
Ayudia, Khadijah dan Santiago sudah berada di sebuah restoran , mereka terlihat sedang menunggu seseorang.
Tak lama di kejauhan William datang beriringan dengan Samuel dan Willy
Tiga pria tampan iyang berjalan beriringan membuat pusat perhatian. seolah ada tiga model tampan sedang berjalan di catwalk
tubuh mereka yang atletis didukung dengan wajah tampan dengan karakter mereka masing-masing.
Willy dan William yang lebih mirip opa-opa dari negeri ginseng sementara samuel walau sudah punya anak dia, dia masih terlihat muda dan tampan dengan wajah blasteran
Ayudia mengagumi ketiga saudaranya, jika saja mereka bukan saudaranya sudah yakin Ayudia akan menyukai mereka, walau Arjuna juga tampan, terbukti dari ketiga anak-anaknya yang memiliki wajah keturunan dari papa mereka.
Ayudia melambaikan tangannya ke arah mereka, lalu ketiganya menghampiri Ayudia.
"Siang Tante" sapa ketiganya lalu mencium punggung tangan Khadijah
"Siang nak, oh ya perkenalkan ini Santiago, pengacara keluarga Benedito" ucap Khadijah memperkenalkan Santiago
"Hello mister Santiago, nice to meet you" ucap William
"Beliau bisa berbahasa Indonesia fasih kok" ucap Ayudia tersenyum
"Ah kak Ayu, bilang kek dari tadi, aku jadi gak ngeluarin skill kan???" gerutu William yang di balas tawa mereka semua
"Gaya-gayaan skill, paling juga yes, no, ok aja.
aku masih ingat proyek terakhir kita, yang memenangkan kontrak kerjasama kan Daffi, karena keponakanku itu bisa bahasa jepang" ucap Willy mengejek kakaknya
"Tutup mulutmu, jangan kau ingatkan, ingat" ucap William yang wajahnya sudah memerah karena malu
"Owh jadi kamu kalah sama Daffi Will?" tanya Samuel polos, karena saat itu ia memang sedang di luar kota
"Kalah telak kak" ucap Willy lalu tertawa terbahak-bahak
"Kita bahas tujuan kita kesini" ucap William mengalihkan pembicaraan, ia merasa menyesal telah sombong di awal.
William lupa jika mulut adiknya bisa lemes seperti wanita jika prihal membicarakan kekurangan William.
ingin rasanya William menyumpal mulut cerewet adiknya itu.
William jadi heran, sejak kapan Willy yang pendiam berubah jadi cerewet??? iya jadi ingat jika Willy sering tidur di kamar si kembar, apa Willy ketularan Daffi Adan Daffi????, William bergidik ngeri membayangkan mulut beracun keponakannya itu.
"Baiklah, kalian mau minum apa??? atau kita makan dulu mengingat ini sudah lewat jam makan siang" tanya Ayudia memandang saudaranya bergantian
"Aku juga sudah lapar, kita makan dulu"ucap William yang tak ingin membahas kekurangannya dalam bahasa Jepang, padahal perusahaan mereka memiliki beberapa Klien berkebangsaan Jepang.
Kerjasama terakhir kali sukses berkat Daffi, William jadi termotivasi belajar bahasa Jepang, ia tak mau kalah dengan keponakannya.
Jika saja William tahu Daffi menguasai lebih dari enam bahasa, bisa muntah darah dia hahaha
Akhirnya mereka langsung memesan beberapa menu makan siang mereka, hanya obrolan ringan yang kadang terdengar, mengingat di sana ada Khadijah, calon mama Ayudia, dan Santiago pengacara keluarga kakek Ayudia.
Setelah makan siang terlihat wajah Ayudia kembali serius, ia meneguk air putih di depannya lalu mulai berbicara.
"Pagi tadi seperti yang kalian tahu aku menjalankan sidang pertamaku, dan Jimmy Chou datang dalam sidang itu walau terlambat" ucap Ayudia menatap ketiga saudaranya
"Rupanya b*j*Ngan itu keluar dari persembunyiannya" geram Samuel yang tak bisa lagi menahan emosinya.
"Dia sudah lama keluar Sam, beberapa waktu lalu juga menjalin kerjasama dengan perusahaan kakekku.
Aku menyampaikan ini untuk mendiskusikan pada kalian, apa yang akan kita lakukan.
