
Flashback on
"Randy sayang jagoan papa. Kamu sudah tidur nak?" tanya Radit masuk ke kamar Randy. Randy berpura-pura tidur namun Radit tau itu.
"Sebenarnya papa ingin memberikanmu sebuah hadiah yang spesial lho. Hadiah yang diberikan oleh papanya papa. Alias kakek kamu" Radit mencoba menarik perhatian Randy yang masih menutup seluruh badannya hingga ke kepala.
Secara perlahan Randy menurunkan selimutnya, kemudian menyunggingkan senyuman manisnya kepada Radit. Randy terpancinh dengan kata-kata Radit tadi.
"Eh, papa. Baru pulang pa?" tanya Randy berbasa basi.
"Kenapa belum tidur? Pasti main game lagi. Jangan suka bergadang nak" Radit mengusap lembut pucuk kepala putra sulungnya tersebut. Tersimpan kerinduan serta kesedihan dalam sorot mata Radit.
"Pa, mana hadiahnya" Randy menengadahkan tangannya sambil tersenyum malu-malu. Randy tidak ingin menjawab pertanyaan Radit. Sebab, pastinya akan ada ceramah panjang yang dilontarkan oleh Radit. Ceramah tentang kedisiplinan, tanggungjawab sebagai anak sulung, serta sikap untuk membimbing adik-adiknya jika dirinya sudah tidak ada. Seakan Radit sudah tau kalau kematian akan segera menjemput dirinya.
"Hahahaha.... Dasar nakal. Langsung minta hadiahnya" ucap Radit mencubit pipi Randy.
"Tapi jagoan papa harus janji dulu sama papa. Randy harus jadi anak yang rajin, bertanggung jawab serta berani setiap saat untuk melindungi adik-adik dan juga mama".
__ADS_1
"Pundak Randy akan berat dengan penuh tanggungjawab jawab jika papa berikan hadiah ini. Apa Randy sudah siap?" tanya Radit dan dijawab dengan anggukan oleh Randy.
"Bagus, itu baru jagoan papa. Kamu adalah penerus papa. Jadi Randy harus belajar lebih giat lagi dan harus jadi lebih pandai".
"Satu pesan papa, jangan pernah kau tunjukkan kehebatan ataupun keunggulan kamu pada lawan. Sebab, itu akan jadi boomerang buat diri kamu sendiri. Bersikap lemah, namun ketika musuh lengah. Maka seranglah" ucapan yang dikeluarkan oleh Radit tidak sepenuhnya dipahami oleh Randy kala itu.
"Randy akan menjadi pria yang kuat dan tangguh" jawabnya penuh percaya diri, Radit pun tersenyum penuh bangga dengan putra sulungnya itu.
"Ini adalah milik keluarga papa yang diturunkan secara turun temurun. Kini barang yang penting ini akan papa serahkan kepada kamu. Kamu akan memiliki tanggungjawab yang besar selama memiliki ini".
"Ini adalah lambang keluarga papa, kamu harus menjaganya dengan baik. Jangan sampai ada yang tahu kami memilikinya. Jika usiamu sudah dewasa, buka lah kotak ini untuk mengetahui siapa kamu sebenarnya dan apa kegunaan barang ini. Cincin ini sangat begitu berharga. Jaga dengan baik" Radit memberikan dua buah kotak kepada Randy. Satu kotak isinya cincin bermata yang begitu indah. Satunya lagi tidak bisa dibuka. Cara membukanya pun Randy tidak tahu. Kotak yang begitu cukup canggih. Seperti menggunakan sidik jari cara membukanya.
Randy teringat akan sesuatu benda yang diberikan oleh papanya dulu. Randy berpikir mungkin di dalam kotak yang tidak bisa dibuka itu isinya adalah stamp keluarga milik Marven. Jika iya, maka dia harus menyembunyikan agar stamp itu tetap aman bersamanya.
Sesampainya ditempat tujuan, mereka langsung mengemasi barang-barang yang mereka bawa. Beberapa anak buah Adrian yang ada disana dengan sigap melayani dan membantu mereka. Namun hanya Randy yang membawa sendiri tas yang dibawanya dari rumah, sebab ada barang spesial yang harus dijaganya. Dia hanya minta tunjukkan dimana kamar yang akan dia tempati selama disini kepada anak buah Adrian yang mengantarkannya.
Setelah dirasa aman di dalam kamar, Randy membuka isi ranselnya. kemudian dia membuka kotak yang isinya ada sebuah cincin yang diberikan oleh papanya dan juga kotak yang tidak bisa dia buka selama ini.
__ADS_1
"Pa, bagaimana cara membuka kotak ini pa?" seru Randy bersuara pelan. Tanpa dia sadari, Randy menitikkan air mata untuk pertama kalinya setelah kematian papannya. Dia merasa akan gagal untuk melindungi keluarga yang dia cintai dan dia sayangi. Persis seperti perasaan Radit disaat dia memberikan dua kotak tersebut.
