
"Dasar bapak-bapak milenial" gerutu Kanaya mengulas senyum memperhatikan Adrian yang pergi dari hadapannya.
"Hai baby, yuk kita jalan-jalan. Kita hunting makanan di daerah sini yuk" Kanaya mengusap perutnya yang membuncit. Mengajak sang baby berkomunikasi. Gerakan bayinya begitu lincah seakan girang dengan ajakan Kanaya jalan-jalan.
"Wow, kamu terlihat begitu senang sekali nak. Apa kamu benar-benar ingin jalan-jalan seperti keinginan mama?".
"Sepertinya bukan keinginan mama saja, kamu juga kan" Kanaya mengelus lembut perutnya. Tidak terasa usia kandungannya sudah memasuki usia enam bulan. Dia memang sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayi yang ada dalam kandungannya. Biar surprise, Adrian serta keluarga yang lainnya pun juga setuju.
"Rendy, kemari" Kanaya memanggil anak buah Adrian yang bernama Rendy. Dialah orang yang membuat Kanaya begitu penasaran dengan air terjun disana.
"Iya, bu Kanaya. Ada yang bisa diperintahkan kepada saya?" ucapnya dengan nada tegas seperti seorang aparat yang siap menerima perintah dari atasan.
"Tidak usah terlalu kaku seperti itu, bersikap biasa saja. Seperti keseharian kami sama teman-temanmu yang lainnya" Kanaya ingin membangun rasa kekeluargaan antara dirinya dan juga anak buah Adrian yang ada disini.
"Baik bu" angguk Rendy.
"Ehm, boleh aku lihat foto pemandangan air terjun disini? Aku dengar tadi malam, kamu menceritakan betapa indahnya view disana" meski agar ragu untuk bertanya, Kanaya tidak ingin begitu penasaran sehingga berandai-andai bagaimana indahnya view air terjun tersebut.
"Oh, itu bu. Baik, dengan senang hati" Rendy langsung membuka sandi handphonenya. Kemudian membuka aplikasi galeri untuk memperlihatkan foto-foto yang dia ambil disana.
"Ini bu" tunjuknya kemudian. Kanaya pun mengambil handphone milik Rendy. Menakjubkan! Satu kata yang pantas untuk mendeskripsikan betapa cantik dan indahnya pemandangan disekitar air terjun tersebut. Dari beberapa video yang Rendy ambil, begitu ramai pengunjung juga disana. Tapi pemandangan disana masih terlihat begitu asri.
"Cantik banget ya pemandangan disana. Besok kita kesan yuk" ajak Kanaya kepada Rendy. Mendengar ucapan dari Kanaya tersebut, Rendy merasakan seperti tengah ditumbuk godam kepalanya.
"Apa istri bos ingin mengajak aku kencan? Kasian neng Lina kalau aku jalan sama istri bos. Mungkin lebih parahnya bisa ditembak dikepala sama bos Adrian" pikir Rendy melantur. Dia berpikir kalau Kanaya tertarik dengan dirinya. Memang si Rendy selalu mudah kegeeran. Selain itu juga tingkat kepedeannya tingkat tinggi sama seperti bosnya.
"Jangan terlalu banyak mikir, nanti kamu jadi petunjuk daerah sana. Mungkin Adrian kurang tahu daerah sana".
"Soalnya besok, kami sekeluarga berencana ingin jalan-jalan ke sana" ucap Kanaya menjelaskan.
"Alhamdulillah" Rendy menengadahkan telapak tangannya, kemudian mengucapkan ke wajahnya. Kanaya yang mendengar dan melihat tingkah Rendy memicingkan matanya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Kanaya bingung.
"Bersyukur ibu tidak mengajak saya kencan, tadinya saya berniat untuk menolak permintaan ibu karena tidak ingin menyakiti hati neng Lina" jawab Rendy dengan penuh percaya diri, serta tanpa dosa menuduh. Seakan Kanaya ingin berkencan dengan dirinya. Kanaya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Sebaiknya kamu temani saya belanja buat keperluan barbeque. Malam ini aku ingin mengadakan barbequean".
"Jadi bantu-bantu ya, lagian tadi Adrian memintaku untuk menyuruh kamu" Kanaya hanya ingin menegaskan agar si Rendy tidak berpikiran yang aneh lagi.
"Siap bu bos" Rendy sigap bergaya siap. Kanaya benar-benar dibuat geli oleh tingkah konyol Rendy. Kanaya jadi berpikir, Adrian ini memiliki grup lawak apa management komedian. Rata-rata anak buahnya pada gesrek sih.
"Yuk, cussss" ajak Kanaya.
"Kamu mau pergi kemana Kanaya?" tanya Davina. Dia agak sedikit khawatir jika Kanaya pergi sendirian.
"Mau belanja buta keperluan barbequan nanti malam tante" jawabnya dengan senyum mengembang.
"Sudah izin Adrian?" tanyanya sekali lagi.
"Sudah tan, tadi disuruh minta temani sama Rendy" jawab Kanaya menunjuk ke arah Rendy yang berdiri dengan sigap. Lalau manggut kepada Davina.
