Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Hendry Yang Memutuskan


__ADS_3

"Gerald sudah diamankan" laporan dari anak buah Adrian kepada Adrian.


Kini dikediaman keluarga Aston kembali berduka. Orang yang paling terpukul tentu saja Hendry karena merasa tidak mampu untuk melindungi istrinya.


Adrian pun hanya bisa menguatkan dan memberikan semangat kepada Kanaya atas kesedihan yang dialaminya saat ini. Kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Orang pertama yang mengajarkan segala hal tentang hidup kepadanya. Adrian bisa mengerti perasaan tersebut, karena dia merasakannya juga saat kehilangan opa Adam.


"Aku sudah mengurung, pria yang menjadi dalang dalam kejadian ini" ucap Adrian dikala istrinya terlihat lebih baik. Disaat rasa sedihnya mulai berkurang. Adrian sudah memberitahukan kepada Hendry tentang Gerald. Namun Hendry tidak ingin mengurusnya untuk sementara waktu.


"Baiklah, aku ingin bertemu dengannya" dengan tegas Kanaya mengatakannya. Adrian pun mengangguk setuju.


Selama beberapa hari ini Vanya tinggal dikediaman oma Rachel. Darren, Davina dan juga Sam telah pergi ke Singapore. Mereka kembali ke aktivitasnya mengurus bisnis keluarga Marven. Sam yang telah menjadi suami Davina mau tidak mau ikut membantu Darren mengurus perusahaannya.


Vanya menghampiri Hendry yang tengah duduk menikmati batangan nikotin yang dianggap penghilang stress. Dia membawakan secangkir kopi hitam, minuman favorit Hendry. Dia ingin mencoba untuk mengajak Hendry mengobrol.


"Kopi bang" tawarnya sambil meletakkan secangkir kopi tersebut. Hendry hanya tersenyum tipis menanggapinya. Vanya menghela nafas.


"Ma'af bang, sebenarnya ada yang Vanya ingin tanyakan ke abang. Itupun jika abang tidak merasa keberatan" Vanya memulai untuk membuka pembicaraan kepada Hendry.


"Kamu ingin menanyakan apa? Tanyakanlah, kenapa aku harus merasa keberatan dengan pertanyaan darimu?" tutur Hendry lembut. Sejak dulu, Hendry memang selalu bersikap lembut kepada Vanya.


"Sebenarnya ini ada kaitannya sama kak Mira. Vanya nggak enak hati jika langsung menanyakan hal ini" Hendry tampak serius mendengar ucapan dari Vanya.


"Maksudnya?" Hendry penasaran dengan pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Vanya. Seserius apa gerangan?


"Katakanlah, kamu jangan membuat aku penasaran seperti ini" ucap Hendry yang kini telah memposisikan duduknya berhadapan dengan Vanya. Kini malah Vanya yang merasa tidak karuan karena gugup melanda hatinya.


"Sebenarnya apa isi dalam botol kaca yang diberikan kak Mira kepada Kanaya setelah melahirkan kemaren bang? Memang kegunaannya buat apa?" itulah hal yang selama ini menggangu pikiran Kanaya.


"Itu saja" Vanya mengangguki perkataan dari Hendry tersebut.


"Cuma itu saja yang ingin kamu tanyakan, beneran cuma itu" Hendry pun akhirnya tertawa lepas untuk pertama kalinya. Setelah kehilangan Mira beberapa hari yang lalu. Hal itu membuat Hendry begitu murung dan sedih setiap saat. Namun kali ini dia bisa tertawa karena pertanyaan konyol dari Vanya. Ya, terdengar konyol bagi Hendry.

__ADS_1


"Kenapa? Memangnya ada yang lucu?" pikir Vanya. Namun, dilain sudut hatinya Vanya senang bisa melihat tawa Hendry kembali.


"Tidak. Aku kira sepenting apa, sehingga itu akan menyinggung Mira" Hendry kemudian terdiam setelah menyebut nama istrinya.


"Itu memang minyak khusus yang sangat berharga. Memangnya kenapa?" Hendry kembali bertanya.


"Aku waktu itu sempat keheranan dengan Kanaya. Sebab, dia bisa bergerak gesit. Padahal dia habis melahirkan beberapa jam yang lalu. Mustahil rasanya, bagi wanita yang habis melahirkan bisa berkelahi segesit dan memukul serta menendang begitu kuat" Vanya kini benar-benar serius menceritakan kejadian saat Kanaya mengalahkan pria yang memiliki model rambut mohawk tersebut.


