
"Dia...?" dokter Vidal membeku di tempatnya ada kerinduan dan kesedihan di sorot matanya
"Dia cucuku, anak Eldrea dan pria Asia itu" ucap Angelo singkat
"Adhi, papaku punya nama, dan ia bernama Adhi Prakasa Gumilang, bukan pria Asia, apakah kakek tidak bisa mencari info mengenai siapa pria yang membuat anak kakek jatuh cinta? ku pikir kakek cukup mempunyai uang dengan mudah mendapatkan informasi kecil itu" ucap Ayudia tak suka papanya di rendahkan
"Ah maafkan kakek gadis kecil, kakek lupa nama papamu" ucap Angelo menyadari kesalahannya, ia tak mau memberi kesan buruk pada awal pertemuan dengan cucunya, walau ia tak menyukai Adhi, ia tak harus mengatakannya depan Ayudia, bagaimanapun seorang anak tidak akan senang orangtuanya di jelekkan, tak terkecuali Ayudia.
Angelo memasang wajah bodoh, menggaruk kepalanya yang tak gatal.
beruntung Ernest masih pingsan, jika tidak bisa di bayangkan bagaimana ratu hatinya itu akan murka
"Darling, apa yang kamu katakan??? apa kau mau aku membencimu? apa kau mau menua sendiri di Spanyol?" tanya Ernest lirih, Angelo langsung merasakan bulu kuduknya berdiri, istrinya tak pernah main-main dalam ucapannya, ia menelan Saliva nya dengan sulit
"Ah sayang, aku tak sengaja, jangan terlalu kejam dengan pria tua ini, aku hanya pria tua yang malang" ucap Angelo mengeluh.
"Jangan membuatku jijik, sana hus hus
Apa kau tidak malu bertingkah manja di depan cucu dan anak angkaku???" ucap Ernest kesal
"Astaga bi, aku tak tahu jika kakekku seperti ini, memalukan" ucap Ayudia setengah berbisik pada Khadijah, sementara Khadijah tersenyum canggung
"Dokter Vidal mari ikut saya, kita lebih baik membiarkan dua sejoli itu menyelesaikan urusan mereka" ucap Khadijah lalu melangkah pergi.
"Bibi, tunggu aku" teriak Ayudia tak mau berada lebih lama di sana
"Tidak, tidak, cucuku jangan pergi, nenek masih ingin bicara denganmu" ucap Ernest tak rela cucu nya meninggalkan ruangan tersebut
"Nanti kita bicara nek, sebaiknya nenek selesaikan dulu urusan nenek dengan kakek"
"Cucu yang baik, kakek sayang padamu"
"Ah tidak, pergi kau tua bangka, aku mau dengan cucuku. atau....???"
"Ah tiba-tiba aku teringat ad ayang harus ku bicarakan dengan dokter vid, ayo dok" ucap Angelo merangkul dokter Vidal, lelaki itu menaikan alisnya sebelah, tanda tak mengerti ucapan Angelo, namun tangannya keburu di tarik Angelo keluar dari ruangan tersebut.
Betapa menyeramkan the power of women,
Ayudia tertawa sekaligus bangga pada neneknya itu
"Sini lah nak, aku tak pandai berbahasa Indonesia, jadi harap maklum" ucap Ernest
"Gak masalah nek, kita bisa memakai bahasa isyarat" goda Ayudia membuat Ernest tertawa sampai terbatuk-batuk.
"Ya Tuhan, aku tak menyesal hidup dalam penantian setelah bertemu denganmu, cucuku tersayang.
Kamu mirip sekali dengan mendiang ibumu.
Ibumu dulu senang sekali berkelakar membuat nenek selalu bahagia di dekatnya.
Namun hubungan kami hancur saat ia menyatakan jatuh cinta pada seorang pria dan dengan terang-terangan mengancam akan meninggalkan keluarga.
Padahal kami memintanya menunggu, kami akan membiarkan pria itu mapan baru kami tenang, tapi ibumu mengira kami menentang dan memilih pergi" ucap Ernest menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi antara kakek dan neneknya dengan ibunya.
