
Deswita terbangun dan mendapati kasur di sebelahnya kosong, ia menyentuh bantal di sebalhnya, dingin, tanda Baskoro tak tidur di kamar tersebut.
Deswita memijit kepalanya ynag berdenyut, kini masalahnya semakin runyam karena suaminya terlihat sangat marah dan membencinya.
Sepanjang pernikahan mereka Baskoro selalu bersikap lemah lembut dan perhatian padanya walau belum di katakan jika pria itu mencintainya
Sejak memutuskan mendapatkan Baskoro, Deswita sadar jika ia tidak akan mendapatkan cinta yang ia harapkan, pada Awalnya ia berfikir jika cinta tidak lah penting, seiring waktu akan datang, ia butuh hidup nyaman dan terjamin tanpa. mengeluh bagaimana makan esok, tanpa takut di dompetnya hanya tinggal selembar uang padahal gajinya masih jauh. ia tak mau kembali merasakan susah DNA kerasnya hidup, menikahi Baskoro adalah sebuah impian, impiannya menjadi nyonya Baskoro Setiawan pria kaya raya dan tampan yang membuatnya jatuh hati saat pertama kali bekerja sebagai sekertaris
Deswita juga tak perduli saat tahu jika pria itu sudah menikah dan memiliki seorang anak yang tampan seperti Baskoro, obsesinya malah semakin menjadi, dan ia rela melakukan apapun untuk menggapai impiannya itu.
Awalnya Deswita tak terganggu suaminya tak mencintainya, ia fokus merawat anak dari istri pertamanya, seornag wanita yang Baskoro cintai sepenuh hati hingga tak ada cinta yang tersisa untuk ya, namun Deswita yakin, dengan menyayangi anaknya, lama kelamaan pria itu akan luluh, nytaanya hingga mereka memiliki tiga anak, hati Baskoro sedikitpun tak ada namanya, membuat Deswita terkadang uring-uringan dan mudah marah.
Walau Baskoro sudah memberikan semuanya yang Deswita inginkan, namun Deswita hanya ingin perhatian dan cinta dari pria tua itu, sekarnag semuanya seakan percuma.
Tiga anak tak bisa mngubah hati Baskoro Deswita merasa sudah membuang masa mudanya sia-sia.
hidup kaya ryaa namun hampa.
Cinta membuatnya seperti orang bodoh.
Deswita bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju kamar mandi, tak lama terdengar suara shower.
Sementara di ruang kerja
Baskoro mereasa kepalanya sakit, bukan hanya karena kepalanya tak beralas bantal, namun juga karena memikirkan maslaah yang kini ia hadapi.
Baskoro memandangi foto keluarganya, air matanyanya tak kuasa menetes, bagaimana ia bisa membuatkan wanita itu menyakiti putri-putrinya dan selama ini ia menutup mata????
Rasa bersalahnya pada Deswita membuat Baskoro membiarkan Deswita melakukan apapun yang ia mau.
Baskoro sanggup memberikan apapun pada wanita itu, namun tidak dengan cinta, karena cintanya sudah di bawa pergi wanita itu, wanita yang pernah menjadi istri pertamanya, wanita yang hingga detik ini masih ia cintai.
Baskoro membuka brankas lalu mengeluarkan sebuah bingkai foto usang, sebuah foto dirinya dengan seorang wanita cantik, nampak Baskoro menggendong seorang anak kecil dan memeluk erat pinggang wanita itu
__ADS_1
"Ratih...... "ucapnya lirih
namun begitu mengingat jika wanita yang ia cintai juga wanita yang sama yang menghancurkan hidupnya, Baskoro langsung memasukkan kembali foto tersebut ke dalam brangkas nya, ia kembali menutupi brangkas tersebut dengan sebuah lukisan besar, rupanya di dalam ruang kerja tersebut ada dua brangkas, satu brangkas yang terletak di belakang meja kerja dan satunya lagi terletak tersembunyi.
Tok tok tok
Sebuah ketukan menyadarkan Baskoro dari lamunannya, ia segera duduk di kursi kerja dan menatap lurus kearah pintu
"Pa, kita sarapan" ucap Sarah yang berdiri diambang pintu.
