yang sama. Saat ini jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya.


Entah apa yang merasuki Kak Tomy. Sehingga dia tiba-tiba memelukku seperti ini. Memperlakukanku seolah kami memiliki hubungan yang spesial.


Kok aku jadi takut ya?


Takut jika aku memiliki perasaan yang lebih. Takut jika aku telah merasa sangat nyaman lalu di tinggalkan begitu saja.


Kejadian masa lalu membuatku menjadi trauma. Sampai saat ini masih takut jika Kak Tomy akan pergi lagi tanpa kabar.


Nggak! Aku nggak boleh membiarkan rasa ini terlalu dalam dan berharap lebih. Aku harus menolak semua perlakuan Kak Tomy seperti ini.


“Kak, lepas! Aku harus masak, nanti kalau Ibu sama Raisa pulang masakan belum mateng gimana?”


“Nanti Kakak bantuin,” jawabnya setengah berbisik.


Aku menghela napas. Membiarkan lelaki itu memeluk dari belakang. Anggap saja tidak ada siapapun di sini dan fokus memasak.


“Kakak kangen, dari awal ketemu kan kita nggak bisa berduaan gini.”


“Bukannya selalu ketemu ya?”


“Tetep aja Kakak nggak bisa peluk kamu.”


Mungkin memang hanya sebatas rasa rindu saja saat ini. Tak bisa aku pungkiri jika memang nyatanya aku menyukai pelukan ini. Merindukan dia yang pernah pergi. Bertemu dengan rasa yang entah.


Entah aku sendiri tidak paham perasaan ini. Juga tak paham perasaan Kak Tomy padaku.


Menganggap dia seperti seorang Kakak yang sangat menyayangi adiknya. Hanya itu saja.


“Kamu inget sama janji Kakak dulu?”


Deg!


Detak jantung seketika berhenti. Untuk apa Kak Tomy membahas janji yang ingin sekali aku lupakan.


“Aku ... Aku lupa, Kak. Soalnya udah lama.” Aku terpaksa berbohong. Malu juga jika masih teringat. Takut jika Kak Tomy menyangka aku masih saja percaya dengan janji masa kecil itu.


Kak Tomy terdiam. Dia semakin erat memelukku, menghirup udara dan melepaskannya perlahan. Bisa aku rasakan di area tengkuk yang terasa geli.


Lalu ....


Tangan itu menarik daguku. Memintaku untuk menatapnya. Wajah kami tidak lagi berjarak.


Hingga .... Aku merasakannya.


Kudorong dada kekar itu, tapi aku kalah dan dia lebih kuat.


“Kakak akan menepati janji yang pernah Kaka ucap dulu,” bisiknya sambil merapikan anak rambutku.


Aku meletakkan pisau, ingin berlari karena perasaan ini terlalu kacau. Dada sesak membuat kedua mata ini terasa panas.


“Mey!” Kak Tomy berhasil menarik pergelangan tangan. Hingga tubuh ini jatuh kembali ke dalam pelukannya. Bisa kudengar degup jantungnya yang berdebar kencang.


“Maafin Kakak ya?”


“Maafin karena tidak pernah memberikan kabar, maafin Kakak yang terlalu egois, maafin Kakak atas kejadian .... Barusan.”


Kaca-kaca itu berubah menjadi buliran bening yang telah menetes. Bukan kata maaf yang aku inginkan.


Tahu jika aku telah menangis. Dia menghapus air mata ini dengan buku jarinya.


“Jangan nangis. Kakak tahu itu yang pertama buat kamu.”


“Dan bukan yang pertama untuk Kakak,” sahutku.


Kak Tomy tersenyum. Lalu merapikan rambutku dan mengecup kening.


“Kata siapa? Kakak nggak punya pacar, karena selama ini ada hati yang harus Kakak jaga.”


Aku menautkan alis. Penasaran, siapa yang dimaksud Kak Tomy.

