(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Keppo


__ADS_3

Emil sengaja berangkat pagi-pagi sekali, ia sedang duduk di lobby sambil meresap kopi di tangannya, matanya menatap pintu masuk seperti sedang menanti seseorang.


Sesekali terlihat ia tak sabar, bangkit dan celingak-celinguk seperti mencari sesuatu, kemudian duduk kembali


"Ah lama sekali" gerutunya tak sabaran, ketika melihat seorang wanita tinggi semampai dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya, Emil langsung bangkit dan berlari ke arah wanita itu


"Jovankaaa" teriak Emil penuh semangat


"Astaghfirullah, bikin kaget aja kamu" ucap Jovanka mengelus dadanya terkejut.


"Ah lebay," gerutu Emil


"Ada apa sih?? tumben kamu datang pagi? gak lagi mabuk kan?" tanya Jovanka memegang kening Emil


"Ih, aku tuh ga bisa tidur gara-gara kamu tahu" ucap Emil manyun


"Loh, apa salahku sampai kamu gak bisa tidur, bilang aja di kamarmu banyak nyamuk, pake nyalain aku lagi"


"Aku serius Jo, gara-gara kamu gak bilang anakmu kembar dan suamimu super tampan" ucap Emil , terbayang di matanya wajah tampan Adrian dengan tubuh atletisnya, Emil membayangkan perut kotak-kotak Adrian, membuat Emil ingin mencubitnya,


"Arrgghhh, pria itu membuat imaginasi ku jadi nakal" Dengus Emil menggelengkan kepalanya


"Kamu kenapa sih??? aneh banget" ucap Jovanka yang melihat sahabat nya itu berkelakuan aneh


"Ini semua kamulah penyebabnya, aku sampai mau gila penasaran Jo" ucap Emil terus mengekor Jovanka hingga mereka tiba di ruangan divisi pemasaran


"salahku apa sampai jadi penyebab kamu gila, bukanya sebelum kita kenal kamu sudah tak sehat???


"Jovanka larasati, aku serius.


Kamu bilang punya anak tiga kan?? kenapa kamu ga bilang kalau mereka kembar???" pekik Emil kesal.


Ia sangat ingin dekat dan memegang anak kembar tiga, karena selama ini ia hanya melihat anak kembar dua, dan anak Jovanka, mereka seperti boneka Barbie yang dipahat ke tubuh manusia.


Anak Jovanka yang wanita bahkan sangat cantik mirip sekali dengan Barbie dengan bola mata biru, tapi pria yang menjemput Jovanka walau sangat tampan, pria itu bukan pria bule, atau blasteran indo


"Apa aku harus menjelaskannya padamu??" tanya Jovanka menaikan alisnya sebelah


"Tentu saja Jo, kau berkata seperti itu, itu melukai perasaanku. Ternyata hanya aku yang menganggap mu sahabat ku, kamu tak pernah tulus bersahabat denganku" ucap Emil pura-pura sedih dan terluka, wanita ini sangat pandai berakting membuat Jovanka menggeleng pelan


"Maafkan aku, aku hanya tak ingin mempublikasikannya, ada alasan yang belum bisa ku katakan sekarang.

__ADS_1


Aku ingin menjaga keselamatan putra dan putriku.


aku mohon kamu mengerti" ucap Jovanka menatap sahabatnya itu


"Baik cinta, percayakan padaku, aku bukan kaleng rombeng yang akan berbunyi, aku akan menutup mulutku"


"Terima kasih " ucap Jovanka tertawa melihat wajah serius si imut Emilia


"Lalu, pria itu,... maaf Jo, aku penasaran sekali" ucap Emil malu karena terlalu kepo dengan urusan pribadi Jovanka


"Dia pria yang menyelamatkanku, jika kau pikir dia papa anak-anak bukan" ucap


"Jadi???, kalau begitu dia kekasihmu ya?" ucap Emil mengedipkan sebelah matanya


"Bukan" jawab Jovanka enteng


"Serius???" teriak Emil tak percaya


Jovanka langsung membungkam mulut Emil, ia melihat rekan mereka sudah mulai berdatangan dan menatap aneh ke arah mereka dengan pandangan aneh


"Mulutmu habis nelen toa masjid ya?? please deh" ucap Jovanka namun Emil tertawa cekikikan


"Sok tahu, kalau gak cinta masa harus memaksakan??? gak adil buat dia dong"


"Iya juga sih, kalau gak mau buat aku aja" ucap Emil nyengir kuda


"Ah setiap pria bening, kamu selalu jatuh cinta.


