
"Saya akan mengurus mereka, kalian pergi saja dulu menyelamatkan diri" ucap Sam sambil membalas setiap tembakan yang menghujani mereka.
Mereka berempat harus melewati jalan yang berawa. Kini mereka tidak perduli lagi dengan kaki yang kotor karena penuh lumpur. Terpenting untuk sekarang ini adalah menyelamatkan diri. Sam dibantu oleh Randy menembaki sisa anak buah Rohana yang masih mengejar mereka.
"Seharusnya si neng tidak usah repot untuk menolong saya. Neng pikirin keselamatan neng saja sama anak neng" bu Tun merasa bersalah karena kesulitan yang dihadapi Kanaya sekarang ini. Sebab, Kanaya dengan sengaja menyelamatkan dirinya.
"Ini sudah jadi tanggung jawab saya bu" jawab Kanaya singkat.
"Ibu begitu baik kepada saya, hingga bersedia mau menolong saya" bu Tun merasa terharu dengan ucapan dari Kanaya.
"Itu rumah ibu. Cepat kita masuk" ajak bu Tun ketika sudah melihat penampakan rumahnya. Mereka pun berlari secepat mungkin, sebab tidak ada suara tembakan lagi mengiringi mereka.
*****
"Owh my Barbie rupanya masih terlelap tidur".
"Bugh" sebuah pukulan mengenai wajah cantik seseorang yang kini tengah tergolek lemah di atas sebuah ranjang mewah.
Perempuan bertubuh ideal dan berwajah cantik itu meringis dan tersadar dari pingsannya. Ya, oma Rachel yang telah membangunkan Rohana secara paksa. Dia memang sengaja mencari keberadaan Rohana. Sebab ada urusan pribadi yang harus di tuntaskan. Oma Rachel sudah mendapatkan info kalau Kanaya aman di rumah salah satu warga. Kini dia tengah bersama Randy putranya dan juga dikawal oleh Sam.
"Bagaimana keadaan kamu cantik?" tatapan oma Rachel seakan ingin menerkam Rohana. Kondisi Rohana yang belum tersadar sepenuhnya. Begitu mengamati secara seksama siapa yang ada di depan matanya. Setelah sadar dan yakin di depan matanya adalah Rachel raut wajah Rohana langsung berubah.
"Rachel".
"Sedang apa kamu disini?" tanya Rohana berpura-pura.
"Plak" sebuah tamparan yang kencang diberikan ke wajah mulus Rohana.
"Apa yang kamu lakukan?" teriak Rohana tidak terima.
"Sepertinya Kanaya telah menampar wajahmu yang sebelah sini. Aku hanya menyamakan saja. Agar tidak beda sebelah" oma Rachel menyeringai dengan mengedipkan mata.
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan Kanaya?" Rohana tetap ingin berkelit. Meski dia tahu pasti dia akan kalah dengan Rachel Biar bagaimana pun dia adalah seorang laki-laki. Pasti kekuatannya jauh lebih kuat dari Rachel yang notabene perempuan.
"Wow, masih berakting".
"Apa kamu tidak merasa risih dengan memotong burungmu itu Ronald?".
"Apa memang kamu memiliki gangguan kelainan ***? Selain menjadi seorang pedofil" mendengar ucapan oma Rachel raut wajah Rohana seketika memucat. Dia agak terkejut Rachel mengetahui identitas dirinya yang asli.
"Rupanya kamu sudah tahu. Sejak kapan?" Rohana tampak santai berbaring miring pada kasur mewahnya
"Sejak lama. Hanya saja tidak terlalu yakin".
"Kenapa kamu jadi bekerjasama dengan Devin?" oma Rachel penasaran kenapa Devin begitu ingin menguasai kekuasaannya? Hingga berencana untuk melenyapkan seluruh keluarganya.
"Apa kamu ingin tahu?".
"Sebenarnya yang aku incar bukan keluargamu, namun sedikit banyaknya kalian juga ikut andil dalam kehancuran hidupku" nada bicara Rohana kini penuh dengan amarah.
"Apa salah Radit padamu?" oma Rachel ingin melerai benang kusut yang terjadi saat ini. Dia tidak ingin menduga-duga atas dasar apa penyerangan ini terjadi? Kenapa dia menculik Kanaya? Kenapa mereka mengincar anak-anak Kanaya juga? Meski oma Rachel tau untuk hal itu, namun hanya memastikan apa benar info yang dia dapat. Devin ingin memusnahkan semua keturunan Marven.
"Dia telah membunuh anakku" jawab Ronald alias Rohana.
