(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Penggelapan Dana


__ADS_3

Setelah kepergian Aurel, Khadijah dan ayu tertawa puas


sementara Dani hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal dan merasa canggung.


"Apa yang saya lakukan keterlaluan menurut pak Dani?"


"Ah tidak, tidak sama sekali Bu Ayu malah masih memberikan ia sedikit pelajaran.


Saya membiarkannya berprilaku angkuh dan sewenang-wenang karena dia mengaku keluarga anda, kakak anda.


"Aku juga mengatakan pada Dani untuk melihat saja apa yang wanita itu lakukan, agar ia merasa diatas angin dan dengan mudah di jatuhkan.


Bukankah itu lebih menyakitkan saat jatuh???" ucap Khadijah tertawa kecil


"Astaga, mama kau ternyata kejam juga" ucap Ayu lalu mereka semua tertawa bersama.


Setelah hari ini Dani yang bertugas selama ini sebagai direktur di bawah arahan Khadijah, posisinya akan tetap direktur bagian, yang mengepalai para manager, sebagai bentuk ucapan terima kasih karena berkat Dani perusahan ini tetap berjalan.


Sementara Ayudia menjabat sebagai CEO sekaligus pemilik perusahaan, dan Khadijah penasihat.


Kini perusahaan akan berjalan sesuai dengan arahan Ayudia sebagai pemimpin baru.


"Pak Dani, saya kedepannya akan banyak merepotkan bapak, saya perlu bimbingan dan masukan bapak" ucap Ayudia membuat Dani tersenyum senang.


Walau ia hanya direktur bayangan, namun ia sudah terbiasa di hormati dan mengatur perusahaan.


Ayudia tak bisa begitu saja mengabaikannya.


Jasa pak Dani dan kesetiaannya mengabdi di perusahaan.


Pak Dani juga tetap mendapatkan fasilitas dan gaji seperti biasa.


"Saya tersanjung ibu Ayu memandang tinggi diri saya.


tentu saya akan membantu anda" ucap Dani merasa di hargai. Khadijah tersenyum lebar, putri sahabatnya memiliki perasaan dan hati seluas samudra.


Bahkan ia mau merendah sedikit untuk mendapatkan hal yang besar.


"Pak Dani, ini yang mama dan saya pikirkan.


pak Dani sudah mengabdi di perusahaan kami bertahun-tahun, ini sebagai bentuk apresiasi perusahaan atas dedikasi tinggi bapak" ucap Ayudia menyodorkan sebuah map berwarna coklat


"Bu, saya bekerja dengan ikhlas Illahi Ta'alla.


ini ...."


"Terima lah, justru kalau bapak menolak kami yang kecewa" ucap Khadijah tersenyum


Dani mengambil map tersebut dan membukanya, tangannya bergetar tak percaya


"Bapak dan keluarga bisa pindah kapanpun, mulai hari ini rumah tersebut milik bapak" ucap Ayudia tersenyum.


Ia membelikan pak Dani sebuah rumah di kawasan elite, walau Dani sudah punya rumah, namun di bandingkan rumah yang di berikan Ayudia lebih besar dan bergengsi karena terletak di kawasan elite.


"Ini, ini....Terima kasih banyak Bu, terima kasih" ucap Dani menangis. Dani merupakan asisten Khadijah, ia sudah bekerja sejak perusahan didirikan, berdedikasi tinggi dan jujur, itulah mengapa Khadijah mengusulkan untuk membelikan sebuah rumah, dengan kekayaan yang Ayudia miliki sekarang sebuah rumah megah, bukan masalah besar.


"Sama-sama pak, kedepannya kita akan bekerja sama memajukan perusahaan mendiang mama saya"


"Tentu Bu, tentu.

__ADS_1


Saya akan mendedikasikan hidup saya untuk kemajuan dan kesusksesan perusahaan ini" ucap Dani mantab.


Setelah selesai, Dani kembali ke ruangannya, ada kelegaan di hatinya dan senyumnya mengembang.


"Sekarang apa yang mau kau lakukan pada Aurel?" tanya Khadijah sambil meresap teh di depannya dengan anggun. Ayu memandangi wanita yang sudah mengasuhnya sejak kecil itu, biasanya Khadijah hanya memakai pakaian sederhana, mengikat Cepol rambutnya dan tak pernah memakai make up sedikitpun. namun masih terlihat cantik dan kini,


Khadijah berpakaian modis layaknya seorang wanita karir dengan make up tipis di wajah cantiknya, sedang rambutnya di gerai dengan sedikit blow di Ujang rambutnya, cantik dan elegan.


