(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Rayuan Axel


__ADS_3

Setelah perundingan yang panjang akhirnya seluruh keluarga setuju Ratih menjalani kemoterapi untuk menghambat sel tumor nya berkembang, hal itu harus segera di lakukan agar sel tumor ganas yang ada di otaknya langsung mati.


Sania hanya bisa pasrah dan tak henti-hentinya menangis mengetahui kondisi mamanya.


Ratna terus berusaha menghibur Sania yang terlihat sangat shock, walau tak bisa di pungkiri jika semua keluarga juga shock dan sedih mendapati kenyataan ini.


Semua keluarga setuju jika Davina lah yang akan menyampaikan berita tersebut pada Ratih, karena mereka menilai jika Davina lebih paham dan tahu bagaimana mengatakannya pada Ratih.


Akhirnya dengan pendekatan hati ke hati Davina berhasil mengutarakan bahwa neneknya itu masih perlu melalukan serangkaian pengobatan, dan Ratih setuju untuk Kemoterapi walau Davina sudah memberikan pilihan pengobatan yang mau Ratih tempuh.


Walau keluarga sudah memutuskan untuk kemoterapi, tapi yang menjalani adalah Ratih, sebab efek kemoterapi agak menyusahkan pasien seperti mual muntah, pusing, selain rambut rontok. Namun saat ini Ratih dalam kondisi kepala plontos di cukur habis sebelum menjalani operasi beberapa waktu lalu.


Demi anak,adik dan cucunya ia mau menjalani semua prosedur pengobatan, apapun resikonya.


Ia tak mau keluarganya sedih lagi karenanya.


Sementara di ruangan lain dokter George sedang membuka perban di wajah Axel pasca operasi pertama.


Operasi Axel juga berjalan dengan baik, kondisi luka di wajah Axel sudah mengering , semua tak lepas dari obat antibiotik dan obat rahasia Davina.


Sehingga operasi plastik yang di jadwalkan akan di laksanakan seminggu lagi akan tetap di laksanakan tanpa ada kekhawatiran.


Dua hari sudah berlalu dengan cepat.


Baik Ratih maupun Axel kondisinya sudah membaik. Axel.bahkan sudah lepas selang infus dan mengunjungi Ratih di temani Ratih di temani Lara.


Ratih secara pribadi meminta maaf atas yang menimpa Axel, walaupun Axel tahu itu tak ada kaitannya dengan Ratih, namun agar membuat wanita paruh baya itu lega.


Axel tahu Ratih memposisikan dirinya sebagai istri Jimmy kala itu, sehingga ia merasa bersalah dengan apa yang menimpa Jimmy, begitu pula sikap Sania beberapa waktu lalu.


Axel hanya menerima dan mengatakan kondisinya baik-baik saja dan meminta Ratih tak perlu khawatir dengan kondisinya,


Diam-diam lara yang sejak merawat Axel, memperhatikan perilaku pria itu dalam diam.


Lara lama kelamaan kagum dengan pria itu.


Walau pria itu sedang sakit namun tingkat ke bawelnya tak berkurang, terkadang juga usil dan humoris sehingga lara sangsi apakah pria itu beneran seorang pasien yang sakit, karena jika di lihat fisiknya pria itu hanya cidera di kepala, namun Lara yakin jika pria itu cidera parah di otaknya hingga Lara menyarankan Davina memeriksa kondisi otaknya geser atau tidak.


Davina yang mendengar keluhan lara untuk pertama kalinya gadis itu mengeluh dengan pekerjaannya membuat Davina tertawa terbahak-bahak.


Davina justru berharap lara belajar menjalani hidup dengan lebih santai, karena sejak mengenal Lara beberapa tahun lalu Lara terkenal serius dan ulet dan irit bicara, sepanjang itu pula ia tak pernah melihat Lara dekat dengan siapapun padahal jika di lihat wajah gadis itu cantik sekali khas wanita Asia.


Lara sangat yakin otak Axel benar-benar bermasalah,


Bagaimana tidak, wajah terbungkus perban layaknya mumi namun masih saja sempat-sempatnya menggoda Lara, membuat Lara risih dan kesal namun terkadang ulah Axel membuatnya tertawa dalam hati, betapa konyolnya pria tersebut.

__ADS_1


Namun di depan Axel ia berusaha cuek dan tak perduli.


