Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Rasa Empati


__ADS_3

Semua prosesi pemakaman Ivanka diadakan secara sederhana. Ryan terlihat begitu tegar melihat kepergian mamanya. Dia tidak menangis sama sekali. Dia hanya diam dan membisu, melihat para orang dewasa mengurus jenazah mamanya. Hingga detik terakhir tubuh Ivanka dimasukkan ke dalam liang lahat. Ryan tidak menangis sedikit pun. Namun tatapan matanya terlihat kosong dan hampa.


"Menangis lah, tidak usah ditahan" peluk Kanaya hangat dan lembut pada tubuh mungil milik Ryan.


"Tidak, aku anak kuat. Mama bilang aku anak hebat tidak boleh cengeng. Jangan kalah dengan dunia yang selalu kejam. Mama bilang, kalau Ryan akan hidup bahagia. Tidak seperti mama yang hidupnya menderita" kata-kata Ryan seakan menampar Adrian yang mendengarkan penuturan jujur dari anak kecil tersebut.


Adrian merasa ikut andil dalam membuat hidup Ivanka menderita. Jika Ivanka tidak terlalu obsesi untuk memilikinya mungkin dia tidak akan membuat hidup Ivanka menderita dan tersiksa. Setelah mendapatkan pelecehan dari ayah tirinya, Ivanka berubah menjadi gadis liar dan licik.


Adrian tidak bisa lagi memutar waktu untuk memperbaiki kesalahan yang telah dia lakukan kepada Ivanka. Terlebih lagi, dia mengorbankan dirinya untuk keselamatan Kanaya dan juga anak dalam kandungannya. Adrian bertekad dan berjanji kepada dirinya sendiri, dia akan membalas kebaikan Ivanka dengan mengurus Ryan.


Niki yang sangat membenci Ivanka pun ikut turut mengantarkan kepergian Ivanka. Niki tak kuasa menahan rasa sedihnya dikala matanya menatap ke arah Ryan yang berdiri terpaku melihat mamanya di masukkan ke dalam lubang peristirahatan terakhirnya. Sesekali terlihat dia menyapu matanya yang basah oleh buliran bening. Hati Niki merasa teriris mengingat anak kecil itu sudah kehilangan sosok orang yang telah melahirkannya dan menjaganya selama ini. Tak kuasa, Niki melangkahkan kakinya menghampiri Ryan. Berdiri disampingnya dan berjongkok sejajar dengan tinggi badan Ryan.


"Anak hebat, anak kuat. Nggak usah malu sayang kalau mau nangis. Anak laki-laki nangis bukan karena cengeng tapi menandakan dia hebat" Niki mengusap lembut pipi Ryan yang basah karena air mata yang terus mengalir. Niki meraih tubuh Ryan dan memeluknya dengan erat.


"Menangis lah, luapkan semua kesedihanmu. Jangan ditahan, tak usah malu. Semuanya sayang sama kamu ya" Niki menangis tak tahan melihat kemalangan yang dialami Ryan. Dia masih begitu kecil untuk melihat dan menerima kenyataan kalau mamanya meninggal karena dibunuh. Ryan pun akhirnya menangis dalam pelukan Niki. Baru saja dia melihat mamanya dimasukkan ke dalam tanah. Kini rasa rindu dan benar-benar kehilangan dia rasakan. Meskipun menahan untuk tidak bersedih, kenyataannya dia tidak bisa sekuat apa yang dikatakan oleh mamanya.


***

__ADS_1


"Ades, Dio. Ryan akan tinggal bersama kami. Aku sama Adrian sudah memutuskan untuk mengadopsi dia" Dio hanya diam mendengar penuturan dari Kanaya. Meski hati ingin merawat anaknya, tapi dia tidak ingin menyinggung perasaan Ades. Sedangkan Ades, dia merasa gelisah. Disatu sisi dia belum mampu menerima kehadiran Ryan. Disatu sisi dia merasa terlalu egois jika memisahkan seorang ayah dan anaknya. Dia perlu berpikir untuk memutuskan semua itu.


"Kenapa kalian diam?" tanya Kanaya yang sedikit merasa heran dengan kecanggungan mereka berdua.


"Oh tidak kak, hanya saja. Bolehkan nanti aku menjenguk Ryan?" tanya Dio yang memberikan jawaban kalau Ryan akan tinggal bersama Kanaya. Ades merasa sedikit senang suaminya memutuskan untuk lebih memilihnya daripada anaknya bersama Ivanka.