Tapi kalau kamu mau kenal dekat, aku akan bantu" ucap Jovanka


"Serius Jo?? ah gak usah lah, sepertinya dari matanya dia sangat mencintaimu dan anak-anak" ucap Emil lirih


"Cinta harus di perjuangkan, sebelum batu nisan melambai"


"Ais serem banget Jo perumpamaan mu, sadis" ucap Emil bergidik ngeri, sementara Jovanka tertawa terkekeh melihat wajah Emil.


"Sudah kerja, sudah jam delapan atau kau kena semprot mba Yeni lagi hahaha"


"Ah menyebalkan, Jo, apa aku boleh ikut kamu nanti jam makan siang?? tanya Emil antusias


"ikut?? menjemput anakku maksudmu??" tanya Jovanka bingung. Emil mengangguk dengan semangat, Jovanka tak tega juga melarang Emil, ia terlihat sangat antusias, mungkin karena latar belakangnya yang hanya anak tunggal.

__ADS_1


"Baiklah, selesaikan pekerjaanmu, kalau kau belum selesai saat jam makan siang, aku tinggal"


"Siap, siap" ucap Emil langsung menyalahkan komputernya dan mulai bekerja, tak lagi ada suara nya yang berisik.


Jovanka menggeleng pelan, Emil sahabat baru yang lucu dna menyenangkan untuk diajak bicara. tak ada salahnya ia mengajak Emil kerumahnya, karena Jovanka yakin Emil gadis yang baik.


Jam makan siang pun tiba, Emil sudah menyelesaikan tugasnya dan menyerahkan pada mba Yeni, setelah itu membereskan mejanya buru-buru, takut di tinggal Jovanka.


Mereka lalu keluar kantor jam istirahat makan siang, menaiki ojek online menuju sekolahan si kembar.


Sampai disekolah si kembar sudah menunggu, mereka langsung berlari menghampiri Jovanka, mata mereka melirik sekilas ke arah Emil


"Assalamu'alaikum Tante Emil" ucap mereka mencium punggung tangan Emil setelah mama mereka


"Wa'alaikum salam sayang, kalian masih inget Tante?" tanya Emil tak percaya


"Tentu, mama tidak banyak memilki teman" ucap Daffa cuek,


"Hahaha, jangan perduli kan ucapan putraku" ucap Jovanka tertawa canggung


"Aku tak bisa membedakan putramu, mereka sangat mirip sekali" ucap Emil menatap bergantian kedua putra Jovanka


"Ini Daffa putra pertamaku,Yang bermata bulat dan alisnya tebal dan terlihat serius itu Daffa, sebelahnya Daffi, sekilas mirip tapi Daffi lebih tinggi dari kakaknya dan matanya sedikit sipit.


Daffa memiliki lesung Pipit di kedua pipinya Daffi gak, tapi Daffi punya tahi lalat kecil di bibirnya” jelas Jovanka memberi tahu perbedaan kedua putranya, Emilia mengangguk-angguk mengerti


"Atu Davina" ucap si bungsu yang merasa diabaikan


"Tante tidak akan lupa kamu sayang, kamu yang paling cantik" ucap Emil mencubit hidup Davina gemas, membuat Davina tertawa senang


"Ayo kita pulang, pasti kalian sudah lapar kan?? tanya Jovanka.


Davina langsung menggandeng tangan Emil, ia sangat senang sejak pertama melihat Emil.


Emil memiliki rambut ikal dengan wajah imut dan mata sedikit beli, membuatnya sangat menggemaskan.


"Tante Emil cantik" ucap Devina langsung duduk di pangkuan Emil, melupakan mamanya


Jovanka tersenyum senang anaknya menyukai Emil, anak kecil memiliki insting, ia bisa mengenali orang baik dan tidak.


Beberapa saat kemudian mereka sampai dirumah, mereka langsung turun dari mobil. Terlihat di kejauhan Ratna sudah menunggu kedatangan mereka

__ADS_1


__ADS_2