"Nek, kita tutup lembar lama, itu pilihan mama, dan mama tak pernah menyesali semuanya.
Mama menyayangi kalian lebih dari apapun, ia menyelipkan nama nenek dalam namaku.
nama lengkap ku
__ADS_1
Ayudia Larasati inez "
"Eldrea putriku maafkan mama nak" ucap Ernest menangis, ia tak pernah tahu jika putrinya sangat menyayanginya, Inez adalah nama belakang keluarga Ernest"
"Ya Tuhan nenek sampai lupa, apa foto tadi, maksud nenek mereka cicit kami?" tanya Ernest lupa jika beberapa saat lalu ia shock saking bahagianya mengetahui jika ia sudah punya cucu."
"Apa cucu nenek yang perempuan???"tanya Ernest menebak
"Mereka cucu nenek" ucap Ayudia lirih takut wanita tua ini terkejut kembali
"Mereka??? dua pria kecik itu kembar, bagaimana apa jangan-jangan"
"Mereka kembar tiga nek, aku harap kamu tidak terkejut"
"Tidak, tentu saja, apaaaaa, kembar tiga????
Angeloooooooo" teriak Ernest memegangi dadanya membuat Angelo yang sedang berada di ruangan sebelah berlari secepatnya, di ikuti dokter Vidal dan khadijah
"Sayang, sayang kamu kenapa??? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Angelo panik melihat istrinya memegangi dada
"Kita punya tiga orang cicit....!!!!!!" teriak Ernest membuat Angelo sampai tersungkur karena terkejut
"Astaga Ernest, kau mau me.buatku jantungan??? aku juga tahu jika cucu kita punya anak, bikin kaget saja, apaaa??? tigaaaaa????" teriak Angelo baru mencerna ucapan istrinya.
Ernest menepuk kepalanya melihat wajah bodoh suaminya
"Astaga, ya Tuhan Cucuku hebat, kau tahu kita kekurangan anggota keluarga dan kau berikan kami tiga cicit.
Aku harap kau bisa melahirkan lagi dan memberikan kami tiga cicit lagi , kalau dua kali melahirkan lagi dan mendapatkan tiga cicit lagi, sembilan, aku punya sembilan cicit dalam waktu singkat hahahaha" ucap Angelo membuat Ayudia malu sekaligus kesal.
kini ia tahu darimana otak asal ceplos anaknya berasal,
"Kau pikir cucu kita tempat peternakan bayi dasar kakek-kakek tua.
Usia sudah membuat otakmu berkarat.
cepat, cepat bereskan baju, kita menginap di rumah cucu kita. Aku ingin melihat cicit kembar kita" ucap Ernest langsung mendorong suaminya mengambil kembali koper mereka
"Nek itu...
"Tidak ada penundaan, ayo, Vidal kau ikut
mereka keponakanmu" ucap Ernest tanpa menunggu persetujuan Ayudia.
Sementara Ayudia melongo bengong melihat kehebohan kakek dan neneknya
"Astaga ini bakal repot" ucap Ayudia lirih.
Khadijah menepuk bahu Ayudia dengan senyum tak berdaya.
Tak akan ada orang yang bisa menentang Ernest jika sudah berkata sesuatu, termasuk tuan besar Angelo Karena sesungguhnya bos besar yang sesungguhnya adalah Ernest Jovanka Inez.
putri seorang miliader yang menikahi seorang pria penuh obsesi sehingga seperti ini lah mereka kini.
Ayudia tak enak jika tak memberitahu orang rumah, ia mengabarkan Bu Ratna serta papa nya jika kakek dan neneknya akan menemui cicit mereka, Adhi yang masih di rumah sakit hanya tersenyum senang karena akhirnya mertuanya bisa membuka hatinya.
Ernest juga menelpon asistennya untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk cicitnya, ia tak mau perjumpaan pertama dengan cicitnya tak berkesan, beruntung masih ada toko mainan yang buka dan mereka memborong beberapa mainan untuk cicit majikan merek.
