(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Bocah Tengik


__ADS_3

Arjuna mengedarkan pandangannya, namun ia tak melihat sosok wanita yang terlihat tak asing baginya, ia mencari hingga ke samping rumah yang di gunakan sebagai tempat acara ulang tahun Mauren, banyak anak kecil yanag berlarian kesana kemari dan ada yang berteriak-teriak membuat kepala Arjun rasanya mau pecah, hingga ia memilih pergi pergi ke taman belakang rumah tantenya, ia berjalan cepat hingga tanpa sengaja menabrak sesuatu


Bugghh


Arjun terkejut dan menunduk , dilihatnya seorang anak laki-laki jatuh terduduk. Arjun sangat takut anak itu menangis sambil berteriak, seperti kebanyakan anak kecil yang sering ia temui, termasuk Mauren keponakannya sendiri


Namun tanpa di duga bocah laki-laki itu bangkit dan membersihkan pakaiannya dengan santai


"Lain kali jika berjalan lihat kebawah juga om, om tak kan pernah tahu di bawah ada apa, bisa jadi kotoran atau ada lubang" ucapnya pelan


Arjun melongo, ingin rasanya Arjun mengorek kupingnya sendiri berfikir jika ia salah dengar, namun nyatanya bocah laki-laki itu kini sedang bersedekap dada memandang ke arahnya


"Apa seperti itu sikap orang dewasa? apa om tidak berniat meminta maaf padaku karena menabrak ku?" tanya bocah kecil itu memicingkan matanya sebelah, menunggu Arjun mengucapkan permintaan maaf padanya. Karena ulah Arjuna baju kemeja putihnya kotor


"Astaga aku tak sengaja, lagi pula kenapa kamu bisa ada di depanku?" ucap Arjun tak terima digurui oleh anak kecil


"Ah kukira om diajarkan bagaimana bersikap pada orang lain. Mamaku selalu mengajarkanku meminta maaf jika salah, tak perduli pada orang yang lebih muda atau lebih tua, rupanya om tidak diajarkan, ckckck kasian" ucapnya sambil menggelengkan kepala lalu pergi meninggalkan Arjun.


Arjun masih mencerna ucapan bocah kecil itu, bocah itu mengejeknya tak punya tata Krama??? bagaimana anak sekecil itu punya mulut yang tajam???


Arjuna segera membalikan badan mengejar bocah kecil itu, bocah kecik itu terlihat sedang duduk santai di tepi kolam, sendirian


"Ah rupanya disana bocah tengik itu, bisa-bisanya dia mengejekku" gerutu Arjun menghampiri bocah itu, begitu dekat, ia langsung mengangkat bocah itu dengan satu tangan, seperti ngangkat anak kucing


"Apa kamu diajari kurang ajar pada yang lebih tua??? bagaimana kamu bisa berkata seperti itu hah bocah kecil????" tanya Arjun kesal


Alih-alih takut, bocah itu memasang wajah datar tanpa ekspresi membuat Arjun bingung, ia ingin membuat anak itu ketakutan dan menangis namun nyatanya bocah itu malah terlihat datar tanpa ekspresi membuat ia malah bingung sendiri


"Om lepasin kakak aku" ucap Seorang gadis kecil memukul kaki Arjun,


"Om jahat, lepasin pacar Mauren" teriak Mauren menangis memukul kaki Arjun di sebelahnya ,kini ia di pukuli dua gadis kecil yang imut.


Arjun segera melepaskan Bocah kecil itu yang ternyata adalah Daffa.

__ADS_1


Sambil tertawa canggung, ia terlihat seperti seorang psikopat yang sedang menyiksa anak kecil


"Ah hahaha, om sedang main sama bocah tengik ini, kalian salah paham, ya salah paham, ya kan bocah??" tanya Arjuna sambil membenarkan pakaian anak itu dan tersenyum bodoh


Daffa hanya mengangkat bahunya malas


"Dafa apa kau baik-baik saja?" tanya Mauren mendekati Daffa


"Aku tak apa-apa, dia tak akan berani menyakitiku" ucap Daffa membuat Arjuna melotot


"Kakak, nanti om nya adukan sama mama aja" ucap Davina memegang Kakaknya, ia melirik Arjun dengan pandangan permusuhan


"Ah gadis cantik, kakakmu sama om beneran loh sedang main, jadi tolong jangan adukan ke mamamu ya sayang" ucap Arjun gugup, bagaimana nanti sikap orangtua bocah itu jika berfikir ia menganiaya anaknya, bisa panjang urusannya, pikir Arjun dalam hati


"Kamu lihat saja kakakmu tidak kenapa-napa" tambah Arjun berusaha meyakinkan kedua gadis kecik itu, Davina mendekati kakaknya, memeriksa sambil mengelilingi Daffa, lalu ia memegang tangan Daffa dan mengangguk, entah apa maksudnya.


