(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Rahasia I


__ADS_3

Setelah Willy pergi, William langsung melajukan kendaraannya menuju kediaman Ratna, sore nanti ia dan Samuel memiliki janji untuk bertemu, pagi tadi Samuel susah mengirimi ia pesan singkat melalui ponselnya


Sesampainya di kediaman Ratna, terlihat wanita paruh baya itu sedang menyiram tanaman sambil sesekali tertawa dan memperhatikan ketiga bocah kembar yang berlari kesana kemari.


sementara mama mereka tak kelihatan batang hidungnya


William langsung turun dari mobilnya setelah memasuki halaman rumah tersebut, nampak wajah tak suka ketiga bocah kembar itu menatap William


"Eh nak William, cari nak Jo ya???


"Eh iya Bu, assalamu'alaikum" sapa William sambil mencium punggung tangan Ratna


"Wa'Alaikum salam, nak Jo nya lagi masak di dapur tuh, ayo masuk, sebentar ibu panggilkan ya" ucap Bu Ratna ramah, ia berjalan masuk ke dalam rumah


"Pagi anak-anak" sapa William menatap ketiga keponakannya


"Om, mobil om ganggu" protes Davina bertolak pinggang sambil memajukan bibirnya yang imut


"Iya ganggu aja, ada perlu apa pagi-pagi kesini, ini weekend om, apa om gak punya keluarga buat diajak weekend?" ucap Daffi menimpali


"Dia jomblo dan sebatang kara" timpal Daffa sambil tersenyum sinis


William hanya tersenyum kecut melihat reaksi ketiga keponakannya, namun ia tak mau ambil pusing.


wajar saja mereka belum dekat dengannya, belun terbiasa melihat kehadirannya, justru William termotivasi untuk meluluhkan ketiga anak kembar itu


"Owh iya, om punya sesuatu" ucap William membuka pintu belakang mobilnya dan membawa dia kantong belanjaan berisi Snack dan satu buah boneka sapi imut


Melihat apa yang di bawa William, mata Davina membulat berbinar senang


"Cih mau nyogok kami, gak bisa" ucap Daffa bersedekap dada


"Iya kami bukan orang yang bisa di sogok" ucap Daffi menambahkan ucapan kakaknya, keduanya sama-sama bersedekap dada,


"Astaga kenapa setan kecil Arjuna persis seperti dia???? Ganteng dan sombong, sungguh gen yang buruk" desah William memijit keningnya


"Davina sayang, om bawa boneka imut buat teman main mu" ucap William merayu Davina


"Davina jangan, ingat dia orang asing" Daffa memperingati adik kecilnya

__ADS_1


"Kakak om bukan orang asing, dia adik papa, makasih om" ucap Davina bahagia


"Dasar anak kecil, di kasih boneka senang"


"Iya, iya" ucpa Daffi


"Atu memang anak kecil kok, ya kan om" ucap Davina meminta bantuan William


"Iya , Davina peri kecil yang cantik, oh ya om ada coklat sama.ice cream, sama mobil-mobilan remote control sih masih di mobil, cuma karena kakakmu tidak mau om kembalikan ke toko saja" ucap William sedih


"Siapa? siapa yang gak mau Aku mau om" teriak Daffi membuat Daffa melotot tajam pada kembarannya itu


"Owh Daffi mau, ini, sama bawa ini ke dapur om bawakan daging slice buat kita barbeque an nanti" ucap William menyerahkan mobil remote control berukuran lumayan besar, ia berteriak girang


"penghianat" cibir Daffa. kesal melihat saudara dan saudari nya luluh karena iming-iming


"Om juga masih punya satu, om gak nyogok beneran ini buat ponakan om, ini sebagai permintaan maaf om karena om baru tahu kebenaran tentang keberadaan kalian" ucap William tulus, namun Daffa cuek, walau di hatinya ia tahu jika ucapan William tulus, namun Daffa sudah terlanjut gengsi mengakuinya, bisa jatuh harga dirinya di depan adik-adiknya


William yang melihat sifat Daffa mirip dengan papanya tersenyum kecil, ia menggeleng dan berjalan dengan membawa mobil satunya mendekati Daffa


"Om memaksa, ini.


terserah Daffa mau di rusak atau mau Daffa kasih siapa, om gak perduli.


