
Mobil yang di kendarai Emil memasuki halaman sekolahan si kembar, terlihat wajah di tekuk tiga bocah kembar tersebut, di samping mereka wali kelas mereka menunggu mereka di jemput
Jovanka langsung turun dan menyapa wali kelas anak-anaknya
"Maaf miss Dewi , saya telat menjemput anak-anak" ucap Jovanka
"Tak apa-apa Bu"ucap Miss Dewi mengelus puncak kepala Davina
"Miss Dewi kami pamit Assalamu'alaikum" ucap Daffa lalu di ikuti kedua adiknya mereka bergantian Salim pada Miss Dewi
"Kalau begitu saya pamit Miss, terima kasih banyak"
"Sama-sama" ucap Miss Dewi ramah
"Ayo sayang, tuh Tante Emil menjemput, beri salam pada tante Emil" ucap Jovanka menggandeng anaknya naik ke dalam mobil Emil
"Waaaa, Tante cantik punya mobil, atu suka"teriak Davina langsung mendekati mobil Emil.
Jovanka membuka pintu belakang, menunggu anak-anaknya naik, namun Davina hanya diam tak mengikuti kedua kakaknya naik"
"Mama tahu mama salah telat menjemputmu, sekarang naik ya" bujuk Jovanka
"Atu mau di depan sama Tante cantik" ucapnya menunjuk kursi sebelah supir
"Ah baiklah, si cantik duduk depan" ucap Emil membuka pintu depan
"Mama Angkat" pinta Davina, Jovanka hanya menggeleng sambil tersenyum, putrinya sangat menggemaskan, baru saja ia mau naik, tangan Devina terangkat
"Sudah penuh, mama di belakang" ucapnya lalu menatap kedepan
"Hahahaha kau di usir anakmu Jo??" ucap Emil sangat senang. Emil membantu si kecil Davina memasangkan sabuk pengaman, lalu pintu depan di tutup Jovanka
"Maaf ya ma, Kata Bu gulu, kursi depan cuma boleh dua, satu supil, satu penumpang, benarkan Tante??" tanya Davina meminta pendapat Emil
"Benar sekali sayang, uhh pintarnya anak Tante, jadi pengen cubit" ucap Emil gemas
"Jangan cubit Tante, nanti pipi atu kendol" ucap Davina menutupi wajahnya
"Hah, kendol apa??? Jo, translate" teriak Emil yang melihat Jovanka masuk di kursi penumpang, ia menaikan bahunya tak tahu apa ucapan putrinya, walau ia tahu, ia tak akan memberitahu Emil.
Senyum licik terlihat di bibir Jovanka, sekali-kali sahabatnya yang menyebalkan ini harus dikerjai
"Daffa ganteng, tahu apa itu Kendol??" tanya Emil memasang senyum lebar, dan si es batu kecil itu menaikan bahunya sebelas dua belas dengan mamanya, membuat Emil jengkel
"Dasar es batu kecil" gerutunya pelan
__ADS_1
"Apa kau bilang?? aku bisa mendengar loh.
Jangan memaki di depan anak-anakku, kau menularkan kebiasaan buruk" pekik Jovanka yang di balsa cengengesan Emil,
"Cepat jalan, atau kita akan telat kembali ke kantor" ucap Jovanka
"Siap bos" ucap Emil langsung menyalahkan mesin mobilnya, mobil segera meninggalkan halaman sekolah si kembar, sesampainya di rumah sudah jam satu kurang seper empat,Terpaksa Jovanka hanya sholat begitu juga Emil, beruntung Bu Ratna sudah membungkus kan dia bekal makan siang mereka, sehingga Emil wajahnya langsung cerah seperti dompet awal bulan, bau harum rendang membuatnya tak sabaran untuk menyantap makan siang mereka
"Aku yang bawa mobil, kau makan siang lah di perjalanan" ucap Jovanka menengadahkan tangannya meminta kunci mobil Emil
"Kau bisa bawa mobil???" tanya Emil heran
"Tentu saja, ayo cepat" ucap Jovanka langsung merebut kunci mobil Emil, setelah berpamitan, mereka langsung tancap gas menuju kantor
"Ah masakan Bu Ratna juara, gak sia-sia aku ikut menjemput anak-anak" ucap Emil sudah selesai makan siang
"Apa itu tujuanmu sebenarnya ikut aku menjemput anak-anak??" tanya Jovanka melirik sekilas pada sahabatnya
"Ah Jo, tahu perumpamaan sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati gak???" tanya Emil tersenyum lebar
"Gak" jawab Jovanka singkat
"Bohong, lalu ada perumpamaan sambil menyelam minum air, kamu pasti sering dengar ini kan???"
