(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Bermain Barbie


__ADS_3

"Bukankah dia sangat imut??"


"Maaf nek, itu bagi nenek, tapi bagi kami....." Ayudia langsung tertawa


"Kau seperti nenek tua yang membosankan kek" celetuk Ayudia membuat Angelo melotot


"Hahaha aku setuju, sayang senyum lah biar kau terlihat cantik" goda Ernest membuat Arjuna dan Ayudia tertawa keras


"Ma, aku pamit" ucap Adhi yang sudah tak sanggup menahan tawa, wajahnya memerah dan langsung bergegas keluar kamar


"Adhi menghela nafas dan menoleh ke pintu di belakangnya, dan bergidik ngeri


"Dasar keluarga aneh, aku harap istriku tak memiliki ide gila jika aku membuat kesalahan" ucap Adhi lirih.


Ia langsung kembali ke kamarnya dan melihat Khadijah sedang serius membaca


"Sayang mengapa kau bekerja, kita baru menikah, bisakah kau singkirkan dulu pekerjaanmu??" tanya Adhi cemberut


"Hanya sedikit sayang, ini sudah selesai" ucap Khadijah merapihkan dokumen yang sudah selesai ia cek


"Apa masih sakit??" tanya Adhi lirih


"Sedikit, apa mas...."


"Ah enggak, enggak sayang, kamu bisa istirahat beberapa hari lagi , mama bilang kamu harus istirahat dua Minggu" ucap Adhi ingat pesan mama mertuanya


"Mas, yang tahu kondisinya kan aku, bukan mama.


Mama hanya mengerjai mu, atau kau kuat dua Minggu puasa????" goda Khadijah


"Itu, aku..."


"Tenang, itu sakit awalnya saja, setelahnya tidak sakit kok" ucap Khadijah membuat sedikit rasa bersalah di hatinya hilang


"Ah sudahlah jangan membahas itu, aku habis dari kamar orangtuamu, papa...."Adhi tak bisa menahan senyum nya mengingat Angelo


"Apa mama menyiksa papa dengan pakaian aneh lagi???" tanya Khadijah menebak


"Sayang, ini bukan pakaian aneh, papamu di buat seperti wanita tua, dia sedang merajut di kursi goyangnya


"Haha, kali ini double hukuman, biasanya papa akan di minta memakai pakaian aneh atau merajut, karena dua kesalahan jadilah sepeti itu, tapi kamu gak usah khawatir mas. papa jago merajut" ucap Khadijah cuek


"Sayang apa kau tidak khawatir pada papamu???"


"Itu ungkapan kasih sayang antara mereka mas, karena itu mereka langgeng dan tetap mesra hingga kini.


Asal mas tahu saja, papa memiliki keahlian merajut lebih baik dari mama, walau ia seorang pembisnis yang sukses" ucap Khadijah tersenyum bangga


"Apa kau harus bangga dengan itu, tetap saja itu terlihat menyedihkan" ucap Adhi teringat melihat Angelo yang seperti wanita tua membosankan, seperti yang anaknya katakan.


"Merajut melupakan titik awal pertemuan mama dan papa. Papa yang berasal dari keluarga miskin harus mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhannya dan ia merajut, keahlian yang di turunkan oleh mama dan papa nya.


Di samping bekerja di kantor sebagai cleaning servis, ada siang hari dan sorenya di sebuah cafe di lanjut saat ia senggang ia akan merajut.


aku tak tahu kelanjutan ceritanya bagaimana sebaiknya kau tanyakan saja langsung" ucap Khadijah melirik suaminya, ia yakin Adhi tak akan berani.


"Aku mana punya nyali menanyakan itu, kakekmu galak seperti macan...ompong"


"Mas, biar begitu dia papaku" ucap Khadijah merenggut


"Apa kau tidak mau mencari tahu siapa orangtua kandungmu?" tanya Adhi penasaran


"Tidak, biarlah menjadi misteri.


aku sudah bahagia dengan keluargaku sekarang, aku memilki kamu, Ayudia dan si kembar cucu-cucu ku, itu sudah sebuah anugrah untukku"


"Kau gampang puas istriku, aku janji akan menjadi suami dan imam yang baik untukmu" mereka berpelukan.


Sementara di kamar Angelo, Ayudia sudah berhenti tertawa, Ernest menyodorkan padanya segelas air putih.


karena terlalu banyak menertawai tenggorokannya Samapi kering


"Sekarang keluar dari kamarku, kalian cucu yang tidak berbakti" Dengus Angelo bersedekap dada

__ADS_1


"Baiklah kek, kami akan keluar.


have nice day ya kakekku yang cute, hahahaha


Nek aku mau pergi bersama anak-anak karena kami sudah janji mau mengajak mereka jalan-jalan, apa kalian mau ikut???"


