
"Vera, aku...
Aku minta maaf nak.
Aku memang bodoh, tapi percayalah aku menyayangimu nak" ucap Karen menangis tersedu-sedu
"Tolong tinggalkan aku" ulang Vera sambil memejamkan matanya, air mata menetes dari sudut matanya
"Tidak bisakah kau memaafkan ku???, mengapa kau bisa memaafkan Deswita tapi aku tidak????" teriak Karen kesal, Karen tidak terima ia di benci putrinya, ia di buang, di usir oleh putrinya sendiri.
Sedangkan Deswita memperoleh kasih sayang Vera, Karen merasa itu tidak adil.
Ia yang mengandung dan melahirkan Vera.
"Karena dalam darahku ada darah mama Deswita.
Dia menyusuiku, dia menimang ku saat aku kecil, ia yang menidurkan ku dan menggendongku.
Dia yang memelukku dan menceritakan dongeng sebelum tidur, sedang kau???
Kau hanya bayangan yang berdiri di sudut ruangan,
tak pernah nyata.
Jadi salahkan aku tak menghargai mu mama Karen???
Sebagai anak aku sudah memaafkan mu, berusaha memaafkan mu.
Tapi aku sulit untuk menerimamu.
Maafkan aku.
Aku lelah" ucap Vera memejamkan mata
"Vera....Vera...."panggil Karen mengguncang tubuh Vera dengan mata terpejam
"Maaf Bu, pasien butuh istirahat" ucap suster menghampiri Karen yang terlihat kasar pada Vera.
Suster takut kondisi Vera drop karena ulah Karen.
"Bu, maaf, silahkan keluar" ucap suster ketus karena Karen masih saja berteriak memanggil Vera.
Terlihat Vera memejamkan mata dengan air mata berderai
Setelah Karen keluar suster memeriksa Vera untuk memastikan kondisinya
"Mba nya istirahat ya, kondisi mba belum stabil" ucap suster lembut
"Sus, tolong panggilkan mama saya" ucap Vera lirih
"Tapi mba nya harus istirahat"
"Please sus, sehabis ini saya juga akan istirahat dengan baik" ucap Vera membuat suster tak tega
"Wanita yang tadi???"
"Bukan, mama saya cuma mama Deswita" ucap Vera berusaha tersenyum
tanpa suster sadari keringat membasahi kening Vera
Deswita bergegas masuk begitu suster memanggilnya, ia bisa melihat perlakuan Karen yang kasar dari balik kaca, ia geram dan marah, namun juga merasa kesedihan, kemarahan dan kebencian di mata Vera.
Deswita tak bisa berbuat apapun dengan itu.
Deswita memeriksa Vera takut jika Karen menyakitinya.
"Sayang, mama kan sudah bilang mama akan menjagamu seharian, sekarang istirahat.
Mama janji gak akan kemana-mana" ucap Deswita lembut menggenggam tangan Vera, namun Vera hanya tersenyum
"Sayang kenapa tanganmu dingin???" tanya Deswita bingung
"Ma, Vera sangat sayang mama.
Terima kasih mama sudah menyayangi Vera.
Vera bahagia banget ma, gak ada yang Vera mau lagi di dunia ini"
"Tentu saja mama sayang kamu, makanya kamu cepat sembuh.
Mama menyayangi kamu seperti sayang mama pada Sania dan saudara mu Tian" ucap Deswita mengecup kening Vera
"Mama....
__ADS_1
Peluk, Vera mau di peluk mama.
Mama ingat lagu yang sering mama nyanyikan sewaktu Vera kecil??? Vera mau bilang kalau suara mama jelek, tapi Vera suka" cerocos Vera lalu ter batuk
"Sayang mama panggilkan dokter ya, kamu istirahat jangan nakal.
Bisa-bisanya kamu ngatain suara mama" ucap Deswita pura-pura kesal
"Peluk Vera ma, Vera baik-baik aja.
Vera suka suara mama.
Mama nyanyikan lagu itu ma" ucap Vera lirih
Deswita mulai menyanyikan lagu semasa Vera kecil, lagu yang bisa ia dendangkan saat menidurkan Vera dan Sarah.
"Mama, Vera kedinginan, peluk Vera ma,,
Jangan berhenti nyanyinya" ucap Vera makin lirih.
Deswita ingin melepaskan pelukannya, namun Vera memeluknya erat
"Vera bahagia ma...
bahagia.banget.
Mama janji ya hidup lebih baik lagi.
Vera tahu mama wanita yang baik, karena itu Vera sayang mama.
Mama janji ya jangan menangis karena Vera lagi.
Vera akan sedih jika lihat mama nangis.
Vera suka melihat mama tersenyum, mama cantik sekali saat tersenyum" cerocos Vera lirih
"Mama berjanji sayang" ucap Deswita menangis
"Ma, Vera mengantuk sangat mengantuk"
ucap Vera.
Lalu tiba-tiba ia kejang namun Vera menggenggam tangan Deswita.
"Vera sayang mama" ucap Vera sebelum muntah darah dan darah keluar dari kuping dan hidungnya...
Deswita berbisik di kuping Vera, ia tak tega melihat penderitaan putrinya
"Nak, jika kau tak kuat, mama tak akan menahan mu.
tapi satu yang harus kau tahu mama sayang kamu" ucap Deswita sambil membimbing Vera mengucapkan syahadat. dengan tersendat- sendat Vera mengikuti bimbingan Deswita. tepat setelah selesai ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Vera meninggal dunia dengan senyum lebar di bibirnya.