__ADS_1


“Maaf ya, Mey.” Kak Tomy menghapus jejak ciumannya di bibirku.


Aku hanya diam terpaku. Entah mengapa rasanya sulit berucap dan membiarkan semua ini terjadi.


“Aku harus masak!” Aku mengalihkan topik pembicaraan.


Mencoba melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Kak Tomy masih berdiri di samping sambil melihatku memotong sayuran.


Dia bergeser saat aku hendak merebus ceker yang telah di cuci. Kami terlihat seperti suami istri yang baru saja menikah.


Ah, andai saja semua itu terjadi.


Duh, nggak mungkin. Mana mungkin aku akan menikah dengan Kak Tomy. Sedangkan dia saja tidak pernah mengutarakan perasaannya padaku. Lagipula dia bilang kalau ada hati yang di jaga.


Seperti apa wujud wanita yang sangat Kak Tomy sayangi. Beruntung sekali wanita itu memiliki lelaki yang penuh perhatian.


“Ada yang bisa Kakak bantu?” Setelah sekian menit berlalu dan dia hanya memperhatikan aku sambil bersandar di sisi meja dapur. Akhirnya Kak Tomy buka suara.


“Kakak coba icipin aja sayur sopnya. Apa yang kurang?” ucapku tanpa memperhatikannya.


Pura-pura sibuk membuat sambal. Nyatanya aku hanya menata hati agar tidak menganggap lebih soal kejadian tadi.


“Sop ini lebih lezat dari buatan ibu,” tuturnya yang terus menyicipi kuah sop.


Aku tersenyum. Lega, jika telah berhasil membuat sop yang lezat.


.


.


Selesai memasak, membuat sambal dan menggoreng ayam, aku menyiapkan semuanya di meja makan. Tentu dengan bantuan Kak Tomy. Dia pun sudah tak sabar ingin menikmati makan siang yang sederhana tapi mampu membuat orang nambah nasi.


“Sudah siap semua, sayang?” tanyanya sambil mencium pipiku.


Meronalah wajahku. Duh, kok jadi salah tingkah gini ya.


“Sudah, Kak. Aku mau ngambil puding dulu.”


“Sini biar Kakak yang bawa.”


Astaga! Hampir saja puding ini jatuh dari tangan. Gara-gara Kak Tomy yang berdiri di belakang. Mengagetkan saja!


“Kakak ngagetin aja sih!”


“Maaf.”


Aku memasang wajah cemberut, karena memang sedang kesal padanya. Dia aneh sekali.


“Mey,” panggilnya.


Aku tak perduli. Terus melangkah ke meja makan dan meletakkan puding mangga. Lalu pergi ke kamar untuk beristirahat sebentar, menunggu ibu dan Raisa pulang.


Nyatanya rencanaku gagal. Kak Tomy menghalangi langkahku.


“Kakak ingin bicara sebentar.”


Aku tidak mendengarkannya. Namun, dia terus menghalangi jalanku. Dia terus mendekat, membuat langkah ini mundur dan tubuhku menabrak tembok.


Lagi-lagi tidak ada jarak di antara kami. Tangan Kak Tomy berada di sisi kepalaku. Satunya lagi melingkar di leher.


“Kakak mau apa?” tanyaku dengan perasaan takut.


Dia hanya tersenyum. Elah! Nyebelin sumpah.


“Jangan takut, Kakak nggak akan macem-macem kok.”


“Terus mau ngapain?”


Wajahnya mendekat. Kini keningnya menempel di keningku.


“Kakak cuma mau bilang ... I love you.”

__ADS_1


Bibirku terbuka, hendak mengatakan sesuatu. Namun, Kak Tomy langsung mengecupnya. Aku berhasil mendorong tubuhnya dan mengambil kesempatan untuk pergi.


Masuk ke kamar dan menguncinya. Berdiri di belakang pintu dengan hati yang tidak karuan. Detak jantung yang masih berdebar. Antara rasa percaya atau tidak dengan ucapan Kak Tomy.


