
Apa Bu Jovanka mengenali mereka???tanya Arjuna
"Ba..bagaimana mereka bisa ....."
"Mereka menjadi brand ambasador iklan perusahaan kita, tapi itu jika Bu Jovanka mengizinkan, ada kelalaian dari bagian pemasaran, belum meminta izin anda ataupun suami anda" Jovanka diam, ada sedikit marah di hatinya, bagaimana mereka bisa mengekploitasi anaknya tanpa sepengetahuannya, namun bagaimanapun ini perusahaan tempat ia mengais rezeki dan mereka di sana terlihat berakting natural, sangat imut dan menggemaskan, bagaimana ia juga tak menyukai video iklan tersebut, namun ia ingat sesuatu, Yeny adalah ketua pemasaran, ia yakin Yenny ikut terlibat di dalamnya
"Ini, saya sungguh kecewa pak Arjun, anak saya masih sangat kecil-kecil, bagaimana mereka bisa syuting tanpa persetujuan saya?? saya kecewa" ucap Jovanka lirih
"Saya akan menggagalkan video iklan ini jika Bu Jovanka keberatan, dan pihak terkait sudah saya berikan sangsi" ucap Arjuna mendesah pasrah.
Rencana launching produk terbarunya terancam gagal dan diundur.
"Saya hanya menyayangkan jika ini terjadi pada orang lain, pasti mereka akan mengambil jalur hukum, namun saya mempertimbangkan kepentingan perusahaan.
Kita butuh iklan tersebut rilis awal bulan ini, saya akan mengizinkan iklan itu terbit, dengan satu syarat,
untuk pihak yang bertanggung jawab saya mau anda memberi sangsi yang setimpal berupa pemotongan gaji, karena walau bagaimanapun itu melanggar hukum, bapak bisa bayangkan jika kasus ini masuk meja hijau, bukankan nama baik perusahaan akan tercoreng dan mempengaruhi pendapatan kita???
saya harap sangsi itu di berikan kepada kepala bagian, bukan kepada karyawan biasa, karena mereka tidak akan bergerak jika atasan mereka tak menyetujui, untuk staf saya mohon beri peringatan saja.
Jika bapak menyetujuinya, saya akan menulis pernyataan izin saya untuk si kembar" ucap Jovanka tersenyum penuh arti
Arjuna terlihat berfikir sejenak, ia menatap sekilas Jovanka yang kembali memasang wajah seriusnya
"Tidak ada salahnya kan sekali-kali membalas perbuatan Yenny yang biasa menindas karyawannya, Dia akan merasakan sakitnya sebuah otoritas yang biasa ia banggakan.
over confidence yang membuat dia tak sadar posisi, mentang-mentang keponakan big bos, seenaknya saja dia berulah dan tidak ada yang berani menyelanya karena rasa takut dan segan.
Siapa tahu sekarang ia membuat kesalahan fatal, dan aku punya alasan meminta dia bertanggung jawab, ya walau kesal anak-anakku di eksploitasi dan kemungkinan akan terbongkarnya jatidiri ku semakin besar, Mungkin ini waktunya, cepat atau lambat pasti akan ketahuan, gak mungkin juga aku bersembunyi selamanya" gumam Jovanka dalam hati.
"Baiklah, aku akan menyetujuinya" ucap Arjuna pada akhirnya
"Saya akan menyerahkan peryataan izin saya ke meja bapak nanti, sekarang saya mohon pamit akan kembali ke ruangan saya" ucap Jovanka bangkit dengan senyum kemenangan
"Siapa papa dari anak-anakmu???" tanya Arjuna tiba-tiba membuat Jovanka membeku di tempat
"Ma..maksud bapak???"
"Anak-anak itu, bagaimana kedua anak kecil itu memiliki wajah delapan puluh persen mirip denganku????
Apa kau wanita pada malam itu??? walau wajahmu tidak bisa ku ingat jelas, aku bisa mengenali aroma tubuhmu" ucap Arjuna menatap lekat Jovanka, sedang yang di tatap terlihat pucat pasi dengan bibir bergetar
"Melihat ekspresi keterkejutannya, ku kira tebakanku tepat, bagaimana kau bisa membawa anak-anakku pergi???"
__ADS_1
"Kau terlalu tinggi menilai dirimu, mereka anak-anakku"
ucap Jovanka tak berani menatap Arjun
"Betulkah, aku ingin berkenalan dengan papa mereka, mengapa wajah anak-anaknya sangat mirip denganku, dan ku pastikan aku tak memiliki kembaran, jadi Bu Jovanka, apa aku bisa bertemu dengan papa anak-anakmu???"
"Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, maaf saya gak bisa mencampur adukkan pekerjaan dan pribadi" ucap Jovanka lalu bergegas melangkah menuju pintu keluar, terlalu lama di ruangan itu bisa membuat jantungnya copot
"Apa ku perlu melakukan tes DNA???" ucap Arjuna membuat Jovanka yang sedang memegang handle pintu berhenti, lelaki ini punya seribu satu cara menyiksanya, Jovanka harus mencari cara untuk membalasnya suatu saat nanti dan membuat pria menyebalkan yang tak lain adalah suaminya sendiri itu bertekuk lutut padanya,
"Lakukanlah jika kau ingin aku melaporkan perbuatan mu ke polisi" ucap Jovanka berusaha menekan rasa paniknya lalu segera bergegas keluar dari ruangan Arjuna, setelah memasuki lift ia baru bisa bernafas
"Dasar pria menyebalkan, kita lihat nanti apa yang akan ku lakukan padamu" ancam Jovanka kesal
Ketika ia keluar dari lift justru bertemu dengan Baskoro yang ingin menaiki lift yang datang bersama Susan
"Ikut denganku" ucap Baskoro masuk lift, mau tak mau jovanka mengikuti mertuanya itu
setelah mereka masuk ke dalam ruangan Baskoro, keduanya masih diam
"Apa ku sudah baikan??? mengapa sudah masuk kerja jika masih sakit???" tanya Baskoro sambil meminum teh nya
"Aku sudah baikan pa, aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku terlalu lama"
"Aku...."
