Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Bertemu Ivanka Lagi


__ADS_3

"Kenapa kamu yang datang? Dimana Adrian?" tanya Ivanka langsung ketika melihat kedatangan Kanaya.


"Tidakkah kamu harus bersikap lembut dengan ibu sambung anakmu ini".


"Kenapa tidak kamu ajak Ryan untuk bertemu disini? Apakah kamu bermaksud untuk menggoda suamiku? Sehingga kamu begitu terkejut yang datang aku bukan suamiku" ucap Kanaya dengan tegas dan duduk tepat didepan Ivanka.


"Sebaiknya aku pergi saja, buang-buang waktu jika bertemu denganmu" Ivanka meraih tasnya berniat untuk pergi.


"Apakah kamu tidak ingin melihat hasil tes DNA antara Ryan dan Dio?".


"Bagaimana kalau aku perlihatkan kepada Adrian hasilnya terlebih dahulu? Kamu tau sendiri jika Adrian tidak suka dibohongi apalagi ditipu".


"Kamu bisa bayangkan murkanya Adrian, bisa saja dia akan melenyapkanmu. Tidakkah kamu memikirkan nasib anakmu yang akan hidup sendirian" ancaman Kanaya rupanya membuat Ivanku takut. Sekarang dia sudah benar-benar terdesak. Kebohongan dia terungkap, dia mengutuk kenapa tidak mencari tahu dulu tentang ayah biologis anaknya terlebih dahulu.


"Kamu tidak usah mencoba menggertak diriku, aku tau kamu takut jika aku akan mengambil Adrian darimu".


"Tidakkah kamu tau, bagaimana Adrian terpuaskan ketika bersamaku? Ciumannya yang begitu penuh nafsu, hasratnya yang menggebu, lenguhan kenikmatan yang dia dapatkan dari diriku. Pasti tidak akan pernah dia lupa".


"Aku saja masih ingat, bagaimana dia menggilai tubuh ini untuk memuaskan dirinya? Jadi tidak usah menghalangi kami untuk bersama" dengan percaya dirinya Ivanka mengatakan, padahal Kanaya sudah mengetahui kebenarannya. Meskipun begitu, ada rasa cemburu yang dipenuhi dengan emosi dalam dirinya. Dia masih mencoba untuk tenang dan tidak terpancing untuk meluapkan amarahnya. Ingin rasanya dia merobek mulut Ivanka yang lancang menyebut suaminya menggilai dirinya.


"Jika dia menggilai tubuhmu, tentu dia tidak ingin membaginya dengan yang lain. Apakah kamu juga menikmati, ketika tubuhmu digilir oleh anak buah Adrian?" Kanaya langsung menembak sasarannya secara tepat. Sadarkah Ivanka, kalau dirinya dan Kanaya jauh berbeda. Dia hanya diperbudak bukan dicinta. Seketika wajah Ivanka diam membeku, dia begitu marah menatap kepada Kanaya.


"Sebaiknya kamu duduk kembali, kita bisa membicarakan ini semua baik-baik".


"Meskipun kamu begitu dengan bangganya pernah menghabiskan malam bersama suamiku, tetapi akulah yang dinikahinya. Bukan dirimu" Kanaya mengucapkannya dengan begitu tegas, apalagi dia sangat menekankan ucapannya pada kalimat terakhir.


"Jika kamu mengatakan sejujurnya, alasan kedatangan dirimu kembali dalam kehidupan Adrian. Mungkin aku bisa memaafkan dirimu dengan mudah" ucapnya santai sambil memanggil pegawai restoran untuk memesan minuman dan beberapa cemilan.

__ADS_1


"Bukankah sudah jelas, aku hanya minta tanggungjawab darinya atas anakku Ryan" Ivanka masih tetap kekeh kalau Ryan adalah anak Adrian.


"Kamu jangan mempersulit keadaanmu, berterus teranglah. Aku bukanlah lawan yang setara dengan dirimu. Aku bisa menghancurkan hidupmu dengan begitu mudah".


"Aku masih bersikap baik karena anakmu, jika kamu masih mempersulit akan kupastikan. Besok pagi kamu tidak akan pernah bisa melihat wajah anakmu. Aku sendiri yang akan melenyapkan dirimu untuk selamanya" batas kesabaran Kanaya sudah mulai mencapai batasnya. Kini dia tidak ingin membuang waktu dengan wanita licik seperti Ivanka.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu itu. Hanya sebuah pembicaraan yang omong kosong" bantah Ivanka yang masih tidak menerima kekalahan telak antara dirinya dan Kanaya. Meski dia tau, kalau Adrian tidak mungkin bersamanya tapi dia harus tetap berusaha mendapatkan Adrian.


"Baiklah kalau begitu, karena kamu sudah memutuskan hal tersebut. Kamu harus menerima akibat dari perbuatanmu sendiri" Kanaya sudah benar-benar marah dengan tingkah Ivanka yang masih begitu keras kepala. Tak ingin membuang waktu, Kanaya langsung menodongkan sebuah pistol ke wajah Ivanka.


Ivanka terkejut dengan perbuatan Kanaya, secara terang-terangan dia menodongkan pistol ke wajahnya. Ditempat umum dan terbuka seperti sekarang. Meski cafe ini belum terlalu banyak pengunjung namun mereka hanya melihat ke arah mereka berdua dan berbisik-bisik. Seorang pelayan cafe mengantarkan minuman ke meja Kanaya dan Ivanka.


"Silahkan kamu minum. Aku sengaja memesankan minuman spesial buat kamu" ujar Kanaya dengan pistol yang masih mengarah ke Ivanka.


"Apa kamu itu gila? Berani-beraninya kamu ingin membunuhku secara terang-terangan seperti ini. Apa kamu tidak takut dipenjara?" Ivanka begitu marah dan takut dengan sikap Kanaya.


