Wanita Pengganti

Wanita Pengganti
Musuh Baru?


__ADS_3

"Duh cicitnya oma yang ganteng, kok tidur sih".


"Tuh lihat, oma beliin stroller buat jagoan oma" oma Rachel tampak begitu riang saat menjenguk Giselle yang kini tengah dalam masa pemulihan.


Sebelumnya, Hendry menyuruh Giselle untuk meminum sesuatu yang memang dikhususkan untuk mengobati luka dari dalam. Seperti Kanaya setelah melahirkan dulu. Kini Giselle terlihat begitu segar, tidak pucat ataupun meringis nyeri dan merasakan sakit yang luar biasa pasca operasi sesar yang biasa dirasakan oleh wanita yang melakukan operasi sesar.


Giselle tersenyum sumringah melihat oma Rachel yang terlihat riang. Wajah anak Andre sangat mirip sekali dengan Andre. Hanya bentuk bibirnya yang mirip dengan Giselle. Bayi mungil tersebut bak fotocopy an diri Andre. Andre sedang pergi keluar untuk menemui rekan bisnisnya, maka sekarang giliran oma yang menjaga Giselle.


"Bagaimana keadaanmu sekarang Sel?" tanya Kanaya yang juga datang menjenguk Giselle. Kanaya tampak antusias sebelum pergi ke rumah sakit.


"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik kak" senyum bahagia terpancar di wajah cantik Giselle.


"Oma sudah nyiapin kamar khusus lho buat jagoan keluarga kita" ucap Kanaya sambil melirik ke arah oma Rachel yang begitu gemas melihat bayi mungil yang tengah terlelap dalam box bayi.


"Terimakasih oma" Giselle benar-benar merasa begitu bahagia menjadi bagian keluarga oma Rachel saat ini. Hidup bersama dengan orang yang dia cintai dan orang yang mencintai dirinya.


"Nggak perlu lebay begitu, oma hanya ingin memberikan yang terbaik buat cicit-cicit oma" oma Rachel menghampiri Giselle yang tengah berbaring. Sesekali mengubah posisinya agar terasa nyaman.


"Terimakasih sudah berjuang untuk menghadirkan bayi mungil yang begitu menggemaskan itu" tunjuk oma Rachel ke bix bayi Giselle. Oma Rachel mengusap pucuk kepala Giselle penuh sayang.


"Papa kamu sudah oma beritahu, katanya nanti sore akan datang berkunjung. Oma sekarang sangat senang melihat hidupmu yang jauh lebih baik dan kamu begitu terlihat bahagia seperti ini".


"Oma liat juga hubunganmu dengan mama sambungmu terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Oma sekarang senang melihat kamu tidak perlu lagi merasa menderita dan tertekan lagi" ucap oma lembut. Terlihat sangat jelas sekali kasih sayang yang oma berikan kepada Giselle.


"Iya oma. Semua juga berkat oma" jawab Giselle singkat.


Oma menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.


"Semua yang kamu dapat sekarang adalah dari buah kesabaran yang kamu miliki selama ini" Giselle menitikkan air mata bahagianya. Dia begitu terharu dengan ucapan oma yang menyentuh hatinya.


"Hai sayang, ini pesanan kamu tadi" Adrian menyodorkan beberapa paper bag yang dibawanya ketika masuk ke dalam ruangan. Setelahnya dia langsung masuk ke dalam kamar perawatan Giselle dan duduk disebelah istri tersayangnya.


"Apa itu?" tanya oma Rachel penasaran.


"Oh itu, makanan oma. Kanaya kan lagi ngidam oma" jawab Adrian asal.

__ADS_1


"Plak" pukulan mendarat di lengan Adrian. Kanaya refleks dan langsung memukul sang suami yang berkata ngawur.