"Tidak, mau" ucap Ernest dan Angelo bersamaan


"Baiklah kalian jalankan, kakek kalian masih dalam hukuman" ucap Ernest menatap suaminya yang terlihat tak senang


"Baiklah, kakek nanti aku bawakan oleh-oleh,


wax penghilang bulu, lihatlah bulu kaki kakek menyeramkan, mana ada wanita cantik berbulu seperti itu" ucap Ayudia bersembunyi di balik suaminya.


Bugh,


sebuah bantal sofa melayang kearah Arjuna dengan mulus


"Nenek I love you, bye bye.


selamat jadi pawang macam ompong nek" ucap ayudia langsung berlari keluar kamar sebelum Angelo makin marah, Arjuna juga langsung cabut karena ia tak mau jadi pelampiasan kakaknya


Keduanya lalu tertawa di luar pintu kamar Angelo


"Cucu durhakaaaaa" maki Angelo dari dalam kamar


"Hukuman kakek menyeramkan, kamu jangan seperti itu ya sayang"


"Siapa yang tahu kedepannya" ucap Ayudia mengangkat bahunya cuek lalu berjalan.


Arjuna langsung menyusul istrinya


dan berusaha membuat Ayudia senang.


Satu kata yang harus Arjuna ingat:


"wanita keluarga Benedito menyeramkan!!!!"


Setelah Ayudia dan Arjuna berpakaian rapih mereka lalu menghampiri si kembar yang sengaja di beri pakaian serupa, mereka couple.


Sedangkan Ayudia memakai kaos dan celana Levis panjang, dengan tas selempang, seperti anak abege.


dan Davina memakai pakaian bergaya sama dengan mamanya, rambutnya yang di kuncir dua menambah penampilannya yang menggemaskan.


mereka berlima terlihat kompak dengan outfit berwarna putih dan bawahan hitam.


Setelah itu mereka masuk dengan tertib ke bangku penumpang, sementara Ayudia duduk di samping Arjuna


di mobil lain Jack dan kedua anak buahnya ikut dengan mobil mereka, membuntuti dari belakang.


Sebenarnya Arjuna ingin membawa pengawalnya juga, namun itu malah akan seperti mereka ingin berbesan alih-alih refreshing


Mereka semua menikmati rekreasi singkat itu dengan suka cita, tanpa mereka ketahui sejak tadi ada orang yang memperhatikan mereka di kejauhan, sorot mata orang itu terlihat penuh dendam.


Setelah puas bermain, mereka lalu makan malam di luar, saat kembali hari sudah malam dan si kembar langsung tidur karena kelelahan.


Keesokan harinya


Si kembar sangat lelah karena bermain seharian kemarin sehingga saat Ayudia membangunkan mereka masih menguap dan terlihat lemas berjalan menuju ruang makan, dengan mata sedikit terbuka


"Buggh" Daffi terjatuh karena ia berjalan sambil memejamkan mata, ia melihat tangan orang yang membantunya berdiri, cat merah di kukunya serta kulitnya yang keriput, ia yakin itu neneknya


"Nenek, maafkan aku masih mengantuk" ucap Daffi memegang tangan tersebut dan bangkit


"Nenek dari mana??? itu kakek, lihat mana ada wanita yang memiliki bulu kaki seperti hutan belantara" cibir Daffa tertawa terkekeh mengira kakeknya adalah neneknya


"Tapi kak, jelas tadi ku lihat tangan dan kakinya ada cutek merah, astaghfirullah...." Daffi kembali terjatuh karena terkejut.


"Sejak kapan pria memakai cutek, kakek anda sehat???" tanya Daffi membuat Angelo rasanya tersedak darahnya sendiri, cucunya mempertanyakan kesehatannya


"Kakek sehat hanya hatinya yang tak sehat hahahaha"


"Daffaaaaaa"

__ADS_1


"Kaburrrrr, maaf kek, sabar ini ujian" teriak Daffa langsung langkah seribu sebelum kena semprot kakeknya


"Ujian kepalamu gundul, dasar anak tuyul" ucap Angelo kesal


"Kakek, kami anak papa dan mama kalau anak tuyul kepala atu botak" ucap Davina polos


