Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Panik


__ADS_3

Acara baby shower Giselle diadakan meriah seperti Kanaya. Perut yang membesar, membuat Kanaya kini sulit untuk bergerak lagi. Sebab, sekarang waktu kelahiran bayinya tinggal menunggu harinya saja. Selain itu juga ada berita yang menggembirakan. Mely kini tengah mengalami masa trimester pertama. Setelah liburan bulan madunya bersama sang suami. Akhirnya keinginan Mely untuk hamil dikabulkan begitu cepat oleh sang pencipta.


"Aduh, sakit" Kanaya meringis sambil memegangi perutnya. Setelah acara do'a untuk acara baby shower kehamilan Giselle selesai dibacakan oleh ustadz yang diundang oma Rachel.


"Kenapa sayang?" tanya mama Kanaya yang melihat wajah putrinya itu sudah dipenuhi oleh keringat.


"Sepertinya Kanaya akan melahirkan" teriak mama Kanaya. Semua yang mendengar teriakan tersebut langsung menghampiri Kanaya. Adrian dengan sigap langsung menggendong sang istri. Diikuti oleh Hendry dibelakang.


"Kita siapkan segala keperluan Kanaya" ajak Niki kepada besannya yang masih sedikit terkejut. Seolah ini baru pengalaman pertamanya melihat Kanaya akan melahirkan.


"Iya. Semuanya sudah disiapkan dalam sebuah tas di kamar Kanaya".


"Tunggu aku ambilkan dulu" bergegas mama Kanaya masuk ke kamar Kanaya dan Adrian yang berada dilantai bawah. Sejak satu bulan yang lalu, mereka tidak menempati kamar utama mereka dilantai dua. Sebab, merasa khawatir dengan Kanaya yang harus turun naik tangga.


Semua yang ada dalam acara baby shower Giselle terlihat panik. Termasuk Giselle sendiri. Dia berpikir jika dia juga akan mengalami apa yang dirasakan oleh Kanaya sekarang. Melihat guratan cemas pada wajah istrinya, Andre merangkul Giselle dari samping tubuhnya.


"Jangan takut dan cemas. Kamu adalah wanita yang kuat. Pasti kamu mampu menahan rasa sakit hendak melahirkan seperti kak kanaya".


"Jangan takut sayang, aku akan selalu ada disampingmu" Andre mencium pucuk kepala Giselle dengan penuh rasa sayang.


*****


"Hendry, lambat banget sih kamu bawa mobilnya" gerutu Niki yang panik melihat Kanaya yang tengah dalam pelukan Adrian meringis sakit. Meski tidak ada keluhan dari mulut Kanaya, tapi Niki seolah merasakan betapa sakitnya ketika mengalami kontraksi. Sedangkan mama Kanaya mengusap lembut belakang putrinya itu dengan lembut. Memberikan sedikit pijatan, sekira tubuh Kanaya merasa nyaman.

__ADS_1


Niki teringat dimana momen dia akan melahirkan Adrian dulu. Dia memaki sang suami, karena dirinyalah Niki harus merasakan sakit yang teramat sakit pada perutnya.


"Sialan kamu Angga, brengsek kamu. Gara-gara kamu hamili aku. Aku jadi kesakitan seperti sekarang".


"Sialan kamu. Kamu yang enak, aku yang harus menderita. Sini kamu brengsek" umpat Niki sambil menjambak rambut Angga yang terasa hampir lepas kulit kepalanya.


Niki bergidik ngeri, ketika ingat momen tersebut. Rasa sakitnya akibat kontraksi terasa begitu membekas di ingatan Niki. Seakan menjadi rasa trauma tersendiri pada dirinya. Kejadian yang tak akan mungkin dilupakan oleh Niki seumur hidupnya.


"Braakk" sebuah bantingan stir dari mobil disebelah mereka pada mobil yang sedang mereka tumpangi. Hampir saja Hendry lepas kendali dalam mengemudikan mobilnya. Jika dia tidak segera memutar kemudi, kemungkinan mereka akan mengalami kecelakaan tidak bisa terhindari.


"Siapa sih yang begitu gila dan ugal-ugalan mengemudi mobil seperti itu. Apa si pengemudinya lagi mabuk ya" Niki kesal dan menggerutu.