Melihat momen tersebut, Adrian kembali mendapat jitakan dikepala yang dilakukan oleh oma Rachel. Giselle tertawa melihat penyiksaan kakak iparnya secara gratis dan jarang-jarang sekali dia dapat menontonnya. Apalagi oma sendiri yang melakukannya.


"Anak masih kecil, malah berharap istrinya hamil lagi. Apa tidak punya otak?" kata oma Rachel.


"Malam ini, Kanaya tidur sama oma. Kali ini sampai setahun, nggak dua bulan" oma Rachel kesal.


Padahal jika Kanaya hamil lagi tentu saja dia orang yang sangat merasa senang. Sebab di usianya yang sudah tua begini bakalan dihibur dengan kehadiran cicit-cicitnya. Namun, dia juag memikirkan keadaan Kanaya yang baru saja melahirkan. Meski banyak kasus wanita yang baru melahirkan kembali hamil meski umur bayinya masih berumur dua bulan atau tiga bulan. Istilah orang banjar "Darah sebumbung".


"Oma, jangan begitu dong oma. Adrian kan cuma bercanda oma" rengek Adrian.


"Tadi Kanaya cuma minta belikan sekotak donat sama beberapa kue buat cemilan dirumah nanti. Lagipula itu juga ada kue khusus buat Giselle. Tadi cuma bercanda saja oma" Adrian membujuk omanya agar tidak jadi meminta Kanaya tidur dengan omanya. Maka akan terasa sunyi kembali malam-malam Adrian huhuhuhu. Kemarin saja tidak sekamar selama dua bulan saja sudah membuat Adrian frustasi apalagi harus setahun. Bisa mati berdiri dia.


"Jangan mau dibujuk oma, Kanaya mau tidur sama oma saja mulai malam ini. Menyebalkan kalau tidur satu kamar sama dia" kini Kanaya yang protes dengan rayuan Adrian. Mereka berdua sama-sama sedang meminta perhatian dan pembelaan dari oma Rachel.


Melihat keduanya bersitegang, membuat oma Rachel langsung tertawa lepas. Bagi oma Rachel, mereka berdua persis seperti anak kecil. Yang satu tengah merajuk satunya lagi meminta perhatian. Persis anak-anak. Oma Rachel merasa sangat begitu bahagia melihat pemandangan seperti ini. Berasa seperti ngemong anak-anak lagi.


"Oma" teriak Adrian dan Kanaya bersamaan.


"O... ma" Kanaya berucap manja.


*****


"Sayang. Apa kamu merasa aneh dengan mobil yang ada dibelakang mobil Andre?".


"Sepertinya mobil tersebut sengaja mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Andre" Adrian dan Kanaya tengah mengikuti mobil Andre dibelakang.


Mereka baru saja menjemput Giselle untuk pulang ke rumah setelah diizinkan oleh dokter yang menangani Giselle. Kebetulan Kanaya baru saja berobat di rumah sakit tempat Giselle dirawat. Jadi mereka berada di mobil yang terpisah dengan Andre dan Giselle. Kanaya tengah mengalami pilek gara-gara Adrian yang mengajak Kanaya mandi malam. Ya tau sendiri lah, Adrian lupa menyalakan heat water pastinya.


"Sepertinya" jawab Kanaya dengan suara sedikit sengau karena hidungnya tersumbat apalagi dia tengah memakai masker. Kanaya sengaja memakai masker agar tidak menularkan pileknya ke orang lain. Terutama bayinya yang kini tengah dirawat oleh baby sitter di rumah.


"Sebaiknya kita beri pelajaran saja mobil tersebut. Takutnya mereka akan melakukan hal yang buruk kepada Andre dan juga Giselle" Adrian mengusulkan ide yang aneh yang kemungkinan bisa mencelakakan Andre dan Giselle.


"Jangan. Kita lihat saja dulu pergerakan mereka. Jika mereka mulai berbuat hal yang berbahaya baru kita bertindak" usul Kanaya kemudian mendapatkan anggukan dari Adrian.