Usianya yang sudah menginjak kepala empat tak nampak, bahkan orang akan mengira jika usia Khadijah baru tiga puluh tahun, melihat betapa masih cantiknya ia. Berbanding seratus delapan puluh derajat saat ia menjadi bi Ijah, pengasuh di rumahnya.


"Sayang, sayang apa kah mendengar ucapan ku?" tanya Khadijah melambaikan tangan di depan wajah Ayudia


*Ah maaf ma, aku sedang melamun. Apa yang mama tanyakan tadi?"


"Apa yang akan kau lakukan pada mantan kakak tirinya itu?"


"Aku belum memikirkannya ma, aku juga gak bisa menurunkan jabatannya atau mengeluarkannya tanpa alasan, itu tak bijak sama saja aku menghancurkan image ku sendiri" ucap Ayudia


"Mama bangga padamu, kau dewasa dan rasional, dua hal itu yang bisa membuatmu sukses di masa depan.


kematangan emosional penting dalam memimpin sebuah perusahaan"


"Aku masih harus banyak belajar ma" ucap Ayudia malu.


"Jam setengah dua belas, bukankah kau akan menjemput si kembar? mama ikut" ucap Khadijah antusias. Melihat ketiga anak Ayudia hatinya sangat bahagia, ia langsung jatuh cinta saat pertama melihat mereka, bertapa imut dan menggemaskan, membuat siapapun yang melihat ingin mencium dan mencubitnya.


"Ayo kita jemput anak-anak" ajak Ayudia bersemangat , mereka lalu keluar kantor untuk menjemput si kembar


Setelah menjemput si kembar dan makan siang, ia kembali ke perusahaan menunggu Aurel menyerahkan tugasnya sambil ia memeriksa laporan perusahaan yang sudah menumpuk.


Keesokan harinya


Ayudia bahkan belum memeriksa semua laporannya, namun ia menutup matanya rapat, ini seperti menemukan makanan tipus yang bercecer, menjijikan.


Ayudia terjaga hingga jam 1 dini hari, ia tak sanggup melihat lagi, kepalanya di bayangi oleh rasa kesal.


Keesokan paginya, Ayudia terbangun dengan wajah kuyu dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.


"Hei ap yang terjadi padamu nak???" tanya Angelo melihat cucunya


"Aku hanya kelelahan dan kurang tidur" ucap Ayudia lirih


"Astaga nak, mulai semuanya pelan-pelan, jangan kau makan semua informasi hanya dalam beberapa hari, perusahan berdiri juga bertahap tak langsung besar" ucap Angelo membuat perumpamaan


"Aku mengerti kek"


"Bagus, aku percaya kau lebih pintar daripada papamu"


"Apa pagi ini kita puasa saja sayang?" tanya Ernest penuh makna


"Maaf darling, aku hanya tak suka dengan cara kerja cucumu" ucap Angelo melirik sekilas pada cucunya


"kau, kau yang berpengalaman maka ajarkan cucumu bagaimana sebagai seorang pengusaha, bukan bersikap buruk seperti itu" ucap Ernest tak kalah sewot


"Baik-baik" ucap Angelo tak mau berdebat, ia sebenarnya hanya khawatir dengan kondisi Ayudia, namun tak tahu bagaimana bersikap dengan cucunya.


selama ini hanya dengan Ernest Angelo bersikap lemah lembut dan perhatian, tapi di luar apalagi dunia kerja, ia sosok yang tegas.


"Jangan dengarkan kakekmu, ia sebenarnya khawatir dengan kesehatanmu, hanya saja otaknya yang kecil tidak bisa merangkai kata yang tepat" ucap Ernest membuat Angelo mendelik tak senang, namun memilih menutup rapat mulutnya

__ADS_1


"Pelan-pelan kerjakan semuanya, karena informasi yang kau dapat terburu-buru tak dapat kau terima dengan baik. Menjalankan perusahaan itu ibarat menjaga nyala lilin, saat kau mencoba menyalahkan, kau memerlukan alat dan usaha, saat kau menjaga nyala api nya stabil kau perlu kesabaran, saat kau ingin lilin itu terus hidup kau perlu memikirkan cara yang tepat dan pemikiran yang tepat. nikmati saja semuanya perlahan kau akan menemukan ritmenya.


Ah aku bukan seorang pembisnis, aku menyimpulkan semuanya dari sudut pandang ku sebagai seorang ibu rumah tangga, ku harap kau mengerti" ucap Ernest terkekeh


"Nek aku mengerti, bagiku kau luar biasa" ucap ayu memeluk Ernest


"Gadis kecil yang baik, sekarang panggil anakmu turun, ini sudah siang, mereka perlu sarapan benar agar otaknya menyerap semua pelajaran dengan mudah" ucap Ernest.