"Tentu saja boleh, kalian boleh menjenguknya".


"Apalagi anak-anakku juga bakal datang ke Jakarta. Jadi Ryan akan punya teman bermain dengan saudara barunya" kata-kata Kanaya seakan menusuk dalam hati Ades. Saudara baru, kata itu begitu sangat membuat hatinya sakit. Dia merasa sedang disindir oleh Kanaya, padahal Kanaya hanya berbicara mengatakan hal yang sebenarnya.


"Kak, kami pulang dulu ya. Aku merasa sedikit pusing" ucap Ades yang langsung minta izin pamit pulang. Wajahnya sedikit berubah masam. Terlihat dia sedang kesal. Kanaya mengira Ades hanya merasa sedikit kelelahan.


"Aku pamit pulang dulu kak" ucap Ades setelah memeluk Kanaya. Mata Ades melihat ke arah Ryan yang kini duduk disamping Adrian. Terlihat tatapan anak kecil tersebut begitu ingin diajak pulang oleh Ades. Wajah sedihnya begitu memelas menatap ke arah Dio. Namun Ades tidak menggubris dan melangkahkan kakinya untuk pulang.


Di sepanjang perjalanan pulang, Ades dan Dio hanya saling berdiam diri. Tidak ada obrolan hangat dan ringan yang sering mereka lakukan. Suasana diantara mereka berdua canggung dan hening. Seakan mereka berdua baru saja bertengkar hebat.


"Mas, lusa anterin aku cek kandungan ya" Ades memulai untuk membuka percakapan.

__ADS_1


"Ada masalah dengan perutmu sayang?" tanya Dio perhatian kemudian memberanikan diri memegang tangan Ades. Ades tersenyum ke arah Dio. Dio memang tulus khawatir dan perhatian kepadanya.


"Terkadang aku merasa sedikit keram mas, sepertinya bayinya mulai bergerak aktif" kata Ades.


"Apa tidak sekarang saja?" ucap Dio.


"Lusa saja mas. Aku ingin istirahat, nanti kalau aku sudah merasa lebih baik. Kita berkunjung ke rumah kak Kanaya ya mas. Kita jenguk Ryan" wajah Dio langsung berbinar setelah perkataan yang dilontarkan oleh Ades untuk menjenguk Ryan. Ades dapat melihat, jika Dio sangat peduli dan sayang kepada anaknya. Hatinya kini merasa sedikit nyeri, menemukan fakta suaminya sayang kepada Ryan. Padahal itu merupakan sesuatu yang wajar. Namun bagi Ades itu sebuah rasa sakit yang menyerang dirinya.


"Apa mas ingin merawat Ryan?" Ades mencoba untuk memeberanikan dirinya bertanya. Dio menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak usah berpikir yang macam-macam. Hanya saja aku merasa bagaimana hidup tanpa orang tua" sekali lagi Ades merasa tertampar dengan kata-kata. Dia merasa begitu egois tidak memberi kesempatan kepada Ryan untuk tinggal bersamanya.


Ades teringat dimana dirinya harus berjuang hidup sendiri ketika ibunya meninggal. Ibunya yang selalu melindungi dirinya dari amukan sang ayah ketika dia sedang mabuk. Fakta yang membuatnya tidak bisa melupakan kejadian ibunya meninggal. Ayahnya lah orang yang telah membunuh ibunya. Memukulnya dengan membabi buta hingga pembuluh kepala ibunya pecah akibat dibenturkan ke dinding.


"Aku ingin menjadi mamanya Ryan, menggantikan posisi Ivanka untuk melindunginya" ucap Ades dengan mata yang masih menerawang mengingat kepergian ibunya.


"Ada apa sayang? Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Kita bicarakan hal ini di lain waktu. Sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Kamu tampak begitu lelah" Dio mengusap pucuk kepala Ades dengan lembut.

__ADS_1


Dia begitu sangat menyayanginya dan perhatian dengannya. Apalagi kondisi yang tengah berbadan dua. Sangat mempengaruhi emosinya dan kejiwaan dirinya sebagai ibu baru. Hal itu yang selalu membuat Dio begitu menjaga perasaan Ades. Ibunya selalu menyuruh Dio untuk selalu menjadi suami siaga seperti almarhum ayahnya. Hal itupun dilakukannya dengan sepenuh hati tanpa merasa terbebani.


__ADS_2