
Arjuna menatap sosok pria tua yang terlihat lemah di depannya, ia ingin membenci pria ini, namun tak bisa.
Seburuk apapun pria tersebut tetap papa kandungnya.
Arjuna terus beristighfar dalam hati berusaha mengusir rasa amarah dan bencinya.
Jika waktu bisa di putar kembali, ia berharap papanya bisa lebih dewasa menyikapi semua yang terjadi sehingga tak memberi kesempatan orang asing memanfaatkan situasi, sayangnya waktu tak bisa di putar mundur.
Nasi sudah menjadi bubur.
Jika saja Ayudia tak membujuknya untuk menjenguk Baskoro, ia rasanya enggan.
Arjuna butuh waktu untuk menata hatinya.
Namun jika ia tak datang Ayudia memaksa akan datang dan pergi bersamanya.
melihat situasi yang masih berbahaya, Arjuna memilih mengalah dan meminta Ayudia tetap tinggal di rumah.
Si kembar pun di minta tetap di rumah, walau mereka bertiga memiliki kelebihan, mereka tetap anak kecil, dan yang lebih penting adalah keselamatan mereka.bertiga.
Arjuna sudah mengurus surat izin pada sekolahan si kembar, walau mereka kecewa namun mereka memaklumi khawatir orangtua mereka.
Saat ketuk palu hakim menyatakan Deswita tidak terlibat dalam pembunuhan Ratih, maka saat itu juga ada pihak yang ketakutan dan ingin menghilangkan bukti.
Di Tempat lain
Sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh di sebuah perkebunan nan asri, letaknya yang berada di pinggir kota membuat bangunan itu terlihat mencolok karena paling besar dan megah.
Seorang pria paruh baya terlihat marah dengan mata yang memerah, di depannya ada seorang pria muda yang hanya menunduk dengan wajah pasrah, di pipinya terdapat gambar tangan dan beberapa kertas yang berhamburan di lantai, membuktikan betapa marahnya pria paruh bawa tersebut,
sementara di samping pria tersebut seorang pria yang berusia lebih tua darinya menunduk juga tak berani menatap pria di depan mereka.
"Bagaimana bisa adikku menjadi tersangka kini???
apa yang kalian kerjakan?? apa kalian tidak menyingkirkan semua bukti????" teriak pria paruh baya tersebut
"Maaf bos, beberapa waktu ini ada seseorang yang mengkoordinir beberapa organisasi bawah tanah, mereka profesional dan sangat ahli mencari bukti.
Kami tak bisa menemukan siapa di balik itu semua.
Tapi kami mencurigai satu organisasi baru yang belakangan ini cukup melambung namanya"
"Organisasi wanita rendahan itu?? come on Juan, berapa tahun kita bergelut di sana, apa kau masih tak bisa menelan mereka dan mencari informasi???"
"Tidak semudah itu bos, mereka teroganisir dengan baik, bahkan di setiap aksinya mereka tak pernah meninggalkan bukti.
Mereka kejam dan mematikan"
"Menarik" ucap pria tersebut tersenyum licik
"Apa sudah ada kabar dari wanita itu??? bagaimana mereka bisa lenyap tak ada kabar???
hanya mengurus satu bocah sialan saja mereka tidak becus" maki pria tersebut pada bawahannya.
"Kau bantu adikku hilangkan bukti, kali ini ku maafkan tapi besok-besok tak ada lain kali " ucap pria tersebut meletakkan jarinya di leher.
Juan memberi kode pada orang di sebelahnya agar berterima kasih, biasanya pria ini tak akan segan menyabut nyawa seseorang.
Beruntung mereka menemuinya di rumah ini, jika di tempat lain, Juan dan anak buahnya sudah di pastikan , Mati!!!!!!.
"Enyah lah, aku sedang dalam suasana yang tidak baik.
pastikan yang kau kerjakan benar, nyawa kalian taruhan nya" ucap pria tersebut langsung keluar dari ruangan itu berjalan ke sebuah kamar yang terlihat lebih besar, ia menghela nafas dan dalam beberapa detik wajah bengis dan liciknya berubah menjadi wajah hangat nan penyayang
"Mas, apa pekerjaannya sudah selesai??" tanya seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
__ADS_1
di sampingnya duduk seorang anak remaja yang tak kalah cantik nya, mereka bagai bidadari dalam dua versi
"Sudah kok, mereka sudah pulang" ucapnya lembut
"Aku kamarku dulu ya pa, ma.
