Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Mengikuti Tora


__ADS_3

"Fer, kamu lagi dimana?" tanya Adrian kepada Fery lewat sambungan telpon.


"Aku perlu bantuanmu sekarang" ucapnya bernada tegas.


Sebab dalam pikirannya sekarang ini hanya memikirkan tentang keselamatan Kanaya. Meski dia tahu Kanaya jago berkelahi. Tetap saja, nalurinya sebagai seorang suami ingin melindungi istri tercintanya. Memastikan keselamatan dan keamanan orang yang disayanginya tentunya.


"Tumben nih, biasanya Tony yang diandalkan. Lagi merajuk ya sama Tony?" ledek Fery. Kini Fery sudah bisa mengolok-olok Adrian seperti Mely istrinya. Dia sudah tidak terlalu dingin dan kaku lagi bersikap terhadap Adrian. Tony lah yang merubah sikap Fery. Dia yang sering mencontohkan bagaimana cara menindas Adrian? Hal itu pun didukung oleh Mely juga. Bagi mereka, mengerjai sang bos adalah kebahagiaan tersendiri.


"Si kunyuk nggak bisa bantuin, katanya nggak mau diganggu. Sudah nggak waras itu anak" gerutu Adrian kesal.


"Owh... Memangnya perlu bantuan apa nih? Tumben banget" kata Fery santai.


"Kanaya diculik" ucap Adrian lemah.


"Hah, siapa yang nyulik?".


"Gawat tuh".


"Kamu lagi dimana? Biar aku susul sekarang" Fery merespon dengan cepat permintaan bantuan dari Adrian. Berbeda dengan Tony yang tampak santai mendengar Kanaya diculik. Menurutnya yang perlu dikhawatirkan itu bukanlah Kanaya. Melainkan orang yang menculik Kanaya.


"Kita ketemuan di taman sari saja bagaimana?. Soalnya aku masih berada di parkiran mall, jarak mall dengan taman kan tidak terlalu jauh".


"Nanti, aku ceritain semuanya".


"Baiklah, aku langsung meluncur ke sana" panggilan pun terputus.


Adrian pun langsung menjalankan mobilnya ke tempat dimana dia dan Fery janjian untuk bertemu. Adrian harus secepatnya menemukan keberadaan Kanaya sebelum semua orang tahu kalau Kanaya diculik. Apalagi besok akan ada acara aqiqahan anaknya dan anak Andre. Otomatis kehadiran Kanaya sangat begitu penting untuk besok.


"Kamu dimana sih sayang? Semoga saja keadaanmu baik-baik saja sayang" Adrian sangat begitu mencemaskan istrinya tersebut.


Tak butuh waktu lama, Adrian sudah sampai di depan taman yang sudah dia janjikan dengan Fery tadi. Adrian juga tidak terlalu lama menunggu kedatangan Fery ditaman. Memang Fery sangat jago dan handal dalam mengemudi. Lebih jago dari Tony tentunya. Dalam waktu yang singkat dia sudah sampai.


"Kecepatan berapa sih dia mengemudi?" tanya Adrian dalam hati.


"Sudah lama" tanya Fery saat bertemu dengan Adrian.

__ADS_1


"Tidak, baru juga sampai" jawab Adrian.


"Bro, bukannya itu Tora. Itu mobil yang sering dipakai Tora kan" tunjuk Fery pada salah satu mobil yang lewat. Mereka berdua baru saja bertemu belum sempat mengobrol banyak sudah melihat hal yang mencurigakan.


"Iya benar sekali" jawab Adrian setelah mengamati plat mobil yang sangat dia kenal. Mobilnya yang memang dikhususkannya untuk transportasi Kanaya.


"Kita ikuti mobil Tora saja. Mungkin dia mengetahui keberadaan Kanaya" usul Adrian kepada Fery.


"Ayo cepat, sebelum kita kehilangan jejaknya" balas Fery. Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Namun, Fery yang langsung melesat mengejar mobil Tora lebih dulu.


"Gila itu anak, langsung tancap gas saja. Nggak nungguin dulu" gerutu Adrian merasa ditinggalkan oleh Fery. Namun, dia sedikit merasa senang karena Fery begitu cepat respon.


"Apa Tora beneran tahu keberadaan Kanaya?" Adrian bertanya-tanya dalam hati. Untuk menghilangkan rasa penasaran dia pun berinisiatif menghubungi Tora saja untuk memastikan.


"Halo.Tora kamu lagi dimana?" tanya Adrian seperti biasa.


"Ini lagi disuruh sama oma bos" jawab Tora yang masih fokus dengan kemudinya.


"Kamu disuruh ngapain? Saya perlu bantuan kamu sekarang ini" kata Adrian bernada kesal, padahal sebenarnya dia begitu penasaran apa yang tengah dilakukan oleh Tora.


