Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Kanaya Bikin Pusing


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, hari ini akan dilaksanakan tesa DNA untuk membuktikan kalau Ryan adalah anak Adrian. Anak kecil ini terlihat begitu polos dan tidak mengerti dengan semua ini. Dia hanya menatap Adrian malu-malu. Seperti sedang takut, di curi-curi pandang hanya untuk melihat Adrian. Tingkahnya begitu lucu, membuat Kanaya tidak mampu membiarkannya.


"Sayang, kamu masih ingat sama tante?" Kanaya menghampiri Ryan dan mengelus rambutnya. Terlihat Ivanka tidak marah dengan sikap Kanaya, justru sangat terlihat dari matanya seakan seperti sedang memohon. Ryan hanya mengangguk bahwa masih ingat dengan Kanaya.


"Ryan mau tinggal sama papa?" pertanyaan Kanaya seakan mengusik Adrian. Terlihat wajahnya begitu gusar. Sikap lembut Kanaya seperti ini tidak bisa dibiarkan, dia seperti bunglon bisa berubah kapan saja jika dia mau. Adrian malah seperti sedang dalam penjara yang dibuatnya sendiri. Seperti inilah susahnya memiliki istri yang super mandiri. Kapan saja bisa terbuang. Ingin sekali dia mencegah Kanaya untuk bersikap baik kepada Ivanka dan anaknya. Justru hal itu pasti akan lebih menyulut emosinya.


Adrian sedikit terkejut ketika mertuanya atau mama Kanaya yang menceritakan tentang Kanaya. Dia selalu bersikap lembut, baik dan seolah lemah di depan musuhnya. Tapi sebenarnya tidak. Dia hanya mengecoh, jika sudah tepat waktunya. Maka Kanaya akan menyerangnya tanpa ampun. Hal ini yang ditakutkan Adrian, karena Kanaya sedang hamil sekarang.


Kanaya mengelus rambut Ryan dengan lembut dan merangkulnya begitu hangat. "Sebentar lagi kamu akan berjumpa dengan papah kandungmu" ucap Kanaya seraya mengecup keningnya hangat.


"Benarkah tante" teriak Ryan kegirangan. Begitu nampak dia sangat merindukan sosok seorang ayah dalam hidupnya. Meskipun Ivanka memberikan kehidupan yang baik dengan penuh kasih sayang. Tetap saja hal itu kurang lengkap bagi anak sekecil Ryan. Apalagi jika ada yang menanyakan tentang ayahnya. Pasti sulit untuknya menjawab pertanyaan tersebut.


"Untuk hasilnya mungkin membutuhkan waktu sekitar tiga hari paling cepat, paling lama satu minggu".


"Saya akan menghubungi pak Adrian jika hasilnya keluar" ucap dokter yang baru saja keluar dari ruangan. Setelah sampel keduanya diambil.


"Baik dok, saya tunggu kabarnya secepat mungkin" Adrian menyalami sang dokter. Ryan masih menatap ke arah Adrian. Seakan dia baru saja bertemu dengan idolanya, jadi matanya tidak berhenti memandangi.


"Kalau begitu saya permisi" si dokter pun meninggalkan Adrian, Kanaya, dan juga Ivanka beserta anaknya.


"Kita tunggu hasilnya, sebaiknya kamu jangan menghubungi ataupun menggangguku dan juga istriku" ucap Adrian sinis. Ivanka hanya mengangguk, dia seakan menurut dengan perkataan Adrian. Sulit untuk ditebak ataupun dimengerti apa tujuan Ivanka saat ini.


"Sebaiknya, mereka ikut tinggal bersama kita selama hasilnya belum keluar" usul Kanaya membuat Ivanka terkejut, terutama Adrian.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Adrian heran.


"Ya maksudnya tinggal bersama kita, jadi seumpama dia benar anakmu. Dia tidak merasa canggung lagi" perkataan Kanaya malah membuat Ivanka begitu terheran. Biasanya seorang istri akan marah dan mengamuk jika tahu suaminya memiliki anak dengan wanita lain, tapi Kanaya tidak. Ivanka mengagumi sikap Kanaya yang sangat begitu dewasa dalam menghadapi masalahnya. Dia sudah salah menila Kanaya.


"Kamu jangan bercanda sayang".


"Dia kalau tinggal dirumah, jangan harap bisa keluar dalam keadaan hidup" tunjuk Adrian ke arah Ivanka. Hal ini membuat Ryan takut dan meringkuk di belakang Ivanka.


"Kamu tau, mama sangat membenci dia. Bisa-bisa dia bakal dikuliti hidup-hidup sama mama".


"Aku sarankan jangan. Dia bukan anak kecil, pasti bisa mengurus dirinya dan juga anaknya" Adrian menarik tangan Kanaya untuk pergi meninggalkan Ivanka.


