(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Khadijah humairah


__ADS_3

Malam itu Arjuna sengaja tidka pulang ke apartemennya, ia meminta William atau Willy salah satunya menjaga papa mereka, sementara Ayudia di lindungi secara diam-diam oleh perang pilihan papanya serta orangnya juga.


Anak-anak sudah membintangi iklan dan iklan tersebut kini sudah beredar di pasaran sehingga setiap orang yang mengenal Arjuna akan menyadari kesamaan wajah mereka hanya dengan sekali lihat.


Arjuna sudah menduga jika iklan yang anaknya bintangi akan menarik hati banyak ibu-ibu dan anak-anak, bahkan Minggu pertama saja penjualan produk tersebut meningkat drastis dan di beberapa swalayan sampai habis di buru oleh para ibu yang anaknya merengek minta di belikan.


Tiga anak yang menggemaskan yang membuat siapapun yang memandangnya akan langsung jatuh hati,


Namun Arjun malah bertengkar saat pertama melihat Daffa, mereka seperti Tom and Jerry.


Arjuna menghabiskan malam sambil berbincang-bincang panjang lebar tentang fashion Tian yang berbeda, ia berjanji akan mendukung bahkan memfasilitasi cita-cita Tian, membuat Sebastian sangat bahagia sekaligus lega, karena ia khawatir kakaknya akan melarangnya berkarya.


Arjuna juga berjanji akan membujuk papa mereka untuk memberikan kebebasan untuk menentukan masa depannya sendiri, namun Arjuna juga berjanji bahwa hak waris Tian akan tetap gak akan berubah meski ia memilih dunia musik berbeda dengan orangtuanya.


"Kak, aku tak perduli semua harta papa, aku hanya ingin berkarir di musik kak.


Aku merasa tak keahlian di bisnis dan terlebih aku tak suka menghabiskan waktu dengan ritual yang sama setiap hari"


"Aku mengerti bro, kau orang yang bebas, aku iri denganmu"


"Kak Arjun jangan meledekku, aku yang seharusnya iri karena kakak bisa segalanya. Aku harus banyak belajar pada kakak"


"Seringlah datang jika weekend" ucap Arjuna mengelus rambut adik bungsunya.


"Kak, aku mau minta maaf sama kakak tentang perilaku mamaku, aku harap beliau suatu saat sadar.


Kakak jika ingin melakukan sesuatu lakukan saja.


Mama salah dan dia harus membayar kesalahannya.


Jangan tidak enak pada kami.


Aku Vera, Sarah sudah setuju, apapun keputusan kelurga tentang mama kami tidak akan ikut campur, termasuk jika kakak akan memasukannya ke hotel prodeo, kami ikhlas."


"Tian,... ini...."


"Tak perlu ada yang di sembunyikan lagi kak.


Tian tahu semua"


"Tian"


"Tian gak apa-apa kak, Tian ikhlas. Mungkin dengan ini mama akan sadar" ucap Sebastian tak bisa menutupi kesedihannya


Arjuna memeluk adik bungsunya itu, ikut merasakan kesedihan Tian.


Sampai akhirnya keduanya tertidur di ruang keluarga dengan televisi yang masih menyala dan kulit kacang yang berhamburan di lantai


"Masya Allah, Alhamdulillah den Tian tidka seperti mamanya" gumam hi Atun sambil membawa dia bantal untu Arjuna dan Tian.


Ia menyayangi keduanya seperti anaknya sendiri.


Keesokan paginya Arjuna langsung menuju alamat yang di berikan oleh Bu Atun, ia tak mau menunda lagi, ia harus menemui pak Anton segera.

__ADS_1


makin cepat makin baik.


Arjuna juga mengabarkan pada papanya jika PK Anton sekuriti mereka mengetahui kejanggalan dan mengetahui seseorang teman pria Deswita mendekati mobil dokter Anggara hingga terjadilah kecelakaan itu.


Sementra Baskoro di temani Aurel di ruangannya, ia ingin memarahi Arjuna karena mengirim Aurel untuk merawatnya, namun Baskoro hanya bisa pasrah karena anak menantunya yang menjaga papanya di sana, sehingga untuk menahan Aurel, Arjuna terpaksa mengirimnya ke ruangan papanya.


Di ruang Rawat Adhi


Ayudia terlihat sedang menyuapi papanya dengan telaten, walau Adhi menolak namun Ayu memaksa karena tak tega melihat papanya yang makan dengan tangan bergetar.


Yakin Adhi sudah bisa menggerakkan tubuhnya walau masih susah, ia berusaha dan memiliki tekad kuat, ia harus segera sembuh dan bersama dengan anak dan ketiga cucunya, mereka motivasi terbesar dalam hidup Adhi.


"Dua hari lagi papa sudah bisa pulang, aku akan susah bertemu dnegan papa" ucap Ayudia sedih


"Papa yang akan mengunjungimu nak, kmu tenang saja" ucap Adhi membelai rambut putri semata Wayangnya


"Itu berbahaya, papa belum sembuh benar, Ayu takut papa kenapa-napa"


"Nak papa kuat, apa kau lupa???


papa harus segera sembuh demi kalian dan demi diri papa sendiri, papa mau bermain dengan si kembar, dan melihat mereka tubuh besar.


Papa bangga padamu nak, kamu bisa menjadi ibu yang hebat walau tak ada yang mengajarimu.


Jika saja mama mu masih hidup...." Adhi menyeka sudut matanya,


"Pa, mama sudah tenang disana.


Mama juga ikut bahagia papa sehat. papa yang semangat ya, lawan penyakit papa.


ucap Ayudia memeluk papanya erat.


