Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Sebuah Taktik


__ADS_3

"Mama" teriak Randy saat melihat sosok Kanaya.


Kanaya diam mematung melihat putra sulungnya kini berdiri didepannya tengah mengarahkan pistol ke arahnya. Bunyi benturan keras ke tanah terdengar. Rupanya Randy yang telah menembak seseorang di belakang Kanaya. Dia tidak menyangka jika anaknya yang akan datang menyelamatkan dirinya.


"Randy".


"Are you ok mom?" tanya Randy yang berlari ke arah Kanaya dan memeluknya penuh kerinduan. Kanaya hanya mampu menganggukkan kepalanya. Dia speechless.


"Ini kesayangan mama" Randy memberikan pistol milik Kanaya yang sengaja dia bawa dari rumah. Berharap dengan dia membawa pistol milik Kanaya dia bisa membawa pulang mamanya dengan selamat.


"Ayo ma, kita pulang. Oma Rachel yang menjemput mama" Randy menjelaskan dengansingkat. Kanaya terkejut mendengar hal tersebut. Dia tidak menyangka jika oma Rachel yang akan turun langsung.


"Papa Adrian?".


"Papa Adrian mengurus hal yang lain. Langsung diperintahkan oleh oma" Randy menarik tangan Kanaya untuk segera pergi dari tempat tersebut. Namun Kanaya ingat dengan bu Tun. Takutnya dia bakal kenapa-kenapa ketika sadar nanti.


"Tunggu sayang, mama mau melihat kondisi seseorang yang membantu mama untuk keluar dari sini" Kanaya pun berlari kecil ke arah dimana dia tadi mengamankan bu Tun. Diikuti Randy dari belakang, namun Randy tetap waspada mengikuti langkah Kanaya. Takutnya akan ada musuh yang tiba-tiba menyerang mereka.


"Bu Tun, bangun bu. Ayo kita pergi dari sini" Kanaya berusaha untuk membangunkan bu Tun.


"Dor" suara tembakan dari arah kiri mereka. Ada dua orang yang mencoba untuk menembak mereka.


Randy pun tidak mau kalah, dia melawan dengan memberi tembakan balasan kepada mereka. Tembakan pertama langsung menumbangkan salah seorang dari mereka. Kanaya dibuat kagum dengan keahlian menembak Randy yang tidak pernah dia sangka. Tepat sasaran. Bu Tun langsung tersadar ketika mendengar suara tembakan yang saling bersahutan.


"Astaghfirullah. Astaghfirullah" ucap istighfar oleh Bu Tun.


Beliau merasa jantungnya seakan hampir copot karena mendengar bunyi tembakan dimana-mana. Hal yang membuat bu Tun lebih tercengang adalah sosok Randy yang masih kecil disana. Namun bukan sosoknya yang jadi perhatian bu Tun. Melainkan, yang dipegang Randy. Bu Tun seakan tidak percaya jika anak sekecil dia sudah bermain dengan sebuah pistol asli. Tembakan berikutnya dari Randy langsung membuat musuhnya yang lain terkapar.


"Anak siapa dia? Kenapa dia megang pistol? Ibu takut?" tangan bu Tun benar-benar gemetar karena mendengar dentuman suara pistol yang saling menyahut di udara.


"Dia anak saya, dia yang akan menolong saya bu" dengan tersenyum bangga Kanaya memperkenalkan putranya.


Namun bu Tun langsung mengurut dadanya seakan tidak percaya. Kini beliau yang menjadi takut berhadapan dengan Kanaya. Apalagi sekarang Kanaya juga sedang memegang sebuah pistol. Tentu saja bu Tun merasa sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Seakan hari ini adalah hari terakhir beliau menghirup udara.

__ADS_1


"Bu Tun tidak usah takut. Kita pergi dari sini. Kita cari tempat yang aman bu" ajak Kanaya meraih tangan bu Tun. Kanaya dapat melihat gestur tubuh bu Tun yang kaku karena cemas dan khawatir. Terasa sekali tangan bu Tun basah karena keringat dingin. Dipegang Kanaya lembut serta dielus tangan tua milik bu Tun. Agar bisa membuatnya sedikit nyaman.


"Kanaya antarkan bu Tun pulang sampai ke rumah dengan selamat" Kanaya menyakinkan bu Tun supaya dia tidak merasa takut ataupun cemas lagi. Akhirnya bu Tun mengangguk pasrah. Bu Tun percaya jika Kanaya tidak akan menyakiti dirinya. Apalagi Kanaya memiliki wajah yang cantik seperti bidadari. Tidak mungkin akan berbuat jahat padanya yang tidak berbuat salah pada Kanaya.


Randy mengikuti langkah kedua perempuan berbeda generasi tersebut. Kemudian disusul oleh Sam yang memastikan keadaan Randy dan Kanaya aman. Sam memang diberi tugas untuk mengawal Randy dan menjaga keselamatan dirinya. Serta memastikan Randy membawa pulang Kanaya dengan selamat.


*Kejadian sebelum berangkat*


"Randy ingin ikut oma" Randy sudah bersiap berdiri disamping oma Rachel. Dengan pakaian serba hitam.


"Tapi sayang, kamu masih kecil" protes Adrian ketika melihat anak sambungnya itu terlihat begitu bertekad untuk ikut menolong Kanaya.


"Biarkan saja dia ikut. Sebab dia adalah penerus Aston dan juga Marven. Oma rasa Randy harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hal yang jauh lebih berbahaya dari ini".


"Apa kamu bisa menjamin jika dia tidak ikut akan selamat?" oma Rachel langsung menanyakan hal ini saat Adrian hendak melayangkan protes.