Randy memegang cincin pemberian papanya. Setelah dilihat dia baru sadar kalau cincin tersebut bisa dibesarkan dan dikecilkan ukuran lingkaran jarinya. Randy tertegun, kenapa dia telat mengetahui hal ini. Dia kemudian menyesuaikan ukuran lingkaran tersebut dengan jarinya. Saat memasang ke jari tangannya, tak sengaja pula tangan lainnya menyenggol permata pada cincin tersebut. Anehnya, permata tersebut bergeser sedikit. Sehingga terlihat ada celah, diantara permata dan juga kerangka cincin. Dia menggeser permata tersebut dan perlahan terbuka. Randy tercengang dengan apa yang tersembunyi dibawah permata cincin tersebut.
"Oh my god" Randy menutup kedua mulutnya karena terkejut. Apakah ini stamp yang mereka cari? Tertera jelas didalam cincin tersebut ada logo huruf "M", dibawahnya tertulis Marven dengan tulisan yang berukuran kecil namun tetap terlihat jelas.
"Aku tidak menyangka jika yang sedang diperebutkan oleh mereka ada ditanganku. Oh tuhan, ini benar-benar tanggung jawab yang besar pa" keluh Randy lemas. Dia sungguh tak menyangka jika papanya menyerahkan dan mempercayakan hal sebesar ini kepada dirinya. Papanya yang jauh lebih dewasa dari dirinya, merasa gagal untuk mengemban tanggung jawab sebesar ini. Apalagi dirinya yang masih kecil?
"Aku tidak yakin pa, jika aku mampu untuk memenuhi amanat papa. Jujur pa, Randy sepertinya tidak sanggup" ucapnya lemah seolah dia sudah menyerah sebelum berperang. Ada rasa ketakutan gagal dalam dirinya yang masih labil tentunya. Randy melihat ke arah kotak yang tidak bisa dia buka. Dulu Randy mengira membuka kotak tersebut menggunakan sidik jari. Namun setelah melihat apa yang tersembunyi pada cincin tadi, dia pun mencoba untuk menekan cincin tersebut pada kotak canggih yang satunya lagi.
Kotak tersebut membuka secara perlahan, kini Randy dikejutkan lagi untuk kedua kalinya atas hadiah yang diberikan oleh papanya tersebut. Ada sebuah pisau lipat, ada surat yang diselipkan antara pisau dan juga USB. Entah apa isi dari USB tersebut, Randy tidak ingin tahu dulu. Dia lebih penasaran dengan selembar kertas yang ditulis oleh tangan Radit sendiri.
Dear Randy
Maafkan papa memberikan tanggungjawab sebesar ini kepadamu sejak dini. Papa hanya tidak yakin, jika papa akan bisa bertahan lama. Sebab, selama ini papa sudah berjuang untuk keselamatan kalian. Sepertinya sulit bagi papa untuk melindungi kalian. Mereka inginkan nyawa papa. Untuk keselamatan kalian, papa yakin jika kakek akan sekuat tenaga menjaga kalian. Mama pun tidak akan membiarkan kalian disakiti oleh siapapun. Dalam USB tersebut ada beberapa orang yang bisa kamu hubungi untuk minta pertolongan. Kakekmu bernama Darren, ayahnya papa. Bantulah dia untuk melindungi garis keturunan Marven. Kamu adalah keturunan laki-laki Marven selain papa. Jaga adik-adikmu juga, terutama Revan karena dia yang termuda. Mungkin akan diincar lebih dulu. Segeralah hubungi omamu Devina, saudaranya kakekmu Darren. Agar dia bisa membawamu ketempat persembunyian Marven yang aman. Persembunyian yang telah disiapkan oleh kakekmu. Ada satu orang lagi yang harus kamu hubungi, dia adalah sahabat papa. Dia yang terbaik didunianya. Namanya Adrian, jika kamu ingin lebih tau atau ingin bertemu dengannya. Bertanyalah pada om Andre, sebab dia adalah adik Adrian. Dia bisa menjaga kalian dengan baik. Minta ajarkanlah untuk menjadi lebih tangguh padanya. Sebab dia handal dalam hal itu. Jangan pernah percaya kepada orang yang ingin mencoba memanfaatkan kamu. Bisa jadi dia adalah musuh yang menyamar untuk menghancurkan hidupmu atau mengambil nyawamu. Papa harap, ketika kamu sudah bisa membuka kotak ini. Jagoan papa sudah menjadi pria yang tangguh, cerdik, dan bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Harus kamu ingat, musuh terbesar keluarga Marven adalah Devin. Saudara angkat kakekmu Darren. Berhati-hatilah dengan Devin, sebab dia memiliki koneksi yang luar biasa besar di Indonesia ini. Sekali lagi, papa minta maaf telah memberikan tanggung jawab sebesar ini kepadamu. Selalu jaga cincin stamp tersebut agar selalu aman. Jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat. Maafkan papa yang tidak terlalu pandai dalam merangkai kata-kata.
Lovely Dad
__ADS_1
Randy menangis membaca surat terakhir papanya tersebut. "Pa, Randy janji akan menjaga stamp ini dan keluarga kita agar tetap aman" ucapnya penuh keyakinan.