(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Lamaran


__ADS_3

Tiga orang sedang duduk di sebuah ruang tamu yang berdesain modern. Suasana ruang tamu yang awalnya riuh karena tawa si kembar, kini terasa tegang, dua pria beda generasi sedang duduk, satu menundukkan kepalanya, satu lagi menatap tajam pria yang menunduk tersebut.


sementara di sebelah pria baya duduklah seorang wanita seumur dengan pria tersebut, wajah cantiknya tak lekang di makan waktu.


Sekilas nampak kilatan emosi dalam mata pria baya tersebut, berkali-kali ia menghela nafas mencoba mengatur emosinya yang meluap tak kala ia melihat pria di depannya itu.


kesal, marah, sedih, kecewa, semua jadi satu, dengan lembut wanita di sebelahnya menepuk tangan suaminya agar sabar.


Kalau saja sebelumnya Ayudia tak mengatakan apa-apa, mungkin pria di depan nya sudah habis ia hajar, namun demi cucu tercintanya, pria baya itu menahan, ia mengepalkan tangannya hingga kuku di jari tangannya menembus telapak tangannya


"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Ernest memulai percakapan


"Ba..baik ma" ucap Adhi tergagap, ia hanya pernah bertemu dengan mama dari wanita yang paling ia cintai dua kali, dan ini ketiga kalinya, namun Eldrea sudah tak bersamanya


"Mama dengar kamu sakit,?"


"Iya ma, sekarang sudah baikan" ucap Adhi.


terlihat wanita baya yang masih terlihat cantik itu mengangguk.


wajah mama Eldrea seperti mendiang istrinya serta anaknya.


Jika saja Eldrea masih ada, mereka bertiga akan seperti kembar tiga beda generasi. yang membedakan dari mereka, Eldrea memiliki mata sedikit sipit seperti halnya Adhi dan bibir sensual.


"Dia pantas mendapatkannya" ucap Angelo sinis


"Darling, apa kau mau cucumu..."


"Baiklah, baiklah, jangan mengancam ku" desah Angelo tak berdaya.


"Aku saat ini sangat marah, kau harus tahu itu!


Jika saja cucuku tak mengatakan apapun, ku pastikan kau akan berada di rumah sakit sebulan lagi" geram Angelo kesal, namun begitu Ernest melemparkan tatapan tajam pada suaminya Angelo tak meneruskan ucapnya


"Aku akan mengajak Ayudia tinggal di kediaman ku, jujur aku tak percaya padamu" ucap Angelo yang menghela nafas namun mengabaikan tatapan tajam istrinya


"Terakhir kali kau menjodohkan cucuku dengan pria yang bahkan tak mencintainya hingga ia mengalami kejadian naas,


Aku pikir kau berfikiran luas dan modern, apa masih jaman menjodohkan??? sedang kau dan anakku saja menikah tanpa restu" ucap Angelo tajam


"Tuan Benedito" ucap Ernest memperingati


"Setuju atau tidak, aku tak perduli.


aku tak mau cucuku dalam bahaya lagi.


di bawah pengawasanku, aku merasa lega.


Aku meminta izin mu, aku sudah tua jangan buat jantungan lagi dengan memikirkan cucuku, kini bukan hanya cucuku tapi cicit ku juga, garis keturunan Benedito. Aku tak ingin seseorang mencelakai mereka, karena jika itu terjadi, bahkan membalikkan dunia untuk membalas mereka akan ku lakukan" ucap Angelo penuh ketegasan


Adhi terlihat kesulitan menjawab, jujur saja ia sangat ingin putrinya bisa tinggal di rumahnya bersama cucunya, namun melihat apa yang di katakan mertuanya, ia merasa tak berdaya.


Benar ucapan Angelo, banyak orang yang berbahaya yang mengincar putrinya, apalagi ia sedikit mendengar dari Khadijah, jika kekayaan Benedito menjadi magnet kejahatan bagi orang-orang terdekatnya, bahkan saingan bisnisnya. bahkan kakak Eldrea pun meninggal karena konspirasi untuk menjatuhkan Angelo sebagai kepala keluarga Benedito.


Sementara Adhi hanya seorang pria biasa tanpa kekuatan, ia tak bisa melindungi putri dan cucu-cucunya. sementara Angelo pria yang punya kekuasaan dan kekuatan yang bisa melindungi putri dan cucu nya. Mengingat kejadian yang menimpa Ayudia, semakin membuat Adhi merinding.


