
Dua Minggu sudah berlalu, Vera justru betah tinggal di apartemen Arjuna, jika tak ada mata kuliah ia akan membersihkan apartemen Arjuna dan memasak sesuatu menunggu kakaknya pulang kantor
walau ia tomboy, ia jago masak.
Siang itu Vera sedang asik menonton acara kesukaannya sambil menikmati Snack yang ia.beli di mini market kecil yang berada di lantai dasar apartemen
Sejak seminggu lalu mamanya terus memintanya pulang bahkan mengancam, namun Vera tidak menggubrisnya, bukan karena benci hanya Vera tak mampu melihat mamanya yang akan mengingatkannya dengan apa yang pernah terjadi tujuh tahun silam, vera benci jika mengingatnya sehingga ia menjadi tidak respek pada mama kandungnya itu
Tingtong Tingtong
"Siapa sih siang-siang begini???? kak Arjun gak mungkin, tadi pagi bilang ada meeting penting.
delivery makanan juga gak mungkin aku gak order" gumam Vera dama.hati
"bi, bibi mau kemana???" tanya Vera yang melihat bi Atun tergopoh-gopong keluar dari ruang laundry.
Bi Atun adalah asisten pembantu di rumah orangtuanya yang datang ke apartemen Arjuna setiap tiga hari sekali membersihkan dan membawa lauk matang yang sengaja di siapkan Deswita mama tiri Arjuna
"Mau buka pintu atuh non, itu dari tadi suara bel pintu bunyi" ucap mbok Atun
"Aku aja yang buka" ucap Vera, mbok Atun mengangguk, lalu kembali masuk ke dalam ruang laundry
Vera membuka pintu dan terkejut, ia melihat wanita yang ia ingin hindari, siapa lagi kalau bukan mamanya
"Veraaa" teriak Deswita marah
"Ma..mama???" ucap Vera tergagap, wajahnya sudah pucat , ia melihat kemarahan di wajah mamanya
Deswita langsung mendorong Vera hingga jatuh terjerembab kebelakang, kepala Vera terkena ujung meja hingga berdarah, Deswita tak pernah lembut pada putrinya itu
"Kak Vera, teriak Sarah melihat saudari kembarnya jatuh dan terlihat keningnya berdarah
"Mama, kok kasar sama.kak Vera?" protes Sarah sambil Membantu saudarinya bangkit
"Diam kamu anak kecil, kembarannya ini sudah buat aman pusing tujuh keliling, gak pernah hormat sama.ornagtua kerjanya mengacau saja" teriak Deswita
__ADS_1
"Tapi mama gak pakai dorong gitu, lihat itu kakak sampai terbentur berdarah" protes Sarah lagi
"Kamu mau belain kakak kembar mu???? Berani kamu lawan mamamu ini??? mau jadi anak durhaka kamu seperti anak sialan ini???" ucap Deswita sambil menunjuk-nunjuk wajah Sarah
Sarah hanya menggeleng dan menangis, karena Sarah sifatnya berbanding terbalik dengan Vera, ia gadis melankolis yang mudah menangis jika di marahi
Bi Atun yang melihat Vera terluka seger menghubungi Arjuna, ia sangat paham dengan kelakuan nyonya besarnya itu, nyonya Deswita sering kali main tangan pada Vera bukan saja sering memaki dan mengomeli Vera jika Vera melakukan kesalahan.
sementara sikapnya berbanding terbalik saat berhadapan dengan Arjuna, ia akan berucap lemah lembut dan penuh perhatian seperti seorang ibu yang seperti Dewi.
"Cukup ma, kalau mama mau marah limpahkan semuanya sama Vera, Sarah ga salah apa-apa" teriak Vera memeluk saudarinya dan memasang badan untuk melindungi Sarah
Plaaaakkk
Sebuah tamparan kencang mendarat di wajah cantik Vera, hingga sudut bibir Vera berdarah.
"Nyonya, saya mohon hentikan nyonya, kasian non Vera" ucap bi Atun yang melihat Deswita menarik rambut Vera setelah menamparnya
"Awas bik, apa kamu sudah bosan bekerja??? mau saya pecat kamu????" teriak Deswita berang
"Aaarrrgghhh anak sialan, kamu bisa membuatku di benci Arjuna, kalau aku tahu kamu menyusahkan aku, sudah ku b*nuh kau sejak kecil" teriak Deswita memukul pintu, ia lupa jika suaranya membuat penghuni apartemen lainnya penasaran dan keluar, kini ia menjadi bahan tontonan karena emosi, ia lupa menutup pintu apartemennya
"Ah maaf semuanya, saya membuat kegaduhan.