Sesampainya mereka di kediaman Ratna, lampu ruang tamu sudah padam, tandanya anak-anak sudah berlabuh di peraduan mereka.
__ADS_1
Aktivitas mereka yang padat membuat si kembar tidur dengan cepat dan Ayudia selalu mendisiplinkan anak-anaknya untuk tidur tak boleh lewat dari jam 9.
sehingga kebiasaan itu sudah menjadi rutinitas mereka yang mutlak.
Namun kali ini semua itu sepertinya akan kacau.
Ayudia melirik jam di pergelangan tangannya sudah jam sembilan, artinya mereka sudah tertidur satu jam lalu.
Ayudia menghela nafas sebelum membunyikan bel rumah.
Tepat saat Ayudia baru membunyikan bel, sebuah mobil box memasuki halaman rumah dan di ikuti sebuah mobil hitam, beberapa orang berpakaian jas hitam Turin dari mobil.
"Dahi mereka basah oleh keringat.
sepertinya mereka habis olah raga memakai pakaian formal??? Bagaimana mereka bisa berkeringat saat di dalam mobil ber-AC dan mahal?" gumam Ayudia dalam hati
" Malam Tuna, nyonya, pesanan anda sudah kami siapkan" ucapan orang pria berbadan lebih besar dari yang lain,
"Turunkan" ucap Ernest santai
"Assalamu'alaikum, Bu, ibu"
"Wa'Alaikum salam" jawab Bu Ratna menyalahkan lampu dan membuka pintu, ia masih mengenakan mukenah, sepertinya beliau habis witir dan mengaji
"Kakek, nenek, bibi, om, kenalkan beliau ibu Ratna pemilik rumah ini" ucap Ayudia
mereka bergantian berjabat tangan memperkenalkan diri masing-masing.
Ayudia mempersilahkan mereka masuk lalu ia menuju kamar si kembar untuk melihat keadaan mereka, setelah berganti pakaian ayudia membantu Bu Ratna membuat minuman untuk mereka semua
"Bu, maaf ya ayu malam-malam bawa tamu, mereka memaksa ingin melihat cicit mereka" ucap Ayudia merasa bersalah sudah mengganggu Bu Ratna
"Tak masalah nak, mereka tamu ibu juga" ucap Ratna tersenyum
"Makasih ya Bu"
Ayudia membawa nampan di ikuti Ratna, ia meletakkan nampan berisi minuman tersebut di meja tamu
"Sayang mana cicit ku???" tanya Ernest tak sabaran
"Itu, anu, mereka tidur nek"
"Nenek mau lihat, ayo tunjukkan jalannya" ucap Ernest langsung bangkit, mau tak mau Ayudia ikut bangkit
"Tunjukkan sayang, mereka memendam rindu pada anak-anakmu" ucap Ratna yang melihat keraguan di mata Ayudia.
Ayudia lalu membawa mereka ke kamarnya, Ernest isak kecil keluar dari mulut Ernest melihat dua pria kecil tampan sedang tidur dengan boneka buaya di pelukan mereka, sangat imut dan menggemaskan
"boleh nenek lihat dari dekat???" tanya Ernest yang di balas anggukan Ayudia, ia pasrah, tak apalah sekali-kali tidur anaknya terganggu.
Setelah dekat ernest langsung memeluk dan mencium Daffa membuat anak kecil itu membuka matanya dan berteriak kaget
"Wooooo, astaga aku kira tadi mimpiku di cium bidadari, kenapa jadi nenek-nenek, mimpi buruk, mimpi buruk" ucap Daffa mengucek matanya karena berfikir ia mengigau, namun...
"Wadaaaauuuu, sakittttttt....
ini bukan mimpi, ini tangan nenek sihir" teriak Daffa membuat Ayudia makin kencang menjewer nya
" Apa mamamu seperti nenek lampir hmm??" tanya Ayudia membuat Daffa membuka matanya
__ADS_1
"Mama mengapa kau kejam, telinga anakmu yang tampan ini bisa panjang seperti kurcaci" gerutu Daffa memegangi kupingnya yang terasa panas dan sakit