Betapa mengerikan yang namanya uang dan dengki


"Aku setuju, tapi bisakah kau bicara dengan Ayudia pa.

__ADS_1


aku baru bertemu lagi dengan putriku beberapa hari lalu, aku berat melepaskannya"


"Aku tak mengatakan kau harus jauh dari putrimu, tinggallah bersama kami" ucap Angelo melembut.


Walau sesakit apapun ia karena kehilangan anaknya, namun ia tahu, Adhi juga sangat terluka dengan kepergian Eldrea.


"Pa, tinggallah bersama kami" ucap Ayudia yang baru saja datang dan mendengar ucapan kakeknya


"Iya mas, Papa Angelo dan mama tak bisa lama meninggalkan Portugal, rumah ini hanya persinggahan.


Namun setelah Ayudia mampu dan mempunyai pegangan kuat, ia akan mewarisi semua kekayaan papa Angelo" timpal Khadijah


"Aku sudah tak punya anak lagi, aku sudah menganggap mu anakku, Ya walau kau jauh dari kriteriaku.


Khadijah sudah ku angkat sebagai anak, jadi kali ini.


Aku akan menikahkan kau dengan Khadijah!!!!!"


"Paa......


babe...." ucap Khadijah dan Ernest terkejut dengan keputusan Angelo yang di nilai melangkahi privasi Khadijah


"Aku setuju kek, aku hanya mau mama Khadijah jadi mamaku" ucap Ayudia langsung mengganti panggilan bibi ke mama membuat Adhi dan Khadijah kesulitan bicara.


Khadijah hanya menunduk malu, sementara Adhi menatap Khadijah mencari penolakan di wanita itu, namun tak ia temukan.


Adhi selama ini nyaman dan bahagia di dekat Khadijah, namun di usianya sekarang, ia sampai lupa bagaimana jatuh cinta. Saat menikah dengan Lia ia hanya memikirkan jika Lia cocok jadi mama Ayudia melihat Lia adalah sahabat istrinya dan sering datang kerumah, di tambah Lia menemaninya saat ia sedang down, memberi motivasi sehingga ia bangkit, namun....


"Saya perlu bicara sendiri dengan Khadijah pa,"


ucap Adhi melirik Khadijah yang terkejut dan malu-malu


Hidup sendiri tidak enak, lebih baik ada dua kepala yang bisa bertukar pikiran" ucap Angelo


"Tapi pa, yang ku tahu Adhi belum bercerai, bagaimana kau mengajukan hal yang aneh begitu? aku memang mau Khadijah menikah, tapi bukan sebagai istri ke dua" tekan Ernest tak senang


"Nenek,


papa akan bercerai, nenek jangan khawatir karena aku hanya mau satu mama yaitu mama Khadijah" ucap Ayudia bergelendot manja pada Khadijah


"Anak nakal, kau menggoda bibi" ucap Khadijah merona merah


"Bibi maukah bibi menjadi mamaku??? please.


Aku sangat menyayangi bibi, walau papa bukan yang terbaik, tapi ayu percaya papa bisa membahagiakan bibi. Jika suatu saat papa menyakiti bibi, maka Ayu yang pertama akan memarahi papa" ucap Ayudia mengedipkan sebelah matanya


"Sudah-sudah, biarkan mereka memutuskan, kita lebih baik masuk ke dalam" ucap Ernest menarik suami dan cucunya.


Kini tinggal Adhi dan Khadijah yang terlihat canggung


Adhi mengambil dompetnya dan mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, lalu berjalan mendekati Khadijah


"Khadijah, maukah kamu menikah denganku?


aku mungkin bukan pria yang sempurna, tapi aku akan berusaha membahagiakanmu, bukan karena permintaan papa mertua atau anakku, sejujurnya aku sudah menyukaimu. Aku nyaman dan bahagia di dekatmu"


"Aku.... aku...." Khadijah merasa lidahnya kelu, ia sebenarnya juga menyukai Adhi, namun juga di lubuk hatinya ia merasa seperti mengkhianati Eldrea.


Khadijah tahu sifat Adhi yang lemah lembut dan penyayang, terkadang ia membayangkan bisa menikah dengan pria seperti Adhi, namun dengan Adhi???