Ayudia tersenyum kecil, Ernest dan Angelo tak tahu saja, betapa otak kedua putranya sangat mengerikan.


Bahkan guru mereka pernah mengetes IQ mereka yang diatas rata-rata bahkan kecerdasan mereka setara dengan anak sekolah menengah atas, mungkin lebih.


Yang Ayudia tak tahu adalah, putranya bahkan memiliki perusahaan sendiri-sendiri.


Jika Ayudia tahu, ia akan shock.


Si kembar bisa membeli elektronik yang mereka mau, bahkan Daffa memiliki seperangkat komputer yang ia rakit sendiri dan berisi semua data pekerjaannya.


Ayudia sempat curiga, namun si kecil memiliki alasan yang masuk akal. sehingga akhirnya Ayudia hanya bisa pasrah dan malu karena mereka bisa membeli apa yang mereka mau tanpa bantuan dirinya.


Mereka menabung, uang yang mereka masukkan di celengan di serahkan pada Ayudia , begitulah cara mereka membeli, walau di dalam celengan tersebut terdapat banyak uang seratus ribu, mereka beralasan jika itu pemberian Adrian dan guru mereka karena bisa menjawab soal, atau memenangkan lomba dia sekolah mereka.


memang keduanya sering mendapatkan penghargaan atas setiap lomba yang mereka ikuti, dan Adrian memang pernah memberi mereka uang, namun tidak sebanyak itu juga, tapi alasan mereka benar. mau tak mau Ayudia harus percaya.


Tanpa Ayudia ketahui adalah, si kembar sengaja mencampurkan uang jajan nya dengan uang mereka, mengesankan bahwa mereka anak yang hemat dan menabung, sehingga saat mereka membeli sesuatu, Ayudia tak akan curiga.


Saat di kediaman Ratna pun mereka membeli bahan makanan dan membeli beberapa elektronik yang usang, semua mereka lakukan bertahap , dengan alasan mama mereka yang membeli. Ratna tentu saja tak menaruh curiga, ia hanya mengucapkan terima kasih.


Ayudia menganggap jika ucapan terima kasih Ayudia untuk hal lain, jadi Ayudia dan Ratna tidak curiga bahwa itu ulah mereka.


"Daffa, Daffi dan Davina turun dari kamarnya dengan pakaian seragam sekolahnya


Setelah mereka duduk, Ayudia membantu menyendok kan nasi goreng untuk Khadijah dan ketiga anaknya, sementara Ernest mengambilkan roti panggang untuk suaminya, Angelo dan Ernest tidak biasa makan nasi.


"Ma, apa kau tidak nyaman tidur semalam?" tanya Daffi menatap mamanya


"Wajahmu buruk seperti nenek-nenek, aku yakin papa mesum itu tidak akan menyukaimu dan kita bisa mencarikan papa baru" ucap Daffa tersenyum senang


"Ma kompres matamu, aku tak mau mengganti papa" ucap Daffi tak senang dengan ucapan kakaknya


"Atu juga mau ganti papa" ucap Davina menambahkan


"Hahaha, kalian memang cucuku, aku juga setuju kalian mengganti papa" ucap Angelo tertawa senang


"Aku seharusnya sudah mengganti suami sejak la, karena kau sakit" ucap Ernest menepuk keningnya.


Bagaimana cucu-cucunya sama gila dengan suaminya???


"Jangan merusak pagi ini dengan ucapan kalian" ucap Ayudia menatap ketiga anaknya yang langsung menunduk.


"Habiskan sarapan kalian dan segera ke sekolah.


Jangan ikuti kakek buyut kalian.


dia sekolah tidak lulus" bisik Ernest pada cicit-cicit nya membuat ketiganya tertawa


Seperti biasa Ayudia akan mengantar ketiga anaknya sekolah, lalu langsung ke kantor sesudahnya, sejak semalam ia sudah memikirkan sebuah rencana jitu, ia ingin Aurel mengembalikan uang yang ia ambil secara sukarela.


meeting pagi ini semua kepala bagian di kumpulkan, mereka akan mengadakan audit di beberapa divisi, termasuk keuangan.

__ADS_1


Terlihat wajah terkejut Aurel yang bisa Ayudia tangkap, sepertinya tikus tersebut mulai berlari menghindar, kita lihat saja apa yang akan ia lakukan untuk menyelematkan dirinya dari jeratan hukum!!!


__ADS_2