
Setelah beberapa saat Kanaya mulai sadar, dan dia sedikit bingung dia sedang berada dimana sekarang. Sebuah kamar sederhana, tertata rapi dan juga bersih. Tercium aroma maskulin yang menandakan si pemilik kamar adalah seorang laki-laki.
"Kak Kanaya sudah bangun".
"Ulun minta maaf ka lah sudah meolah pian kaya ini. Ulun kada bemaksud menyakiti pian" ujar nya dengan rasa sedikit penyesalan.
("Saya minta maaf ka karena sudah membuat keadaan kaka seperti ini. Saya tidak bermaksud menyakiti kaka").
"Iya, tapi boleh lah melihat surat perjanjian jual beli yang dijulung pa Rahman?" kata Kanaya mencoba menyelidiki permasalahan yang sebenarnya.
("Iya, bolehkan aku melihat surat perjanjian jual beli dari pa Rahman? ").
"Inggih" ujar Ahmad.
("Iya").
Ahmad pun mengambil sebuah map dari tumpukan berkas yang ada di dalam lemarinya. Meski dia seorang laki-laki tapi pakaian yang ada di dalam lemarinya tertata begitu rapi.
"Ini ka" kemudian dia memberikan sebuah map berwarna biru ke arah Kanaya. Dia baca dengan seksama ada keterkejutan dari raut wajahnya. Kanaya sungguh tidak menyangka jika orang kepercayaannya untuk mengurus pembayaran jual beli tanah untuk pembangunan pabrik minyaknya, begitu sadis memotong nilai harga beli tanah dengan jumlah fantastis.
"Apaan ini? Ini penipuan, dia melakukan korupsi anggaran" kata Kanaya marah.
"Siapa maksud kaka? Pak Rahman? " tanya Ahmad serius. Kanaya mengangguk kepalanya tanda iya. Ahmad langsung duduk lemas ke lantai karena dia mempercayai perkataan orang tua tersebut. Dialah orang yang merencanakan untuk penculikan Kanaya saat ini.
"Inya mendustai ulun ka'ae" Ahmad kemudian terisak menangis karena bersalah telah melukai Kanaya.
("Dia membohongi saya kak").
"Kamu bisa hubungi dia, dan katakan kalau kamu sudah berhasil melumpuhkan aku serta sudah mendapatkan uangnya".
"Aku mau liat bagaimana reaksi dirinya" pinta Kanaya.
"Selama ini aku memang sudah mencurigainya, tapi karena dia teman bapaku. Makanya aku tidak ingin mengusiknya, dia pasti akan sangat kecewa kalau tau teman baiknya sudah menikam dia" ucap Kanaya membuat Ahmad merasa bersalah telah terjerat oleh kata-kata dusta yang dikeluarkan oleh pak Rahman.
"Maafin ka, maafin ka".
__ADS_1
"Ulun bujuran kada tahu" ujar Ahmad.
("Saya beneran tidak tahu").
"Iya nggak apa-apa. Kenapa kamu tidak menghubungi aku atau Andre? " tanya Kanaya yang heran kenapa setelah satu tahun terjadi transaksi baru Ahmad bertanya perihal ketidak sesuaian pembayaran. Namun dalam surat yang dimiliki Ahmad, pembayaran dicicil sebanyak tiga kali dan baru lunas tiga bulan yang lalu.
"Bisa kamu ceritakan semuanya? Padahal urusan pembelian ini sebenarnya sudah selesai dari setahun yang lalu. Uang yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Sebesar lima milyar uang yang dikeluarkan oleh perusahaan" Kanaya menjelaskan perihal tentang pembelian tanah tersebut.
"Ulun kada tahu, jer sidin pian yang menyuruh dibayari mencicil. Limbah tu jer sidin, pian kd jadi menukar harga sejuta karena kelarangan jadi dibayari tiga ratus ribu aja semeternya kebun sawit ampun kami" Ahmad mulai bercerita.
("Saya tidak tahu, katanya anda yang menyuruh pembayarannya dicicil. Selain itu, anda juga tidak mau membeli dengan harga satu juta permeternya karena terlalu mahal harga tersebut untuk harga kebun sawit kami").
"Padahal pian jua lo yang meanggar semalam".
("Padahal anda sendiri yang mematok harganya").
"Ulun jadi kada mehubungi pian atau pa Andre karena jer sidin pa Andre itu licik orangnya".
("Saya tidak mehubungi anda atau pak Andre karena katanya pak Andre itu orang yang licik").
"Telpon dia untuk segera datang ke gudang ditempat kita bertemu tadi. Pura-pura saja aku sudah berhasil kamu lumpuhkan. Aku akan menghubungi bapaku terlebih dahulu" kata Kanaya kemudian mencoba bangun, namun lagi-lagi sakit di kepala nya muncul kembali. Sekarang terlihat potongan kejadian bapanya memukuli seorang laki-laki yang terlihat hampir sekarat.
"Handphone ku dimana? " tanyanya ke Ahmad. Dia pun memberikannya kepada Kanaya, dan mencoba menopang tubuh Kanaya yang hampir saja terjatuh.