Akan lebih baik kita memikirkan apa yang akan kita lakukan"
__ADS_1
"Aku akan memasukkan gugatan ku kak, ternyata selama ini barang buktinya ada padaku" ucap William menggeleng lemah
"Maksudmu?? kakak gak mengerti" tanya Ayudia penasaran
"Ini, kalung kecil ini berisi no deposit box di sebuah bank swasta, papaku menyimpan bukti kejahatan Jimmy di sana"
"Apa kau sudah melihat isi dalam deposit box itu?" tanya Samuel penasaran, William mengangguk pelan
"Kemarin aku ke sana bersama Willy, awalnya aku tak tahu apa maksud tulisan dalam liontin ini, namun Willy mengatakan bahwa itu mungkin ada kaitannya dengan papa kami
Akhirnya kami pelajari dan mulai mencari hingga akhirnya kami menemukan keberadaan barang bukti itu" ucap William
"Ini bagus, kita akan menyerang dari semua sisi, aku yakin pria busuk itu akan kelabakan" ucap Ayudia bersemangat, sementara Khadijah dan Santiago memilih mendengarkan mereka
"Tapi aku belum mendapatkan bukti keterlibatan Jimmy Chou dalam kecelakaan papaku." ucap Samuel muram, ia turut bahagia saudara dan saudari nya menemukan titik terang, namun kasus yang menimpa papanya belum ada bukti
"Sore semua" suara seorang pria mengejutkan mereka semua
semua orang menoleh ke arah sumber suara, ternyata Arjuna berdiri dengan senyum manis , Ayudia mengerutkan keningnya, bagaimana pria itu ada disini, lalu Ayudia melempar pandangannya ke arah William yang terlihat menunduk sambil menyedot es teh manis di gelasnya.
Ayudia yakin ini ulah William, karena jika Willy ia juga terlihat sama terkejutnya dengan Ayudia
Arjuna dengan percaya diri menjabat tangan semua orang stau persatu.
"Sore ma, apa kabar" sapa Arjuna tanpa malu menyapa Khadijah
"Sore Arjuna, duduk sini" ajak Khadijah menggeser duduknya memberi ruang pada Arjuna, Khadijah sengaja tak menatap Ayudia karena ia yakin Ayudia tak setuju dengan apa yang ia lakukan.
"Terima kasih ma" ucap Arjuna tanpa malu lngsung duduk dan tersenyum manis pada istrinya
"Tuan Santiago, kenalkan Arjuna ini suami Ayudia"
"Hallo tuan Arjuna perkenalkan saya Santiago pengacara keluarga tuan Benedito" ucap Sebastian sopan, bagaimanapun arjuna adalah cucu menantu atasannya.
"Hallo tuan Sebastian senang berkenalan anda" ucap Arjuna menjabat tangan santiago
"Jimmy Chou muncul di sidang perdana Ayudia" ucap Samuel membuka pembicaraan
"Pria b*j*Ngan itu muncul? sidang?" tanya Arjuna bingung, pasalnya ia tak tahu apapun.
Arjun. menatap satu persatu adiknya, lalu terakhir pada istrinya, meminta penjelasan pada Ayudia dengan pandangan tajam. Arjuna merasa ia di abaikan baik oleh adiknya maupun oleh istrinya sendiri, ia kecewa.
"Maaf, aku lupa memberitahumu.
semuanya berjalan begitu saja" ucap Ayudia yang mengerti jika tindakannya salah
"Aku pikir karena kau tak menghargai ku sebagai suamimu" ucap Arjuna dingin
"Nak Arjuna, mama yang salah, mama yang mendesak ayu untuk segera menyelesaikan semua, Ayu juga sibuk dengan kepindahan kami dan semua berkas pemindah tanganan perusahaan, sehingga ia lupa.
itu bukan berarti melupakan nak Arjun" ucap Khadijah mencoba menenangkan calon menantunya
"Terima kasih ma sudah menjelaskan, sepertinya Ayu pun tak bisa menjelaskan padaku" ucap Arjuna tak senang.
"Aku minta maaf mas" ucap Ayudia lirih, ia sedikit canggung di depan semua orang, masalahnya statusnya dengan Arjuna belum jelas.
"Kita kembali ke permasalahan bisa??? Jimmy Chou adalah Papa dari Aurel, apa ku sudah tahu itu?" tanya Samuel lagi membuat wajah Arjuna makin suram, William maupun Willy . Mereka tidak memberitahukan fakta sepenting itu
"Baik, lalu Jimmy datang untuk membantu Aurel?, aku belum menangkap semua kronologisnya.
