Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Bukan Salah Opa


__ADS_3

Mely dan Fery mengajak Randy keluar untuk menemui Kanaya yang sudah menunggunya dari tadi. Dia yakin jika dia sangat khawatir dengan putra sulungnya itu.


"Apakah kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Mely melihat Fery memegangi bahunya yang kena tembak.


"Tidak apa sayang, hanya mencoba untuk mengeluarkannya saja. Sepertinya tidak terlalu dalam".


"Aaaarrrgghhh" Fery mengeluarkan satu peluru yang bersarang di bahu kirinya itu dengan tangannya sendiri. Mely terlihat khawatir dengan teriakan sang suami. Kemudian setelah melihat Fery mengeluarkan pelurunya Mely sedikit bernafas lega namun tetap saja darah segar masih tetap mengalir pada luka bekas tembak itu. Mely membalut luka Fery dengan cardigan yang dia pakai. Untuk sedikit menghentikan pendarahan dari luka tembak tadi.


"It's fine" ujarnya Fery saat Mely membalutkan cardigan miliknya. Randy yang melihat kekompakan suami istri ini kemudian berpikir untuk mencari pasangan yang tangguh juga, biar saling membantu.


Waduh, bocil sudah tercemari pikirannya melihat adegan romantis didepan katanya. Masih kecil, belum juga lulus SD sudah mikir kriteria pasangan. Ada-ada saja, iya kalau besok-besok ketemu musuh cuma disuruh pargoy bukan adu tembak atau berkelahi. Kayaknya si Randy lagi dilanda yang namanya cinta monyet kali ya. Entahlah!


Kanaya senang ketika melihat putranya dalam keadaan selamat dan baik-baik saja. Dia langsung menghampiri Randy dan memeluknya, menciumi kedua pipinya serta mengelus wajahnya berkali-kali. Kanaya sungguh tidak akan memaafkan dirinya jika terjadi hal buruk pada anak-anaknya hari ini. Untung saja Mely dan Fery sedang berada di dekat sini hingga datang tepat waktu.


"Terimakasih Mel, kalian sudah menyelamatkan anak-anak ku" tangis haru dan bahagia Kanaya karena hari ini dia masih bisa melihat senyum manis mereka.

__ADS_1


"Itu tidak masalah kak, sudah kewajiban kami untuk melindungi kalian. Sebenarnya mereka anak-anak yang hebat. Kak Kanaya pasti bangga mempunyai anak-anak cerdas dan tangguh seperti mereka" ucap Mely dengan tersenyum. Kanaya pun mengangguk. Memang dia sangat bangga pada semua anak-anaknya yang selama ini sangat begitu pengertian dengan dirinya yang sibuk menggantikan peran suaminya dalam perusahaan milik suaminya itu.


"Kanaya, maafin papa. Ini semua karena kecerobohan papa yang menganggap masalah yang kita hadapi sekarang ini tidak terlalu beresiko. Ternyata salah, musuh selalu mencari celah untung menyerang keluarga kita. Sekarang celah itu papa yang telah membuatnya. Kebodohan papa hampir saja mencelakai kedua putramu dan cucu papa ini" usap Angga pada kepala Revan sambil tertunduk lesu karena merasa bersalah.


"Papa hanya ingin mengenang semua momen yang pernah papa habiskan di lapangan ini bermain sepak bola dulu bersama Adrian dan Andre. Hikssss" isak Angga sedih.


"Papa sangat begitu senang dan bahagia. ketika Randy dan Revan ada disini. Papa merasa seperti muda lagi. Bahagia seperti pertama kali merasakan menjadi seorang ayah. Senyum mereka, menghangatkan hati papa ini. Maafin papa Kanaya, sungguh papa menyesal. Seandainya terjadi sesuatu hal yang buruk pada mereka papa orang pertama yang merasa bersalah dan tidak memaafkan diri papa. Sekali lagi maafkan papa Kanaya" kini Angga bersimpuh ke tanah meminta maaf kepada Kanaya. Padahal Kanaya tidak menyalahkan mertuanya atas kejadian yang baru saja terjadi. Ini murni penyerangan musuh yang memang mencari kesempatan.