"Innalilahi wa' Inna illahi rajiun" ucap Deswita lalu ia sendiri ambruk tak sadarkan diri.
sementara di luar ruangan Sarah, Karen dan Baskoro tak jauh beda mereka tak sadarkan diri karena begitu terpukul dengan kepergian Vera.
Sore harinya Vera di kebumikan, pihak keluarga tak ingin menunda prosesi pemakaman Vera demi kebaikan.
Deswita terlihat sangat terpukul, namun ia berusaha tak menangis sesuai pesan Vera.
Setelah semua orang pergi, Deswita bersimpuh di sisi makam Vera dan mengecup nisan kayu Vera.
"Istirahatlah dengan tenang sayang.
Mama ikhlas kan semua. Kamu sudah tak merasakan sakit lagi. Mama akan menjalani hidup yang lebih baik sesuai permintaanmu, mama sayang kamu.
Maafkan mama jika akan lama lagi mama mengunjungimu, tapi doa mama untukmu putri kesayangan mama" ucap Deswita kembali mengecup nisan Vera
Sebastian dan Sania membantu Deswita berdiri.
Sore ini juga Deswita harus kembali ke lapas.
"Ma, apa mama yakin akan kembali???"
"Tentu, mama baik-baik saja" ucap Deswita lalu masuk mobil tahanan kembali ke lapas.
Keesokan harinya semua orang di kejutkan berita Karen bunuh diri. Ia di ketemukan tergantung di ruang sel nya.
Sebuah surat menjelaskan bahwa ia bunuh diri.
Surat yang menyatakan penyesalannya dan rasa bersalahnya pada Vera
__ADS_1
Pihak berwajib juga sudah mengidentifikasikan bahwa Karen murni bunuh diri.
Anak adalah harta yang sangat berharga, yang tak ternilai dengan uang.
saat seseorang memutuskan melepaskannya, maka saat itu pula ia tak lagi memiliki hak untuk di akui.
Seperti halnya Karen yang tega memberikan Vera pada Deswita, maka saat itu pula ia memutuskan hubungannya dengan Vera.
Tujuh hari sudah kepergian Vera, seluruh keluarga masih di runding kesedihan mendalam.
Tiba-tiba kabar mengejutkan datang dari rumah sakit,
kondisi Ratih menurun, ia sudah tak sadarkan diri.
Sebelum nya ia terus meminta Arjuna bisa membawa Jimmy Chou yang saat ini masih berstatus suaminya, namun Arjuna menolak.
Saat melihat keadaan Ratih seperti ini, Arjuna menyesal.
Akhirnya ia berusaha mendapatkan izin bebas bersyarat selama satu hari.
Atas bantuan Davina, Jimmy bisa di bebaskan beberapa jam untuk menemui Ratih.
Saat tiba di rumah sakit seluruh keluarga sudah berkumpul, Baskoro berusaha tegar karena nyatanya di saat genting Ratih lebih memilih Jimmy di banding dirinya, ia harus berbesar hati.
Ratih menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan suaminya, Jimmy Chou.
Seburuk apapun Jimmy di mata orang, bagi Ratih, Jimmy pria yang ia cintai.
Walau Jimmy sudah menghancurkan hidupnya, tapi Jimmy juga yang membawanya keluar dari Kematian saat itu.
cinta mengalahkan benci.
Ratih di kebumikan hari itu juga, tepat tujuh hari setelah kepergian Vera.
mereka di makamkan berdampingan.
jangan tanya bagaimana prosesi pemakaman Karen, karena hanya Sebastian yang mengurusnya, sebastian menguburkan nya satu pemakaman hanya berbeda blok dari tempat Karen, bukan karena ia tak mau memakamkan Karen di sebelah Vera, namun pastinya Vera tak mau Karen berada di samping makamnya.
Setelah mengikuti prosesi pemakaman Jimmy kembali ke lapas untuk menjalani hukumannya
Jimmy terlihat sangat terpukul dengan kepergian Ratih, tak terkecuali Baskoro yang kehilangan dua orang yang di sayangnya dalam waktu dekat.
Baskoro depresi, ia tak berbicara dan hanya memandang keluar jendela kamarnya.
Jimmy terus berduka akan kepergian wanita yang amat ia cintai, namun keberadaan Tian dan Sania bisa membuatnya terhibur, ia terus memperbaiki diri di dalam lapas, menebus semua kesalahannya dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Dua tahun berlalu, semua orang masih belum melupakan rasa kehilangan karena kepergian Vera dan Ratih.
Baskoro juga lebih banyak mengurung dirinya di kamar, Tak ada yang bisa membujuknya, ia seolah tenggelam dalam dunianya sendiri, membatasi dari orang luar.
Setahun kemudian Willy menikah dan di tahun ke tiga Sebastian menikah
Semua orang sudah menjalani hidup mereka masing-masing.
Yang sudah pergi meninggalkan kenangan, namun kehidupan harus terus berjalan.
Siapa yang menabur benih, ia yang menuai.
Siapa yang menabur angin akan menuai badai
Karena dalam hidup ada sebab ada akibat.
TAMAT
Yeaaayyy tamat juga
makasih ya sudah setia mengikuti sampai novel ini tamat, ambil yang baik, buang yang buruk.
Maaf banyak kekurangan baik penulisan maupun penyampaiannya.
Sampai ketemu di novel selanjutnya
Oh ya besok perdana launching novel terbaru author
kelanjutan dari novel ini, mengenai perjalanan cinta Davina
penasaran kan???
jangan lupa mampir ya.
Terima kasih
pooh
__ADS_1