(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Paman yang telat


__ADS_3

"Kakek , saat bayi di perut mama lahir kami akan panggil mereka adik kecil, lalu saat anak nenek lahir, kami harus Panggi apa??" tanya Davina dengan wajah polos Daffi dan Daffa saling bertukar pandang, alis mereka mengkerut tanda berfikir


begitu juga Ayudia dan Adhi, mereka saling lempar pandang


Terlihat Adhi malu dan ada semburat merah menghiasai wajah tampannya. Ayudia menyadari jika pembicaraan ketiga anaknya menggelitik hati Adhi.


Bagaimanapun akan terdengar lucu di luaran sana.


anaknya hamil dan istrinya hamil, ini terdengar seperti cunak( cucu anak) , bagaimana jika mereka melahirkan di tempat yang sama dan di waktu yang samaan???


Apa komentar orang???


"Anak-anak, itu nanti di bahas kalau dedek bayinya sudah keluar saja ya?" ucap Ayudia berusaha mengalihkan pembicaraan


"Ma, ini urusan penting.


Bagaimana menurut kak Daffa dan Daffi???


"Aku juga merasa ini penting ma" timpal daffa yang di balas anggukan Daffi


Ayudia merasa sakit kepala menghadapi ketiga anaknya dan juga tak enak hati pada papanya yang terlihat canggung


"Apa kita harus memanggil anak kakek paman kecil??? atau... kakak kecil? tapi kalau kakak diakan anak kakek, aneh rasanya" ucap Daffi berfikir


"Iya benar juga Daffi, lantas apa dong panggilnya???"


"Bagaimana kalau late uncle??? salah sendiri lahir telat lebih dulu dari kita" ucap Davina dengan seringai penuh kemenangan


Ayudia sampai menepuk jidat karena mendengar ucapan Davina, seorang ia tersendak


"Sayang gak bisa dong di panggil late uncle, emng kami pikir apa??"


"Ih mama, Davina benar, di game aja ada istilah late game, mungkin kakek sengaja buat uncle keluar belakangan, jadi wajah kami panggil late uncle ya kan kek???" ketiga bocah kecil di depannya menatap Adhi penuh harap.


ia ingin tertawa, ingin kesal tapi tak bisa


sehingga hanya seringai terpaksa yang keluar, seperti ia terjepit pintu, menyeramkan


"Sudah anak-anak, kalian bawel sekali.


Cepat ajak kakek ke ruang keluarga, mama mau buatkan kakek minum"


"Aku mau ma, milk shake" ucap Davina semangat


"Aku mau jus jambu, kak Daffa mau apa???" tawar Daffi pada Daffa yang hanya diam


"Ice Milo please, terima kasih" ucap Daffa sopan

__ADS_1


"Anak nakal, kalian pikir ini di restoran apa??? sana pergi temani kakek kalian. Jangan buat ulah" Dengus Ayudia kesal


"Hufh kek, lihat anak kakek betapa galaknya.


aku berharap late uncle tidak galak seperti mama" ucap Davina menghela nafas dan menggeleng membuat Adhi terkekeh gemas dan mencubit pipi gembil Davina


"Aku juga berharap tidak, akan susah jika ada dua macan dalam keluarga" ucap Daffi dengan ekspresi putus asa


"Anak-anak mama dengar Lo" ucap Ayudia yang belum terllau jauh berjalan.


Kedua putranya langsung kabur meninggalkan Davina yang berada di gendongan Adhi


"Kek, selamatkan nyawaku" ucap Davina frustasi


Adhi yang awalnya tertekan karena kasus Lia merasa terhibur dengan ketiga cucunya, mereka menurunkan tensi dan membangkitkan mood yang tadinya buruk


"Kakek akan menyelamatkanmu" ucap Adhi terkekeh berjalan menuju ruang keluarga


"Kakek mau tanya, dari mana kamu tahu jika anak yang di kandung nenek laki-laki??" tanya Adhi yang sejak tadi penasaran, ia merasa sangat bahagia jika memang anak itu lelaki, pasalnya ia jadi memiliki anak laki-laki dan perempuan, lengkap sudah kebahagiaannya, namun jika anak itu perempuan, ia tak keberatan.


Karena anak itu buah cintanya dengan Khadijah, dan Ayudia buah cintanya dengan Eldrea , almarhum istrinya.


Keduanya memiliki tempat teristimewa di dalam hatinya.


"Kakek lihat mamaku??? dia cantik, tak seperti hamil kan, hanya perutnya yang seperi busung lapar.


