Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Kado Kejutan


__ADS_3

Hari resepsi berjalan dengan lancar dan diselengarakan begitu sangat mewah. Tak seperti perkataan Niki yang sederhana tapu tetap mewah. Tapi memang benar-benar sangat mewah. Banyak kado yang didapatkan oleh kedua pasangan dari para teman-teman, kenalan, keluarga dan rekan bisnis.


Kebahagiaan menyelimuti keluarga mereka pada hari besar yang sangat begitu spesial. Ibaratnya Kanaya dan Adrian, Giselle dan Andre benar-benar telah menjadi ratu dan raja sehari. Semua mata yang memandang merasa takjub dengan kedua pasangan yang begitu sangat serasi dan cocok. Para pengantin wanitanya tampil begitu sangat cantik. Para pengantin prianya pun juga tampil sangat tampan dan mempesona.


***


Hari ini orang tua Kanaya akan kembali pulang ke Kalimantan. Setelah seminggu dari acara resepsi perkawinan Kanaya.


"Randy benar mau tinggal di Jakarta?" tanya mama Kanaya sekali lagi kepada putra sulung Kanaya.


"Iya nek, Randy mau disini dulu sama mama. Lagian sekolah Randy sekarang kembali online".


"Randy sudah bawa semua keperluan buku sekolah Randy. Jadi nenek jangan khawatir. Papa Adrian akan bantuin Randy".


"Iya kan pa" ucap Randy mengedipkan sebelah matanya. Adrian pun terkejut dengan sikap putra sulung Kanaya itu. Tapi dia senang jika Randy sangat menerimanya dan menganggap dia seperti papanya sendiri.


"Mama tidak usah khawatir. Randy akan baik-baik saja disini. Lagian dia kan aku mamanya. Masa anak sendiri dilarang ikut sama mamanya. Mama itu terlalu over deh, kan masih ada tuh dua cucu yang diurus" Kanaya yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepada Adrian tadi. Dia ingin mamanya tidak terlalu khawatir. Mungkin bukan Kanaya atau bapanya yang trauma dengan kota Jakarta. Melainkan mamanya, masih terlihat guratan khawatir di wajahnya.


"Bukannya seperti itu, entah kenapa perasaan mama merasa kurang tenang. Ada sesuatu yang mengganjal" tunjuk mam Kanaya di dada.


"Mama takut ada kejadian buruk yang akan menimpa disini" pandangan mama Kanaya menerawang. Seolah tengah menafsirkan apa yang terlihat. Niki tau persis sifat Mira. Feelingnya tidak pernah meleset. Kini ada rasa kekhawatiran muncul dibenaknya.


"Kamu jangan khawatir, ada aku".


"Kamu tau sendiri kan, seperti aku. Aku jamin, tidak akan ada yang pernah dan bisa menyakiti siapapun dirumah ini" ucap Niki dengan penuh keyakinan. Meskipun dia sendiri tau, sangat sulit untuk menjaga semua orang dalam satu waktu.


"Aku titip mereka ya mba" ucap mama Kanaya masih terasa berat untuk ikhlas melepas cucunya tinggal disini.


****


"Kamu lagi ngapain?" tanya oma Rachel kepada Randy ketika dia tengah asyik membuka salah satu kado hadiah perkawinan yang diberikan seseorang kepada mamanya dan juga papanya.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya oma Rachel sekali lagi karena tidak mendapatkan jawabn dari Randy. Dia juga terlihat nampak mencurigakan.


"Tidak ada apa-apa kok oma" jawabnya dengan tersenyum seakan tidak ada yang perlu dicurigai.


"Anak yang pintar. Tapi sayang kamu menghadapi lawan yang salah" ucap oma Rachel dalam hati yang sangat hapal cara orang untuk menghindari sesuatu yang dirahasiakan.


"Owh begitu ya".


"Ya sudah oma mau ke depan" ucap oma Rachel berpura-pura berpaling akan keluar dari kamar Randy. Saat Randy ingin mencoba membuka kembali kotak kado tersebut. Dia kalah cepat dengan oma Rachel. Kecepatan gerakannya masih sangat cepat dan gesit. Masih tak berubah sedikitpun. Kini kotak tersebut sudah berpindah dalam tangan oma Rachel.


Oma Rachel terkejut melihat isi dalam kotak kado tersebut. Wajahnya langsung memerah, seketika menatap tajam ke arah Randy. Randy yang melihat sorot tatapan tajam itupun langsung ketakutan. Raut wajah oma sekarang terlihat begitu mengerikan. Tidak seperti biasanya.


"Darimana kamu dapatkan semua ini?" ucap oma Rachel dingin. Wajahnya begitu memendam amarah.


"Ra... Randy mengambil dari tumpukan kado hadiah perkawinan mama" ucap Randy terbata.


