
"Aku sedang tidak ingin bercanda Ivanka" kata Adrian lebih lembut lagi. Ivanka sekarang terlihat berbeda dengan Ivanka yang dia kenal sebelumnya. Tatapannya pun kini terlihat lebih lembut, wajahnya memang tampak keibuan.
"Aku hanya ingin kamu melihatnya dan membiarkan dia tinggal bersamamu" katanya dengan lirih, namun terdengar dia sedang terisak. Entah apa yang membuatnya menjadi sedih. Tapi Adrian bisa merasakan bahwa tangisnya bukan tangis sebuah sandiwara. Melainkan perasaan sedih.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud apapun" ucapnya dengan butiran bening di pelupuk matanya.
"Aku hanya meminta tolong padamu untuk menemui Ryan". Ada sebuah getaran pada kata " tolong" yang diucapkan oleh Ivanka.
"Dia sangat ingin sekali merasakan kasih sayang seorang papa" kini Ivanka menangis tergugu. Adrian dapat merasakan beban yang dipikul oleh Ivanka. Merawat seorang anak sendiri mungkin sangat sulit untuknya. Namun Adrian tidak bisa mewujudkan keinginan Ivanka, karena tentu pasti itu bukanlah anaknya. Sebenarnya Ivanka bukanlah wanita yang jahat. Hanya saja dia melakukan segala cara agar dia bisa memiliki Adrian karena dia terlalu mencintainya. Hal itu yang membuat Adrian benci, jijik dan muak dengan drama yang selalu dia buat.
"Berikan aku waktu untuk berpikir".
"Tapi aku rasa anak itu bukanlah anakku. Tentu kamu masih ingat kan, karena bukan hanya aku saja yang mencicipi tubuhmu itu".
"Kamu juga ingatkan, sebelum aku melepaskan dirimu. Aku sudah mencek rahimmu untuk memastikan kalau kamu tidak sedang hamil" kata Adrian dingin.
"Kita lakukan tes DNA saja untuk memastikan. Tapi aku yakin kalau dia bukan anakku" ucap Adrian tegas.
"Tapi aku mohon padamu, meski dia bukan anakmu. Tolong sayangi dia. Aku hanya ingin keselamatan dirinya saja" Adrian terkejut mendengar perkataan Ivanka. Dia menduga kalau kedatangan Ivanka secara mendadak seperti ini pasti karena paksaan. Sorot matanya seakan ingin minta pertolongan dan perlindungan. Apa sebenarnya yang telah menimpa Ivanka?
"Aku tidak bisa janji" Adrian berlalu pergi meninggalkan Ivanka yang masih berdiam diri terpaku. Adrian tidak bisa menebak apa tujuan kedatangan Ivanka kali ini? Adrian harap dia tidak akan melakukan hal bodoh yang hanya akan merugikan dirinya sendiri.
***
"Sayang aku ingin cerita sesuatu" kata Kanaya yang sedang bermanja dalam pelukan Adrian sambil menonton acara TV.
"Tadi siang aku bertemu dengan salah satu teman oma. Tapi temannya itu menurutku aneh sayang".
"Maksudnya?" Adrian sedikit heran dengan Kanaya. Biasanya dia tidak terlalu peduli dengan seseorang. Tapi kini, dia sekarang seperti ibu-ibu tukang gosip.
"Hanya aneh saja, aku rasa dia bukan orang yang baik. Suaranya juga terdengar aneh" ucap Kanaya masih berpikir dengan jalan pikirannya. Dia belum bisa memastikan dan membuktikan tentang firasatnya. Jadi untuk sekarang dia akan merahasiakan ini dari Adrian dahulu.
__ADS_1
"Oh ya, selain itu aku juga bertemu dengan seorang wanita cantik berambut panjang dicat pirang. Ala-ala blonde gituh, cantik sih. Aku ketemu dia dengan anak laki-laki nya" curhat Kanaya.
"Deg" jantung Adrian berdegup kencang. Dari ciri-ciri yang disebutkan oleh Kanaya tadi. Sudah bisa dipastikan itu adalah Ivanka. Anak? Seorang anak laki-laki, mungkinkah? Apa dia anak Ivanka?.
"Aku melihat wajah anak tersebut seperti tidak asing".
"Wajahnya begitu sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal sepertinya. Tapi aku lupa siapa ya?" kanaya berceloteh menceritakan apa yang ada dalam pikirannya. Akhir-akhir ini Kanaya memang terlihat lebih suka bermanja ke Adrian. Mungkin karena faktor kehamilannya. Dia sangat suka rebahan pada dada bidang Adrian, menciumi aroma tubuhnya bagaikan aromatherapy yang memenangkan dirinya.
"Sepertinya mama kenal dengan wanita itu. Soalnya mama terlihat tidak suka bertemu dengannya" ucap Kanaya yang masih berada dalam pelukan Adrian. Berada dalam pelukannya membuat dirinya merasa tenang dan damai. Berharap kedamaian yang dia rasakan saat ini akan berlangsung lama. Adrian tidak merespon atau pun membahas tentang wanita yang dia rasa adalah Ivanka.
***
"Tolong Ivanka jangan bahas masalah ini. Aku sangat yakin kalau anak itu bukan anakku. Jangan ganggu hidupku lagi, aku tidak ingin menyakitimu karena anakmu" ucap Adrian pada panggilan suara.
.....