Walau terdengar Adhi tak normal karena mendengarkan dan percaya perkataan anak kecil, entah mengapa ia dengan sabar mendengarkan


"Terus apa hubungannya???"


"Ih kakek, ini ya kek, kakek harus banyak-banyak gaul sama Mr.G, dia itu kasih info yang kita mau"


"Apa mr.G ini tahu kedokteran???" tanya Adhi penasaran


"Dia pinter kek, tahu semuanya, dari kedokteran, teknologi, apa aja deh kek, cuma satu yang dia kadang oon, dia gak bisa baca peta"


"Kok pinter gak bisa baca peta???" tanya Adhi menggaruk kepalanya yang tak gatal


"Iya di sering khilaf kek, makannya banyak orang yang kesal sama dia"


"Emang Mr.G siapa sih sayang???" tanya ayudia begitu duduk di samping papa dan putri kecilnya


"Mama gak Gaol, gaptek berarti.


Mr G itu, Mr google ma.....


Coba mama tanya apa aja pasti dia tahu, giliran tanya peta kita di kasih jalan buntu atau jalan yang buat kita terserat ke lembah kemalangan" ucap Davina mendramatisir.

__ADS_1


Adhi dan Ayudia melongo, mereka lalu tertawa bersamaan begitu ngeh apa yang Davina katakan


"Dasar anak nakal, kamu mengerjai kakek ya???" ucap Ayudia mengangkat Davina dan meletakkannya di pangkuannya dan menepuk pantat nya pelan


"Kakek, tolooooong aku di aniaya


kek tolong sampaikan pesanku buta kak Seto, ini kalimat terakhirku"


Adhi tak kuasa menahan tawa ia tertawa terkekeh sambil memegangi perutnya


"Kakek ternyata bahagia di atas penderitaan ku" ucap Davina dengan wajah menderita


"Dasar ratu drama, apa aku memukulmu keras??? kalau orang melihat ini bisa sungguhan mama di adukan oleh Komnas perlindungan anak dan wanita, bocah nakal" ucap ayudia menepuk pantat Davina, ia menyeringai kesakitan


Daffi dan Daffa yang baru tiba melihat Davina di pukul pantatnya dan meringis kesakitan langsung balik badan dan berlari ke kamar mereka masing-masing, Davina berhasil lagi mengerjai kedua kakaknya


"Hahaha mama sudah, aku tak mau bermain akting lagi.


Kedua berandalan itu sudah masuk kamar mereka" ucap Davina turun dari pangkuan mamanya, membenarkan gaun nya dan duduk sambil menyeruput milkshake pesanannya.


"Ayu, bagaimana dia bisa berakting seperti itu, bagus jika ia memasuki dunia seni peran" ucap Adhi masih tertawa mengelus puncak kepala cucu kesayangannya


"Kakek, mama tidak mengizinkan, karena mama takut tersaingi kecantikan" cerocos Davina masih sibuk menyeruput minumannya


"Bocah ingusan, siapa yang bilang kau cantik???" cibir ayudia


"Kakek menurut mu aku cantik tidak???"


"Jelas cantik dong, cucu kakek" ucap Adhi langsung tanpa berfikir


"Mama dengar??? mama hanya iri dan takut aku di kerumuni pria muda tampan" ucap Davina memegang pipinya yang bersemu merah


"Apa cucuku sudah Akil baligh??" tanya Adhi yang melihat ekspresi Davina


"Pa, kadang lebih baik tahu sedikit, dari pada tahu banyak tentang anak itu, sayangi jantung kita" ucap Ayudia mengajak papanya menuju beranda belakang rumah, meninggalkan Davina dengan khayalannya


"Aku hanya khawatir anak itu puber terlalu cepat" desah Adhi


"Pa, percayalah, dia belum puber hanya ada sedikit masalah dengan pikirannya, aku rasa itu karena gen buruk dari kakek ku"ucap Ayudia memijit pelipisnya


Sementara di sebuah kamar , Angelo bersin-bersin beberapa kali membuat Ernest mendekatinya dengan khawatir


"Apa kau flu darling???"


"Hidungku gatal, sepertinya ada yang sedang membicarakan ku" ucap Angelo penuh percaya diri


"Dalam pikiranmu, sudah cepat selesaikan rajutan mu atau kita tidak kembali ke Indonesia" ucap Ernest bertolak pinggang dan meninggalkan seorang pria tua dengan daster dan rajutan di tangannya, siapa lagi kalau bukan Angelo Benedito yang sedang dalam hukuman istri.

__ADS_1


__ADS_2