(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Bahan ekperimen


__ADS_3

"Gadis ingusan, aku cuma terkejut sedikit.


Aku pria kuat" ucap Alex tak mau mengakui jika ia pingsan karena tak kuat menerima kenyataan.


Dalam hati Alex makin ngeri.


Bocah ini siluman kecil, ah bukan tepatnya iblis yang menitis di tubuh kecil seorang gadis.


Betapa menyeramkan nya.


Tanpa sadar bulu kuduk Alex berdiri sendiri.


Alex jadi bersyukur anak itu berpihak padanya dan tidak memusuhinya walau Alex dan organisasinya terus menggangu bisnis mereka.


untuknya gadis kecil itu bukan pendendam seperti yang ia pikirkan. Hanya dalam beberapa bulan organisasi yang dipimpinnya langsung merajai dunia bawah tanah, siapa yang menyangka jika hanya anak kecil ah bukan iblis kecil yang menjadi ketuanya.


Alex jadi penasaran siapa iblis tua nya???


maksud Alex siapa orangtua anak ini.


"Aku harus menjalin hubungan baik dengan bocah ingusan ini. Entah mengapa aku memiliki ketertarikan dengan gadis bau kencur ini.


Dia berbeda.


Tak menyangka dia benar- benar sangat berbeda." gumam Alex dalam hati.


Pikirannya langsung berputar memikirkan segala kemungkinan.


Dan pada akhirnya Alex bersyukur Davina baik padanya.


Hanya saja kata-kata yang keluar dari mulutnya kadang tidak di saring dulu.


"Kakek tua, apa kau sudah linglung karena pingsan???


Mengapa kau macam ayam sakit begitu??" tanya Davina kesal.


"Kau, gadis kecil mulutmu perlu di beri pelajaran" maki Frank sangat marah


"Frank, keluar dari ruangan ku dan apa yang kau lakukan pada tamu ku??? dengar semuanya.


Mulai sekarang Davina dan temannya bebas keluar masuk kediamanku.


Siapa yang berani menghalangi akan berurusan denganku, apa kalian paham????"


"Siap.bos" jawab dua puluh orang pengawal Alex, tak terkecuali Frank yang terlihat tak setuju, namun ia memilih bungkam.


Frank akan menanyakan sendiri alasan Alex bersikap demikian, ini sangat aneh.


"Tunggu apa lagi, keluar" ucap Alex menatap tajam anak buahnya.


Tanpa menunggu lama, mereka segera keluar dari ruangan tersebut.


Kini ruangan tersebut menjadi terasa luas lagi.


"Ahhh... akhirnya aku bisa bernafas lega. Kakek tua anak buah mu membuat ruangan ini pengap"


"Ya, ya, mereka memang menyebalkan.


Aku saja bosan melihatnya" ucap Alex terkekeh sendiri


Agatha yang sejak tadi diam sedang terbengong dan bertanya-tanya dalam hati.


Sebenarnya apa yang terjadi di sini????

__ADS_1


mengapa harus ada dua orang tak normal yang seakan membicarakan hal biasa, padahal beberapa saat lalu nyawa mereka dalam pertaruhan.


"Kakek tua apa jantungmu aman???


kau harus mengelem kuat jantung tuamu agar tidak copot" ucap Davina seolah perkataannya bukan tentang organ manusia.


"Jantung di lem?? dasar bocah tak waras" maki Agatha masih diam dengan pikiran berseliweran di otaknya


"Hahaha, kau benar gadis bau kencur, aku perlu lem yang kuat untuk mempertahankan jantung keriput ku" timpal Alex terkekeh


"Hello apa hanya aku yang normal disini???


please menghadapi satu bocah sableng aja sudah membuat kepalaku ingin pecah.


Kini ada bocah dan pria tua yang otaknya sedikit bergeser" gumam Agatha menatap Davina dan Alex yang sedang bertukar kata-kata


"Jadi kakek tua, apa yang akan kau lakukan???


jika kau tidak bertindak maka organisasi mu akan jatuh ke tangan orang yang kejam


Aku hanya mengingatkan, karena betapa disayangkan jika prinsip mu yang menurutku keren harus hilang saat tampuk kepemimpinan berada di tangan pria itu" ucap Davina dengan mimik wajah serius.


Davina berharap Alex bisa bersikap tegas tak memandang status Bram sebagai menantunya


"Menurutmu, apa yang harus pria tua ini lakukan???" ucap Alex balik bertanya pada Davina


"Aku????, apa kau beneran mau mendengar apa yang akan ku lakukan ??? Apa kau yakin???" tanya Davina sangsi


"Tentu saja, katakan.


Aku akan pertimbangkan usulan mu" ucap Alex tanpa ragu sedikitpun dan tatapan mata Alex mengisyaratkan ia menunggu apa yang akan Davina katakan


"Baiklah, jangan menyesal" ucap Davina dengan senyum licik


"Kalau aku jadi kau, aku akan menarik mandat yang ku berikan pada Bram, jelas ia sudah melanggar aturan yang jelas tentang organisasi tanpa membedakan siapa orangnya, karena dengan tindakan itu akan menjadi pelajaran dan contoh nyata, bahwa peraturan di buat untuk di taati semua anggota tanpa terkecuali, termasuk pemimpin organisasi juga.