__ADS_1


Khadijah tak tahu apakah ini benar atau salah


"Jika kamu keberatan aku tak akan memaksa, jangan merasa tertekan. aku akan menjelaskan pada mereka" ucap Adhi diam-diam memasukkan kembali cincin yang ia sambil dari dompetnya ke dalam saku celananya


"Aku bersedia, tapi bisakah kau memberiku waktu mas???" tanya Khadijah menatap Adhi, kedua mata mereka bertemu, ada getaran yang halus dan indah dalam hati masing-masing


"Apa kau tak akan menyesal menikahi aku yang bukan perjaka?" tanya Adhi menatap lekat Khadijah


"Yang terpenting disini mas, hati kita"


"Kamu memang wanita yang luar biasa, seharusnya sejak dulu aku memilihmu, namun kala itu aku ragu kamu menolak ku"


"Khadijah Al Rasyid maukah engkau menjadi wanita halal ku satu bulan mendatang?" tanya Adhi membungkuk sambil menyodorkan cincin berlian bermata biru,. Khadijah mengangguk pelan, air mata bahagia menetes di sudut matanya.


Adhi menyematkan cincin itu di jari manis Khadijah.


"Ini... cincin Eldrea" ucap Khadijah lirih


"Sebenarnya Eldrea memintaku menikahi mu, tapi kala itu aku masih sangat mencintai Eldrea.


Aku juga tak mau menikah denganmu hanya karena butuh mama buat anakku, itu tak adil untukmu.


Namun kini aku memintamu karena aku jatuh cinta padamu" ucap Adhi tak lagi ragu dengan perasaanya.


Khadijah menatap Adhi dengan mata berbinar, ternyata sahabat nya sesungguhnya tahu perasaanya, Khadijah mengagumi Adhi dan selalu berkata ingin menikah dengan pria super seperti Adhi, rupanya di ujung usianya, Eldrea masih memikirkan dirinya.


Sahabatnya tersayang.


Keesokan harinya Adhi baru kembali ke kediamannya, di sana Lia bahkan belum keluar dari kediamannya, ia terlihat pucat dengan lingkaran hitam di bawah matanya


"Mas, akhirnya kau pulang, aku sudah menunggumu" ucap Lia bangkit begitu melihat Adhi.


"Kau sudah ku talak, aku tak mau membahasnya lagi.


kesalahanmu sudah fatal dan tak mungkin bisa ku maafkan. Kamu tahu dari awal aku menikahi mu sudah ku katakan, Aku butuh mama dan istri untuk anakku, aku menerimamu beserta anakmu, begitu pula ku harap kamu bisa menerimaku dan anakku, bisa menyayangi putri semata wayang ku, tapi apa yang kamu lakukan???"


"Mas, aku gak bersalah mas, itu semua Deswita, dia yang melakukannya" ucap Lia membantah


"Cukup Lia, aku punya bukti semua nya, kau sampai menjebak anakku tidur dengan seorang rentenir tua bangka hanya untuk melunasi hutangmu??


tapi karena itu aku juga bersyukur putriku punya anak dengan suami sah nya, ya Allah punya rencana, pria yang mengantar Ayudia malah justru mengantarkannya ke kamar Arjuna.


Kau tak tahu bukan?? Aku tak habis pikir bagaimana pun kau seorang ibu ,


kau punya anak perempuan juga, tapi bisa menjual anak perempuan orang demi kepentingan mu sendiri.


padahal jika kau berterus terang, aku akan melunasi semua hutangmu, karena begitulah kewajiban seorang suami, tapi kau, kau memilih cara yang salah, cara yang tak manusiawi" ucap Adhi melupakan semua emosinya.


"Sekarang keluar dari rumahku, aku tak mau melihat kau lagi"


"Mas jangan usir aku, u TKA tahu kemana lagi aku akan pergi" ucap Lia bersimpuh


"Baiklah, aku bukan tak punya hati.


Satu Minggu, satu Minggu ku beri waktu kau keluar dari kediamanku, dan surat cerai sudah aku siapkan untukmu" ucap Adhi lalu berjalan, Lia berusaha memeluk kaki Adhi, mengiba, namun Adhi sudah muak. Adhi menghempaskan Lia dan berjalan menuju kamarnya, mengunci kamar tersebut.


Adhi mengeluarkan pakaiannya dan memasukkannya ke koper, setelah itu ia menariknya keluar, Lia berusaha menahannya, namun Adhi sudah mati rasa, ia menghempaskan Lia dan masuk kedalam mobil, meninggalkan kediamannya menuju kediaman Angelo.


Di alam mobil Adhi menghela nafas, ia memijit keningnya, rumah tangga yang ia harapkan ternyata justru menjadi neraka bagi anaknya.

__ADS_1


__ADS_2