(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Di Tolak


__ADS_3

"Yang sabar ya nak, kemungkinan papamu shock" ucap Ratna menepuk punggung Arjuna, ada kehangatan menjalar di hati Arjuna, terutama melihat sosok Tante nya sangat mirip dengan mamanya.


Awalnya ia mengira jika wanita ini adalah mamanya, namun kenyataan berkata lain, Arjuna harus menelan pil pahit, kenyataan bahwa mamanya belum di temukan.


Namun Arjun masih bersyukur bisa di pertemukan dengan Tante nya yang tak pernah ia lihat


"Makasih Tante" ucap Arjuna lirih


Ratna mengelus puncak kepala Arjuna, walau ingatannya belum kembali seutuhnya, namun nama Arjuna sudah menemani dirinya menghadapi hidup, wajah anak ini selalu ia ingat


"Tante selalu merindukan kamu nak, walau waktu itu Samuel mengatakan jika namanya Arjuna dan ia Menganti namanya dan operasi wajah demi keselamatan kami, namun entah mengapa di hati Tante ada yang ganjal. Ternyata memang semuanya hanya kebohongan, namun karena kebohongan itu ia masih bisa menghirup udara hingga saat ini, Ratna sangat berutang Budi pada Samuel, terlebih ia menyayangi Samuel seperti putranya sendiri.


Ratna memeluk Arjuna, melepaskan semua kerinduannya selama ini.


"Nenek, orang ini siapa???" tanya Davina menatap Arjuna sampai memiringkan kepalanya karena penasaran dengan wajah Arjuna


"Sayang, ini papamu" ucap Ratna


"Papa Davina Adrian namanya, atu cuma mau papa Adrian" ucap Davina tanpa sadar mundur beberapa langkah


"Sayang, kok malah jauh, sini lihat wajah papa sama kak Daffa dan Daffi kan sama" rayu Ratna namun Davina malah sesenggukan menangis


"Mamaaaa, atu mau papa Adrian hik hik hik" ucap Davina berlari kearah Jovanka


Kini Jovanka sudah tak perlu lagi menutupi penampilannya, tok semua juga sudah tahu, termasuk pria yang menjadi suaminya itu


"Sayang mama, kamu kenapa???" Jovanka memeluk Davina dan menghapus air mata di pipi anaknya


"Atu gak mau ganti papa, papa tilj kata teman atu jahat" ucap Davina mengadu. Jovanka melirik ke arah Ratna yang hanya mengangkat bahunya lalu ke sosok disebelah Bu Ratna yang melihatnya seperti ingin menelan dirinya


"Apa coba ngeliatin kaya buaya mau makan mangsanya, dulu liat istrinya aja ga ada waktu, habis nikah langsung menghindar keluar negeri dengan alasan pekerjaan,


Sekarang baru liat wajahku yang manis ini, nyesel kan???" gumam Jovanka dalam hati sambil mengibaskan rambutnya dengan wajah sombong, ia harus membalas perbuatan Arjuna yang mengacuhkannya.


"Tapi sayang, itu papa kandungmu, kalau Davina gak mau ganti papa, anggap saja Davina punya papa dua, bagaimana????" tanya Jovanka pada putrinya


Arjuna melemparkan tatapan tak suka pada Jovanka, namun Jovanka hanya cuek, toh status nya juga di pertanyakan.


Bukankah jika seorang suami tidka memberikan nafkah lahir dan batin selama tiga bulan jatuh talaknya, dan mereka sudah berpisah selama tujuh tahun, maka status mereka hanya diatas kertas, itupun kalau Arjuna masih belum menceraikannya selama tujuh tahun ini.


"Aku juga belum yakin dia lebih baik dari papa Adrian" tampah Daffa bersedekap dada membuat mulut Arjuna melongo, bisa-bisanya mereka menolak kehadirannya, apa yang di tanamkan pria bernama Adrian itu pada anak-anaknya??? sebaik apa pria itu sampai bisa merebut tempatnya di hati anak-anak


"Papa" panggi Daffi berdiri di samping Arjuna dengan muka penuh harap

__ADS_1


"Hai nak" Arjuna tak tahu harus bersikap apa, ini begitu...


mengejutkannya, tiba-tiba ia punya anak tiga sekaligus dari istri yang tak pernah ia tiduri, bagaimana bisa??? atau wanita pada malam itu adalah wanita yang sama dengan istrinya, betapa takdir ini sangat lucu, ia bersama dengan wanita itu dan menjadikan wanita itu istrinya , namun ia tak tahu.


"Aku merindukan papa" ucap Daffi yang paling sentimentil diantara ketiganya, walaupun otaknya brilian, ia yang paling merindukan papa kandungnya diantara saudara dan saudari nya, ia yang akan mudah sedih saat teman-teman lainnya bermain dengan papa mereka dan sekolah diantar oleh papa dan mama mereka, ia sangat ingin memiliki keluarga utuh seperti orang lain.


Se jenius apapun Daffi, ia masih anak kecil juga yang merindukan kasih sayang dan sosok seorang ayah


"Kemari boy, papa peluk kamu* ucap Arjuna memanggil Daffi. Tanpa menunggu dua kali, Daffi tersenyum bahagia dan memeluk papanya


"Akhirnya aku punya papa yang sesungguhnya" ucapnya lirih sambil menangis


"maafkan papa ya nak, keadaan yang membuat kita terpisah, papa berjanji akan membayar waktu yang telah hilang, papa janji akan selalu ada buat kalian" ucap Arjuna penuh keyakinan.


