Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Cerita Tora


__ADS_3

"Kanaya, oma bisa minta tolong sama kamu nggak" oma Rachel bertanya kepada Kanaya yang tengah ikut menata ruangan.


"Ada apa oma? Oma ingin minta tolong apa?" Kanaya menghampiri oma Rachel yang tengah sibuk mempersiapkan acara aqiqahan para cicitnya.


Oma Rachel yang paling antusias menyelenggarakan semuanya. Sebab, memang dia yang merencanakan semua acara ini. Tapi, oma Rachel tidak melakukan semua persiapan acara ini sendirian. Dibantu juga oleh Niki dan Vanya. Darren, Devina dan juga Sam akan datang nanti malam agar bisa ikut menghadari acara aqiqahan anak Adrian dan juga Andre. Selain itu juga temu kangen dengan ketiga cucunya. Lagipula acaranya akan diselenggarakan besok siang.


"Kamu bisakan ambil beberapa kue pesanan buat acara hajatan nanti?".


"Oma mesan beberapa kue di Mar's cake. Tadi, jeng Maria si pemilik toko nelpon. Kalau semua kue pesanan oma sudah selesai dibikinkan. Tapi dia tidak bisa ngantar, soalnya mau terbang ke Bangkok siang ini. Anak buahnya yang biasa ngantar pesanan lagi sakit, karena baru selesai operasi usus buntu. Dia tadi sih nanya sama oma, apa mau diantar pakai taksi online saja? Cuma oma agak khawatir saja, jadi oma bilang nanti biar dijemput sama orang rumah disini. Sekalian oma mau minta kamu ambil baju pesanan oma di butik Rey. Kan cuma baju oma saja yang belum diserahkan sama Rey kemaren" oma Rachel berbicara panjang lebar seperti biasanya. Kanaya hanya tersenyum kecil melihat sikap oma yang begitu sangat semangat menyiapkan semua acara ini.


"Baik oma. Tenang saja, semuanya akan Kanaya bereskan" Kanaya mengedipkan sebelah matanya. Kemudian menyalimi tangan tua yang sudah mengkerut tersebut dengan takzim.


"Kanaya ambil tas ke kamar dulu ya oma" pamit Kanaya kemudian berlalu pergi.


"Nanti biar ditemanin sama Tora kamu berangkatnya ya" Kanaya membalas ucapan oma Rachel dengan melengkungkan jari telunjuknya menyatu dengan jari jempolnya membentuk bulatan. Menandakan "OK".


"Bang Tora, sudah siap berangkat?" tanya Kanaya yang melihat Tora tengah asyik dengan permainan anak muda zaman sekarang. Moba legend.


"Eh, neng Kanaya sudah siap. Tunggu bentar ya neng. Sedikit lagi, selesai" Tora kembali fokus dengan ponsel pintarnya. Tangannya begitu lincah memainkan permainan yang biasanya Raniya mainkan. Kanaya hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk dengan santai sambil berseluncur di media sosial.


"Kita berangkat sekarang neng?" tanya Tora saat duduk di kursi kemudinya.


"Nggak bang, nanti saja tahun depan" jawab Kanaya tanpa melihat ke arah Tora yang tengah memperhatikan istri bosnya tersebut dari kaca spion mobil.


"Hehehe, memang kalau jodoh itu memang tidak salah arah ya" celetuk Tora dengan membingkai bibirnya dengan sebuah ulasan senyuman.


"Maksudnya apa bang?" Kanaya merasa jengkel dengan Tora karena menunggu Tora selesai bermain lumayan lama. Jadi dia berbicara sedikit jutek dan bernada judes.


"Maksudnya. Sikap neng Kanaya itu sebelas dua belas sama bos Adrian. Kalau neng Kanaya itu, versi ceweknya si bos".


"Neng, masih ingat nggak awal pertama berjumpa dengan bos Adrian?".

__ADS_1


"Saya kalau ingat itu, terkadang tertawa sendiri neng. Nggak nyangka kalau si bos itu cowok normal yang beneran bisa jatuh cinta. Malah kalau kata saya, si bos itu bucin banget sama neng Kanaya sekarang".


"Sekarang aja, bos Adrian itu sangat protektif sekali sama neng" Kanaya pun mengerutkan keningnya karena tidak merasakan hal demikian.


"Tiap jam saya itu harus laporan ke bos tentang kegiatan neng Kanaya. Malah saya itu wajib ngirim foto-foto kegiatan neng Kanaya" mata Kanaya pun terbuka lebar saat mendengar penuturan dari Tora tentang tugas yang Adrian berikan kepadanya.


"Serius bang!" tanya Kanaya seakan tidak percaya.


"Hahahaha. Dasar laki posesif, sampai segitunya" Kanaya dan Tora pun tertawa bersama karena sikap Adrian yang aneh.


