
William bersimpuh di sisi tempat tidur Ratna, terlihat Ratna yang pucat dengan bibir yang pucat
"Ma, maafkan Mahesa ma, ayo kita ke dokter" ucap William khawatir.
ia tak mau terjadi sesuatu pada mamanya, ia baru merasa bahagia bertemu lagi dengan mama kandungnya, merasakan betapa indahnya memiliki orangtua kandung, di sayang, di manja, di omeli, di nasehati, di khawatirkan.
William menikmati itu semua, ia sangat bersyukur akhirnya tuhan mempertemukan, mereka kembali.
Namun baru saja sehari William tak kembali, kondisi mamanya seperti ini, ia menyesal tak pulang kerumah.
Bukan tak ingin, tapi William sedang tidak mood jikalau di tanyakan masalah wanita, ia sedang ingin fokus dengan kebahagiaan Ratna dan menikmati momen-momen berharga bersama mamanya.
"Mahesa, mama merasa sudah tua sekali, melihat Daffa, Daffi dan Davina, setidaknya mama membayangkan memiliki cucu sendiri.
Namun kamu tak menyukai wanita, bagaimana mama bisa hidup dengan tenang" ucap Ratna menghapus air matanya, Ayudia melongo di depan pintu kamar.
Jika saja ia tak tahu rencana Ratna, ja akan tertipu oleh penampilan Ratna, begitu natural dan menjiwai.
"Ma, aku normal, aku suka perempuan" ucap William tak senang
"Kau selalu mengatakan kau suka perempuan, tapi kau tak pernah terlihat dengan perempuan.
Mahesa, mama sudah tua, sakit-sakitan, menurutmu berapa lama lagi mama bisa bertahan???" Isak Ratna keluar, William membisu, ia tak tahu harus berkata apa, Ia sangat menyayangi mamanya, bukan ia tak menyukai wanita, hanya saja ia belum kepikiran dekat dengan wanita.
kehidupannya yang keras membuat hatinya membatu, ia awalnya memagari dirinya dengan pikiran bersenang-senang, memiliki kekasih, sehingga sekian tahun memupuk ia menjadi pribadi yang dingin pada wanita
"Ma, mama akan panjang umur dan melihat aku menikah" ucap William menangis sambil mencium punggung tangan Ratna
"Ibu... ibu jangan ngomong sembarangan, ibu akan sehat dan panjang umur" ucap Ayudia menghambur masuk dan menangis.
ia tak mau kalah berakting dengan Ratna
"Jo, jika ibu sudah gak ada......"
"Ibuuuuu..... jangan bilang begitu, Jo gak bisa hidup tanpa ibu" teriak Ayudia histeris begitu juga William yang panik memeluk Ratna sambil menangi
"Ibu titip...."
"Ibuuuuu, please Jo mohon jangan bicara seperti itu.
ibu harus sehat dan melihat Mahesa menikah dan punya anak" ucap Ayudia masih menangis
"ibu frustasi, Mahesa....."
"Dia pasti akan menikah Bu, dia akan menuruti kemauan ibu, ya kan Will??? tanya Ayudia yang di balas anggukan William lemah.
Ratna mencubit tangan Ayudia dengan keras, ia kesal beberapa kali ayudia memotong ucapnya yang belum selesai, itu seperti akting yang harus kena iklan, menyebalkan
"Adddddduuuuhhhhh ibuuuu, huhuhu" ayudia terkejut Ratna mencubitnya, lalu Ratna melotot sehingga ia harus masih berakting
"Kak kau kenapa?" tanya William yang melihat Ayudia meringis
"kenapa lagi, ibumu mencubit keras, rasanya sakit" gumam Ayudia dalam hati, namun ia tak bisa mengatakannya
"Kenapa kamu bilang??? hatiku sakit melihat ibu seperti ini. kau tahu ibu selalu memikirkan mu, memikirkan kapan kau menikah, beliau sangat khawatir padamu, hingga beliau jatuh sakit karena tertekan" ucap ayudia menghapus air matanya, ia lebih baik menjauh sedikit dari Ratna.