Dia masih menganggap Kanaya hanya menggertak dirinya. Kanaya menatap tajam kepada Ivanka, tatapan yang mengintimidasi tentunya. Ivanka merasakan jantungnya berdegup kencang, secara tiba-tiba dia merasa haus dan meminum jus alpukat yang dipesankan oleh Kanaya untuk dirinya tadi. Kanaya tersenyum penuh kemenangan, Ivanka akhirnya memilih cara yang dia ingin. Kanaya pun menurunkan pistol yang dipegangnya tadi. Tampak Ivanka menghembuskan nafas lega.


"Pilihan yang bijak, sehingga aku tidak akan jadi tersangka dan masuk penjara karena sudah membunuhmu" Kanaya mengedipkan matanya dan tersenyum bahagia melihat wajah Ivanka yang kini sudah memutih pucat persis mayat hidup.


"Kamu...." tiba-tiba Ivanka merasakan pusing di kepalanya.


"Apakah racunnya sudah bereaksi" tanyanya dalam hati.


"Dasar wanita gila, licik, sayko" Ivanka mengumpat ke Kanaya. Namun Kanaya menikmati momen ini.


"Sepertinya racun itu sudah mulai bereaksi, setelah ini. Aku akan menitipkan anakmu di panti asuhan atau mungkin mencari orang tua angkat buat mengasuhnya" wajah Kanaya begitu serius namun masih dengan senyum manis diwajah cantiknya. Pernah liat Harley Queen tersenyum, persis seperti itu senyum yang ditampilkan oleh Kanaya.

__ADS_1


"Jangan aku mohon jangan, baik aku akan jujur sama kamu. Tapi jangan bunuh aku ataupun anakku. Aku melakukan hal ini hanya untuk keselamatan anakku" sontak membuat Kanaya terkejut mendengar penuturan dari Ivanka.


"Aku sebenarnya juga tidak ingin berurusan lagi dengan Adrian, aku juga tidak ingin bertemu dengan ayah biologis Ryan. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama dengan dirinya. Itulah kenapa aku tidak ingin meminta pertanggungjawaban siapapun untuk hidup anakku".


"Selama ini hidupku sangat bahagia dan begitu tenang berdua".


"Namun semua berubah ketika pria itu datang menemui anakku dan menjanjikan dia akan bertemu dengan ayahnya" kali ini jauh lebih mencengangkan buat Kanaya. Cerita yang diucapkan oleh Ivanka sepertinya bukanlah cerita karangan. Wajah Ivanka memperlihatkan keseriusan akan cerita hidupnya.


"Siapa sebenarnya pria yang dimaksud oleh Ivanka? Ronald" hanya nama itu saja yang terlintas dalam pikiran Kanaya. Dia tidak memiliki musuh selain dia, kecuali yang melakukannya adalah musuh Adrian. Itu mungkin lebih masuk akal karena mengetahui begitu jelas tentang masa lalu Adrian.


"Siapa pria yang datang menemuimu?" tanya Kanaya serius. Namun wajah Ivanka berubah ketakutan.


"Hahaha, kamu percaya dengan cerita ku tadi. Ternyata kamu begitu naif jadi wanita. Kamu itu bodoh, mudah sekali tertipu dengan permainanku" tawa Ivanka lantang, seakan dia berhasil mengalahkan Kanaya. Namun sorot matanya berbicara hal yang berbeda.


Buliran es yang ada diluar gelas dijadikan oleh Ivanka untuk menulis di depan Kanaya. Dia tidak bisa berbicara sebenarnya karena sekarang dia sedang diamati.


"Help" itulah yang tertulis, Kanaya melihatnya dan mengerti. Sebenarnya kehadiran Ivanka yang muncul tiba-tiba bukan karena kemauannya melainkan paksaan seseorang. Segala gerak geriknya di awasi, dia tidak akan mungkin dilepaskan sebelum keinginan orang yang menyuruhnya tercapai.


"Baiklah jika itu maumu, apa boleh buat".


"Oh ya, minumanmu itu tidak beracun. Pistol ini hanya pistol mainan. Bukan pistol asli" ucap Kanaya kemudian meminum jus pesanannya. Dia memasukkan pistol kembali dalam tasnya. Kemudian mengeluarkan bedaknya dan melihat riasan wajahnya. Menepuk-nepuk bedak pada pipi serta dagunya. Dia dapat melihat secara jelas, orang yang dimaksud Ivanka yang kini sedang mengawasinya. Ivanka tidak berbohong, dia memang memerlukan bantuan.


"Selamatkan anak Ivanka sekarang" Kanaya mengirim pesan kepada Adrian.


"Simpan nomermu" Kanaya memberikan Handphone nya ke Ivanka. Setelahnya dia memberikan ke Kanaya. Rupanya Ivanka mengetikkan sebuah pesan untuk berkomunikasi dengan dirinya. Cukup pintar caranya.


"Fredy" itulah nama orang yang mengancamnya, selain itu juga Ivanka meminta Kanaya untuk menyelamatkan anaknya. Memberikan alamat dimana anaknya sedang dititipkan oleh Ivanka. Padahal Kanaya sudah meminta Adrian untuk melakukan permintaan Ivanka tadi. Kini, dia hanya perlu memberikan alamat yang telah Ivanka tulis. Tempat dimana anak Ivanka berada.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan pergi. Sepertinya tidak ada lagi yang harus kita bicarakan lagi" ucap Kanaya, namun terlihat dari mata Ivanka jika dia masih ingin bersama dengan Kanaya.


"Tidak usah khawatir, aku akan menjagamu dari luar" bisik Kanaya di telinga Ivanka dan menepuk pundaknya.


__ADS_2