"Maaf sayang, kakek hanya kesal" ucap Angelo melunak melihat cucu perempuannya, ia merasa sedikit lega karena cucu perempuannya lebih normal dari kedua kakaknya


"Kakek, apa kau habis main Barbie?" tanya Davina tersenyum melihat jari tangan dan kaki Angelo


"Tidak, tidak, itu nenekmu usil" namun Davina tersenyum lebar, ia mengira jika Angelo sungguhan bermain Barbie seperti ia dulu saat bermain Engan dokter Adrian, tangan dan kaki Adrian ia beri cat kuku saat tertidur, tidak itu saja, ia juga mendandani Adrian dengan bedak serta lipstik Ayudia hingga lipstik kesayangan Ayudia patah karena ia juga memakaikan nya di pipi dan kelopak mata Adrian.


Saat terbangun, Adrian tidak tahu jika ia sudah di make over berjalan santai keluar membuat Daffa, Daffi dan Ayudia tertawa terkencing-kencing, karena dandanan Adrian mirip badut.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri??" tanya Angelo menaikan sebelah alisnya..


"Atu ingat papa Adrian, atu kasih cat kuku kaya kakek gitu.


kakek tahu ga, papa Adrian ganteng.


aku akan menikah dengan papa Adrian saat besar" ucap Davina menopang dagunya sambil tersenyum menghayal


"Owalah, bentet Kabeh Ra Eneng sing bener( Owalah retak semua gak ada yang bener) cucuku produk gagal" ucap Angelo menggelengkan kepala, ia baru saja memuji Davina Norm, ternyata sebelas dua belas dengan kedua kakaknya


"Kakek jadi gak main barbie nya???" tanya Davina sedih kakeknya langsung pergi


"Kau membuat kakek stres" ucap Daffi memutar bola matanya malas


"Kenapa?" tanya Davina memiringkan kepalanya menatap Daffi


"Anak seusiaku tak akan berfikir untuk menikah, kau...


gadis kecil gendut yang genit" ucap Daffi meninggalkan adiknya yang langsung berwajah mendung


"Sayang kenapa kok sedih???" tanya Arjuna melihat anaknya seperti mau menangis


"Kak Daffi bilang aku gadis kecil gendut yang genit"


"Cup cup, biar nanti Papa jewer dia ya?, sekarang papa temenin main "


"Main Barbie pa"


"Apapun yang anak gadisku minta" ucap Arjuna menoel hidung bangir putrinya, mereka lalu menuju kamar Davina.


Baru beberapa menit lalu arjuna bersemangat ingin dekat dengan putrinya, namun beberapa menit kemudian ia menyesal


"Papa cepet kasih makan anaknya, itu nangis" ucap Davina kesal


Arjuna dengan malas menyumpalkan botol susu mini khusus boneka ke dalam mulut si boneka


"Senyum dong pa, liat anaknya takut liat muka papa" ucap Davina menepuk pipi papanya


"Arjuna melirik kearah pintu, ia takut jika ada orang yang datang, pasalnya ia tak beda dengan Angelo.


Davina memaksanya memakai pakaian Ayudia yang ternyata ketat di badannya serta mendadaknya, bahkan rambutnya di ikat karet kanan kiri, bukan seperti kuncir imut, tapi malah seperti memilki dua tanduk di atas kepala.


bibir Arjuna pun tak kalah menyeramkan, ia diolesi lipstik merah milik Ayudia, seperti habis memakan orang, karena nyatanya melewati bibir Arjuna, wajahnya penuh bedah dan blush on. sampai Arjuna bersin-bersin.


ia menolak awalnya namun Davina menangis dan ia tak tega, ia takut malah membuat ayudia tak percaya bahwa ia bisa jadi papa yang baik untuk anak-anaknya


"Udah dong sayang, wajah papa gatal" ucap Arjuna menggaruk mukanya


"Papaaaa, berantakan kan jadinya"teriak Davina kesal karena riasannya berantakan oleh Arjuna


"Sayang kenapa teriak-teriak sih???


mas hahahaha ya Allah apa yang terjadi padamu??? seperti dakocan" ucap Ayudia tertawa terbahak-bahak


"Pstttt jangan berisik"


"Kenapa ma??" tanya Daffa dan Daffi


"Hahaha, papa kaya bencong di lampu merah ya kak" ucap Daffi, sementara Daffa hanya tertawa mengangguk.

__ADS_1


"Hahaha suamimu lebih cocok jadi wanita Ayu" ucap Adhi yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu,


"Ancur sudah harga diriku" gumam Arjuna menangis dalam hati


__ADS_2