
Setelah memastikan Arjuna masuk mobil dan meninggalkan tempat itu, Jovanka langsung masuk ke dalam rumah ambil menangis, sesampainya di sana ia melihat si kembar sedang duduk melingkar menikmati steam boat tanpa rasa bersalah
"Huhuhuhu" Jovanka speechless tak mampu berkata apa-apa, setelah mendengar anaknya hilang rasanya nyawanya melayang, kini setelah melihat si kembar selamat dan kembali ke rumah ia merasa lega dan bersyukur masih bisa bertemu dnegan mereka.
Dalam pikiran Jovanka berkecamuk pikiran buruk saat mengetahui si kembar menghilang dari sekolahnya, ia sudah membayangkan yang bukan-bukan
"Mama, mama, maamaaa" teriak ketiganya memeluk Jovanka yang menangis di depan pintu hingga ia jatuh terduduk
"Mama, jangan menangis ma" ucap Daffa ikutan menangis, tak jauh berbeda dengan Daffi dan Davina, mereka berempat menangis sambil berpelukan
"Coba mama lihat, apa kalian baik-baik saja???"
"Kami baik-baik saja ma, maafkan Daffa sudah membuat adik ikut membolos dari sekolahan, kami khawatir dan rindu pada mama, kamu mencari mama" ucap Daffa
"Anak nakal, mama akan menghukum kalian nanti" ucap Jovanka luluh, awalnya ia memarahi mereka bertiga, namun begitu melihat dan mendengar ucapan Daffa, hatinya luluh
"Maafkan mama.pergi lebih lama dari yang mama janjikan, mama juga merindukan kalian.
tapi mama mohon jangan kabur dari sekolah atua dari rumah lagi, kalua terjadi sesuatu pada kalian, mama bisa mati" ucap Jovanka dengan suara bergetar.
Merekalah penyemangat hidup Jovanka, saat terpuruk melihat mereka tumbuh besar, Jovanka kembali memperoleh semangat hidupnya dan ia bertekad akan membalas semua orang yang sudah berbuat jahat padanya.
"Mama,,,,, maafkan kami ma" ucap Davina makin kencang menangis
"Sudah, sudah Jo, yang penting mereka sudah kembali dan tahu kesalahan mereka dan tidak akan mengulanginya lagi.
Dengar anak-anak, jika kalian hilang semua orang yang mencintai kalian akan sedih dan khawatir.
nenek harap ini pertama dan terakhir kalinya kalian menghilang begitu saja.
Sekarang teruskan makan kalian, kalian pasti kelaparan seharian di luar sana" ucap Ratna lembut, namun ketiga bocah kembar itu masih diam dan menatap mama mereka
"Cepat makan, mama perlu ganti baju dulu, lalu mama menyusul makan" ketiganya lalu bangkit dan kembali ke depan mangkuk besar berisi steam boat, Emilia sengaja tidak menyediakan diatas panci karena bahaya untuk mereka dekat dengan kompor dan panci panas.
"Ayo nak bangun, jangan marahi mereka, hari ini sudah banyak yang menasihati mereka, ibu yakin mereka mengerti dan tidka akan mengulangi lagi karena mereka anak yang pandai" ucap Ratna.
William mengangguk setuju, ia membantu Jovanka bangkit dari duduknya
"Maaf Bu, anak-anak mengejutkan dan membuat ibu khawatir"
"Gak apa-apa nak, Samuel dulu kecil juga pernah hilang, gak tahunya ikut tukang ice cream keliling, ibu sampai cari-cari, gak tahunya dia di taman depan komplek, mengikuti suara si penjual ice" kenang Bu Ratna membuat Jovanka tersenyum
__ADS_1
"Anak kecil apalagi masih aktif memang butuh perhatian penuh, apalagi mereka kembar tiga, kita harus telaten dan full penjagaan" ucap Ratna menjelaskan
"Iya Bu, Jo berfikir akan mempekerjakan seorang baby sitter untuk menjaga mereka"
"Ibu masih bisa menjaga mereka nak,"
"Maksud Jo, buat bantu ibu bantu, Jo gak mau ibu kelelahan juga" ucap Jovanka tak mau menyinggung Bu Ratna yang sangat menyayangi anak-anak
"Baiklah, cari yang benar-benar sayang anak kecil, nanti biar ibu yang bantu seleksi"
"Jo serahkan sama ibu aja, karena jo enggak ngerti" ucap Jovanka
"Baiklah nak, sekarang kamu mandi, karena perutmu masih belum sehat, ibu buatkan bubur"
"Terima kasih Bu, Jo gak tahu harus balas dengan apa kebaikan ibu pada jo dan anak-anak" ucap Jovanka bersyukur
"Cukup anggap ibu orangtuamu, kalian keluarga ibu"
Jovanka memeluk Ratna erat , tak terasa air matanya menetes keluar membasahi pipinya
"Susah sekarang mandi dan ganti pakaian, ibu akan siapkan makananmu" ucap Ratna membelai rambut Jovanka dengan penuh kasih sayang
"Jo tinggal dulu ya Bu, Will," Jovanka langsung melangkah menuju kamarnya, setelah Mandi dan ganti pakaian, jovanka keluar lagi untuk makan
Setelah makan selesai, Jovanka, william dan Willy duduk di sudut teras rumah, menikmati suasana senja, sementara si kembar asik bermain di halaman rumah dengan dua putri kembar Samuel.
