
"Eh, om ganteng".
"Om ganteng ya yang nemenin Yaya nonton. Ih senangnya" celoteh Raniya saat masuk ke dalam mobil yang akan siap dikendarai oleh Sam. Sam hanya tersenyum mendengar ucapan Raniya yang memang ceplas ceplos. Ganteng. Sam merasakan ada rasa bangga dipuji "ganteng" oleh anak seumuran Raniya. Anak kecil saja menganggap dia ganteng, tapi kenapa cewek-cewek pada ninggalin dirinya. Pertanyaan besar yang perlu diselidiki, apa perlu vote tentang nilai kegantengan dirinya. Sam berpikir keras dalam kepalanya, sedih karena tak kunjung memiliki kekasih hati.
"Oh ya om. Om sudah punya pacar?" tembakan yang pas. Sebuah pertanyaan yang lagi dipikirkan oleh Sam. Dilemanya masih jomblo. Apa karena terlalu sibuk bekerja? Sepertinya tidak, waktu bekerja dengan opa Adam. Kerjanya sangat santai dan fleksibel. Selalu ada waktu jika ingin berkencan. Malu pastinya jika terus menjomblo.
"Belum non Yaya" jawab Sam sopan dan lembut.
"Masa sih om. Om ganteng lho. Nanti ke mall cari cewek sekalian ya buat om. Biar nggak jomblo lagi. Hehehe" ucapan Raniya membuat Sam terkejut keheranan. Dikiranya cari pacar semudah mesan nasi goreng atau beli keripik singkong yang di abang-abang bisa langsung bungkus kalau kita suka. Anak kecil. Tapi kalau sudah tau percintaan bukan anak kecil lagi. Tapi dewasa terlalu dini, hadeh.
"Saya masih belum ingin punya pacar non, sendiri seperti ini lebih baik" padahal hati Sam menjerit menolak ucapannya tersebut.
"Maaf ya non om bohong. Malu kalau ketahuan non Raniya kalau om ganteng yang dibilanb non Raniya ini nggak laku" gumamnya dalam hati dengan perasaan ngenes. Kasian.....
"Non, tiketnya sudah dibelikan. Tapi jam tayangnya masih sekitar satu jam. Apa non Raniya mau makan dulu?" tanya Sam setelah membeli tiket filmnya.
"Boleh deh om. Kita makan disana saja ya. Kelihatan rame banget restorannya, mungkin makanan disana enak-enak om" tunjuknya ke restoran yang padat pengunjung. Sam pun langsung menuruti keinginan gadis kecil itu.
"Non, duduk disana dulu ya. Non pesan saja dulu makanannya, saya mau ke toilet dulu sebentar" Sam meminta izin untuk pergi ke toilet dulu sebentar, Raniya memberikan lingkaran pada jarinya yang artinya OK.
Tidak berapa lama Sam pergi ada dua orang pria menghampiri Raniya. Satu duduk di sampingnya satunya lagi duduk di depannya.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu ikuti perintah kami. Jika kamu ingin selamat dan papa tirimu juga selamat. Kini bos kami sudah menawan Adrian papa tirimu" ucap pria yang ada di samping Raniya. Raniya pun terkejut dengan apa yang diucapkan pria tersebut. Benarkah papa Adriannya telah tertangkap? Sebab setahu dirinya dari obrolan dia dengan beberapa bodyguard yang ada di rumah, kalau papa Adrian itu pria yang tangguh. Raniya berpikir apakah ini hanya tak tik untuk bisa menculik dirinya.
"Baiklah aku akan ikuti permainan kalian. Jikalau benar papa Adrian diculik. Maka dia akan menolongnya" ucap Raniya dalam hati.
"Saya ikuti mau kalian. Tapi saya mohon jangan sakiti papa saya" pinta Raniya memohon kepada dua orang yang berada bersamanya. Dua orang tersebut memberi kode kepada temannya yang lain diluar restoran.
Kedua orang tersebut meminta Raniya untuk berdiri dan pergi bersama mereka. Tapi tanpa mereka sadari Raniya sudah meninggalkan pesan di meja untuk Sam. Bertuliskan "papa dalam bahaya", Raniya berharap bodyguard ganteng itu membaca pesannya tersebut.
Sesampainya dimeja, Sam tidak menemukan Raniya lagi. Tanpa sengaja dia meraba meja tempat duduk Raniya tadi. Dilihatnya, ternyata pesan dari Raniya yang mengatakan kalau Adrian dalam bahaya. Sam pun langsung bergegas untuk mencari keberadaan Raniya, dia takut bakal diamuk oleh bos barunya "The Queen". Tentang bos Adrian nanti sajalah dia mencari keadaannya, yang penting keselamatan Raniya.
