(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Ikhlas


__ADS_3

Sebastian memandang pria pria paruh baya yang tertidur di ranjang rumah sakit.


hanya beberapa hari sejak pertemuan ya terdahulu, pria itu terlihat menua beberapa tahun dan terlihat lemah dan rapuh.


Dimana sosok pria yang sombong angkuh dan gagah yang ia temui terakhir kali???


Entah mengapa Sebastian merasa hatinya terasa sakit, apa itu karena pria yang terbaring di sana adalah papanya???


Sebastian menghampiri Jimmy Chou.


Wajah pria paruh baya itu terlihat lebam dan membiru.


Bahkan pelipisnya berdarah.


Sebastian mengepalkan tangannya, walau ia membenci papanya namun melihat keadaan Jimmy yang babak belur Sebastian merasa sedih.


Ia marah pada orang yang melakukan itu pada papanya, mungkin inilah yang dikatakan darah lebih kental daripada air.


Sebastian duduk sisi ranjang memandang lekat pria itu, pria yang merupakan papa kandungnya.


Sebastian hanya duduk dan menatap Jimmy Chou tanpa melakukan apapun.


Setelah beberapa waktu akhirnya Jimmy Chou tersadar, ia mengerang merasa sakit di sekujur tubuhnya, terutama kakinya yang di rekontruksi ulang karena patah di tempat yang sama.


"Pa, apa kau merasa sakit???" tanya Sebastian lembut


Jimmy Chou masih memejamkan matanya, ia merasa pandangannya kabur dan pusing luar biasa


"Aku sedang bermimpi mendengar suara putraku, mungkin karena aku merindukan dia" gumam Jimmy Chou pelan


Tian tersenyum kecut mendengar ucapan papa kandungnya. Pria itu merindukannya, apa ia harus bahagia atau....


Sebastian bangkit lalu berjalan keluar memanggil Davina untuk memberitahu jika Jimmy sudah siuman


Davina dan beberapa dokter serta Willy masuk ke dalam ruang perawatan, sementara dokter langsung memeriksa kondisi Jimmy Chou, setelah itu dokter tersebut berbincang dengan Davina lalu pamit meninggalkan ruangan perawatan.


Sementara Jimmy Chou terus memandang Sebastian tanpa berkedip dan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Matanya berkaca-kaca, pria itu terlihat bahagia dan terharu. Keadaanya membuat putra yang membencinya Sudi datang.


Jimmy Chou tak percaya Sebastian mau menjenguknya mengingat betapa buruknya ia, Jimmy menduga jika Sebastian tidak akan pernah mau menemuinya lagi seperti apa yang Sebastian katakan terakhir kali ia menjenguknya.


Jimmy hanya ingin bisa melihat putranya, ia tak mau berharap lebih karena sadar bahwa ia tak memiliki andil apapun dalam kehidupan Sebastian.


"Papamu kondisinya sudah baik, operasinya sukses.


Kami akan menunggu di luar, kalian bisa berbicara pribadi" ucap Willy menarik Davina keluar


"Tapi...." Davina ingin memprotes namun Willy memandangnya sambil tersenyum, dengan terpaksa Davina hanya diam dan menurut.


"Kak,... terima kasih banyak" ucap Sebastian lirih


"Santai aja, gue lakukan ini semua karena loe adik gue" ucap Willy lalu berjalan keluar bersama Davina.


Jimmy sempat melemparkan senyum sebagai ucapan terima kasih, namun Willy hanya menatapnya datar, membuat ekspresi Jimmy canggung

__ADS_1


"Dia putra dari pria yang kau bunuh" ucap Sebastian mengerti apa yang di pikirkan oleh Jimmy Chou


Jimmy hanya menatap putranya bingung .


"Willy adalah putra mama Ratna, dan papanya adalah pria yang kau bunuh demi ambisi mu.


Apa kau tidak malu melihatnya???


putra pria yang kau bunuh bersikap sangat baik dan melindungi putramu, dia kakak terbaik yang pernah ku punya" ucap Sebastian getir


"Maafkan aku"


"Maaf mu tak bisa mengobati luka yang telah kau torehkan di hati mereka.


Maaf mu tidak bisa mengubah apapun, bahkan tak bisa membawa papa mereka kembali.


Maaf mu tidak pernah bisa membayar rasa kehilangan dan mengembalikan kebahagiaan yang kau rampas.


Maaf mu tidak bisa menebus tahun demi tahun mereka merindukan kasih sayang seorang papa


Bahkan mereka harus tinggal di panti asuhan demi menghindari kejaran mu.


Maaf mu tak berarti apapun untuk kami" ucap Sebastian sinis.


Sebenarnya Tian tak mau mengatakan itu, mengatakan kata-kata kasar pada papa kandungnya sendiri, tapi dengan Mengatakan itu semua uneg-uneg di hatinya setidaknya sudah tersampaikan.


Ia tak mau membenci papanya, tapi keadaan yang membuatnya seperti itu.


"Papa tahu, dan sangat tahu nak, tapi papa benar-benar tulus meminta maaf" ucap Jimmy dengan mata berkaca-kaca, ia menyadari semua kekeliruannya tidak akan pernah termaafkan.