"Benar apa yang kakakmu katakan, menikahlah nak, cari wanita yang kamu cintai dan berikan mama seorang cucu"
"Iya berikan ibu seorang cucu, setidaknya enam cucu darimu dan enam cucu dari Willy" ucap ayudia masih memasang wajah sedih, walau William mau menyangkal ucapan Ayudia karena memintanya memilki anak sebanyak itu, melihat kondisi mamanya ia hanya bisa diam
" Dasar anak stres, menikah saja sudah untung, ini memintanya punya anak enam, sepertinya khayalan ayu terllau tinggi.
walau aku suka tapi apa putra-putra bukan peternakan anak" gerutu Ratna melirik ke arah Ayudia, sementara yang di lirik pura-pura tak melihat, ia sengaja mengerjai Ratna.
__ADS_1
"Loh ada apa ini???" tanya Arjuna yang berdiri diambang pintu kamar Ratna, melihat bergantian pada Ratna , Ayudia dan William yang sedang menangis berjamaah
Rasanya ingin sekali Ayudia menimpuk Arjuna dengan sendal rumahnya.
Bagaimana dia begitu bodoh??? bagaimana dia melupakan rencana mereka, padahal belum genap dua jam yang lalu ia di beritahu.
Melihat sorot mata tajam dari istrinya Arjuna menutup mulutnya dan jatuh terduduk
"Huhuhuhu, ibu, ini pasti semua gara-gara anak gak berguna ini" ucap Arjuna menangis meraung-raung.
Ayudia rasanya ingin menggali lobang dan bersembunyi di dalamnya, betapa suaminya terlihat sangat bodoh dan memalukan.
Bu Ratna hanya berakting sakit, bukan tutup usia, tapi akting Arjuna seolah Bu Ratna meninggal, bodoh, sungguh bodoh, ingin rasanya Ayudia memaki suaminya itu
"Kak mamaku cuma sakit, kau terlalu berlebihan" Dengus William. kesal
" aku seperti ini karena kesal denganmu, kalua saja kau tak membuat khawatir orangtua, mama Ratna tak Kana sakit" ucpa Arjuna balik membentak adik sepupunya
"Kau...."William kehilangan kata-kata
"Sudah-sudah ayo mas kita tinggalkan mereka, mungkin ibu ada yang mau di sampaikan dengan William" ajak Ayudia menarik tangan suaminya meninggalkan kamar Ratna, kemudian ia menutup pintu kamar tersebut, lalu dengan ganas ia mencubit pinggang suaminya, dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk membekap mulut Arjuna
"Kamu tuh ya mas, gimana sih???? hampir aja terbongkar, akting kamu terlalu lebay .
Bu Ratna cuma akting sakit bulat game over" ucap Ayudia sewot
Di kejauhan ketiga orang beda usia meringis ngeri melihat Ayudia mencubit perut Arjuna
"Anak-anak, mama kalian kdrt.
om harap kalian jangan mengingat apa yang terjadi di depan kita" ucap Willy berjongkok dan menatap kedua keponakannya
"Aku akan mengingatkan om, agar aku tak salah pilih istri, aku akan cari yang lemah lembut,"
"Kalau begitu aku memilih jomblo" ucap Daffa santai
"Kau akan seperti om William, kaku seperti serabut kelapa" ucpa Daffi terkekeh sendiri dengan kalimatnya
"Apa menurut kalian om William seperti itu???"
"Iya dia pria yang membosankan dan sombong.
sudah untung ada wanita yang mau sama dia pake jual mahal.
mumpung Tante Emil lagi khilaf langsung bawa ke penghulu, sebelum dia sadar dan melarikan diri dari om William" ucap Daffa sekena nya
"Jadi menurutmu Tante Emil sedang khilaf???" tanya Daffi mengerutkan keningnya
"Iya lah,.klo wanita normal mana mau sama om William, ya walau tampan tapi kalau dingin kaya manusia kutub siapa juga yang tahan hahahaha" Daffa tertawa di ikuti Daffi dan Willy, ketiganya asik ber ghibah tanpa sadar jika objek yang mereka ghibah kan ada di belakang mereka
"Aw, AW AW, om turunkan kami" teriak Daffa dan Daffi yang di kerahnya diangkat naik, mereka kembali di perlakukan seperti dua ekor kucing yang malang
"Eh hehhe kak Emil" ucap Willy sama terkejutnya tiba-tiba melihat keponakanya di tengteng dengan mudah oleh Emil.
sepertinya Emil memiliki otot tangan yang kuat
"Kalian bergosip di belakang saya???"