Adrian masih bingung dengan pemikiran Kanaya saat ini. Ternyata dia lebih sulit ditebak dibandingkan mamanya. Semoga saja Kanaya tidak akan melakukan hal yang akan merugikan dirinya. Adrian sangat takut dan khawatir dengan Kanaya. Meskipun Kanaya terlihat baik-baik saja saat ini. Takutnya itu hanya topengnya saja, padahal dia begitu rapuh.


***


"Aku bermaksud untuk memberikan posisi tersebut kepadanya" ucap Adrian meminta pendapat Mely perihal rencananya. Bagaimana pun juga Mely harus ikut serta untuk memutuskan karena dia Adalah istrinya.


"Apa bang Adrian yakin?" Mely tampak ragu dengan keputusan Adrian. Walaupun sebenarnya Mely sangat senang dengan rencana ini. Tapi dia tidak ingin jadi perbincangan para karyawan tentang hal ini. Padahal dia selalu memimpikan bisa kerja satu kantor dengan suaminya.


"Ide yang bagus tuh Mel, setujuin saja".


"Anggap saja bulan madu lagi, kan seru tuh bisa romantisan dikantor setiap saat" ledek Tony yang sudah sembuh dari perkelahiannya waktu itu bersama Fery.

__ADS_1


"Dasar jones, sok tau".


"Buruan tuh lamar si Amanda, kan udah ketuk palu. Jangan sok ahli dalam masalah percintaan".


"Kalau punya perasaan jangan dipendam, tapi diungkapkan. Kalau keduluan yang lain baru nangis bombay. Wuuueeeeeekkkk" Mely meledek Tony dan memperagakan gaya anak kecil ketika menangis.


Hal ini membuat Adrian tertawa lepas. Rasanya begitu lama mereka bertiga tidak bercanda seperti ini. Begitu banyak kejadian yang membuat mereka tidak memiliki waktu untuk mengobrol ringan seperti sekarang. Mereka pun berbincang-bincang mengenai hal-hal yang konyol hingga tertawa bersama. Saling mengejek dan mengumpat sudah hal yang biasa. Itulah yang mempererat hubungan dan kebersamaan mereka bertiga.


***


"Des, hari ini kita periksa kandungan bersama-sama yuk" Kanaya menghubungi Ades, setelah perjumpaan mereka terakhir kali meminta Ades untuk melakukan cek kehamilan bersama. Seperti double date, tapi ngedatenya ke dokter kandungan.


"Nanti aku kabarin rumah sakitnya sama jam pengecekannya. Biar nanti aku jadwalin terlebih dahulu sama dokternya, ok" Kanaya tersenyum bahagia dengan janji yang dia buat bersama Ades.


"Akhirnya tiba juga" Kanaya merasa sedikit lega dengan semua yang sudah direncanakan olehnya berjalan lancar.


Adrian sudah mendapat kabar dari dokter, bahwa hasil DNA sudah keluar. Adrian nampak gugup setelah mendapatkan telpon. Dia terlihat gusar dan panik, Kanaya dapat merasakan hal tersebut.


"Sayang, kamu jangan takut seperti ini".


"Oh, ya. Sekalian kita cek kandungan aku, tadi aku sudah buat janji sama dokternya. Kita bakal barengan ceknya sama Ades dan juga Dio" Adrian terperangah dengan ucapan istrinya ini.


Seandainya Ades dan Dio tahu tentang masalah ini, apa kata dunia? Adrian heran dengan jalan pikiran Kanaya sekarang. Entah dia berubah atau hanya pengaruh kehamilannya saja. Maklum ini adalah pengalaman pertamanya menghadapi kehamilan seorang istri jadi tidak terlalu memahami, seperti yang pernah dia dengar tentang wanita yang sedang hamil sebelumnya. Sejatinya, mereka paling sangat menyukai untuk membuat bingung sang suami.

__ADS_1


Apakah hal ini yang sedang Kanaya lakukan? Ingin dia memarahi, tapi Kanaya tidak ada salah. Ingin dia menanyakan maksud dan tujuannya, takut Kanaya akan merajuk. Walaupun selama ini Kanaya tidak pernah merajuk. Tapi dia tetap ragu untuk bertanya. Hanya dia seorang yang suka merajuk. Tapi Adrian juga tidak ingin membuat mood Kanaya jadi buruk. Cukup dia yang merasa sedikit tersiksa dengan semua hal yang diperbuat oleh istrinya yang paling dicinta.


"Ya allah, kuatkan lah iman hamba. Berikan kesabaran yang tiada batas dihati hamba. Agar tidak pernah berucap kasar padanya. Bidadari surgaku ini ya Allah" Adrian begitu frustasi. Membayangkan, jika hasilnya positif entah seperti apa respon Ades dan Dio. Meskipun hal yang lumrah bagi pengusaha sukses seperti Adrian memiliki banyak wanita. Tapi tetap saja itu adalah yang memalukan bagi keluarga Aston yang selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang perempuan.


__ADS_2