Kembali sebuah benturan dari belakang mobil mereka oleh sebuah mobil hitam dibelakang. Dengan sengaja mobil tersebut membenturkan mobilnya.


"Siapa sih yang dengan sengaja melakukan hal gila ini. Mau cari mati apa?" Niki berkata begitu kesal. Kemudian sebuah panggilan masuk dari Robert pada handphone Niki.


.......


"Apa?" teriak Niki dengan raut wajah cemas.


"Kemudikan mobil ini dengan cepat" perintah Niki pada Hendry.


"Ngebut Hendry" teriak Niki panik. Apalagi melihat wajah Kanaya yang sudah mulai memucat.

__ADS_1


Hendry yang tidak terlalu mengerti dengan situasi saat ini, menuruti perintah Niki. Sebab dia tahu pasti, jika Robert menghubungi Niki. Pasti ada hal yang gawat. Apalagi mobil hitam dibelakang mereka tersebut dengan sengaja menabrak mobil mereka. Mobil hitam tersebut masih terus mengikuti mereka sejak benturan pertama.


"Kita ke klinik Vanya saja" Niki berbicara kepada Hendry ketika Hendry hendak membelokkan mobil ke sebuah klinik terdekat dari rumah mereka.


"Kenapa harus ke klinik tante Vanya ma? Kanaya sebentar lagi mau melahirkan ma".


"Apa mama tidak kasihan dengan Kanaya yang kesakitan seperti sekarang ini?" Adrian terdengar kesal dengan ucapan mamanya. Dia belum menyadari jika mereka kini dalam bahaya. Sebab fokusnya dari tadi hanya pada Kanaya. Sedangkan Hendry mengerti dengan permintaan Niki untuk pergi ke klinik Vanya. Niki langsung menghubungi sahabatnya tersebut untuk menyiapkan kamar khusus untuk Kanaya melahirkan nanti.


"Vanya, aku mau ke klinikmu. Sekarang lagi dijalan, tolong siapkan sebuah kamar khusus untuk menantuku melahirkan. Red code" mendengar perkataan dari mamanya, Adrian seketika panik.


"Jangan-jangan benturan tadi" belum sempat Adrian menyelesaikan perkataannya sebuah tembakan diluncurkan ke mobil yang dikemudikan oleh mertuanya. Untung saja, kaca mobilnya sudah diganti dengan kaca anti peluru sejak minggu lalu oleh Tony atas permintaan Randy. Tak disangka, ide aneh sang anak menyelamatkan mereka untuk hari ini.


"Gila, siapa yang berani menyerang disaat seperti ini" Adrian kesal. Sebab, mereka menyerang diwaktu yang kurang tepat. Disaat mereka tengah panik karena Kanaya. Tembakan pun kembali dihadiahkan kepada mobil mereka. Hal itu mengejutkan mama Kanaya.


"Sial, aku tidak membawa pistol" Niki memukul dashboard. Adrian yang selalu menyelipkan sebuah pistol di balik bajunya lantas langsung mengambilnya.


"Ma" Adrian menyerahkan pistol miliknya kepada Niki.


Kemudian Adrian meminta mertua perempuannya yakni mama Kanaya untuk merangkul Kanaya. Dia ingin berpindah duduk ke belakang. Sebab, dia ada menyimpan beberapa pistol dibalik kantong kursi penumpang.


"Itu sepertinya anak buah Gerald pa" Adrian mengenali seseorang pria yang berambut mohawk disamping sopir yang membawa mobil tersebut.


"Apa? Gerald?" Hendry terdengar terkejut mendengar perkataan Adrian.

__ADS_1


Sedangkan Niki, melirik di kaca spionnya. Dia tengah mengamati mobil yang kini tengah memburu mobil mereka. Mama Kanaya tak hentinya merapalkan do'a untuk keselamatan meraka semua. Hendry mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kanaya yang sadar akan sesuatu, tak mampu berbuat apa-apa. Hanya berdo'a agar bisa melahirkan dengan tenang dan mereka semua selamat dari buruan musuh yang ada dibelakang mereka. Sebuah tembakan pun dilepaskan, hingga kecelakaan mobil pun terjadi. Setelah mobil berputar-putar hilang keseimbangan karena tembakan yang melesat pada mobil yang ditumpangi.


"Aaaaakkkkhhhh" Kanaya menjerit.


__ADS_2