"Kakak kenapa? Ini minum dulu ka obat dari mantri tadi" Ahmad memberikan satu strip obat pereda nyeri untuk Kanaya kemudian memberikan satu gelas air minum.
"Mat, suruh bos bungas tuh makan dulu nah. Jangan langsung disuruh minum obat" ucap mamanya Ahmad yang merasa kasihan melihat Kanaya. Dia terlihat sangat marah kepada anaknya itu yang sudah bertingkah ceroboh. Dia membawa sebuah piring yang sudah berisi nasi dan lauk.
("Mat, suruh bos cantik makan dulu sebelum minum obat").
"Dustalah jer ku. Dustainya kalo, rasa kada mungkin inya ni bedusta. Nyata-nyata inya baik banar lawan mama. Rasa handak aku tatak muntungnya yang mengeramputi kita" kata mamanya Ahmad marah-marah.
("Benerkan kataku. Kamu dibohonginya, nggak mungkin dia ini berbohong. Sudah jelas dia sangat baik sama mama. Ingin rasanya aku potong mulutnya yang sudah membohongi kita").
"Inggih ma" Ahmad berkata dengan lesu.
__ADS_1
("Iya ma").
"Maaf nak lah, anak acil nih. Inya ni polos banar, nah makan lah seadanya dulu. Tadi beharaguan asam manis iwak telang aja acil nah" kata mama Ahmad memberikan sepiring nasi beserta lauknya.
("Maaf ya nak, anak tante ini. Dia orangnya polos, ini dimakan dulu ya makanan yang sederhana ini. Tadi tante cuma masak asam manis ikan kering telang").
"Inggih terimakasih banyak. Ini gin nyaman banar" jawab Kanaya sopan dan menerima piring tersebut, karena pantang di Kalimantan untuk menolak makanan yang sudah tersaji. Kalau kita menolak kita bisa "kepuhunan".
("Iya, terimakasih banyak. Makanan ini pun sudah enak banget").
Kanaya pun memakannya dengan lahap, dalam sekejap makanan yang dipiring tadi habis tak tersisa. Kanaya benar-benar sungguh menikmati makanan sederhana tersebut, dia jarang sekali makan menu seperti itu. Biasanya dulu kalau bermain ke rumah Kartika baru dia bisa menikmatinya, karena mamanya tidak bisa mengolah masakan tersebut dengan cita rasa yang pas. Memang hanya mereka orang pribumi asli yang membuat masakan tersebut menjadi sangat enak.
"Handak nambah lagi kah, pina nya kurang pang nah" mama Ahmad menawari Kanaya lagi. Kanaya hanya senyum-senyum terlihat malu untuk bilang mau nambah lagi. Namun mama Ahmad langsung beranjak ke dapur untuk mengambil kembali nasi dan lauknya.
("Nambah lagi, kelihatan masih kurang makannya").
Kanaya mencoba mehubungi bapanya. Dia ingin memberitahukan tentang perbuatan temannya itu. Sebenarnya dia ingin sekali menghajar orang tersebut, tapi karena dia sedang hamil jadi tidak ingin berbuat kasar. Biarlah bapanya yang mengurus, karena dia juga yang menyarankan agar pak Rahman yang mengurus pembayarannya.
"Kak ulun handak nelpon pak Rahman dulu lah" kata Ahmad kemudian pergi keluar dari kamarnya.
("Kak saya mau menghubungi pak Rahman dulu").
"Pa, bapak dimana?" tanya Kanaya setelah panggilannya terhubung ke bapanya.
"Lagi di pabrik ngajak Adrian, papa Adam sama mertuamu" jawab bapa Kanaya.
"Kanaya lagi diculik".
"Hah diculik" teriaknya bapa Kanaya kaget membuat Adrian yang berada disamping langsung menegakkan telinganya.
"Kamu dimana? Bilang sama bapa, biar bapa hajar orang yang berani culik kamu" katanya emosi dan juga khawatir. Adrian pun bertanya kepada sang mertua apa itu Kanaya. Semua yang mendengar sontak terkejut mendengar kabar Kanaya diculik.
"Tenang saja pa, nanti aku sharelock tempatnya. Bapa kuatkan diri bapa ya nanti" ucap Kanaya yang membuat bapanya sedikit heran. Suara Kanaya tidak terdengar takut, tapi malah terdengar sangat santai. Selain itu dia juga mendengar percakapan Kanaya dengan mama Ahmad yang memberikan sepiring nasi lagi ke Kanaya.
"Ya sudah nanti aja ya kita ketemuan pa, Kanaya mau makan dulu. Enak lo pa, ikan telang asam manis" kata Kanaya yang membuat bapanya jadi tergiur setelah mendengar menu makanan yang sedang dinikmati anaknya tersebut. Kanaya pun mematikan telponnya sebelum bapanya ingin bertanya lebih jelasnya tentang situasi penculikan dia sekarang ini. Terlintas kembali momen dimana Kanaya diculik laki-laki biadab tersebut. Si pedofil mengerikan yang membuat anaknya tersebut harus merubah identitasnya dan melupakan jati dirinya diwaktu kecil dulu.
__ADS_1