"Tidak apa-apa kok tante. Kanaya bisa jaga diri" jawabnya. Namun Davina tetap merasa gelisah. Kemudian dia mendekati Kanaya.
"Bawa senjata untuk jaga-jaga. Sebab Devin tengah gencar mencari kita semua. Terutama anak-anak kamu" bisik Davina ditelinga Kanaya. Sorot mata Devina jelas memberikan isyarat untuk memperingatinya.
"Aku akan tetap disini untuk memastikan anak kamu aman. Jangan pernah lengah sedikitpun, mereka akan melakukan berbagai cara untuk melumpuhkan dirimu".
"Ingat, jaga kandunganmu" Davina memberikan sebuah pisau lipat keberuntungannya. Berharap, pisau tersebut mampu melindungi Kanaya dan juga bayinya.
Davina mendapatkan kabar kalau hari ini akan ada penyerangan, namun dia tidak tau pasti kapan dan dimana. Jadi dia berjaga-jaga saja. Sejak tadi juga Davina meminta anak-anak Kanaya untuk menyuruh para anak buah Adrian untuk jaga-jaga dan bersiap jika ada serangan mendadak. Revan memberitahukan semuanya secara diam-diam. Jika Kanaya keluar, itu lebih bagus. Jadi mereka bisa bersiap siaga untuk menyerang musuh jika datang tiba-tiba. Seperginya Kanaya, Davina langsung menghubungi seseorang.
"Albert, kamu ikuti Kanaya. Tolong jaga dia, dari jarak jauh. Jika ada yang mencurigakan atau Kanaya dalam bahaya. Segera evakuasi dia secepat mungkin" perintah Davina pada lawan bicaranya.
__ADS_1
"Kalian sudah siap, hari ini gemma akan mengajari kalian belajar menembak secara instan. Jaga-jaga, untuk keselamatan kalian sendiri nantinya" Davina terlihat tegas raut wajahnya. Dia tidak berharap banyak, yang penting mereka mengetahui basic cara menggunakan pistol. Revan yang terlihat begitu semangat karena itu adalah impian dia sejak dulu, bisa menggunakan pistol. Apalagi ketika melihat Randy menggunakannya, dia terlihat begitu keren di mata Revan.
****
"Hai bro, lama ya nunggunya" sapa Adrian ketika bertemu dengan sahabat konyolnya.
"Dasar tukang ngaret" gerutu Tony ketika melihat kedatangan Adrian. Namun Adrian, melihat ada sedikit pergerakan dari sebelah kanannya.
"Gimana, siap untuk menikmati liburankan?" tanya Adrian.
Tony masih saja menekuk mukanya karena kesal dengan Adrian. Kemudian Adrian menatap ke arah Mely mengedipkan sebelah mata. Setelah itu Adrian melihat ke arah jamnya. Tapi tangannya menunjuk ke arah jam tiga. Tony yang sebelumnya ingin mengacuhkan Adrian kini menatap serius ke Adrian. Adrian hanya mengedipkan matanya. Matanya menatap ke arah Fery, dan Fery pun mengangguk pelan.
"Lima hari cuti bolehkan bos" ucap Fery memberikan kode, mengisyaratkan kalau disana ada lima orang. Maya Fery sangat tajam untuk melihat jarak pandang yang jauh.
"Ah, terlalu singkat sepertinya" lalu Adrian sedikit tertawa kecil.
"Kita masuk dulu saja ke dalam. Bang Mamat ada di dalam ya?" kemudian tanya Adrian. Mereka berempat pun langsung masuk ke dalam vila.
"Tuan Adrian, sepertinya hari ada pesta ya tuan. Soalnya tadi mamang lihat ada yang beli ayam sekitar dua puluh orang" ucap bang Mamat ketika melihat mereka berempat masuk ke dalam vila.
"Pagi ini tadi mamang masak ayam opor saja makan dulu tuan Adrian, tuan Tony, nona Mely. Satunya siapa ya?" selidik bang Mamat yang memang pertama kali berjumpa dengan Fery.
"Oh ini suami Mely bang" jawab Mely.
"Ganteng suami non Mely ya" puji bang Mamat.
"Sejak kemaren banyak ayam yang berkeliaran tuan" bang Mamat memberikan laporan kepada mereka semua. Adrian menyunggingkan sebuah senyuman. Berarti memang tidak salah feelingnya kemarin. Jika dia memaksakan untuk datang kesini kemarin. Entah apa yang akan terjadi setelahnya?
"Semua untuk makan pagi ini apa sudah dipersiapkan bang Mamat?".
"Tentu saja tuan, ada dimeja makan. Silahkan di nikmati sarapan pagi ini dulu. Saya mau menyiapkan untuk makanan penutupnya" jawabnya kemudian.
__ADS_1
"Ada pesta yang sedang menyambut kedatangan kita" ujar Adrian menatap kepada tiga orang kepercayaannya. Tony, Mely dan juga Fery. Mereka semua mengangguk dengan kompak.
"Kita tunjukkan siapa kita" desisnya sambil mengambil beberapa kotak cadangan peluru pistolnya dari sebuah vas diatas meja dapur.