"Baik tuan Arjuna saya akan menjelaskan " ucap Santiago
Setelah Santiago menjelaskan wajah Arjuna makin muram melirik ke arah Ayudia.
__ADS_1
kasus itu menyangkut dirinya, dengan siapa Ayudia melakukan malam kejadian itu.
"Jadi Lia dan Aurel kini terdakwa dan tiba-tiba Jimmy datang di tengah sidang?"
"Kurang lebih seperti itu.
William akan mengajukan tuntutan pada Jimmy mengenai kecelakaan papa kandungnya, dan semua bukti sudah di tangan, sebenarnya aku juga mau, tapi bukti ku belum kuat"ucap Samuel menghela nafas tak berdaya
"Aku akan membantumu, kecelakaan papamu berkaitan dengan mamaku, dan aku berhutang budi pada mendiang papamu" ucap Arjuna
"Terima kasih bro, gue sangat menghargainya, terima kasih" ucap Samuel lega
"Kita bisa membahasnya besok bagaimana, aku punya saksi yang mengetahui kecelakaan itu"ucap Arjuna membuat Samuel makin bersemangat.
"Ok deal besok jam makan siang, kau tentukan tempatnya" ucap Samuel
"Baik" ucap Arjuna.
pembicaraan jadi berputar antara Samuel dan Arjuna.
suasana canggung, terlebih William dan Willy kini merasa akan ada badai setelah ketenangan ini.
Akhirnya Khadijah pamit, ia dan santiago akan kembali ke perusahaan Benedito , sementara ayu akan kembali ke rumahnya.
Setelah Khadijah dan Santiago serta Samuel pamit, kini tinggal mereka berempat.
William dan Willy merasa tangannya basah, mereka sudah melakukan kesalahan fatal.
"Aku perlu penjelasan kalian berdua, jangan pikir akan lepas begitu saja" ucap Arjuna bangkit, Ayudia bernafas lega karena mengira suaminya akan pergi, namun sebuah tangan kokoh menarik nya membuatnya berdiri dan dengan sigap Arjuna melingkarkan tangannya di pinggang ramping Ayudia, membuat Ayudia terkejut
"Mas lepasin" ucap Ayudia berbisik
"Apa kau masih punya keberanian menentang ku? " tanya Arjuna memicingkan matanya masih dengan wajah muram
"Will, Willy, kakak duluan ya" ucap Ayudia karena tak mu dilihat oleh adik sepupunya jika Indi tindas Arjuna.
mereka lalu berjalan keluar, Arjuna sebelumnya sudah meminta Khadijah membawa mobil Ayudia.
Arjuna membukakan pintu mobil untuk Ayudia dan segera masuk, ia langsung memacu kendaraannya menuju kediaman Adhi mertuanya, tujuannya satu, wanita ini tak akan menurut dan menganggap dirinya jika ia tak segera menikahinya lagi secara agama.
Sepanjang perjalanan mereka wajah Arjuna datar, rahangnya mengeras menahan marah, Ayudia tahu jika suaminya itu tersinggung dan terhina.
"Mas, aku bisa jelaskan" ucap Ayudia lirih
Arjuna menghentikan mobilnya di bahu jalan, ia menatap datar Ayudia sambil memainkan ponselnya cuek
"Jelaskan???? bahwa aku tidak di hargai istriku sendiri dan adik-adikku? bahwa aku dianggap tak ada?? apa itu yang mau ku jelaskan hmm?
"Bukan mas, aku... aku"
"Tadinya aku tak ingin memaksa, namun kamu yang menyudutkan ku" emosi tersirat di suara Arjuna, dan Ayudia menyadari kesalahannya
"Aku minta maaf mas sungguh aku... aku khilaf.
please jangan marah lagi ya"
"Apa yang mau kau lakukan untuk membuatku tak marah?" tanya Arjuna menaikan sebelah alisnya
"Terserah mas" ucap Ayudia pasrah
"Baik, aku sudah merekamnya" ucap Arjuna tersenyum licik, rupanya Arjuna sedang menekan tombol rekam, Ayudia tak tahu jika suaminya.... "LICIK"
kini ia menyesali mengatakan terserah, itu bisa bermakna banyak.
__ADS_1
"Mas buat apa ke rumah papa????" tanya Ayudia mengerutkan alisnya
"Kau juga akan tahu, ayo turun" ucap Arjuna membukakan pintu mobil untuk istrinya