"Enggak Tante, itu om Willy yang mulai" ucap Daffa
"Iya om willy" Daffi mendukung kakaknya
Dua lawan satu, tentu saja Willy kalah.
__ADS_1
"Kak, tiba-tiba aku ada urusan permisi" ucap Willy langsung ambil langkah seribu, Daffa dan Daffi menatap penuh dendam pada om nya yang memilih menyelamatkan dirinya sendiri
"sial om Willy malah kabur, awas saja" ancam Daffa menatap Daffi yang mengerti makna tatapannya, ia juga ikut kesal dengan tingkah Cemen Willy.
"Tante Emil yang cantik, maafkan kami" ucap Daffa dan Daffi mengatupkan kedua telapak tangannya ke depan dada
"Apa kalian senang bergunjing???
apa kalian mau Tante pakaikan pakaian wanita??
karena hanya wanita yang hobby bergunjing"
"Tanteeeeeee ampuuuunnnnnn" ucap Daffa dan Daffi membayangkan diri mereka dalam pakaian wanita, mereka bergidik ngeri, begitu juga dengan Daffa
Emil tertawa geli dalam hati melihat wajah pucat kedua anak Ayudia, itu menjadi hiburan tersendiri bagi nya.
Emillia langsung menurunkan si kembar yang langsung menunduk dengan tangan di depan badan
"Maafkan kami Tante" ucap mereka lirih
"Apa kalian pikir Tante sedang tak sadar menyukai ini kalian???"
"Itu, itu cuma bercanda aja kok Tan, ya kan de???" Daffi langsung mengangguk cepat
"Ada apa nih, kenapa mereka?? apa habis membuat ulah??" tanya Ayudia melirik kedua putranya
"Enggak kok, mereka sedang bicara dari hati ke hati, ya kan anak-anak"
"Iiiiiya" ucap keduanya takut-takut
"Kau terlihat sedang menggertak putraku Emillia?"
"Siapa bilang, aku menyayangi anak-anakku* ucap Emil memeluk keduanya.
lalu menciumi mereka sepuas hatinya, kapan lagi mencium si kembar tanpa ada protes dari mereka
"Ah baiklah, aku mau memasak untuk makan malam kita dan cemilan untuk sore ini" ucap Ayudia berjalan menuju dapur
begitu Ayudia pergi, Emil malah mencium pipi si kembar, namun pelukannya longgar, dengan gesit keduanya langsung berlari menghindar
"Tante kau pedofil" ucap ucap Daffa dan Daffi mengelap pipi mereka kesal lalu berlari masuk kamar, menutupnya dengan kencang.
Emil tidak marah, tapi hanya tertawa terkekeh
meregangkan tangannya seolah ia habis olah raga
Willy yang melihat dari jauh bergidik memegangi lehernya, ia merasa bulu kuduknya berdiri
"Astaga wanita itu mengerikan, kak William pasti akan jadi ayam penyet di buatnya" ucap Willy lalu langsung menutup pintu kamarnya, tak mau menyinggung Emil.
William keluar dari kamar mamanya, ia tak sengaja berpapasan dengan Emil, keduanya saling menatap sebelum akhirnya Emillia memutuskan menundukkan kepala dan berjalan menuju dapur, membantu sahabatnya memasak.
Keesokan paginya
Emillia langsung langsung pamit setelah sarapan pagi, ia harus membereskan barang-barangnya karena besok ia akan pergi.
Daffa dan Daffi saling pandang, mereka sudah menghubungi petugas kepolisan guna menangkap kakak tiri Emillia.
Tapi mereka baru bisa datang besok, dan Daffa takut waktunya akan terlambat.
Sementara Ratna menangis sambil berpelukan dengan Ayudia, mereka gagal mempersatukan William dan Emil.
William masih menolak Emil.
__ADS_1