Raniya mencari cara agar bisa melarikan diri mereka ber empat. Ternyata mereka ber empat, dua orang menjemput dirinya di dalam. Duanya lagi menunggu di depan restoran. Mereka berdualah yang diberi kode oleh pria yang memakai jaket jeans bewarna pudar tadi. Tiba-tiba Raniya tertarik ketika melihay seorang perempuan yang seumuran mamanya. Penampilannya begitu keren dimata Raniya sehingga membuat dirinya merasa kagum. Raniya pun langsung berlari ke arahnya. Kemudian merangkul tubuh langsing itu begitu erat.
"Tante tolong Yaya, mereka mau culik Yaya" ucap Raniya lirih. Perempuan tersebut melirik ke arah empat pria yang tadi menggiring Raniya. Menatapnya sinis, serta memicingkan matanya seperti elang yang ingin memangsa sang target.
"Anda jangan bicara omong kosong, dia ini anak bos saya. Kami memang disuruh untuk membawanya pulang. Jadi anda jangan menuduh yang macam-macam" ucap pria berjaket jeans tadi. Mungkin dia pemimpin mereka yang ditugaskan untuk menculik Raniya.
"Telpon bosmu itu, katakan aku tantenya yang bernama Vina akan mengantarkan dirinya pulang" dia menantang mereka berempat. Mereka tampak seperti kebingungan.
Namun salah satu dari mereka langsung mencoba untuk menyerang Vina. Namun sayang, pukulannya meleset sebab Vina langsung menendang kakinya. Sehingga pria tersebut langsung terjerembab ke bawah.
Melihat kawannya dilumpuhkan seperti itu yang lainnya pun seolah tak terima. Perkelahian di mall pun tidak bisa terelakkan lagi. Sebagian orang melihat pertempuran sengit satu orang wanita melawan empat orang pria. Bukankah hal yang luar biasa menakjubkan. Sungguh peluang yang jarang bisa ditemukan. Para mata yang menyaksikan hak tersebut dengan sigap merekam setiap kejadian dalam ponsel mereka. Demi apa coba, demi konten pastinya. Hal yang membanggakan bukan, bukannya dilerai atau dibantui. Mereka berempat mengeroyok seorang wanita bukannya simpati malah asyik merekamnya. Dunia sekarang begitulah metode kerjanya.
__ADS_1
Raniya tak ingin berdiam diri saja seperti orang dewasa lainnya yang hanya jadi penonton, dia pun ikut serta membantu melawan. Sebab ini bermula darinya yang meminta bantuan wanita tersebut. Entah kenapa, dia ingin meminta bantuan padanya. Ternyata dia jago berkelahi. Raniya merasa senang, karena instingnya berfungsi dengan baik. Wanita yang bernama Vina tersebut tersenyum ketika Raniya memukul perut pria yang hendak memberikan pukulan kepada Vina. Salah satu dari mereka mencoba untuk menangkap Raniya, tapi sayang bukannya tertangkap. Tapi malah Raniya memberikan tendangan pada bagian dalam pahanya, kemudian memukulnya di bagian dada sebelah kanan. Dia pun langsung tersungkur.
"Non Yaya" teriak Sam ketika melihat kerumunan yang mana Raniay dan Vina sednag berkelahi. Tanpa ada peringatan terlebih dahulu, Sam langsung menghajar mereka yang ingin menghajar Vina. Dalam sekejap dan beberapa pukulan mereka semua terkapar karena pingsan.
"Non Yaya tidak apa-apa?" tanya Sam khawatir. Dia memindai dari atas sampai bawah. Tak ada yang lecet, Sam pun bernafas lega.
"Sebaiknya kita pulang saja non, takutnya mereka bakal bawa bala bantuan buat menangkap non Yaya" ujar Sam memberikan pendapat.
"Nggak mau pulang, mau nonton film tadi".
"Astaga, apa filmnya sudah diputar ya om. Kita haris cepat kesana" Raniya menepuk jidatnya karena baru ingat tentang filmnya tadi.
"Kita tidak boleh takut sama mereka yang jahat om. Bukannya kita disini juga nunggu pengawal yang katanya oma khusus buat jaga Yaya".
"Tapi kok belum datang ya" celoteh Raniya berbincang dengan Sam. Sedangkan Vina dianggurin. Kasian.....
"Ehmmmm" Vina berdehem. Raniay dan Sam pun melirik ke arah Vina. Bari sadar mereka mengindahkan kehadiran dia. Maaf ye...
"Eh tante, maaf. Oh ya tan, kenalin om Sam".
"Om Sam, dia tante Vina yang bantuin Yaya tadi" Raniya mengenalkan dua insan yang berbeda jenis kelamina tersebut. Vina yang cantik dan Sam yang ganteng, sangat cocok sekali. Apalagi sama-sama jago berkelahi. Pasangan yang keren pastinya, Raniya masih sempat-sempatnya mikir mau comblangin mereka berdua.
__ADS_1
"Kenalkan saya Davina, pengawal pribadi kamu Raniya" Sam dan Raniya pun langsung terkejut atas ucapan Vina barusan.