Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Kanaya Diculik


__ADS_3

"Rendy, tolong kamu bawain ya belanjaan saya" Kanaya memberikan dua buah kantongan plastik berisikan belanjaannya kepada Rendy. Dia merasa sedikit kesal dengan sikap Rendy yang sedikit acuh. Rendy begitu sibuk dengan handphonenya. Mungkin tengah berbalas pesan dengan pacarnya.


"Kalau lagi bertugas, fokus dulu sama kerjaan baru fokus sama pacar" cebik Kanaya yang sebal melihat Rendy yang cengengesan.


"Sekarang mau membeli apa lagi nyonya?" tanya Rendy, setelah Kanaya selesai membeli buah-buahan.


"Sekarang kita beli bahan buat barbeque nanti malam. Kamu tau kan dimana toko terlengkap yang menjual semua bahan yang kita perlukan?" tanya Kanaya.


"Tentu dong nyonya".


"Baguslah kalau begitu".


"Tapi kita mampir di mini market dulu ya nyonya, ada yang mau saya beli" Rendy minta izin Kanaya untuk mampir sebentar untuk membeli barang yang dibutuhkan oleh pacarnya.


"Nyonya, apa ada yang nyonya mau beli juga. Biar sekalian kita masuk bersama?" tanya Rendy, namun matanya melihat di kaca spion mobil yanh sedang dibawanya.


"Sebaiknya nyonya selalu dekat dengan saya. Soalnya kita pergi keluar cuma berdua. Hanya untuk jaga-jaga saja" namun Kanaya dapat melihat dari sorot mata Rendy yang terlihat begitu siaga. Apalagi Kanaya merasa ada yang mengikuti dirinya sejak tadi. Tangannya pun mencari sesuatu didalam tasnya. Kemudian menyelipkannya ke dalam bra yang dia pakai.


Kemudian mobil pun diparkirkan di depan mini market. Kanaya juga ikut turun, beralasan kalau dia sedang haus dan ingin membeli minuman. Rendy mengangguk mengerti, ketika mata Kanaya melirik ke arah sebelah kanannya. Ada mobil hitam yang juga ikut memarkirkan di depan mini market tersebut. Mobil yang Kanaya curigai. Kanaya dan Rendy masuk ke dalam. Rendy mengambil satu pack pembalut, kemudian mengambil satu kotak obat merah antiseptik. Setelahnya dia langsung menghampiri Kanaya yang tengah memilih minuman dalam lemari pendingin. Rendy yang melihat gelagat mencurigakan dari pria yang sedang menghampiri Kanaya. Dengan sengaja Rendy pura-pura menyenggol beberapa bungkus cemilan yang terpanjang di rak. Hingga jatuh tepat didepan pria tersebut.


"Oh maaf, tadi kesenggol. Soalnya keinjak tali sepatu saya yang lepas" Rendy memberikan alasan yang masuk akal. Pria tersebut langsung melihat ke bawah sepatu yang sedang dikenakan oleh Rendy. Padahal Kanaya melihat dari pantulan lemari pending kalau Rendy dengan sengaja melepas ikatan sepatunya. Kanaya tersenyum melihat cara Rendy.


"Lumayan berakal" ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Kanaya dan Rendy langsung keluar setelah membayar semua belanjaan mereka. Pria tersebut seperti tergesa-gesa melihat mobil yang dikendarai Rendy meninggalkan mini market tersebut. Rendy memaju mobil dengan kecepatan tinggi, namun disaat jalanan agak sepi. Ada seorang nenek yang hampir saja tertabrak oleh Rendy. Untung saja Rendy langsung membanting stir ke arah yang berlawanan. Sehingga nenek tersebut tidak tertabrak.


"Kalau bawa mobil itu hati-hati. Jangan kayak orang kesurupan begitu. Saya masih belum pengen mati Kalau kamu mau mati jangan ajak-ajak saya" omel Kanaya. Entahlah, kenapa dia begitu merasa emosi dengan Rendy. Mungkin karena masalah air terjun yang belum kesampean Kanaya kunjungi. Sehingga terbersit, rasa jengkel. Mungkin lebih tepatnya iri.


"Tenang saja nyonya tenang, dijamin aman kalau sama saya. Selamat dunia akhirat. Hehehehe" dengan pedenya serta bergaya so cool.


"Aman. Aman kepala kamu pitak. Tuh hampir mencelakai orang. Cepat lihatin tuh nenek. Masih hidup apa sudha meninggal".


"Dasar sopir ugal-ugalan" gerutu Kanaya kesal.