Bukankah lelaki itu mampu merayu seorang wanita? Mungkin saja Kak Tomy hanya bercanda. Kalau hanya bercanda itu keterlaluan.


Sudah mengambil ciuman pertama, sekarang bilang i love you. Katanya ada hati yang sedang dia jaga, tapi malah mengaduk-aduk hati orang lain.


Demi sop ceker, aku nggak boleh terbawa suasana. Harus mengabaikan semua sebelum Kak Tomy benar-benar mengatakan perasaan yang sebenarnya. Juga tentang wanita yang ada di hatinya.


***


Suara motor berhenti di halaman. Itu ibu! Ibu sudah pulang dari pasar. Aku segera membuka pintu dan berlari ke ruang tamu.


Benar sekali, itu ibu. Kak Tomy sudah berada di sana. Membantu ibu membawakan belanjaan.


“Makan siang udah siap lho, Bu,” ucap Kak Tomy.


“Wah, benarkah?”


Kak Tomy mengangguk. Aku menggandeng tangan ibu dan mengajaknya ke dapur.


“Sebentar lagi Raisa pulang, kita tunggu Raisa dulu ya,” pinta ibu saat kami telah sampai di ruang makan.


Aku mengangguk. Lalu memperhatikan sekitar. Tidak ada Kak Tomy di sini, mungkin sebaiknya aku bicara saja pada ibu soal kejadian tadi.


“Bu, aku boleh cerita nggak?” Aku menarik salah satu kursi untuk ibu. Lalu duduk ikut duduk di kursi sampingnya.


“Cerita apa, Nak?” tanya ibu.


“Tadi Kak Tomy ....”


“Hayo, lagi pada ngomongin apa?” Kak Tomy tiba-tiba datang.


Mungkin dia sudah tahu jika aku akan mengadu pada ibu soal kejadian tadi.


“Ini si Mey mau cerita. Kenapa sama Tomy, Nak?”


Pandanganku beralih ke Kak Tomy. Dia seolah memberi isyarat agar aku tidak menceritakannya.


“Ibu, tadi si Mey nangis gara-gara aku ajakin nikah,” celetuk Kak Tomy sambil melahap ayam goreng.


Elah! Tuh anak santuy amat sih ngomongnya. Kek nggak punya perasaan sama sekali.


Bu Amel tertawa. Lalu membelai wajahku dan mencubit hidung.


“Tomy ... Tomy ... Gimana nggak nangis, kamu pasti kurang romantis ngomongnya,” ucap ibu yang masih menatapku.


Wajahnya terlihat berbinar. Mungkin bahagia karena ucapan Kak Tomy yang menurutku hanya bercanda.


“Becandanya nggak lucu!” sungutku kesal.


“Lho, Mey ....” Ucapan ibu terhenti ketika terdengar suara dari arah teras.


Rupanya itu suara sepeda Raisa yang baru saja pulang.


“Eh, adikku yang cantik sudah pulang?” ucap Kak Tomy.


“Kamu ganti baju terus cuci tangan dulu gih,” perintah Ibu yang langsung Raisa turuti.


Kami pun menikmati makan siang bersama. Bahagia rasanya makan siang seperti ini. Sudah lama sekali aku tidak menikmati makan siang bersama-sama. Jika dulu ada Ayah dan Papa ... Kali ini sangat jauh berbeda.


Ayah Kak Tomy telah pergi. Papa juga nggak bisa ikut karena harus mengurus toko dan butik milikku. Hanya saja sekarang ada yang berbeda. Kehadiran Raisa menambah suasana menjadi lebih bahagia.


“Kak Mey pinter masak ya. Calon istri idaman!”


Bersambung


📖📖📖📖📖


Dukung dan beri vote cerita ini ya teman. Karena kalian adalah semangatku untuk terus berkarya. Jangan lupa simpan cerita ini di daftar baca kalian ya.

__ADS_1


Terima kasih. 😘😘😘


__ADS_2