"Sudahlah, bagaimana cucu-cucu ku?? apa mereka baik-baik saja, aku sebenarnya ingin marah karena kau menutupi keberadaan mereka, namun melihat kau memberiku tiga orang cucu sekaligus, aku maafkan kesalahanmu" ucap Baskoro
"Maaf pa, aku hanya berfikir melindungi anak-anakku karena mereka hidupku"
"Aku mengerti, aku akan atur waktu untuk berkunjung kerumah mu"
"Tapi pa, apa tidak sebaiknya aku yang membawa anak-anak menemui papa?? lagi pula aku hanya menyewa rumah itu" ucap Jovanka beralasan
"Aku akan belikan kau sebuah rumah, tinggal kau pilih mau dimana, kau banyak uang Ayu, mengapa harus hidup susah lagi saat papa tahu kau masih hidup.
aku yakin Adhi sangat bahagia mengetahui putrinya masih hidup" ucap Baskoro sedih
"Apa papa tahu kabar papaku???" tanya Jovanka yang tidak berani menemui papanya sejak ia berada di kota ini lagi
"Kita akan mengunjunginya sekarang, kau harus menyampaikan berita bahagia itu sendiri" ucap Baskoro bangkit dari duduknya
"Kita ma..mau kemana pa???"
__ADS_1
"Ikut saja, kau akan mengerti" ucap Baskoro lalu berjalan meninggalkan Jovanka yang masih terbengong-bengong
Saat mereka sedang masuk ke dalam lift, di kejauhan Arjuna melihat mereka
"Papa??? Jovanka?? apa yang mereka lakukan???
aku hanya menggertak Jovanka jika ia wanita yang aku nodai malam itu, sepertinya dugaan ku benar, tak mungkin jika ada seorang anak yang begitu mirip denganku jika bukan anakku"
Arjuna lalu menaiki lift karyawan, ia tak mau ketinggalan jejak papanya dan Jovanka, ia harus tahu semuanya sekarang
Diam-diam Arjuna mengikuti mobil papanya dari belakang, hingga mereka berhenti di sebuah rumah sakit
"Apa yang mereka lakukan di rumah sakit???? apa jangan-jangan papa adalah orangtua si kembar, bukan aku??? astaga aku tak akan memaafkan papa jika sampai si kembar anak-anak papa.
Tinggu saja kakek tua, aku akan memberi pelajaran padamu" gerutu Arjuna mengikuti papanya dan Jovanka menyelusuri lorong rumah sakit hingga mereka berhenti di ruangan VVIP rumah sakit
"Pa, buat apa kita kesini??" tanya Jovanka penasaran
"Ikut saja" ucap Baskoro tanpa memberitahu Jovanka apa-apa
Begitu pintu di buka, pemandangan pertama yang Jovanka lihat adalah seorang pria paruh baya tergeletak tak berdaya diatas tempat tidur dengan beberapa selang menempel di tubuhnya, di sampingnya dua wanita yang tak asing bagi Jovanka, siapa lagi kalau bukan mama dan kakak tirinya, dan penampilan mereka???? apa yang melekat di tubuh mereka barang branded semua, dan perhiasan di tangan ,leher dan kuping mereka, diamond...
penampilan mereka berubah tiga ratus enam puluh derajat dari biasa saja menjadi glamor, Jovanka yakin mereka menghambur-hamburkan uang papanya ketika ia tidak ada
"Papa Baskoro kok gak kasih kabar sama Aurellia kalau papa mau ke sini???" tanya Aurel memasang wajah manis, untuk setelah dari salon ia ke rumah sakit untuk menjemput ibunya, mereka ingin shopping membeli tas branded yang baru rilis
"Iya papa hanya lewat, sekalian mampir, oh ya bisa Kalina tinggalkan kami sebentar?? tanya Baskoro menatap Lia
"Boleh , ayo Aurel kita tunggu di luar
Ucap Lia menarik tangan putrinya, walau sebenernya Aurel enggan
"Siapa dia pa??" tanya Aurel saat melewati Jovanka
"Owh ini manager perencanaan, tadi papa habis meeting di luar, kebetulan kami satu arah, jadi papa menawarkan beliau ikut.
"Ayo kamu ikut kami keluar" ucap Aurell sinis
"Biar dia dengan papa, Aurell sayang, bisa papa minta belikan capuccino dua???"
"Tentu, tentu pa" ucap Aurell bersemangat, ia harus mendapat dukungan dari calon papa mertuanya agar hubungannya dengan Arjuna lancar, walau mereka sudah bertunangan, namun Arjuna belum juga menunjukkan tanda-tanda membawanya ke pelaminan dan itu membuat Aurell frustasi menanti.
Pria itu terlalu dingin padanya, bahkan untuk di sentuh, Arjuna tak mau, ini saatnya mencari dukungan Baskoro agar bisa membantunya mendesak putranya untuk segera menikahi Aurel
__ADS_1