"Maksudmu?" oma Rachel terkejut dan bingung sekaligus. Sebab dia tidak tahu sama sekali tentang ini. Yang dia tahu hanya anaknya meninggal, Ronald tidak hadir di pemakaman anaknya pada saat itu.
"Radit telah menghancurkan hidup anakku, dia telah merenggut kehidupan Rohana" oma Rachel terkejut mendengar perkataan Ronald alias Rohan dengan menyebutkan Radit memiliki hubungan dengan Rohana.
"Nama anakku adalah Rohana. Aku memang sengaja mengubah diriku menjadi anakku karena ingin balas dendam kepada Radit".
"Ku akui, aku memang pria yang brengsek. Tapi aku tidak sebrengsek Radit. Menghamili seorang perempuan, tapi tidak mau bertanggung jawab. Malah dengan jahatnya, dia menyuruh anakku untuk melakukan aborsi" sorot mata Ronald alias Rohana begitu penuh amarah kebencian dan dendam.
"Aku tidak percaya jika Radit seperti itu" oma Rachel mengelak kebenaran tentang Radit. Betapa bejat dirinya yang membuat dia meninggal di usia muda.
__ADS_1
"Hahaha, tahu apa kamu tentang pria brengsek seperti Radit itu Rachel?".
"Aku yang melihat langsung tubuh dingin putriku yang baru saja hidup bersamaku. Disaat aku merasa bahagia karena memiliki seorang anak. Namun dia menghancurkan masa depannya dan merenggutnya dariku".
"Namun ada satu hal yang tidak pernah aku duga. Ternyata Radit menikah dengan Ayu yang telah berganti nama Kanaya. Dunia rasanya terlihat begitu sempit. Disaat aku berencana untuk balas dendam kepada Kanaya. Ternyata dia menikah dengan Adrian cucumu. Sungguh begitu sempit sekali dunia ini. Serta cerita hidup ini bagaikan alur film yang dikarang oleh para penulis naskah hebat" gelak tawa Rohana menghiasi keheningan kamar mewahnya.
"Tak pernah aku sangka jika hidupmu ternyata sesulit dan serumit ini. Setidaknya aku sudah tahu apa alasanmu untuk mendekati keluargaku".
"Lalu apa alasanmu membunuh suamiku?" inilah alasan utama oma Rachel mengejar Rohana.
"Dia begitu setia padamu. Itulah yang membuatku marah. Aku juga ingin kamu merasakan kehilangan seperti aku dulu" Rohana tersenyum puas. Kini terjawab sudah siapa pembunuh suaminya bagi oma Rachel. Oma Rachel pun langsung menghantam Rohana hingga dia kembali pingsan.
"Bawa dia ke tempat biasanya" perintah oma Rachel kepada anak buahnya. Oma Rachel menggenggam tangannya karena marah.
****
"Apakah perjalananmu sudah selesai adikku?" Darren berbisik di telinga Devin. Ya, pria yang menodongkan pistol kepada Devin adalah Darren.
"Bukankah kamu sedang koma?" tanya Devin gagap. Terlihat dia sedang merasa begitu takut dengan Darren yang terkenal berdarah dingin.
"Ternyata kamu tidak sepintar yang aku kira. Aku tidaklah dalam keadaan koma. It's acting brother".
"Aku hanya ingin tahu, sejauh mana kamu akan melangkah untuk menguasai hartaku. Namun tidak aku sangka, kamu mengambil langkah yang begitu berani. Ingin membunuh adik perempuanku yang manis dan juga cucu-cucuku yang begitu lucu" Darren menekan ujung pistol pada kepala Devin.
"Tidakkah kamu sadar diri siapa dirimu. Jika bukan karena papi yang membawamu masuk ke dalam rumahnya. Kamu bukanlah siapa-siapa. Hanya sampah yang tidak tahu siapa orang tuanya. Bukannya bersyukur kamu malah dengan teganya membunuh orang yang telah memberimu kehidupan. Ketamakanmu lah yang telah menghancurkan hidupku dan juga hidupmu".
"Karena ambisimu, kamu kehilangan anakmu Devin. Kamu telah membunuh anakmu sendiri".
"Apa maksudmu?" tanya Devin bingung. Anaknya? Dengan siapa?
"Tanyakan sendiri pada arwah Rohana" Darren pun langsung menarik pelatuk pistolnya dan menembakkannya ke kepala Devin.
__ADS_1
"Semoga saja jawabannya akan kamu dapatkan setelah berada di dunia lain" ucapan terakhir Darren kepada saudara angkatnya yang telah menghancurkan hidup keluarganya.