Mama cepat sembuh ya" ucap gadis remaja itu memeluk mamanya dan mengecup pipi wanita paruh baya itu
"Terima kasih sayang" ucap wanita paruh baya tersebut.
setelah putri mereka pergi, wajah wanita paruh baya itu terlihat sedih
"maafkan aku selalu menyusahkan mu" ucap wanita itu lirih
"Kau istriku Ratih, aku tak merasa di repot kan, istirahatlah, aku akan menunggui mu"
"Adit, aku sudah biasa begini, jangan pedulikan aku. pekerjaanmu jadi berantakan gara-gara aku.
Kamu seorang wakil rakyat, memiliki tanggung jawab besar di pundak mu. Jangan kau sia-siakan kepercayaan mereka, karena urusannya langsung ke sang pencipta.
Aku di rumah baok- baik saja, sudah ada Sania yang merawat ku" ucap Ratih tersenyum
"Sayang aku...."
"Aku bangga punya suami sepertimu yang dermawan dan suka menolong orang yang susah. Kini kamu mengemban tugas sebagai abdi negara.
Jadi utamakan tugasmu sayang" Aditya memeluk Ratih dan mengecup keningnya, ia sangat takut kehilangan wanita yang paling ia cintai.
Karena Ratih lah ia merubah hidupnya menjadi baik, walau tak sepenuhnya baik, namun berusaha hidup lurus.
Sayangnya hati kecilnya selalu di liputi rasa ketakutan dan was-was, sudah lebih dari dua puluh tahun ia merasakan nya, ia takut suatu saat ingatan Ratih akan kembali dan Ratih membencinya.
Dia juga mengganti identitasnya menjadi Aditya, demi wanita ini, wanita belahan jiwanya.
Flash Back on
Namun tanpa di duga adik tiri Jimmy menaruh hati pada Baskoro, ia ikut menyusup kedalam keluarga Baskoro sebagai pengasuh si kecil Arjuna
suatu ketika Deswita yang merupakan wanita simpanan Jimmy memberitahukan sesuatu mengenai Ratih. Jimmy langsung menuju ke kampung halaman ibu tirinya, namun ia mendapat kabar dari anak buahnya jika adik tirinya mendorong wanita yang ia cintai ke jurang, beruntung jurang itu tidak terjal, wanita itu selamat namun mengalami cidera parah di kepalanya, mengakibatkan Ratih kehilangan ingatannya, bahkan jika sembuh, ia tidak akan mengingat semua masa lalunya.
Dan secara ajaib anak dalam gendongannya menyangkut di dahan pohon dan selamat, hanya mengalami luka di pergelangan tangannya
Jimmy lalu melarikan Ratih ke rumah sakit, setelah kondisinya membaik, ia ingin membawa Ratih dan anaknya keluar negeri. Namun saat sadar, Ratih menghilang dalam keadaan linglung dan hilang ingatan.
Tiga tahun berlalu, ia merawat anak yang diyakini sebagai anak Ratih dengan penuh kasih sayang, tanpa ia sadari, ia melihat sosok Ratih di wahana bermain tersebut.
Jimmy lalu membawa Ratih dan meyakinkannya bahwa ia adalah istrinya dan anak yang bersamanya adalah anaknya.
Jimmy tak mau kehilangan Ratih lagi, ia lngsung membawa Ratih ke luar negeri.
Mereka juga melakukan pernikahan lagi di luar negeri, dengan alasan jika dia dan Ratih pernah pisah sehingga harus menikah lagi, Jimmy memalsukan semua dokumen dan mengaku bernama Aditya suami dari Ratih dan anak bernama Sania adalah putri mereka, buah cinta mereka dari perkawinannya.
Walau hilang ingatan , Ratih masih ingat ia melahirkan seorang putri, sehingga ia percaya perkataan Jimmy.
Walau awalnya Ratih sangsi, namun melihat pria itu sangat perhatian pada dirinya dan anaknya, hati Ratih akhirnya luluh dan mereka hidup bahagia di luar negeri, hingga beberapa waktu lalu mereka kembali karena Aditya memulai karier politiknya dan memang, menduduki kursi sebagai wakil rakyat.
