(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Interogasi Angelo


__ADS_3

Setelah Davina di rawat, Angelo memanggil Agatha secara pribadi masuk ke dalam ruang kerjanya.


Agatha meminta di dampingi Willy masuk ke dalam ruang kerja tersebut dimana seorang Angelo sedang duduk dengan aura kepemimpinannya, Agatha sadar bahwa talenta kuat Davina berasal dari pria sepuh ini.


Semua orang bingung mengapa Agatha harus menemui Angelo secara pribadi, padahal mereka semua penasaran bagaimana Agatha bisa menemukan Davina.


Namun sebagai kepala keluarga yang sepuh, mereka tak bisa membantah Angelo.


Ayudia dan Arjuna saling pandang bingung, sebagai orangtua Davina mereka juga memiliki hak untuk tahu prihal anaknya, namun Ernest memberi pengertian mereka, bahwa jika Angelo bersikap seperti itu pasti suaminya itu punya alasan kuat, mereka harus menunggu Angelo.


"Silahkan duduk" ucap Angelo tegas


Willy dan Agatha langsung duduk di depan Angelo yang menatap penuh selidik pada Agatha


"Saya tidak akan berbasa-basi, tentu kamu tahu maksud saya memanggilmu"


"Mohon tuan menjelaskan terlebih dahulu, karena saya takut salah dengan maksud anda" ucap Agatha sopan


"Bagaimana kau menemukan cicit ku???


Apa yang terjadi pada cicit ku??? aku sangat yakin luka yang berada di tubuhnya bukan karena luka di aniaya, tapi seperti luka akibat perkelahian" ucap Angelo tanpa memindahkan pandangannya menatap lurus Agatha.


"Saya tidak bisa menutupinya, anda lebih tahu dari siapapun.


Saya percaya jika saya berbohong sekalipun dan mengatakan bahwa itu bukan luka karena bertarung, Anda tak akan mempercayai ucapan saya.


Di mata seorang ahli seperti Anda tak bisa ada yang dapat di tutupi" ucap Agatha lugas


"Cicit ku masih kecil, bagaimana ...."


"oleh karena itu saya meminta anda menanyakan langsung pada Davina, cicit Anda tak sesederhana terlihat" Angelo mengerutkan alisnya.


wanita di depannya ini tak berusaha menyembunyikan apapun, bahkan mengatakan semuanya apa adanya.


mengejutkan bagi Angelo cicit nya yang masih berusia menjelang delapan tahun bisa melawan penculiknya.


"Melihat pakaian cicit ku , sangat mengherankan ia memakai pakaian dewasa, sedangkan pakaian anak-anak membalut kakinya yang terluka"


"Itu...


saya tidak mempunyai kapasitas untuk menjelaskan pada tuan, biarkan Davina sendiri yang menjelaskan" ucap Agatha tersenyum, ia tahu Angelo mulai kesal dan tak sabaran.


"Apa kau tidak bisa memberikanku bocoran sedikit saja??? aku benar-benar penasaran.


Apa dengan membocorkan informasi itu kau akan di pukul oleh Davina??? omong kosong" maki Angelo kesal


"Mungkin bukan hanya dipukul, nyawa saya juga bisa melayang olehnya" ucap Agatha tersenyum masam.


Angelo menelan Saliva nya dengan susah, rupanya ada sebuah rahasia besar di balik sosok cicitnya yang menggemaskan itu.


"Kakek, saya sarankan anda mempersiapkan beberapa team medis, persiapkan jantung kakek jika ingin mengetahui tentang Davina.


Percayalah kek, bahkan kami saja sampai shock" ucap Willy yang di balas anggukan Agatha.

__ADS_1


"Baiklah, bagaimanapun terima kasih nona..."


"Agatha kek, nama saya Agatha, kedepannya saya akan lebih sering berjumpa dengan kakek" ucap Agatha tersenyum dan mengangguk sopan


"Aku tak bisa berkata apa-apa, kau boleh istirahat di kamar tamu, aku berharap kau mau tinggal sampai Davina siuman"


"Terima kasih kek" ucap Agatha dan Willy, mereka pamit keluar dari ruang kerja tersebut.


Selepas Agatha dan Willy pergi, Angelo terlihat meregangkan badannya, ia berusaha relaks sebelum mendengar sebuah kebenaran.


Angelo sudah bisa menarik benang merahnya, hanya saja itu semua terlalu aneh, ia masih tak akan percaya jika tidak melihat sendiri atau mendengar langsung dari Davina.


Ernest yang penasaran menyusul suaminya masuk ke dalam ruang kerja, namun ia di buat aneh melihat suaminya yang justru terlihat sedang merenggangkan otot seperti mau olah raga


"Kau??? apa kau demam???" tanya Ernest bingung


"Aku??? tidak, kenapa kau bilang aku demam darling?


"Karena ku pikir karena kau demam jadi otakmu tak normal" ucap Ernest santai lalu duduk di sofa melihat suaminya


"Kau juga perlu merenggangkan ototnya, persiapkan jantungmu. Kita akan mendengar suatu berita besar" ucap Angelo pada istrinya


"Apa sih?" Ernest berjalan mendekati suaminya


"Penasaran???? cium dulu" ucap Angelo sengaja mengerjai istrinya


"Tuan Benedito, apa kau mau aku marah???"