Hendry kemudian membisikkan nama minyak yang ada dalam botol tersebut, kemudian memang mengatakan fungsinya seperti yang Vanya lihat. Vanya menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya.


"Apa yang tidak kamu percaya akan nyata jika berada di Kalimantan?".


"Aku pun dulu juga tidak percaya, tapi memang begitu. Harus bagaimana lagi. Kamu bisa lihat sendiri kan, Kanaya bisa sehat dalam waktu yang relatif singkat. Kanaya juga memiliki badan yang bagus meski telah melahirkan empat orang anak" Hendry menjelaskan.


"Tidak usah kamu pikirkan lagi".


"Lupakan saja".


"Untuk apa?" Hendry hanya tersenyum menatap manik mata Vanya. Sedangkan Vanya hanya terdiam memandangi Hendry.


*****


Kanaya menemui Gerald, orang yang telah menjadi penyebab kematian mamanya.


"Apakah kamu orang yang berani mengusik hidup keluargaku?" Kanaya duduk berhadapan dengan Gerald yang tangannya terikat keatas pada sebuah rantai.


"Tolong, ampuni saya. Saya janji tidak akan mengganggu dan mengusik lagi. Saya mohon pak Adrian" Gerald memohon keringanan hati Adrian untuk melepaskan dirinya. Gerald sungguh menyesali semua perbuatannya yang berlandaskan ego dan emosi sesaat yang membakar amarahnya.


"Bukankah sudah aku katakan, jangan memulai untuk mengusik. Tapi kamu mengindahkan ucapanku".


"Aku tidak berhak untuk melepasmu. Sebab, itu urusan istriku dan ayah mertuaku" Adrian berdiri sambil melipat kedua tangannya. Dia ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh istrinya tersebut. Semoga saja tidak mengecewakan.

__ADS_1


"Aku akui, kamu memiliki nyali sebelum datang kesini. Tapi setelah mendengar permintaanmu tadi. Kamu tidak lebih rendah dari seorang pengecut dan manusia sampah" Kanaya memberikan sebuah tembakan di kaki kirinya.


"Aaaakkhhh" darah segar mengalir di kaki kiri Gerald.


"Gila, sadis juga. Bini gue. Langsung pada penyiksaan" Adrian menggumam dalam hatinya. Namun hatinya merasa bangga.


"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Tapi, tenang saja. Aku pasti akan membebaskanmu" Kanaya berdiri dan berjalan menghampiri Gerald.


"Apakah kamu tau? Aku adalah malaikat pencabut nyawamu" Kanaya menekan luka dikaki Gerald dengan ujung heel yang dipakainya. Sontak Gerald mengerang kesakitan. Saat dia membuka mulutnya lebar, Kanaya langsung menodongkan pistol ke dalam mulutnya.


"Jika kamu berteriak, maka peluru ini akan


menembus kerongkonganmu".


"Nikmati rasa sakitnya, seperti aku menikmati sedihku kehilangan orang yang sangat begitu berjasa dalam hidupku".


"Apa yang akan kamu lakukan jika seseorang membunuh orang tuamu?".


"Balas dendam tentunya. Iya, kan. Seperti yang kamu lakukan sebelumnya. Ingin membalas suamiku, hingga akhirnya mamaku terbunuh karena ambisi balas dendammu".


"Maka kau pun harus merasakan hal yang sama" ucap Kanaya penuh amarah ketika mengingat mamanya terluka karena sebuah tembakan.


Kanaya semakin menekan injakan heelnya pada luka tembak di kaki Gerald. Tangannya dengan kuat menampari wajah Gerald yang sudah tak berbentuk karena bengkak dihajar oleh Adrian sebelumnya.


"Aku rasa sudah cukup bermain-mainnya untuk hari ini".


"Aku akan kembali lain waktu" Kanaya menepuk pipi Gerald.


"Jangan keluarkan peluru itu dari kakinya. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya sakit kena tembak" Kanaya meminta kepada anak buah Adrian yang berjaga disana.


Adrian memberikan lengannya untuk digandeng oleh Kanaya. Mereka berdua saling tersenyum satu sama lain. Untuk urusan Gerald, keputusan akhirnya Kanaya percayakan kepada Hendry. Biarkan Hendry menghilangkan rasa sedihnya terlebih dahulu. Sebelum menghakimi Gerald.

__ADS_1


__ADS_2