Daffa hanya menggeleng pelan melihat tingkah adiknya yang seolah sedang memeriksa


"Jangan menyentuhku, kau mau mengambil kesempatan dalam kesempitan, aku baik-baik saja, dasar genit" ucap Daffa lalu berjalan masuk ke dalam tempat acara, sementara Mauren terlihat ingin menangis, air mata sudah mengambang di pelupuk matanya


"Astaga, apa itu beneran anak kecil???? bagaimana mulut dan tingkah lakunya tak sesuai usianya?? sungguh iblis kecil yang menyeramkan, aku penasaran bagaimana mama papanya sehingga menghasilkan anak seperti itu, ckckck.


Namun gadis kecil teman Mauren ini sangat cantik, ia seperti boneka Barbie hidup, hidungnya mancung, bibirnya, kecil, dan astaga bola mata anak itu berwarna hijau, aku penasaran ingin melihat mamanya, jika anaknya secantik ini, pasti Mamanya sangatlah cantik...


Ya ampun kenapa pikiran gue jadi kesana mikirin istri orang, ini gra-gara gue jomblo kelamaan kali ya, masa iya mak-mak gue mau embat juga, gilaaaa!!!!"teriak Arjuna dalam hati


"Sayang??? Oma cari kemana-mana ternyata disini, kamu kenapa sedih gitu???, gak boleh sedih ini kan pesta ulang tahun kamu" ucap Anjani mengelus puncak kepala cucunya


"Oma, sepertinya om Arjun sudah gak waras, tadi dia menyiksa Daffa , dia mengangkat Daffa seperti anak kucing, lalu setelah itu ia terlihat marah-marah sendiri, lalu menggeleng, trus tertawa sendiri" Adu Mauren pada Oma nya, Anjani lalu memperhatikan Arjuna yang memang sedang bengong, ia menepuk kepalanya sediri melihat betapa bodohnya keponakannya itu, menghayal tak tahu tempat.


Oma apa itu karena on Arjun jomblo abadi seperti kata kak Sarah ya??? jodohkan aja sama Katty Oma, biar om Arjun ga jomblo lagi" ucap Mauren bersemangat


"Ren-ren ayo cari kak Daffa" ajak Davina menggandeng tangan Mauren

__ADS_1


"Kamu ngapain sih Arjun , bikin malu aja, kamu apakan Daffa??" cecar Anjani


"Hehe itu Tan cuma diangkat sedikit aja, habis songong kecil-kecil"


Anjani langsung menjewer kuping Arjuna tiba-tiba


"Sakit Tan, lepasin liat banyak anak kecil yang mentertawakan Arjun"


"Biar putus sekalian, kamu ya sudah tua bukan belajar sayang anak kecil malah mau nyiksa anak kecil, bagaimana kalau dia ngadu sama mamanya?? bikin malu aja" omel Anjani pada keponakannya itu


"Kan cuma becanda, lagi pula mulut bocah setan itu pedes banget Tan, kaya bon c*be level 30"


"Dasar gelo, anak kecil di ladeni, bagaimana kamu nanti punya anak Arjun, Arjun" geleng Anjani tak habis pikir


"Yaang jelas kalo anak Arjun kaya bocah tadi, dan Arjun suruh masuk ke dalam perut lagi" seloroh Arjun cengengesan


"Bener kata Mauren kamu sudah gak waras" ucap Anjani meninggalkan Arjun, ia tak ingin berdebat dengan ponakannya itu karena kedatangannya tadi mencari Mauren untuk acara potong kue.


"Tan, Tante, tunggu" panggil Arjun mengekor Anjani


"Minta maaf sana sama Daffa, atau Tante akan marah" ucap Anjani tak bercanda


"Iya, iya, Oh ya Mauren tadi mau jodohkan aku sama siapa Tan?? Katty?? siapa tuh Tan?? tanya Arjun penasaran


"Katty??? dia blasteran , cantik, itu kucing perempuan milik tetangga sebelah" ucap Anjani lalu meninggalkan Arjun


"Maureeeennn, bocah tengik" teriak Arjuna dalam hati


" Tante Tahu kamu sedang memaki cucu tante kan???" tanya Anjani menghentikan langkahnya memandang tajam pada Arjun


"Eng.....enggak kok Tan,


Tante sensitif banget kaya pinggiran bisul" ucap Arjun langsung langkah seribu karena ia bisa mendengar tantenya ngomel-ngomel di belakang nya

__ADS_1


__ADS_2