Dan jika aku jadi kau pak tua, aku lebih baik tak punya menantu" ucap Davina menghela nafas di akhir kalimatnya


"Aku setuju ucapan mu , tapi tidak setuju ucapan mu mengenai status menantu ku.


Atas dasar apa kau mengatakan itu???" tanya Alex merasa tersinggung ucapan Davina melebar ke ranah yang tak seharusnya.


"Maafkan aku kakek, karena kau sudah menganggap ku cucumu, maka aku tak bisa menutup mata lagi.


Sebenarnya aku tak ingin memberitahumu, karena bangkai di tutupi serapat apapun akan tetap tercium juga baunya.


Tapi aku tak terima kau di tipu" ucap Davina dalam


"Apa maksudmu bocah nakal?" tanya Alex mulai gelisah.


Sebenarnya ia sudah mengendus sesuatu yang janggal pada Bram, namun ia menolah mempercayainya.


karena insting laki-lakinya.


Laki-laki lebih mengenal laki-laki lainya saat mereka berbuat yang tak seharusnya.


Davina tak mengatakan apapun, ia mengeluarkan sebuah Flash disk, membuat Alex mengerutkan alisnya bingung


"Ini untukmu kek, lihatlah saat kau siap


Ingat jantungmu masih kendur, jangan berbuat gegabah" ucap Davina serius.


Walau perkataan Davina terkesan asal dan nyeleneh, namun Alex bisa merasakan jika Davina mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Tolong panggilkan Frank untukku" ucap Alex pada Davina.


Davina mengangguk dan berjalan ke arah pintu dan hanya kepalanya saja yang menjulur keluar, seolah rumah ini rumahnya, ia berteriak lantang tanpa keluar dari kamar tersebut.


"Om Frank botak, kakek tua memanggilmu" ucap Davina lalu kembali duduk manis di dekat Alex.


Alex hanya melongo melihat kelakuan Davina dan menggeleng pelan.


Siapa yang tahu jika gadis muda di depannya adalah bocah kecil yang sangat imut.


Wajar saja kadang tingkah bocah nya keluar, seperti saat ini. Alex bagaimanapun terhibur melihatnya.


"Kakek tua kau mau ku kupaskan jeruk???" tanya Davina dengan senyum manis


"Dengan senang hati, tapi jeruk mu tak beracun kan??? goda Alex membuat Davina cemberut.


Pasalnya Davina menawarkan parcel buah yang ia bawa


"Kalau gak mau ya sudah" ucap Davina santai


"Hahaha jangan ambekan, nanti lama besar nya" ucap Alex lalu tertawa membuat Davina makin cemberut


"Bukakan untukku, asal tak beracun aku mau" ucap Alex lagi


"Tidak beracun, tapi mengandung obat yang membuat candu" jawab Davina sewot


"Bos" ucap Frank sambil melirik ke arah Davina dengan heran. Ia melihat Davina menyodorkan buah jeruk yang sudah ia kupas. Dan dengan patuh Alex memakannya.


Pemandangan yang langka, terlihat sangat manis.


Tapi.....


Apa wanita ini kekasih Alex???


Astaga, apa mereka sudah gila???


Davina lebih cocok jadi cucunya!


"Apa yang kau pikirkan Frank, berhenti melirik pada Davina" ucap Alex kesal melihat anak buahnya kedapatan mencuri pandang ke arah Davina.


"Anu bos, maaf" ucap Frank menggaruk kepalanya yang plontos


"Om botak, gak ada niatan gitu???" tanya Davina tiba-tiba


"Niatan apa???" tanya Frank jutek


"Niatan numbuhin rambut biar gak??? silau" ucap Davina polos tanpa senyum tanpa ekspresi seolah perkataannya sesuatu yang wajar membuat Alex tertawa terbahak-bahak


"Kau......!!!" Frank mengepalkan tangannya menahan amarah, Davina sungguh membuat ia ingin mencabik-cabik nya hingga ke tulang


"Gak usah marah Frank, apa yang Davina katakan benar, ubah gaya rambutmu, aku juga sudah malas melihatnya" ucap Alex mengamini perkataan Davina


"Hahaha kau setuju kek???" tanya Davina yang di balas anggukan Alex


"Dengar tuh om botak. sebentar" Davina bangkit dan mendekati tas nya, ia seolah mencari sesuatu di dalam tasnya dan sebuah botol seukuran sepuluh Mili ia keluarkan dari dalam tas nya


"Nih untukmu, ingat campur air sesendok dan oles ke seluruh permukaan kepalamu yang plontos itu" ucap Davina memberitahu takaran pemakaian


"Apa itu?" tanya Alex penasaran


"Kalau gak salah boster penumbuh rambut"


"Kalau gak salah??? apa aku bahan eksperimen mu????" bentak Franks sudah tak bisa mentolerir Davina lagi

__ADS_1


"Hehehe, kurang lebih" ucap Davina cengengesan


"Kau........


__ADS_2