Pada Mama, pada mama Ratna, pada papa Baskoro, pada mama Ratih, pada Sania.


Asal papa tahu, aku mau menjenguknya dan bertemu denganmu lagi semua karena Sania, putri yang kau besarkan. Dia bahkan mencintai dan menghormatimu terlepas kau jahat atau tidak, baginya kau papa yang sempurna dan hebat.


Aku iri, aku iri dengan sania.


Betapa Sania berbesar hati memaafkan mu pa"


"Papa hanya bisa mengucapkan maaf, hanya bisa meminta maaf nak.


Entah maaf itu tak berarti atau pun terlambat, papa tak punya kata-kata lain selain itu.


Maafkan papa sudah menjadi orangtuamu yang memalukan, yang kau benci,


Maafkan papa karena menjadi orangtuamu,


maafkan papa karena papa orang jahat sehingga kamu malu , marah dan kecewa.


Papa akan menembus semua kesalahan papa.


Papa akan memohon pengampunan dan maaf mereka sekalipun papa tidak bisa mengubah apapun yang sudah terjadi.


Dan papa merasa sangat bersalah juga pada Sania, dia..."


"Aku tak perlu janjimu pa, aku ingin melihat kesungguhan mu.

__ADS_1


Aku memang belum bisa memaafkannya, tapi aku juga tak akan menjauhinya, karena kau papa kandungku* ucap Sebastian membuatnya Jimmy Chou terkejut.


Pria paruh baya itu menangis seperti anak kecil, hingga tubuh renta nya terguncang hebat, Sebastian bangkit dan duduk di tepi ranjang, memeluk tubuh Jimmy dan membuatkan pria itu menangis di pelukannya


"Tian, maafkan papamu ini nak, maafkan papa.


Ya Tuhan ampuni dosa-dosaku" ucap Jimmy lirih di sela tangisnya.


Sebastian menangis dalam diam, ia menyeka air matanya. Membenci tak akan merubah apapun malah akan menyimpan penyakit di hatinya.


Sebastian hanya bisa ikhlas, jika ia melepaskan papanya begitu saja, Jimmy akan semakin tersesat dan jauh dari taubat.


sebagai anak Sebastian mengingatkan papanya, walau terlambat itu lebih baik daripada tidak sama sekali dan mati sebelum bertaubat, nauzubillah.


Setelah Jimmy Chou tenang, Sebastian pamit menemui Willy dan Davina, Jimmy hanya mengangguk memandang putranya yang berjalan keluar kamar rawatnya, hatinya di penuhi rasa bahagia.


Ia berjanji akan mengakui semua perbuatanya, semuanya, bahkan jika ia akan di hukum mati besok, ia tak menyesal.


Setelah berbincang-bincang sebentar, Willy pamit pulang, Ia harus bekerja besok, sementara Sebastian memilih untuk tetap tinggal menemani Jimmy Chou.


Davina langsung mengatur semuanya, termasuk izin pada polisi yang berjaga di depan kamar Jimmy, setelah semua selesai, Davina juga izin pulang karena besok hari pertama ia masuk sekolah dasar,.


"Apa kau besok sudah masuk sekolah??


"Iya, aku malas" ucap Davina cuek sambil berjalan ke parkiran


"Dengar anak kecil, sekolah yang bener, jangan macam-macam apalagi buat geng di sekolahan.


Ingat usiamu masih seumur jagung"


"Is om, bisa enggak sih kalo bicara sama.aku gak ngingetin usia" protes Davina kesal


"Kenapa??? kan memang usiamu masih kecil.


Jangan mentang-mentang kau bisa mode dewasa kau lupa ukuran aslimu.


Ingat bocah ingusan, jagung kalau belum tua di rebus gak ada isinya, begitu juga kau"


"Hello aku manusia kales"


"Ish ish susah bicara ma bocil, itu perumpamaan, jangan memaksakan sesuatu yang belum saatnya, mengerti?????" ucap Willy mengacak-acak rambut keponakanya, sebenarnya itu curahan hati Willy karena Willy khawatir dengan perkembangan mental dan pemikiran Davina jika ia terus hidup di dua sisi berbeda


"Bawel ih kaya nenek-nenek"


"Di kasih tau sama orangtua ngeyel, dengerin yang bener" ucap Willy dengan muka serius


"Cieeee gak usah di kasih tahu kali, anak bayi juga ompong, alias gak usah di kasih tahu, om memang udah kelihatan tua" ucap Davina cekikikan langsung lari ke dalam mobilnya dan menguncinya khawatir Willy akan menghentikan nya


"Sembarangan, bocah apek sini loe" panggil Willy di depan pintu mobil Davina


"Bye bye om tua, jangan suka ngomel-ngomel nanti kisut kaya kentang di rebus kelamaan hahahha" ucap Davina langsung ngacir dengan mobil kesayangannya meninggalkan Willy yang terlihat kesal.


Davina tak henti-hentinya tertawa senang karena berhasil membalas Willy yang sudah membully nya dengan mengatakan bau susu formula.


"Dasar ponakan kurang asem" teriak Willy kesal

__ADS_1


__ADS_2