"Namanya juga orang usaha , huh begitu saja marah" ucap Angelo mengerucutkan mulutnya kesal


"Cup" Ernest mengecup pipi Angelo bertepatan dengan pintu ruang kerja yang di buka oleh Daffa dan Daffi


"Astaghfirullah, ternyata mereka sedang berbuat mesum di sini" teriak Daffi , sementara Daffa menepuk keningnya dengan wajah dan kuping memerah


"Kakek, nenek buyut, apa tidak bisa kalian melakukanya di kamar saja" gerutu Daffa kesal


"Anak kecil tahu apa, mau apa kalian kesini? mengganggu kesenanganku saja" gerutu Angelo tak tahu malu, sementara Ernest merona merah dan dengan gemas mencubit perut Angelo


"Tua Bangka tak tahu malu" ucap Ernest bergegas keluar dari ruang kerja tersebut


"Kalian mengganggu saja, lihat nenek buyut kalian pergi"


gerutu Angelo tak rela istrinya pergi


"Angel wis angel, wong bucin iku rak kenal tempat dan situasi" ucap Daffa menggeleng, ia sengaja berbahasa Jawa karena yakin Angelo tak mengerti


"Kalian bicara bahasa Inggris campur apa itu?? dasar anak aneh, ngomong-ngomong ngapain kalian kesini??" tanya Angelo kesal


"Kami..."


"Kami hanya mau ganggu kakek buyut" ucap Daffa dan Daffi serentak lalu mengambil langkah seribu


"Daffa, Daffi, astaga... bener-benar ya" ucap Angelo mengelus dadanya agar tidak marah

__ADS_1


terdengar cekikikan kedua cicit nya di luar


"Bocah nakal awal nanti kakek buyut jewer kalian" teriak Angelo


"Kakek, kenapa kakek lari-lari dalam rumah???


kalau mu joging di taman belakang kek" ucap Arjuna melihat aneh ke arah Angelo


"Kepalamu joging, kakek sedang mengejar anak-anakmu" ucap Angelo ngos-ngosan


"Kakek lagi main kejar-kejaran ya???


ckckck masa tua kurang bahagia" ucap Arjuna sambil berlalu.


ia langsung masuk ke kamarnya sambil membawa teh hangat di tangannya


"Sial bapak dan anak sama saja menyebalkan, bagaimana sifat menyebalkan itu menurun???"


"Tentu saja dari papa" ucap Khadijah tersenyum lebar,


"Sembarangan" ucap Angelo langsung melangkah pergi, Adhi langsung tertawa terbahak-bahak melihat Angelo bermuka masam


"Jangan tertawa, mereka pasti menyebalkan karena menurun dari kau" ucap Angelo dengan kepalanya saja yang melongok ke dalam, membuat Adhi sontak menutup mulutnya


"Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya pa, kecuali di makan codot" ucap Adhi tertawa terkekeh.


"Mama setuju, Angelo membawa gen buruk, semoga cucu dan cicit ku tak seperti Angelo" ucap Ernest sambil mengelus perut Khadijah yang sudah kelihatan buncit.


Keesokan harinya Davina baru terbangun, ia tertidur sepanjang malam hingga siang hari,


wajahnya juga sudah terlihat lumayan segar.


Ayudia dengan telaten menyuapi putri kecilnya, sore harinya Ayudia harus cek up kandungan, begitu juga Khadijah, mereka berdua awalnya enggan jalan karena masih khawatir dengan keadaan Davina, namun karena sudah waktunya Davina meyakinkan nenek dan mamanya bahwa ia baik-baik saja.


Kini di kamar hanya ada Angelo, Davina dan Ernest.


Ernest mengupaskan jeruk untuk cicit nya, ia sesekali membelai rambut cicit kesayangannya.


Davina tahu jika Angelo terus menatapnya tanpa kedip, ia menduga bahwa ,Angelo mencurigai sesuatu


"Kakek buyut pasti ada yang mau di tanyakan, tanyakan saja tak perlu sungkan" ucap Davina menatap kakek buyutnya sambil tersenyum canggung


"Seperti yang di harapkan dari keturunan Benedito" ucap Angelo bangga


"Tentu saja darah Benedito mengalir dalam tubuhku kek, aku akan menjawab semua keraguan kakek, tapi...


apa kakek dan nenek buyut sudah siap???? tanya Davina pada keduanya


"Siap apa sayang????" tanya Ernest bingung


"Siapkan jantung menerima sebuah berita besar, aku sudah siap, jika kau belum siap sebaiknya biarkan aku dan cicit mu bicara empat mata"


"Sejak kapan seorang Inez menjadi chicken, dalam darahku mengalir seorang Inez" ucap Ernest menepuk dadanya.

__ADS_1


Angelo menggaruk kepalanya yang tak gatal, siapa yang tak kenal keluarga Inez???


keluarga pemberani, dan pejuang


__ADS_2