"Papa tidak usah minta maaf seperti ini. Semua yang telah terjadi bukan kesalahan papa" Kanaya memegang lengan Angga dan memintanya untuk berdiri, karena dia merasa tidak nyaman.


"Benar itu pa Angga, setidaknya kami tahu siapa dalang penyerangan ini. Kemungkinan besar dia juga yang telah membunuh bos besar pa" Mely ikut membuka suara agar Angga tidak merasa begitu sangat bersalah. Sadar akan kecerobohan yang dia lakukan dan merasa begitu sangat menyesal sudah cukup bagi Mely. Takutnya kalau mama bosnya yakni Niki marah jika membiarkan suaminya itu berlutut meminta ampun. Hadeh, meski Angga ceroboh dan konyol. Tapi Niki begitu sangat menyayangi suaminya itu. Bucin, iya memang sangat bucin Niki.


"Apa kalian bertemu dengan pelaku yang merencanakan semua ini?" tanya Kanaya untuk menyelidiki. Kanaya masih merasa ini berkaitan dengan Ronald.


"Iya, kami bertemu dengannya. Dia adalah Fredy, salah satu anak buah bang Adrian dulunya. Namun, ternyata dia adalah mata-mata yang sengaja dikirim musuh untuk memata-matai pergerakan kami" jawab Mely dengan yakin.

__ADS_1


Apalagi dia kini begitu sangat memburu Fredy yang hampir dua kali membuat dia kehilangan Rival bertarungnya. Kini rivalnya untuk latihan di markas bukan Tony lagi, melainkan sang suami. Mely merasa sangat antusias, dan juga bahagia. Serasa sedang liburan bulan madu dengan suaminya. Hampir dua puluh empat jam mereka bersama-sama. Mely sungguh kagum dengan kemampuan bertarung suaminya yang sungguh luar biasa hebat. Tidak kalah dengan Tony ataupun Adrian. Selain itu juga, Fery selalu memberikan beberapa tips kepada Mely untuk cepat memenangkan setiap pertarungan yang dia hadapi.


"Aku mengerti sekarang, balas dendam karena sakit hati tentunya" gumam Kanaya.


Kemudian begitu banyak mobil berdatangan ke arah mereka. Seperti sedang ada acara karnaval mobil atau lagi mau konvoi. Ini terlalu berlebihan jika ingin menyusul mereka Memang dasar tukang pamer. Adrian keluar dari salah satu mobil, ya mobil pertama yang sampai disana. Dengan rasa cemas dan khawatir dia menghampiri Kanaya dan juga kedua anaknya. Namun ada sedikit kelegaan ketika melihat Mely dan fery juga ada disana. Setidaknya ada yang sudah membantu mereka lebih dulu disini. Adrian langsung memeluk Kanaya, tanpa sadar jika tubuhnya sedikit menekan perut Kanaya yang sudah jauh lebih besar.


"Apaan sih, sakit perutku tau" Kanaya berusaha melepas pelukan Adrian. Adrian hanya terkekeh karena baru menyadari kecerobohan dirinya yang merasa terlalu khawatir dengan keadaan Kanaya. Jadi dengan spontan dia memeluk tubuh istrinya yang sudah mulai berisi. Terlihat lebih montok.


"Maaf sayang. Aku merasa sedikit senang karena kamu baik-baik saja" ujar Adrian sambil mengusap pipi istrinya itu. Revan menarik-narik ujung baju milik Adrian.


"Papa tidak khawatir ya sama Revan dan juga Bang Randy ya. Khawatirnya cuma sama mama dan juga dedek didalam perut" Revan terlihat cemburu pada Adrian yang tidak memberi perhatian padanya.


"Opa, papa juga tidak khawatir sama opa. Padahal opa ditodong sama pistol lo pa. Untung opa tidak ditembak di kepala" celoteh Revan dengan gaya anak kecil yang polos. Adrian terbelalak mendengar penuturan sang anak yang memang pintar bicara itu.


"Apa? Papa ditodong pistol!" terika Niki yang heboh mendengar sang suami ditodong pistol. Dia terlihat begitu sangat khawatir. Kini sudah tidak nampak lagi Niki yang tegas dan penuh kewibawaan pada anak buahnya. Kini yang dia tampilkan hanyalah sikap bucinnya pada sang suami.

__ADS_1


__ADS_2