Flash Back Off
Seminggu kemudian polisi bergerak cepat, memanggil Sumiatun atau Karen Chou untuk di periksa, dua hari melakukan penyelidikan secara maraton status nya naik menjadi tersangka.
Semua bukti mengarah padanya.
Sumiatun langsung di jebloskan ke penjara dengan dua tuduhan sekaligus.
pembunuhan dan pemalsuan identitas.
__ADS_1
Baskoro merasa sangat terpukul, ia sudah mendapat ultimatum dari ketiga anaknya untuk tidak membela bi Atun, atau mereka memutuskan ikatan mereka sebagai anak dan papa.
Baskoro meminta William mengantarkannya ke lapas dimana Sumiatun atau Karen di penjara, ia hanya menatap istri sirihnya dengan sorot mata penyesalan.
kebaikannya di manfaatkan oleh Karen.
Karen yang mendapat kunjungan dari Baskoro merasa sangat bahagia, namun saat melihat wajah pria yang menjadi suami sirihnya itu, hatinya ketakutan
"Aku hanya datang kesini ingin mengatakan dua hal.
Aku talak engkau Sumiatun, aku talak kau, aku talak kau.
dengan ini kita tak ada hubungan apapun" ucap Baskoro memejamkan matanya
"Mas, aku sudah mengorbankan semuanya untukmu, tapi ini balasan mu. Apa kau tidak mau tahu dimana anak kita???" tanya Sumiatun memakai rencana terakhirnya
Baskoro membuka matanya yang terlihat letih
"Vera, Vera anak kita mas, bukan anak wanita itu, aku menukarnya sewaktu aku melahirkan.
Anak Deswita mati" ucap Sumiatun membuat Baskoro terkejut.
Baskoro menatap William yang di balas anggukan William, Baskoro menangis, ia menangis karena merasa dibodohi oleh wanita, ia menangis karena rumah tangganya hancur dengan tangannya sendiri, bukan orang lain
"Mas, selamatkan aku, aku tak bersalah.
pikirkan bagaimana perasaan Vera mas, dia darah daging kita dan aku ibunya" ucap Sumiatun memeluk kaki Baskoro
"Aku selalu memikirkan bagaimana anak-anakku, Vera anakku, aku akan menyayangi dan melindunginya tanpa kau pinta. tapi kita tak mungkin bersama dan aku tak mungkin membantu mu.
Renungkan semua kesalahanmu di dalam penjara.
aku sudah mengatakan bahwa aku mencintai Ratih, tapi kau bahkan membunuhnya.
Maka membusuk lah di penjara" ucap Baskoro meminta William membawanya keluar dari lapas
"Maaasssss, jangan tinggalkan aku, kau istrimu.
Apa bagusnya wanita itu sampai kau tidak bisa melupakannya, aku ibu dari anakmu mas, masssss"
Baskoro memejamkan matanya, tanpa terasa air mata menetes di sudut mata tuanya.
Ia di benci anak-anaknya, ia kehilangan wanita yang paling ia cintai, rumah tangganya hancur, anaknya menderita. Apa ia masih bisa menyebut dirinya seorang papa????
"Pa, kita mau kemana???" tanya William yang sedikit merasa kasian, walau di hatinya masih ada rasa kecewa.
Dari kejadian ini William belajar banyak bagaimana bersikap sebagai seorang suami, bagaimana ia bersikap sebagai seorang pemimpin dalam keluarganya.
"Pa, apa kita pulang ke rumah???" tanya William lagi karena Baskoro hanya diam
"Apa bahkan papa pantas pulang kerumah Will???
papa manusia hina yang tak memiliki tempat lagi.
papa malu pada kalian, papa..."
"Pa, semua bukan mau papa, yang terpenting sekarang salah papa mengetahui kebenarannya dan bisa memperbaiki diri" ucap William bijaksana
William membantu papanya masuk ke dalam mobil, memasangkan sabuk pengaman dan melajukan kendaraanya pulang ke kediaman Baskoro.
Sepanjang jalan Baskoro hanya diam, sesekali ia menyeka air mata yang membasahi wajahnya yang sedikit keriput.
dalam satu Minggu ia terlihat lebih tua.
Setelah sampai, William langsung mengantar Baskoro ke kamarnya, lalu William menelpon Arjuna dan Willy untuk datang.
__ADS_1
sebenci apapun mereka, Baskoro adalah orangtua mereka, dan mereka harus perduli dengan keadaan Baskoro.