Anak saja nakal dan lari ke diskotik dan mabuk-mabukan setelah mencuri uang saya, saya mohon maaf" ucap Deswita memfitnah Vera
"Oh gak apa-apa Bu, kalau saya juga pasti akan marah, tapi jangan terlalu kasar Bu kasian,
Anak sekarang memang banyak salah pergaulan, mungkin terpengaruh sama temannya yang gak benar, cukup nasihati aja" ucap seorang ibu yang terlihat iba melihat kondisi Vera
"Ahahha, iya, terima kasih Bu atas nasihatnya sekali lagi terima kasih" ucap Deswita memasang muka temboknya, lalu mereka yang menonton membubarkan diri.
Diantara orang yang melihat ada seorang pemuda yang menatap datar ke arah Vera, dan ikut bubar setelah mendengar penjelasan Deswita,
Deswita lalu menutup pintu apartemen dan langsung menendang Vera, tepat di perut gadis itu, Vera tidak berteriak kesakitan atau mengaduh ia diam dan menatap mama kandungnya yang sepertu mama tiri baginya
__ADS_1
"Bi, segera rapihkan pakaian Vera, saya akan bawa pulang anak nakal ini, ingat jika kakakmu bertanya katakan jika kamu jatuh, awas saja Bernai mengadu, habis kau" ancam Deswita
Sementara Sarah masih menangis melihat kondisi saudari kembarnya, ia membantu Vera, memapahnya menuju mobil mereka lalu meninggalkan apartemen.
Di dalam apartemen bik Atun menangis melihat Vera yang di bawa paksa oleh nyonya besarnya
Setengah jam kemudian Arjuna sampai di apartemen, BI Atun sedang duduk termenung menunggu Arjuna pulang
"Bi, bibi, kemana Vera???" tanya Arjuna mengedarkan pandangannya
"Anu den, nyonya Deswita membawanya" ucap bi Atun lirih, masih terlihat matanya yang bengkak karena habis menangis,
"Apa yang mama lakukan sama Vera Bik?" tanya Arjuna yang melihat vas di samping pintu apartemennya tak ada lagi di tempatnya
"Itu...." bik Atun bingung harus mengatakan apa, namun ia sudah tak kuat lagi, selama ini ia diam berharap nyonya Deswita suatu saat akan menyayangi Vera, namun semakin hari, ia semakin keterlaluan.
Bik Atun membulatkan tekadnya untuk menyampaikan perilaku nyonya besarnya itu, walau taruhannya adalah ia kehilangan pekerjaannya.
"Bibi harap den Arjuna bisa memberi kehidupan yang layak untuk non Vera, bibi mohon selamatkan dia" ucap bik Atun menyerahkan ponselnya
Arjuna mengerutkan alisnya bingung tak mengerti, namun ia mengambil ponsel yang di sodorkan bik Atun, disana terlihat sebuah video dimana ia melihat wanita yang selama ini ia hormati dan lemah lembut berubah menjadi seseorang yang ia tak kenal, sangat.....
ia melihat mama tirinya itu mendorong Vera dengan kasar hingga pelipis Vera terantuk meja di belakangnya dan berdarah, bukan kasian mamanya itu makin menyiksa
Seekor binatang pun tak akan menyiksa anaknya, ia seperti melihat sisi kelam mamanya yang tak pernah ia lihat sebelumnya karena Deswita berhasil menutupinya dengan sangat baik.
Jika ia tak menyaksikan sendiri, ia tak akan percaya jika hanya ucapan, sayang saat Deswita sedang memfitnah Vera, Atun mematikan videonya karena takut terlihat Deswita, kini ia menyesal menyapa ia tak merekamnya juga
Tangan Arjuna mengepal keras terlihat urat-urat tangganya keluar, sedang rahangnya mengeras dengan gigi bergemulutuk menahan amarah yang seakan siap meledak
"Bik aku pamit dulu" ucap Arjuna
"Den...." bik Atun ragu
"Tenang bik, aku tak akan membawa nama bibiku, aku akan melihat keadaan Vera sendiri dan membawanya ke apartemen ini lagi
__ADS_1
"Hati-hati di jalan den" ucap bik Atun yang di balas anggukan kepala Arjuna, Arjuna langsung meninggalkan apartemen, bik Taun melihat kepergian Arjuna sambil berdoa, semoga apa yang ia lakukan adalah benar.