"Ini, saya mau keluar menolongnya nyonya" Rendy pun melepas setbealt. Setelah itu Rendy keluar untuk melihat keadaan nenek yang baru saja dia tabrak.


"Nek, nenek. Nenek tidak apa-apa?" tanya Rendy sambil menggoyang-goyangkan tubuh ringkih nenek yang kini tergeletak di aspal jalan.


"Rendy" teriak Kanaya. Namun sebuah tangan kekar langsung mengunci tubuh Kanaya. Kemudian menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Rendy yang melihat itu hendak berdiri. Sebuah pukulan mengenai kepalanya hingga akhirnya Rendy terjatuh dan pingsan. Begitu pula dengan Kanaya, dia berusaha untuk melepaskan diri. Namun setelahnya dia gagal. Hingga akhirnya Kanaya pun pingsan.


"Target berhasil dilumpuhkan" lapor pria yang telah memukul Rendy tadi dalam sebuah panggilan kepada seseorang.


"Bagus, bawa langsung kesini" perintahnya diiringi dengan sebuah tawa iblis yang penuh kemenangan.


****


"Gemma seriusan mau ajarin Revan menembakkan?" tanya Revan polos. Namun antusiasme dia untuk melakukan hal tersebut begitu besar.

__ADS_1


"Pasti sayang. Untuk jaga-jaga tentunya. Sebab, pistol senjata paling mudah untuk digunakan. Serta paling efektif untuk melindungi diri" jelas Davina kepada cucu-cucunya yang menggemaskan.


Davina meminta bantuan Andrew untuk mengajari Raniya dan juga Revan dalam menggunakan pistol. Tidak terlalu sulit untuk menjelaskan dan mengajarkan. Mereka langsung paham dan mengerti. Mungkin mereka sudah lebih dahulu diajari.


"Ada yang datang dari arah jam sembilan" teriak salah satu teman Andrew yang berjaga untuk melihat situasi.


"Mereka datang secepat ini" ucap Davina sedikit terkejut.


"Siapkan diri kalian. Ini akan jadi pertempuran yang menegangkan. Aku minta kalian tetap memprioritaskan keselamatan anak-anak. Sebab, merekalah yang sedang diburu" Davina menjelaskan hal ini kepada anak buah Adrian yang ada dimarkas sekarang.


"Siap, kami semua siap" ucap mereka penuh semangat. Raniya dan Revan begitu terlihat senang dan sumringah. Ini akan menjadi momen terpenting dan terhebat dalam hidup mereka. Keinginan mereka untuk menjadi seorang mafia akhirnya bisa diwujudkan hari ini. Sedangkan Randy terlihay begitu fokus pada layar handphonenya. Tangannya tak henti-hentinya memutar sebuah gantungan kunci mobil. Terlihat begitu gugup dan cemas sekali diri Randy. Davina yang melihat tingkah tidak tenang Randy langsung menghampirinya.


"Calm down sweetheart. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kamu jangan terlalu begitu cemas. Kami akan menjaga keamanan kalian dengan. Gemma akan mempertaruhkan nyawa gemma untuk keselamatan kalian sayang".


"Kalian adalah keluarga terhebat yang gemma miliki. Cucu-cucu gemma yang pintar dan juga tampan serta cantik. Kalian mewarisi kehebatan orang tua kalian. Kalian semua hebat" Davina memberikan sedikit motivasi agar mereka tidak merasa cemas dan juga gugup untuk menghadapi ini semua.


Padahal Randy bukan gugup ataupun takut. Tapi dia cemas dengan mamanya. Sebab dari hasil lokasi lacakan dari handphone milik Randy. Posisi Kanaya kini sudah berada jauh dari jalur posisi kawasan daerah markas selatan. Dia khawatir kalau mamanya dalam kondisi yang tidak baik atau dalam bahaya. Namun dia tidak bisa mengatakan hal yang masih dalam dugaannya saja ini kepada Davina.


"Musuh sudah masuk dalam kawasan kita, bersiap untuk menerima serangan" teriak salah satu penjaga. Setelahnya bunyi tembakan pun mulai beradu bersahutan di udara.


"Siapkan diri kalian. Tetap disini, jangan keluar tanpa aba-aba gemma. Kecuali kondisi yang mengharuskan kalian untuk dievakuasi baru kalian akan keluar".


"Paham" ucap Davina kepada ketiga cucunya. Kemudian dia menciumi mereka satu persatu.

__ADS_1


"Kalian adalah prioritas gemma" dengan mantap Davina melangkah keluar untuk menembaki musuh yang mulai masuk ke dalam halaman rumah besar yang dijadikan markas selatan.


__ADS_2