"Harus ku bilang berapa kali lagi, aku tidak ingin istriku terbebani karena masalah yang bukan urusanku ataupun dengannya. Dia lagi hamil Ivanka" Adrian masih berbicara lembut untuk memberikan penjelasan agar wanita itu bisa mengerti.
.....
"Tes DNA?" ucap Adrian lantang.
Kanaya terkejut ketika Adrian mengucapkan hal itu. Telinga semakin dimajukan olehnya agar bisa terdengar jelas.
"Sudah aku bilang, tidak perlu tes DNA. Aku yakin dia bukan anakku" tekan Adrian mengucapkan kalimat tersebut.
.....
"Memang aku berjanji sebelumnya hanya ingin cepat pergi darimu, karena aku tidak ingin berurusan denganmu lagi Ivanka".
Kanaya terkejut mendengar nama itu, nama perempuan yang pernah di ceritakan oleh Tora. Masih teringat jelas semua cerita tentang Ivanka yang diceritakan oleh Tora. Jadi perempuan itu datang kembali untuk mengambil suaminya dengan mengatakan meminta tes DNA. Kanaya masuk perlahan ke dalam ruang kerja Adrian tanpa sepengetahuan Adrian. Kanaya langsung mengambil handphone yang dipegang oleh Adrian.
__ADS_1
"Kapan akan dilakukan tes DNA nya?" tanya Kanaya secara tiba-tiba. Hal ini langsung membuat Adrian menjadi panik seketika. Dia menyesali kecerobohannya karena tidak menyadari kehadiran Kanaya. Sedangkan diseberang sana tidak terdengar suara apapun setelah Kanaya berbicara.
"Katakan Ivanka, kapan kamu ingin melakukan tes DNA?".
"Aku Kanaya istri Adrian, tidak usah takut. Aku tidak akan menjauhkan anakmu dari Adrian jika memang terbukti dia anak Adrian".
.....
"Baiklah kalau begitu, lusa aku ada waktu untuk menemani suamiku melakukan tes tersebut" ucap Kanaya, kemudian panggilan terputus. Hening diantara Adrian dan Kanaya kini.
"Sebenarnya aku hanya ingin minta izin untuk pergi bertemu dengan Ades, tapi sepertinya kamu sulit mengatasi masalahmu dengan Ivanka".
"Maaf, aku hanya bermaksud membantu. Bukan ingin ikut campur" kata Kanaya menahan sedikit rasa kecewa dalam hatinya. Namun tatapannya dingin terhadap suaminya itu. Baru tadi malam dia merasakan kedamaian, pagi ini dia sudah menemui kisruh dalam rumah tangganya. Kanaya tidak akan membuat celah bagi siapapun untuk menyakitinya ataupun melukai keluarganya sekarang.
"Aku yang seharusnya minta maaf, aku tidak ingin melukai hatimu. Aku yakin anak itu bukan anakku" Adrian mencoba untuk meyakinkan Kanaya. Dia tidak ingin Kanaya marah ataupun sedih.
"Aku tau itu".
"Wanita yang aku lihat dan aku ceritakan padamu, apakah dia Ivanka?" dari awal bertemu Kanaya memang berfirasat untuk menyelidiki tentang anak laki-laki tersebut. Apalagi tatapan mata tidak suka dari mertuanya membuat dia yakin untuk menyelidikinya. Ternyata firasatnya benar, jika ini ada kaitannya dengan Adrian.
"Iya, maafkan aku sayang telah mengecewakanmu karena masa laluku" ucap Adrian sambil memeluk tubuh kanaya. Kanaya menikmati momen indah seperti ini. Tiba-tiba saja dia teringat dengan ucapan Kartika tentang tabunya pelaminan diisi oleh dua pasangan pengantin.
"Tidak, itu hanya mitos" elak batin Kanaya untuk tidak mensugesti ini adalah kesialan. Dia tidak ingin membebani pikirannya dengan sesuatu yang belum kita tau pasti. Masa depan itu bukan kita yang mengatur, tapi kita hanya bisa berencana. Menentukan apa yang baik dan tidaknya untuk diri kita adalah Allah yang telah menetapkan takdir seseorang yang sudah tertulis sejak kita di dalam rahim.
"Aku janji akan selalu melindungimu dan keluarga kecil kita sayang" cium Adrian pada pucuk kepala Kanaya. Untuk pertama kalinya, Adrian merasa lemah. Kanaya lah kelemahan dirinya saat ini. Sedihnya Kanaya akan menjadi kesedihan yang terdalam untuk Adrian.
"Aku akan menerima anak itu jika seandainya anak itu adalah anakmu" kata Kanaya mencoba untuk iklhas dan berlapang dada. Namun sebenarnya hatinya sedikit terluka. Tapi dia harus adil, Adrian saja bisa menerima anak-anaknya, begitu pun sebaliknya.
"Ya Allah berikan aku kekuatan untuk menghadapi masalah ini. Tunjukkanlah kebesaran mu ya Allah, hanya padamu tempatku untuk mengadu" doa Kanaya di dalam hati, agar dia kuat menerima hasil tes DNA yang akan Adrian jalani nanti.
Apakah anak laki-laki itu anak Adrian atau bukan? Siapakah ayah biologisnya? Tungguin kelanjutannya ya. Terimakasih buat dukungan kalian semua. Untuk bab kelanjutannya di post nanti malam ya. Jangan lupa likenya ya. Happy reading ^-^
__ADS_1