"Apa kak Daffa gak mau hadiahnya om???" tanya Davina bingung


"Mau, hanya malu, ayo kita makan ice cream nya Davina mau ras apa???


"coklat om, atu coklat" teriak Davina meloncat-loncat girang


"Sayang bawa apa itu??? bilang apa sama om???" tanya Jovanka yang keluar dengan pakaian santai dan celemek melekat di tubuhnya, William terpaku di tempatnya, karena ia baru pertama kali melihat Jovanka yang sebenarnya, tanpa make up samaran dan kacamata hitam tebal, ia juga melepas softlens nya sehingga William ter hiptotis dengan kornea mata Jovanka


"Will, are u ok??" tanya Jovanka bingung


"Ah maaf, aku merasa kamu bukan ancaman ku, jadi aku tidak menutupi jati diriku yang sebenarnya" ucap Jovanka yang sadar jika adik iparnya itu sedikit terkejut


"Ah iya, aku yang belum terbiasa" ucap William menggaruk kepalanya malu karena tertangkap mata terpana dengan kakak iparnya sendiri


"Sungguh loe beruntung brother, istri loe seperti boneka Barbie, sayang loe udah menyia-nyiakan wanita secantik dan sebaik Ayudia" gumam hati William

__ADS_1


"Ayo masuk, mau minum apa???" tanya Jovanka santai


"Bebas, apa aja " jawab William santai


"Kalau bebas, air kobokan tangan mau??" goda Ayudia


"Loe kejam ma adik ipar" gerutu William sementara Ayudia atau Jovanka tertawa kecil lalu berjalan ke dapur


Terlihat Bu Ratna datang dengan membawa puding coklat dengan vla vanilla, meletakkannya di meja


"Ayo di coba pudingnya nak William, ini buatan ibu loh"


"Iya Bu makasih" ucap William senang, sudah lama sekali ia merindukan momen seperti ini, bisa makan masakan orangtua sendiri, walau kenyataanya Bu Ratna bukan mama angkatnya, namun wajah mereka yang identik membuat William tersentuh


"kok malah sedih nak???" tanya Bu Ratna lembut


"Will bukan sedih Bu, tapi bahagia sekaligus terharu, Will jadi ingat mama angkat Will yang merawat Kami sejak kecil"


"kalau ibu boleh tahu kemana mama angkatmu nak?? lalu bagaimana dengan orangtua kandungmu?"


"Orangtua kandung William sudah meninggal sejak kami kecil, William dan Willy tinggal di panti asuhan sampai mama Ratih dan Papa Baskoro mengadopsi kami, namun mama menghilang saat usia William sepuluh tahun" ucap William sedih


"Ratih???, Baskoro???, ibu sepertinya familiar dengan nama itu, ibu merasa mengenal mereka nak, aduh, kepala ibu"


"Bu, ibu jangan memikirkan yang macam-macam nama itu kan pasaran Bu" ucap William Menggenggam tangan Ratna


"Dimana panti asuhan mu nak, kasihan sekali kamu dan adikmu harus kehilangan orangtuamu diusia sangat kecil"


"Panti asuhan kasih bunda, di daerah Blok D kota B"


"Kkkkasih bbbunda???" ucap Bu Ratna dengan suara bergetar


"Iya Bu" ucap William mengerutkan alisnya bingung melihat reaksi Ratna


"Nak William apa itu nama pemberian orangtuamu nak???" tanya Ratna dengan mata menyelidik


"Nama tengah kami, ibu panti melarang kami memakai nama awal kami, sehingga sampai dewasa kami terbiasa dengan nama tengah kami yang menjadi nama utama"


Bu Ratna menatap William, bibirnya bergetar dengan wajah pucat pasi

__ADS_1


"Bu, apa ibu sakit?? wajah ibu pucat, kita ke dokter saja" ucap William memeriksa kening Ratna, dan William panik dan ingin bangkit memberitahu Jovanka, namun tangannya di cekal Bu Ratna


"Ma...MMMMahendra......" ucapnya lirih


__ADS_2