Sarah tahu jika papa ya tidak kembali kamarnya, karena pagi setelah ia mandi, mamanya langsung menginterogasinya, ada kekecewaan terselip di hati Sarah karena mamanya bukan menanyakan tentang Vera, namun justru sibuk menanyakan suaminya, yaitu papa dari Sarah dan Vera, menanyakan apa yang ia katakan dan reaksinya, seolah hal tersebut lebih penting daripada keadaan Vera, anak kandungnya.
"Dimana hati nurani mu ma??? dia darah daging mu, anak yang kau lahir kan dan susui, bisa-bisanya hatimu sekejam itu pada saudariku. Apa kau tak punya rasa sayang sedikit saja pada kak Vera???
atau sebenarnya ia tak pernah sayang pada anak-anaknya????"
"Papa akan mandi dulu" ucap Baskoro lalu bangkit
"Dimana papamu?" tanya Deswita tanpa menoleh sedang sibuk mengoleskan selai kacang kesukaan Baskoro
"Papa lagi mandi ma, tunggu saja sebentar" ucap Sarah langsung duduk di meja makan
"Bi Atun, Sarah mau bubur ayam aja" ucap Sarah yang mencium bau harum bubur ayam dari arah dapur
"Baik non" ucap bik Atun melirik sekilas pada majikannya
"Mama sudah panggang kan roti" ucap Deswita menatap putrinya
"Maaf ma, perut Sarah sedang ga enak, mau makan bubur" ucap Sarah menunduk.
Deswita mendengus kesal dan melirik kesal pada bi Atun.
Pagi ini bi Atun membuatkan bubur ayam untuk Vera, walau Deswita tak suka namun ia tak mengatakan apapun.
__ADS_1
Ia takut memperkeruh keadaan karena saat ini Baskoro sangat marah padanya, suaminya tak pernah tidur di kamar lain walau marah, namun kali ini berbeda, sepertinya ia sangat marah pada dirinya
Tak lama kemudian Bastian datang, ia lngsung menyomot ayam suwir yang ada di mangkuk Sarah, membuat Sarah mendelik kesal
"Tian, kalau mau makan bubur, minta sama bik Atun" ucap Sarah kesal
"Bik, Tian mua bubur juga" teriak Tian masih mengganggu Sarah makna
"Mama sudah buatkan sandwich kesukaanmu Tian" ucap Deswita
"Tian mau makan bubur ma, kayanya enak bubur yang Sarah makan" ucap Tina menelan saliva nya
"Kalina.berdua gak memgharagi mama ya, sudah mama buatkan sarapan kalian makan yang lain" gerutu Deswita membuat kedua anaknya menunduk tak berani menatap Deswita
"Lain kali mama gak mau urus lagi kalian mau makan apa"
"Kalau gak mau urus berhentilah jadi ibu rumah tangga" ucap Baskoro langsung berjalan mendekati anak-anaknya, mengelus puncak kepala mereka dengan penuh kasih sayang
"Mas, bukan begitu" ucap Deswita lirih, ia sadar kembali membuat masalah lainnya
"Selesaikan makan kalian, makan yang kalian mau, jangan di tahan" ucap Baskoro tegas
Sarah maupun Tian saling melirik, mereka merasakan atmosfir ruang makan menjadi sesak karena kedua orangtua mereka.
Sarah dan Tian tidak berani menatap mama mereka,
"Deswita berusaha mencairkan suasana, ia meletakkan roti panggang dengan selai kacang di depan suaminya, namun Baskoro hanya menatap sekilas
"Bi Atun, saya juga mau bubur ayam" ucap Baskoro
"Iiiya tuan sebentar" ucap bik Atun takut karena pandangan membunuh yang berasal dari Deswita
Dengan tangan bergetar bik Atun meletakkan mangkuk berisi bubur ayam di depan tuan besarnya, ia segera kembali ke dapur untuk menyiapkan bubur ayam untuk Vera, beruntung ia membuat banyak, tak menyangka, namun ia sadar jika nyonya besarnya saat ini sedang memukul genderang perang padanya, itu karena seluruh anggota keluarga lebih memilih makan bubur ketimbang sarapan yang sudah ia siapkan.
__ADS_1