"Itu belum seberapa neng, pernah nih. Waktu neng Kanaya habis melahirkan kemarin. Bos Adrian kan tidak dibolehin sama oma masuk ke kamar neng kalu malam-malam. Jadi pas suatu malam, si bos tuh kangen sama wajah neng Kanaya lagi tidur. Terus, saya disuruh kan sama si bos, buat ngambilin foto neng lagi tidur. Aduh, jadi malu saya mau ceritanya" Tora menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Sambil menarik nafas, menata kesiapan dirinya untuk bercerita.


"Memangnya kenapa bang?" Kanaya begitu penasaran dengan cerita yang akan diceritakan oleh Tora anak buah kesayangan suaminya tersebut.


"Malu neng" Tora nyengir kuda.


"Ceritalah bang. Nanti aku bilangin sama Adrian kalau bang Tora tidak menjalankan tugas dengan baik" Kanaya bernegosiasi dengan cara yang licik. Memanfaatkan nama suaminya.


"Cerita dong bang" bujuk Kanaya.


"Baiklah neng. Jika itu bisa membuat hati neng Kanaya bahagia sampai ke langit ke tujuh. Hehehe" canda Tora dengan ciri khasnya.


"Jadikan waktu malam itu, sekitar jam sepuluh malam bos Adrian ngasih saya tugas buat ngambil foto neng lagi tidur. Kan saya bingung neng gimana mau ngambil fotonya. Sedangkan neng tidur sekamar sama oma Rachel. Lha gimana saya mau ngambil fotonya. Tau sendiri gimana oma".


"Pelan-pelan tuh saya buka pintu kamar neng, beruntung ternyata nggak dikunci tuh pintunya. Nah, kesempatan bagus nih. Saya ngomongnya dalam hati tuh neng, jadi pelan-pelan nih saya jalan menghampiri neng Kanaya. Sambil nengok ke kanan dan kiri. Saya lihat nggak ada penampakan oma Rachel dalam kamar kan".


"Aman. Ucap saya waktu itu. Bakalan berhasil kan menurut saya" ujar Tora


"Terus bang Tora berhasil?" tanya Kanaya penasaran.


"Berhasil dong saya ngambil foto neng Kanaya lagi tidur" ucap Tora dengan bangga.

__ADS_1


"Wuih hebat dia berani masuk kamar singa betina" puji Kanaya pada Tora.


"Tapi tunggu dulu neng, ceritanya belum berakhir. Jadi pas saya mau nutup pintu kamar. Saya merasakan ada tangan yang menepuk pundak saya. Terasa dingin sekali tangannya neng".


"Terus... Terus" Kanaya tampak antusias mendengarkan cerita Tora.


"Bulu kuduk saya langsung berdiri tuh neng, dalam hati saya. Ketemu setan nih. Untuk meyakinkan hati saya. Saya coba balik badan pelan-pelan. Tapi mata saya tertutup, takut neng kalau beneran lihat penampakan".


"Habis itu apalagi bang?" Kanaya bertanya lagi. Tidak sabar ingin mendengar cerita Tora yang melayani keinginan suaminya yang nyeleneh.


"Jadi sosok di depan saya itu ngomong buka matamu" Tora menirukan cara bicara sosok yang menepuk pundak Tora tadi. Dengan nada bicara seperti berbisik.


Saat kejadian tersebut, tangan Tora dingin dan terasa sekali kalau dia sedang mengalami krisis keberanian. Ingin sekali rasanya dia berlari, tapi kakinya begitu gemetar tak mampu untuk melangkah.


"Terus abang buka mata abang?" tanya Kanaya yang sangat begitu penasaran dengan kelanjutan cerita Tora. Lamunan Tora buyar ketika mendengar pertanyaan Kanaya tadi. Tora mengangguk sebagai tanda mengiyakan pertanyaan Kanaya.


"Setelah itu apa yang abang lihat?" tanya Kanaya lagi. Kanaya benar-benar serius mendengar dan menunggu cerita dari Tora.


"Neng seriusan pengen tau" Tora mencoba untuk menggoda rasa penasaran Kanaya.


"Ya jelaslah bang, Kanaya penasaran nih bang".


"Sosok seperti apa yang menepuk pundak bang Tora?" Kanaya terlihat begitu gregetan.


"Sosok tersebut adalah sosok yang mengerikan neng" Tora menggidikkan bahunya seolah ngeri.


"Wujudnya seperti apa bang?".


"Dia wanita dengan pakaian serba putih dan wajahnya juga putih seperti kapas" Tora menceritakan tentang sosok yang dia lihat pada malam itu. Kanaya pun membayangkan betapa mencekamnya kejadian yang Tora alami saat itu.


"Tangannya secara perlahan meraih muka saya neng, seperti ini" Tora memperagakan cara tangan dingin itu menggapai wajah pucat Tora yang ketakutan.

__ADS_1


"Iiihh... Seram" Kanaya langsung bergidik ngeri.


__ADS_2