"Hai kak, gimana kabar kakak hari ini??" tanya Davina yang tahu-tahu sudah masuk ke dalam ruang perawatan Axel, sementara pria itu sedang asik dengan ponselnya


"Eh ada adik manis, Alhamdulillah kakak sehat, cuma.disini yang sakit karena di tolak sama suster cantik" ucap Axel melirik ke arah Lara yang pura-pura tak mendengar


"Gue rasa bener kata lara, loe yang sakit otaknya" ucap Vincent yang baru saja masuk


"Lah bener gue sehat bro, nih ya gue kasih tau, pagi-pagi udah bangun walau gue masih tidur dan gue masih bisa bedain cewe bohai sama over load" ucap Axel melirik lara lalu Agatha


"Mau gue beri loe ya??" Bentak Agatha sewot, memang berat tubuhnya beberapa waktu ini naik akibat Willy yang memanjakannya dengan memberi makanan enak terus.


"Wah patah loe ngomong gitu sama anak tujuh tahun,.


Mana dia ngerti" ucap Vincent menepuk dahinya melihat kelakuan Axel yang abnormal


"Minta di suntik mati kali adiknya???" ucap Davina asal membuat Vincent dan agatha terbahak-bahak tak terkecuali lara


"Wah kejam loe adik manis, ini aset berharga, lara bisa gak suka ma dua kalau adik gue koit " gerutu Axel membuat Lara terbatuk-batuk mendengar ucapan Axel, apa hubungannya dengan dia???


"Dasar gak punya malu" ucap Lara melempar bantal ke arah Axel


"Bebeb, Abang sedang sakit, mau kemana beb" teriak Axel yang melihat lara keluar dari ruang perawatan dengan kesal


"Hahaha mam*US loe, mulut loe beracun sih sampai si Lara bete tingkat Dewi" ucap Agatha tertawa senang


"Sepertinya kita harus memajukan jadwal operasi Axel, supaya dia bisa mengejar Lara secepatnya.


Playboy cap botol kecap ini sudah ngebet seperti bisul mau pecah liat Lara.


"Awas saja kau macam-macam, ku kebiri adikmu baru rasa" ancam Davina yang di balas tawa semua orang, sementra Axel berlagak ketakutan sambil menutupi bagian intimnya dengan tangannya


"Jangan dong cyin, ini aset berharga, modal masa depan membahagiakan Lara" ucap Axel yang tak tahu lara sudah kembali dengan membawa nampan berisi makan siang Axel.


Dengan kesal ia membanting nampan tersebut ke atas meja di samping tempat tidur


"Dasar gak waras" ucap Lara lalu pergi keluar dari tempat itu lagi


"Beb, bebeb Lara.


Abang padamu" ucap Axel makin tak tahu malu


"Udah Ra, daripada loe main single lebih baik double ada lawan" goda Agatha membuat lara melotot kearah Agatha kesal


"Main single apa sih???" tanya Davina polos

__ADS_1


"Dasar cewek gila, deket-deket loe ponakan gue bisa terkontaminasi" ucap Willy yang tahu-tahu berada di belakang Davina dan menutup kuping Davina dengan telapak tangannya


"Sayang, aku..."


"Bersikaplah baik, " ucap Willy langsung menarik Davina meninggalkan ruang perawatan tersebut


"Bahahahha macam betina ketemu pawang yang pas.


Rasain loe" ucap Axel tertawa puas


Sementara Daffa, Daffi dan Vincent hanya menggelengkan kepala melihat ulah dua orang abnormal itu.


"Sepertinya benar kata Davina loe udah sehat" ucap Daffa sambil meletakkan kotak makan siang yang di buat oleh Ayudia


"Apa nih???" tanya Axel berbinar senang


"Dari nyokap buat anak tirinya, makan gih, apa loe nunggu di suapin Lara???" goda Vincent iri


"Iri ya??? makanya sakit kaya gue" ucap Axel asal


"Gigi loe, maaf gue cukup waras gak kaya loe, cukup loe aja yang begitu" ucap Vincent sewot


Daffa dan Daffi tertawa terkekeh


"Iya bener, cukup dia aja.


kita jangan, bisa berabe kalau otaknya geser semua macam dia" ucap Daffa


"Dah ah kita cabut ke kamar rawat nenek.


lagi si Axel lebih suka di temani Lara di banding kita" ucap Daffa melirik anak buahnya sinis


"Bos, jangan gitu dong bos.


Gue kangen sama loe bos"


"Najis..... emang Eike cowok apaan" ucap Daffa sambil tangannya melambai dan berjalan keluar kamar rawat Axel


"Bossss...." Axel memanggil Daffa namun Daffa sudah pergi di ikuti Daffi dan Axel.


"Sayang suapi aku dong" ucap Axel manja


"Sayang, sayang kepala mu peyang" bentak Lara begitu masuk kembali ke ruang perawatan Axel


"Aduh kalau galak aku tambah naksir, habis kamu cantik"

__ADS_1


"Gila" Lara memilih pergi, keputusan yang salah ia khawatir pada Axel, nyatanya pria itu sehat wal Afiat kecuali otaknya.


__ADS_2