Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
part 3


__ADS_3

Jatuh cinta itu rasanya memang indah. Sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Meski sering aku melihat wanita menangis karena cinta, terluka dan berakhir frustrasi. Menyebabkan sulit untuk bangkit dan move on dari semua itu.


Sama sepertiku yang sudah move on dari masa lalu. Bedanya bukan masalah cinta. Entah apa namanya yang jelas ini soal janji.


Dari semua cerita teman dan juga sahabatku, Novi. Aku bisa menyimpulkan bahwa mencintai seseorang itu jangan terlalu dalam. Jika dia serius silahkan kalau tidak ya sudah kita cari lagi. Aku pun tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan hanya karena soal cinta.


Lalu kesedihan yang aku alami selama ini apa?


Bukan cinta! Melainkan kesetiaan pada seorang sahabat juga soal janji.


Bagiku janji itu ibarat hutang yang harus di bayar. Makanya aku menanti sampai seseorang yang mengucap janji padaku menepatinya, bahkan tidak akan segan-segan menagihnya.


Yah, cinta itu memang bisa membuat orang menjadi gila. Seperti yang aku rasakan saat ini. Mungkin.


Tersenyum sendiri sambil memeluk boneka sapi yang baru saja di belikan seseorang.


Kalian tahu siapa dia?


Aku sendiri tidak menyangka bahwa akan bertemu kembali dengan seseorang yang selama ini aku cari.


Dia telah mengalihkan duniaku hingga lupa jika ada ....


“Mey, Papa perhatikan dari tadi senyum-senyum sendiri. Ada apa?” Terdengar suara Papa yang sudah berdiri di samping tempat tidur.


Sejak kapan Papa masuk ke kamarku?


“Sampai nggak sadar ada orang masuk ke kamar. Kamu jatuh cinta?”


Papa duduk di sampingku dan mengelus punggung. Aku memeluknya erat. Melepas rindu mendalam yang seharusnya aku lakukan sejak tadi. Berhubung Papa belum pulang, aku ke kamar meluk boneka sapi.


“Pa, Aku kangen deh.”


“Sama Papa juga, tapi kok di cuekin tadi. Siapa yang buat anak Papa ini bahagia?”


Aku mendongak, lalu tersenyum dan memperlihatkan boneka sapi. Papa menghela napas dan melihat ke arah lemari boneka yang tersimpan.


“Besok suruh pacar kamu beliin kandang sapi ya.”


Aku tertawa. Papa ini ada-ada saja. Mentang-mentang semua boneka yang aku miliki berbentuk sapi. Aku memang menyukai boneka sapi, entah mengapa rasanya lucu dan gemesin.


“Aku nggak punya pacar. Memangnya pernah Papa denger aku patah hati?”


Papa tersenyum dan mencubit hidungku. “Karena kamu belum bisa move on dari Tomy.”


Kedua mataku membulat, darimana Papa tahu tentang semua perasaanku?

__ADS_1


Ah, pasti Novi yang ember nih. Bisa juga Dion yang lelah ngejar-ngejar lebih memilih deketin Papa biar langsung dapat restu.


“Papa tahu karena waktu Mbok Marni beresin kamar, nemuin foto-foto Tomy waktu kecil,” jelas Papa yang membuatku kaget karena aku pikir Papa bisa membaca pikiran.


Mungkin karena aku bengong dan bertanya-tanya lewat tatapan, jadi Papa tahu apa yang aku ingin tanyakan.


Rupanya Mbok Marni yang ember. Ya sudahlah toh ini bukan rahasia lagi kalau aku memang menunggu dia. Bahkan orangnya pun tahu bagaimana aku tanpa dia selama ini.


Semenyedihkan itu kah aku?


“Ya, aku hanya ingin ketemu dia terus__”


“Terus jatuh cinta saat ketemu kan?” Papa tertawa puas.


Rasanya di ledekin Papa itu ... Menyenangkan. Papa terkadang bisa seperti teman dan terkadang bijak sebagai orangtua. Makanya aku bersyukur memiliki Papa yang seperti ini.


“Ih, Papa tau darimana? Sok tahu banget sih!” Aku mencebik. Ucapan Papa mungkin ada benarnya juga, tapi nggak tahu juga sih.


“Kalau bukan Tomy yang beliin sapi, siapa lagi?”


“Kok Papa tahu? Memangnya udah ketemu?”


Papa menghela napas lagi, lalu mengacak puncak kepala.


“Sudah satu bulan yang lalu, Dia datang ke kantor dan menceritakan semuanya.” Wajah yang semula bahagia kini terlihat sedih.


Berbeda saat aku pergi ke makam ibu. Nggak sesedih saat kehilangan Kak Tomy. Karena aku memang tidak melihat wajah ibu saat itu. Aku masih kecil dan nggak tahu bagaimana rasanya kehilangan.