Tok tok tok


pintu ruangan di ketuk seseorang dari luar. Ayudia langsung meraih kacamata yang ia geletakkan diatas nakas karena habis sholat.


"Masuk" ucap Adhi datar


Begitu pintu terbuka masuklah seorang wanita baya yang rambutnya sudah di tumbuhi uban, namun masih terlihat cantik di usia nya yang sudah menginjak empat puluh tahun


Wanita itu terlihat lebih tua dari usianya


ditambah ada lingkaran hitam yang sangat terlihat di bawah matanya, matanya sendu.


Ayudia tak mungkin melupakan wanita itu, wanita yang sudah merawatnya sejak mamanya meninggal dunia.


wanita yang menyayangi seperti anaknya sendiri.


"Bibi..... bi Ijah" ucap Ayudia lirih


Bi Ijah menoleh ke arah Ayudia dan mengerutkan alisnya, i tak merasa kenal wanita muda itu


namun wanita itu memanggil namanya dengan sudut mata berair, ia menangis

__ADS_1


"Maaf nak, bibi tidak mengingat kamu, apa bibi kenal kamu?" tanya Bi Ijah lirih


"Bibi.... ini Ayu BI, si cenil nya bibi" ucap Ayudia berlari memeluk bi Ijah.


Cenil adalah makanan yang sering bi Ijah buat untuk Ayudia, sehingga Bi Ijah memanggil anak majikanya ini cenil karena lincah dan tak pernah mau menyerah jika menginginkan sesuatu.


"Aaapa..aayuuu?? cenil???" ulang bi Ijah tak percaya, ia melirik kearah Adhi, majikanya itu sedang menghapus air matanya dan mengangguk pelan


Bi Ijah merosot jatuh terduduk ia bersujud dan menangis


"Alhamdulillah ya Allah, Engkau mengabulkan doa hamba, Lahaula walakuata illabillah, Allahu Akbar"


ucap bi Ijah lirih sambil terus bersujud syukur dengan air mata berderai


Ayudia memeluk wanita baya itu melepaskan kerinduannya selama ini


mereka terhanyut dalam rasa bahagia dan bersyukur ke hadirat sang illahi karena masih bisa di pertemukan kembali.


Sejak di kabarkan hilang, bi Ijah tak percaya jika Ayudia pergi dengan kekasihnya, ia mengenal Ayudia melebihi dari siapapun. bi Ijah mencari informasi yg sebenarnya.


Bi Ijah merasa adanya konspirasi terselubung dengan hilangnya anak majikan tersebut.


Ia yakin Ayudia berada di suatu tempat, dan ia selalu berdoa agar Ayudia selalu dalam lindungan sang Khalik.


"Bi, apa bibi mengenali saat aku berpakaian seperti ini?" tanya Ayudia memastikan jika penyamarannya. sempurna atau tidak, karena bi Ijah adalah wanita yang tahu luar dalam Ayudia.


"Tidak, hanya suaramu nak, bibi gak akan lupa" ucap bi Ijah


"Aku sulit merubah suaraku bi, aku hanya merubah penampilanku saat di luar"


"Seperti dugaan bibi, ada yang janggal saat kamu menghilang, dan melihatmu kembali dengan penampilan seperti ini semua menjawab dugaan bibi" ucap bi Ijah, seperti biasa bi Ijah wanita yang berfikiran cerdas dan teliti


"Dugaan bibi benar, atau bibi mengetahui sesuatu?"


"Bibi tak bisa berpangku tangan begitu saja, kehilanganmu seperti kehilangan separuh jiwa bibi,


papamu dan bibi merasa terpukul atas musibah itu" ucap bi Ijah melirik sekilas ke arah Adhi.


Bi Ijah merupakan asisten sekaligus sahabat mama Ayudia.


Bi Ijah yang bernama lengkap Khadijah Humairah merupakan anak dari umi kulsum, seorang kepala asisten rumah tangga di keluarga Eldrea.


Sebenarnya pendidikan bi Ijah tidaklah rendah, malah beliau mengenyam pendidikan sampai di bangku kuliah, namun ia memilih mengikuti mama Eldrea dan menjadi asisten mama, setelah mama menikah ia masih menjadi asisten mama, terkadang ia turun ke dapur untuk memasak.


Setelah Eldrea meninggal dunia, Bi Ijah fokus merawat Ayudia dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Ayudia, ia bahkan memilih tinggal dikediaman Adhi demi memenuhi amanat Eldrea,


Bi Ijah berperan sebagai pengganti Eldrea, membuat makanan untuk si kecil Ayudia, memberikan kasih sayang, perhatian, perlindungan untuk putri sahabatnya itu seperti pesan terakhir yang Eldrea berikan padanya.


Kedudukannya di kediaman Adhi di salah gunakan saat Lia dan Adhi menikah, mereka mengaggap bi Ijah pembantu, namun bi Ijah tidak mengeluh, ia hanya diam dan menyayangkan keputusan Adhi, namun jika Adhi bisa menemukan hidupnya lagi setelah kehilangan orang yang ia cintai, bi Ijah hanya bisa mendukung.


Lia dan anaknya tak pernah tahu siapa sebenarnya bi Ijah.


waktu Adhi keberatan istri barunya menganggap BI Ijah pembantu, Bi Ijah malah mengatakan jangan memberitahu siapa dirinya, karena ia khawatir Lia akan mendepaknya dan ia tak bisa dekat dengan ayu lagi, ia tak mau berpisah dengan anak yang telah membuatnya jatuh cinta itu.

__ADS_1


Demi tak menodai amanah sahabatnya, Bi Ijah tak pernah menikah.


__ADS_2