"Sambil menyelam minum air tewas kembung" ucap Jovanka tanpa menoleh ke arah Emil
"Lain kali jika tujuan mu ikut aku pulang cuma mau numpang makan, aku tak akan mengajakmu" goda Jovanka pura-pura marah
"Itu hanya sampingan saja Jo, aku beneran kangen dengan anak-anakku" ucap Emil memeluk tubuhnya sendiri
"Dasar wanita gila" cibir Jovanka
"Aku gila karena mo sayang" ucap Emil mencolek dagu Jovanka
"Najis, aku masih normal, jangan karena di sakiti mantan kekasihku, kamu berubah haluan, serem" ucap Jovanka melempar kunci dan meninggalkan Emil
"Jo, astaga bukan temeni ke parkiran dulu, kejam, habis manis sepah di buang, sakit hati adek" teriak Emil
"Najis" teriak Jovanka berjalan makin cepat sambil menutup kupingnya dengan kedua tangannya
Jovanka berlari kecil karena melihat pintu lift yang terbuka, ia langsung menghadang pintu lift yang akan tertutup, dengan nafas ngos-ngosan Jovanka masuk ke dalam, baru saja ingin mengatur nafasnya, ia melihat Rendy dan pria aneh itu di dalam lift, dengan wajah merah Jovanka menunduk memberi salam Rendy, ia mengacuhkan keberadaan pria aneh yang sering membuatnya kesal.
"Hai Jo, siang ini kita akan meeting bersama, apa kabarmu?" tanya Rendy berbasa-basi, Arjun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu yang terkenal playboy
"Baik pak, iya kita meeting jam dua " ucap Jovanka tersenyum lebar
__ADS_1
"Sepertinya saya mencium bau sedap, rendang" ucap Randy menjentikkan tangannya yang di balas anggukan Jovanka, wajahnya merona merah, ternyata atasannya ini punya Indra penciuman yang tajam
"Owh kamu bawa makan siang ke kantor??? jarang sekali loh saya lihat orang bawa bek ke kantor" ucap Rendy tersenyum.
Arjuna memutar bola matanya malas. Rendy paling pintar jika berurusan dengan wanita, ia merupakan sahabat sekaligus partner kerja Arjuna.
"Ah ini, tadinya saya mau kasih Emil, cobain masakan buatan saya, tapi kalau bapak mau, buat bapak saja" ucap Jovanka tersenyum lebar
Terlihat Arjun mencibir tak suka melihat itu
"Bapak bisa makan, lengkap itu sudah ada nasinya dan sambal ladonya" ucap Jovanka
"Hati-hati nyogok dia" ucap Arjun nyeletuk
"Ah kalaupun iya saya sangat senang.
Saya sedang mencari wanita yang multi talenta. seperti kamu" ucap Randy menggombal
"Ini pak bekalnya, sampai ketemu di rapat, saya duluan" ucap Jovanka langsung keluar dari lift, sementara kedua pria itu menuju lantai paling atas dimana kantor Arjun berada
"Awas ada jampi-jampi nya "cibir Arjun ngeloyor masuk ke dalam kantornya
"Merry siapkan dua piring dan es teh manis ya, jangan lupa yang manisnya seperti kamu, terima kasih" ucap Randy menggoda sekertaris Arjun sebelum masuk ke ruangan Arjun
"Loe ngapain masuk kesini???, kalau loe udah lupa, ruangan loe di ujung sana" teriak Arjuna kesal
"Ah mana asik makan enak sendirian, gue kan sohib loe, jadi kota sehidup semati berdua, sepiring berdua gue ogah, loe laki" ucap Randy bersenandung sambil membuka bekal makan siang Jovanka
Aroma rendang langsung memenuhi ruangan Arjun, jujur saja Arjun menelan Saliva nya karena ngiler, namun ia terlalu gengsi ikut makan dengan Rendy.
Pintu ruangan di ketuk, lalu masuklah Mery membawa dua piring dan sendok, serta dua es teh manis pesanan Rendy
Rendy langsung menuangkan nasi dan menyendok rendang serta tak lupa sambal ladonya, keringat mulai bercucuran di dahinya
"Sumpah, ini enak banget, restoran yang kita datangin lewat" ucap Randy membuat Arjun penasaran, baunya memang menggoda selera apalagi rendang adalah makanan favorit Arjuna.
Dia duduk di depan Randy, Randy yang tahu sahabatnya malu-malu langsung menuangkan nasi dan rendang,
"Makan, daripada loe mati penasaran,. gue jamin loe akan ketagihan.
Gue akan minta Jovanka buatkan lagi kalau perlu" ucap Randy semangat
Dengan ragu Arjuna menyendok nasi kemulut nya, matanya membulat sempurna dan mengangguk
"Bener kan enak, gue gak akan bohong, lagi gak usah jaim, tuh cewe gak ada disini juga" cerocos Randy
__ADS_1
mereka berdua makan dengan lahap walaupun beberapa waktu lalu mereka habis makan, namun rasanya mereka ingin terus memakannya hingga keduanya kekenyangan sambil memegang perut mereka