Bu Ratna memilih masuk ke kamar karena ia masih merasa lelah mencari si kembar dengan Willy tadi siang.
"Will, Willy, tadi kakak diantar Arjuna, kakak rasa cepat atau lambat kakakmu akan tahu kebenarannya.
Tadi ia melihat mobil kalian di halaman ,aku rasa ia akan menanyai kalian, siapkan mental kalian" ucap jovanka
"Mungkin ini sudah waktunya semua terbuka, kita juga tak bisa menyembunyikan semuanya selamanya"
"Papa juga tau, tapi mengenai mama Ratna, papa belum tahu"
"Menurut aku sebaiknya katakan sekarang, aku takut papa akan marah jika tidak kita beritahu, bagaimanapun Bu Ratna keluarga istrinya satu-satunya"
"Aku setuju apa kata kak Ayu, baiklah, besok kita bahas, aku lelah sekali hari ini" ucap Willy bangkit berpamitan pada Ratna
"Aku juga pamit dulu kak" ucap William mengikuti adiknya, mereka lalu pulang menuju apartemen mereka masing-masing.
__ADS_1
Sementara di apartemen Arjuna terlihat masih ada aktivitas di kamar Arjuna, pria itu belum tertidur, walau lampu kamar sudah padam, pikirannya masih melayang memikirkan adik-adiknya yang berada di kediaman Jovanka.
"Apa yang mereka lakukan di sana??? sepertinya mereka biasa ke sana, sebenarnya apa yang kedua anak nakal itu sembunyikan di belakangku????" gumam Arjuna dalam hati, hingga akhirnya Arjuna tertidur karena mengantuk
Keesokan harinya
Arjuna sedang meeting membahas iklan yang akan rilis, saat sedang memutar iklan yang akan di tayangkan, bola mata Arjuna membulat, ia melihat dua anak kecil yang wajahnya menyerupai dirinya,
"Siapa anak itu, mengapa fitur wajahnya mirip sekali denganku??? Siapa anak ini dan siapa orangtuanya??" ucap Arjuna bertanya-tanya dalam hati
Arjuna langsung membuka kertas didepannya, ia membaca biodata anak-anak tersebut, dan mulutnya melongo
"Apa dia anak Jovanka??? Jovanka manager perencanaan????" tanya Arjuna setelah membaca berkas di depannya
"Benar pak, Bu Jovanka" ucap Emillia
"Apa Bu Jovanka sudah tahu jika putranya syuting iklan di perusahaan kita???" tanya Arjuna heran, karena posisi saat anak Jovanka syuting, ia dan Jovanka di luar kota
"Itu...itu..."
"Jangan katakan belum mendapatkan persetujuan orangtuanya, Astaga, apa kau mau perusahaan kita terlibat hukum??? mereka masih di bawah umur, kita harus mendapatkan persetujuan orangtua atau walinya" teriak Arjuna kesal
"Panggil Bu Jovanka ke ruangan saya, meeting di hentikan dan kau, lain kali pakai otakmu dalam bekerja" tunjuk Arjuna marah pada Yenny, Yenny hingga mengigil ketakutan, pasalnya Arjuna tak pernah membentaknya, marah dan malu itulah yang ia rasakan saat ini.
Kemarin ia sudah kena omel Baskoro seharian dan kini kena semprot anaknya, sial
Arjuna terlihat gelisah menunggu Jovanka masuk ruangannya, ia merasa bersalah sekaligus penasaran
Penasaran siapa papa dari anak-anak Jovanka
Tak lama kemudian Jovanka datang dengan diantar sekertaris Arjuna , kini ia duduk di depan Arjuna dengan perasaan deg-deg an
"Bu Jovanka, saya sebelumnya mau meminta maaf pada ibu, ini perihal iklan kita yang terbaru"
"Maksud bapak???" tanya Jovanka tidak mengerti
Arjuna membalik laptopnya menghadap Jovanka
setelah melihat video iklan di dalam laptop Arjuna, Jovanka terkejut, bola matanya melotot lebar dengan mulut menganga, di sana terlihat si kembar sedang jadi bintang iklan produk anak-anak perusahan mereka
"Apa Bu Jovanka mengenali mereka???tanya Arjuna
__ADS_1
"Ba..bagaimana mereka bisa ....."