"Sini kamu" oma Rachel meminta Adrian untuk mendekat ke arahnya. Kemudian oma Rachel langsung membisikkan sesuatu kepada Adrian. Hal itu langsung membuat guratan wajah pada Adrian berubah. Dia pun terpaku tak berkata-kata apapun lagi.


"Itu strategi" oma Rachel mengedipkan sebelah matanya ke Adrian. Semua yang ada disana pun bingung dengan perubahan ekspresi dari wajah Adrian. Strategi apa yang dimaksud oleh oma Rachel? Rencana apa yang telah dirancang oleh oma Rachel? Tidak ada yang tahu pastinya.


"Sam, kamu saya tugaskan untuk menjamin keselamatan Randy dan juga. Kalian berdua yang akan melakukan penyelamatan untuk Kanaya. Untuk hal lainnya biar oma Rachel yang mengurusnya" oma Rachel langsung mengarahkan rencananya tentang penyelamatan Kanaya.


"Ingat, buatlah taktik yang mampu melemahkan musuh. Jangan terbawa emosi, gunakan otakmu dan akalmu. Tenang, maka musuhmu akan kalah" oma Rachel memberikan sebuah petuah untuk Adrian.


"Baik oma" jawab Adrian singkat. Dia tidak menyangka jika oma Rachel mempunyai pemikiran sejauh itu.


*****


"Kita tidak ikut dengan papa sama mama" ucap Adrian yang fokus mengemudi.


"Maksudnya?" tanya Tony bingung. Kebingungan Tony memang dimulai sebelum keberangkatan tadi. Adrian meminta untuk mengemudikan mobil sendiri. Sebelumnya pun dia meminta mobil yang dikendarai oleh Tora untuk mengikuti mobilnya kemana pun pergi. Mobil yang dibawa Tora memang berisi anak buah terbaiknya Adrian.


"Kita hanya akan memutar arah. Kita akan kembali ke rumah kebesaran Aston".

__ADS_1


"Tapi bukannya kita harus ikut bersama om Hendry, mama Niki sama Andre" kini Melu yang menimpali karena dibuat bingung oleh bos sengkleknya ini.


"Ini rencana oma" singkat jawaban dari Adrian. Semua yang ada di dalam mobil yang dibawa oleh Adrian diam dan mengerti. Mungkin ini yang dimaksud oma Rachel tadi dengan taktik.


"Kita siapkan diri untuk melayani musuh yang akan menyambangi kita" kini senyuman iblis yang biasa Adrian berikan kepada musuhnya terlukis pada wajah tampannya.


"I'm always ready bosque" Tony mengangkat tangannya seperti memperagakan hormat.


"Kita berikan surprise kepada mereka. Bahwa tidak mudah mudah untuk mengalahkan kita. Organisasi keluarga Aston bukan kelompok PAUD yang mudah lari ketika digertak" Adrian benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan seseorang yang seharusnya dia lenyapkan sejak dulu.


"Aku minta hadiah liburan ketika semua ini berakhir" Mely mengajukan keinginannya. Anggap saja imbalan atas kerja kerasnya.


"Tentu, apa yang kamu mau?" Adrian menatap serius pada Mely lewat kaca spion tengah dimobil.


"Aku pengen honeymoon ke Paris" Mely tersenyum.


"Aku ingin istirahat setelah ini, karena aku juga ingin memiliki kehidupan yang normal seperti wanita lainnya".


"Aku ingin punya anak" ucapan Mely langsung menjadi fokus utama para lelaki disana. Terutama Fery sang suami tercinta.


"Kamu serius sayang" tanyanya seakan tidak percaya dengan keputusan Mely. Padahal dia sama sekali tidak pernah menyinggung masalah ingin memiliki anak kepada Mely. Dia menghargai semua keinginan Mely tanpa ingin membebani dirinya. Jika Mely ingin menunda dulu, maka Fery mengikuti saja. Namun keputusan ini merupakan keputusan yang sangat begitu berarti bagi dirinya. Impian dirinya sejak awal menikahi Mely, memiliki anak dari rahim Mely.


"Ini keputusan yang sangat besar. Aku menyetujuinya" ucap Adrian dengan wajah yang berbinar bahagia.


"Aku pikir, kamu itu dulu tidak menyukai anak-anak Mel. Terlalu fokus dengan kerja dan kesenanganmu" Tony pun tidak kalah untuk ikut menanggapi keinginan Mely. Baginya sangat wajar jika seorang perempuan ingin hamil. Sebab memang kodrat wanita untuk mengandung.


Mely terharu dengan respon mereka. Dia tidak menyangka jika mereka akan menanggapi semuanya dengan respon yang positif. Mely merasa sangat bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang baik seperti mereka.


Kini mereka telah sampai ditempat tujuan mereka. Tapi mereka tidak masuk lewat depan, melainkan lewat belakang. Mereka akan masuk ke dalam rumah megah keluarga Aston lewat jalan rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga Aston. Diluar keturunan Aston yang tahu hal tersebut adalah Tony dan Mely. Serta Hendry dan juga istrinya.


Terdengar suara seseorang yang tengah berbahagia dari dalam rumah. Dia tengah duduk santai di sebuah kursi kebesaran milik oma Rachel dengan santainya dia menuang anggur merah pada gelas kaca yang begitu terlihat mewah.


"Lama tidak berjumpa" sapa Adrian di hadapannya. Raut wajahnya pun langsung menegang ketika melihat sosok Adrian.

__ADS_1


__ADS_2