Papa telah kehilangan sosok sahabat yang juga menjadi partner kerjanya. Kak Tomy pergi tanpa kabar karena kecelakaan menimpanya saat perjalanan menuju ke luar kota. Mobil yang dia tumpangi remnya blong.


Beberapa korban selamat, termasuk Kak Tomy, Ibunya dan calon adiknya. Ayah Kak Tomy meninggal saat perjalan ke rumah sakit. Sempat ibunya di rawat karena luka-luka. Beruntung bayi yang di kandung selamat. Tidak dengan ayah, tulang punggung mereka.


Tidak ada kabar apapun yang Papa dengar saat itu. Papa hanya mengira mereka melupakan semua jasa Papa. Dulu ayah Kak Tomy bekerja dengan Papa. Lalu pindah ke luar kota, kampung halamannya karena harus merawat nenek Kak Tomy yang tak lain adalah Ibu dari Ayah Kak Tomy.


“Papa nggak berguna jadi sahabat.” Papa menyalahkan dirinya sendiri.


“Pah, semua udah takdir. Kita nggak tahu kan kapan maut akan datang. Semua bukan salah Papa. Do'akan aja kalau Almarhum Ayah Gunawan tenang di sana.”


Aku memeluk erat Papa. Memberikan ketenangan. Kali ini aku melihat air mata itu menetes kembali. Jika dulu karena Mama, kini karena Ayah Gunawan.


“Masih ada aku dan Kak Tomy, Papa jangan sedih ya.”


Papa melepas pelukan dan menghapus sudut matanya.


“Tomy kehilangan ponselnya dan kontak kita. Mamanya trauma dan nggak mau pergi kemana-mana. Kembali ke rumah kita yang dulu nggak mau, Mey.”

__ADS_1


“Tapi tadi kata Kak Tomy, dia nggak tahu rumah kita yang sekarang.”


Papa mengangguk. “Dia datang ke kantor, masih bolak-balik Jakarta-Purworejo.”


“Terus tinggal dimana sekarang?”


“Rumah lamanya. Ibunya kemarin di bujuk karena Tomy ada kerjaan di sini.”


“Rumah lama kita apa kabar ya, Pah?”


Semenjak kepergian Kak Tomy, Papa memilih untuk pindah rumah. Agar aku bisa melupakan Tomy dan Papa tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Rumah yang dulu menyimpan banyak kenangan juga tentang Mama.


“Kamu mau pindah lagi ke sana?”


“Enggak, nanya aja. Aku udah nyaman di sini.”


Mana mungkin aku meminta Papa untuk kembali ke rumah itu. Meski kosong Papa selalu minta Mbok Marni membersihkannya semnggu sekali. Papa tidak mau menjual rumah itu. Rumah yang dibangun Papa dari nol.


“Kok Papa nggak bilang kalau Kak Tomy dateng?”


“Papa harus jaga rahasia. Kamu kapan mau nikah?”


Seketika jantungku lepas dan napas menghilang.


“Papa mau jodohin kamu sama Tomy. Biar nggak galau lagi.”


Gelak tawa pun terdengar. Aku bahagia karena melihat Papa tersenyum kembali. Rasanya masih belum yakin jika aku akan menikah dengan Kak Tomy. Terlebih aku tidak tahu bagaimana dia sekarang. Punya pacar atau belum.


Hanya bercerita tentang masa lalu saja tadi saat perjalanan. Ya, supir yang menjemput itu adalah Kak Tomy. Saat menangis tadi, ketakutan yang membuatnya mengaku siapa dia sebenarnya.


Menyebalkan bukan?


Awalnya kesel juga karena dia terus saja diam. Katanya nggak tahu harus ngomong apa. Sebenarnya rindu dan ingin peluk. Namun, takut jika aku marah dan udah lupa.


Ternyata semua dugaannya salah. Hal yang paling membuat aku malu itu saat makan cokelat. Jika dulu aku tidak pernah suka cokelat, sekarang sangat suka sekali.


“Kamu banyak berubah ya, Mey?” Pertanyaan yang membuat aku malu tentunya.


Menangis sambil menikmati cokelat karena teringat masa kecilnya. Sumpah ingin rasanya aku pergi dan pakai topeng saat bertemu. Aku yakin dia tertawa saat ingat kejadian itu.


Meski aku sudah bertemu kembali dengan Kak Tomy, perjalan cerita ini masih panjang. Entah bagaimana kelanjutan hubungan aku dan Kak Tomy.


Harapan tentang menjalani hidup bersamanya memang ada. Namun, setelah sekian lama menanti mungkin harapan itu sedikit hilang. Nggak mau terlalu berharap jika pada akhirnya akan terluka.


Karena aku tidak ingin menjadi budak cinta.

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2