"Tunggu..... " oma Rachel mengacungkan jarinya menyuruh Randy diam. Kemudian oma Rachel berjalan ke arah pintu. Setelah di rasa aman kemudian dia mengunci pintunya.


"Dia seorang pria. Badannya tinggi, kulitnya agak sedikit coklat. Dimukanya ada sedikit bekas luka".


Oma Rachel mencoba mengira-ngira siapa pengirim kado misterius ini. Pasti mereka salah satu orang yang ingin balas dendam. Satu nama yang terlintas. Ronald. Hanya Ronald yang memungkinkan mengirim kado ini. Sebab hanya dia orang yang berkaitan dengan isi dalam kado. Selama ini oma Rachel belum tau kalau Ronald sudah meluncurkan beberapa serangan dan sudah mengirim sinyal pertempuran.


"Apakah Kanaya dan Adrian tahu tentang kado ini?" tanya oma Rachel. Randy menggelengkan kepalanya.


"Bagus, anak pintar" ucap oma Rachel mengusap kepalanya Randy.


"Tapi... ".


"Apa?".


"Ada yang ingin kamu katakan? Katakanlah jika itu mengenai keselamatan Kanaya dan juga orang dirumah ini" Randy mengangguk mengiyakan perkataan oma Rachel. Kini wajah oma Rachel menjadi tegang.

__ADS_1


"Saya sempat mengikutinya, dan mendengarkan dia berbicara dengan seseorang lewat panggilan suara. Pria itu berkata semua sudah berjalan lancar. Tinggal kita lanjutkan rencana selanjutnya. Kejutan yang spesial akan segera menanti Kanaya dan juga Adrian" ucap Randy menirukan semua perkataan pria asing yang mencurigakan saat datang ke acara resepsi perkawinan mamanya dan juga papanya.


"Apa kamu yakin? Jika seperti itu, ini sangat berbahaya dan kita harus waspada" oma Rachel kini tampak begitu berpikir.


"Sebaiknya hal ini kita rahasiakan jangan sampai ada yang tahu. Cukup kita berdua saja, aku hanya tidak ingin membuat yang lainnya menjadi panik" ucap oma Rachel. Randy mengangguk setuju dengan ucapan sang oma.


"Inilah alasan saya ingin tinggal di Jakarta. Saya ingin melindungi mama. Saya tidak ingin kehilangan orang tua lagi" ucap Randy yang seperti orang dewasa.


"Cukup saya kehilangan papa karena tidak bisa melindunginya. Saya tidak ingin hal yang buruk menimpa mama juga" kata Randy seakan menyimpan rahasia.


"Maksudnya? Bukankah Radit meninggal karena kecelakaan?" tanya Oma Rachel perihal kematian papa Randy, suami pertama Kanaya yang juga sahabat Adrian. Namun Randy menggelengkan kepalanya. Menyatakan kalau papanya meninggal bukan karena kecelakaan.


"Papa dibunuh. Kecelakaan hanyalah trik pembunuhan yang sudah direncanakan mereka" oma Rachel langsung membuka mulutnya dengan lebar. Bagaimana anak sekecil ini bisa mengetahui hal yang buruk mengenai orang tuanya? Apakah Kanaya teledor atau sengaja membiarkan Randy mengetahuinya? Atau bisa jadi Kanaya yang tidak mengetahui hal yang sebenarnya terjadi kepada Radit.


"Mama tidak tahu mengenai hal ini. Pesan ancaman itu. Saya yang baca dan kemudian saya hapus. Tidak ingin papa tahu kalau ada yang mengancam dia. Saya juga tidak menceritakan hal itu kepada mama. Sebab saya tahu, mama kalau sudah marah. Dia akan cari orang tersebut sampai dapat. Saya tidak ingin mama menjadi seorang pembunuh hanya karena ingin balas dendam" oma Rachel sangat salut kepada Randy yang berpikiran sangat begitu dewasa dan juga teliti. Sebuah senyuman terukir dibibir merahnya. Oma Rachel meraih handphonenya dan melakukan panggilan.


"Hallo Jim. Aku ada perlu sesuatu denganmu. Bisa kita bertemu di camp?"


..................


"Aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang. I need your help" ucap oma Rachel.


..................


"Thank you" oma Rachel pun tersenyum sumringah.


"Oma akan mengajakmu menemui seseorang yang spesial. Bersiaplah, kita akan pergi sejam lagi".


"Kalau ada yang bertanya, kamu bilang saja kalau oma mengajakmu main ke mall"


"Oma ingin mengajakmu bermain sesuatu yang berbeda" kedip oma Rachel. Randy memberikan kode Ok pada jari tangannya yang membulat.

__ADS_1


__ADS_2