Jovanka yang mendengar itu hatinya tergerak, walau bagaimanapun keberadaan si kembar tanpa adanya Arjuna bukan sepenuhnya kesalahan pria itu, ini karena manusia-manusia berhati iblis yang ingin melenyapkannya


"Cepat peluk papa kalian, kita berpisah bukan karena papa, jadi jangan benci papa ya? papa juga sedih karena juga sangat merindukan kalian" ucap Jovanka mendorong kedua anaknya mendekati papa mereka


Davina mengigit jarinya sambil mendekati Arjuna, sementara Daffa berjalan cool dan berdiri di samping Arjuna sambil menggandeng tangan Davina


"Kemari lah, papa peluk" ucap Arjuna penuh harap


"Davina maju dan gantian menarik kakaknya maju, Arjuna memeluk keduanya, tak terlihat wajah sedih atau senang di wajah Daffa, hanya ada ekspresi datar di sana. Bukan berati ia menyukai Adrian dan membenci Arjuna, namun ia belum bisa menerima jika pria menyebalkan ini papa nya.


Jovanka memandangi ketiga buah hatinya, hatinya bertanya-tanya apa perasaan mereka, karena sudah sejak lama mereka menanyakan papa mereka.


Daffi terlihat bersemangat, Davina tahu dan apa itu, ekspresi Daffa kenapa seperti tak suka??? bukankah ia juga yang ngotot ingin papa kandungnya????


Jovanka angkat tangan untuk yang satu itu, putra sulungnya sangat tidak bisa ia mengerti.


Seakan Daffa bukan berasal dari rahimnya, anak itu sangat berbeda dengan kedua saudara dan saudari nya, dingin, cuek, dan suka ceplas ceplos.


"Hai anak-anak, bagaimana setelah bertemu papa kalian??? apa kalian sekarang senang???" tanya William menghampiri keponakannya dan mengelus puncak kepala mereka


"Senang" ucap Daffi berbinar-binar


"Biasa aja" ucap Daffa cuek


"Uhm" angguk si bungsu Davina


Rasanya pengakuan anaknya membuat Arjuna tertampar, bisa-bisanya hanya satu anaknya menerima dan bahagia dengan kehadirannya


"Kenapa kamu tidak puas jagoan??? apa papamu itu kurang keren seperti om mu ini???" tanya Williams sengaja memanasi Arjuna, kapan lagi mengerjai kakak nya itu

__ADS_1


"Dia bukan saja kurang keren, tapi kaku seperti baju baru" ucap Daffa yang lagi-lagi dapat anggukan Davina tanda setuju, walau William tak yakin si bungsu tahu maksud kakaknya


"Daffa, mama tidak suka kamu bersikap begitu.


Kamu harus memberi contoh yang baik pada adikmu ucap Jovanka mengelus punggung putra sulungnya


"Kamu jangan menggiring anakku ke hal yang sesat atau aku akan tutup pintu jika kau datang dan tidak boleh ketemu mereka" ucap Jovanka mengancam


"Kak kau kejam, kau cuma bercanda" ucap William merajuk, ia melirik ke arah Arjuna dan pria itu tersenyum lebar karena merasa di bela oleh Jovanka


"*Sial, padahal ini waktu yang tepat membalas dendam pada pria tengik itu, pria itu jika memberi perintah tak perduli hujan badai, bahkan kami yang adiknya tak pernah lepas kena siksa, belum lagi Omelan dia yang merepet seperti knalpot bajaj, Mungkin aku harus melihat situasi jika ingin mem bully nya, kak Ayu kan istrinya , tentu saja membela kak Arjun, bodohnya aku" gerutu William dalam hati dongkol


"Mas Arjuna kan baru tahu siapa anak-anak, wajar saja ia banyak belajar tentang anak-anaknya" tambah jovanka membuat Arjuna makin besar kepala jadinya


"Tapi anak-anak, selera kalian sama dengan mama, menurut mama om William lebih keren dari papa kalian" ucap Jovanka mengedipkan sebelah matanya pada William*


Bugh


"Aduh"


tangan Arjuna meleset hingga tubuhnya tak seimbang dan terantuk bufet di sampingnya, ia yang berdiri bersandar sambil menyangga tubuhnya dengan tangan sementara tangan satunya ia masukkan ke dalam kantong, pose yang menurunnya keren malah menjadi pose yang membuatnya malu setengah mati.


Jovanka berusaha setengah mati menahan tawanya, sementara William tertawa terbahak-bahak tak terkecuali Daffa dan Davina yang tertawa kecil


"Papa lagi apa sih ma???" tanya Daffa menahan tawa


"Papamu lagi becanda sayang" ucap Jovanka pada akhirnya terkekeh geli.


Tak terbayang malunya Arjuna di depan anak dan istrinya, ia bertingkah konyol di depan mereka dan melihat William tertawa penuh bahagia membuatnya merencanakan hal yang kejam untuk adiknya itu


"Besok kau ke kantor cabang kita yang di Makasar, jangan kembali sebelum ku perintahkan kembali" ucap Arjuna lalu berjalan keluar ruangan, ia merasa wajahnya panas karena malu


"kak, ini gak adil kak


aku gak mau ditugaskan kesana" teriak William frustasi


"Om yang sabar ya, ini cobaan" ucap Daffi yang sejak tadi diam


"Dasar anak...


"Apa... mengumpat ponakan mu sendiri???, terima saja hukuman mu adik manis" goda Jovanka lalu terkekeh meninggalkan William di ruangan itu sendirian


"Kak please bantu aku" ucap William buru-buru mengejar Jovanka.

__ADS_1


__ADS_2