"Apa oma sudah tahu kalau Kanaya diculik?" feeling Adrian mengatakan jika omanya sudah tahu masalah ini.


"Neng Kanaya katanya *diculik bos kata oma Rachel".


"Seriusan* bos, tadi oma bilang kayak begitu" Tora seakan takjub dengan firasat, biasanya firasat oma tidak pernah salah. Mungkin orang yang tengah dia ikuti sekarang ini adalah pelakunya.


"Pasti orang ini yang telah menculik neng Kanaya" gumam Tora dalam hati.


"Iya, makanya saya mau minta tolong sama kamu buat ikutan nyari keberadaan Kanaya. Sepertinya Kanaya memang beneran diculik" ujar Adrian sedikit frustasi.


"Kamu memangnya disuruh oma ngapain?" tanya Adrian yang masih penasaran. Dia masih terus fokus menyetir mobilnya mengikuti mobil Fery yang terlihat jauh jaraknya dari mobilnya.


"Tadi setelah bos menghubungi oma, oma langsung memerintahkan saya buat ngikutin seseorang. Katanya, neng Kanaya kini dalam masalah. Oma menduga kalau neng Kanaya sudah diculik" cerita Tora dengan jujur kepada Adrian. Adrian pun dibuat tak percaya dengan apa yang dia dengar dari Tora. Dia sungguh terharu dengan sikap oma.


"Oma seriusan berkata seperti itu" Adrian seakan masih tidak percaya sehingga menanyakan kembali.

__ADS_1


"Iya bos, saya disuruh mengikuti pria yang bernama Chandra" ujar Tora menjelaskan tentang misi yang tengah dia laksanakan saat ini.


"Sialan kamu Chandra. Awas saja kamu, jika terjadi apa-apa dengan istriku. Tak akan aku beri ampun kamu nanti Chandra" Adrian memukul stir miliknya.


"Tolong kamu ikuti pria tersebut. Jika sudah sampai ditempat tujuannya. Segera kamu share lokasinya ya".


"Oh ya, kamu jangan khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diduga. Dibelakang mobilmu, ada Fery yang tengah mengikuti mobilmu. Aku sedang menyusul kalian dibelakang".


"Hati-hati untuk kalian berdua ya" ucap Adrian sebelum mengakhiri panggilan telponnya dengan Tora.


"Baik bos, percayakan saja keselamatan neng Kanaya kepada kami" balas Tora dengan nada meyakinkan.


"Iya, tapi tetap saja saya harus memastikan keselamatan dirinya lebih dahulu" jawab Adrian tidak mau kalah.


"Sudah dulu, aku tutup dulu telponnya. Ingat, langsung share lokasinya. Ok" Adrian pun menutup panggilan telponnya. Kini dia sedikit merasa lega karena sudah ada titik terang tentang keberadaan istrinya.


"Tunggu sayang, aku akan datang menyelamatkan dirimu" ucap Adrian sambil memegang erat pegangan mobilnya.


Adrian benar-benar sungguh tidak sabar ingin mengetahui kondisi sang istri. Dia benar-benar mencemaskan Kanaya. Kemudian sebuah pesan dari Tora masuk. Berisikan sebuah peta lokasi. Mungkin itu adalah lokasi keberadaan Kanaya. Dengan kecepatan tinggi Adrian melaju, sebab jaraknya sekarang dengan lokasi tidak terlalu jauh lagi. Rasa tidak sabar ingin menolong, membuat Adrian seperti hilang akal. Sesampainya disana, dia melihat Tora dan Fery tengah mendiskusikan sesuatu. Mereka berdua tampak berbicara dengan sangat serius.


"Ada apa? Apa kalian ada melihat gerak gerik yang aneh?" tanya Adrian ketika menghampiri Yora dan Fery.


"Belum ada bos".


"Masih sunyi dan sepi" jawab Tora.


"Apa kita harus menunggu dulu?" tanya Tora.


"Sebaiknya kita harus memastikan terlebih dahulu, apakah Kanaya benar-benar ada didalam sana?" usul Fery. Adrian sempat berpikir, untuk keselamatan Kanaya tentu saja mereka harus lebih hati-hati dalam bertindak.


"Sebaiknya seperti itu. Kita harus mengutamakan keselamatan Kanaya".


"Lebih baik kita dekati rumah tersebut terlebih dahulu untuk memastikan. Jika ada hal yang mencurigakan atau sesuatu yang mendesak kita harus segera bertindak" kata Adrian langsung mendapat anggukan dari keduanya.


Mereka bertiga pun berpencar untuk mengamati rumah yang diduga sebagai tempat penyekapan Kanaya. Tidak berapa lama terdengar suara kegaduhan dari dalam. Hal ini langsung membuat cemas Adrian.

__ADS_1


"Kanaya"....


__ADS_2