__ADS_1


Mobil berwarna silver tersebut tidak melakukan apapun. Hanya mengikuti saja hingga mobil Andre memasuki pagar tinggi di kediaman keluarga besar Aston. Mobil tersebut tampak berhenti dan mengamati kediaman keluarga besar Adrian. Sedangkan mobil Adrian sendiri sengaja berhenti dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Adrian dan Kanaya sengaja mengamati aktivitas dari si pengemudi mobil tersebut. Setelahnya, mobil silver tersebut berlalu pergi. Membuat Kanaya dan Adrian saling memandang.


"Andre, bisa kita bicara sebentar" Adrian menemui Andre dikamarnya yang kini tengah asyik memandangi wajah putranya yang berada dalam gendongannya.


Andre melihat sorot mata Adrian seakan memiliki beribu pertanyaan yang ingin dibahasnya dengan dirinya. Pasti ada sesuatu yang penting jika Adria sudah bersikap seperti ini. Dalam pikir Andre.


"Papa tinggal dulu ya sayang, om Adrian mau ngobrol dulu sama papa. Jagoan papa jangan nakal ya" celoteh Andre kepada anaknya yang masih merah tersebut. Padahal anaknya sedang tidur. Wajarlah, namanya juga orang tua baru. Pasti lagi masa senang-senangnya menimang.


"Sayang, aku keluar sebentar ya" ucap Andre kepada Giselle yang masih sibuk menata pakaian anak mereka ke dalam lemari khusus bayi yang sudah dibelikan oleh oma. Oma Rachel tidak membedakan kasih sayang terhadap anak Kanaya maupun Giselle. Keduanya diberikan perhatian yang sama, keperluan yang sama. Bahkan untuk baby sitter bayi Giselle oma juga sudah menyiapkannya.


"Ada hal yang penting?" tanya Andre to the point. Memang seperti itu sikapnya sejak dulu.


"Apa kamu memiliki musuh akhir-akhir ini?" Andre mengerutkan dahinya. Pertanyaannya malah dijawab dengan pertanyaan oleh Adrian.


"Memangnya ada apa?" tanya Andre penasaran.


"Tadi siang ada sebuah mobil berwarna silver mengikuti mobil yang kamu tumpangi ketika menjemput Giselle dirumah sakit" Adrian menjelaskan.


Andre terkejut mendengar perkataan Adrian. Sebab dia tidak merasa curiga sama sekali selama perjalanan pulang tadi. Mungkin saking asyiknya dia memandangi wajah mungil anaknya yang tengah tertidur pulas dalam gendongan Giselle.


"Apakah kakak tidak salah liat atau salah duga?" kini Andre bersikap lebih sopan kepada Adrian. Dia menyebut Adrian dengan panggilan kakak jika dalam keadaan serius. Sebab, dia tau Adrian begitu sangat sayang kepadanya meski dia sering menjahilinya atau membuatnya kesal.


"Aku rasa aku tidak salah menerka. Kanaya juga menyimpulkan hal yang sama".


"Aku hanya khawatir tentang keselamatan Giselle dan anakmu" Andre menyipitkan kedua matanya.


"Bukan aku tidak mengkhawatirkan kamu, aku rasa kamu bisa menjaga dirimu sendiri. Beda hal kalau dengan Giselle. Dia tidak sama seperti Kanaya yang bisa mandiri".


"Kamu tau sendiri bukan bagaimana sifat istriku" Andre mengangguk tanda mengerti dengan maksud Adrian.


"Sebenarnya aku tidak memiliki masalah, hanya saja. Ada teman lamaku yang ingin merebut daerah bagian utara" Adrian terkejut mendengar perkataan Andre.


"Maksudmu? Dia ingin merebut paksa wilayah kita" Andre pun mengangguk seperti anak kecil yang patuh ketika di interogasi.


"Sialan" umpat Adrian marah.

__ADS_1


__ADS_2