
Acara sederhana di gelar, kini William dan Emillia sudah menikah secara resmi baik agama maupun secara hukum.
Emillia terlihat bahagia, ia dan ayudia berpelukan sambil menangis, Ayudia yang tahu perjalanan cinta Emillia tak kuasa menahan air matanya
"Berhenti menangis ini pernikahanku, bukan pemakaman" ucap William yang langsung mendapat pelototan tajam kedua wanita yang sedang meluapkan perasaan mereka
"Jaga ucapan mu William, kau berkata sesuatu yang tabu, lebih baik diam atau kau akan tidur di luar" ucap Ayudia jengkel
"Aku akan mendepaknya dari kamar, aku tak percaya bisa jatuh cinta pada pria itu Jo, sepertinya aku di pelet" ucap Emillia menimpali sahabatnya
"Bisa jadi, di pria tak normal dan aku juga heran kau mau dengannya" ucap ayudia menambahkan minyak di ucapannya
"Kak ayu, apa kau kakakku???"
"Bukan" ucap ayu santai membuat Willy dan Arjuna tertawa terbahak-bahak
"Kak jaga istrimu, dia memberi pengaruh buruk pada istriku" Adu William pada Arjuna
Arjuna menaikan belah alisnya sambil tersenyum tipis
"Aku rasa istrimu yang memberi pengaruh buruk pada Ayudia. istriku wanita yang terbaik" ucap Arjuna
"Sepertinya kita punya nasib yang sama Jo" ucap Emillia menepuk jidatnya, ia bukanya marah malah mendesah pelan
"Aku setuju, kedua nya kakak beradik yang aneh, aku jadi berfikir mengapa aku menyukai pria menyebalkan itu, ayo kita tinggalkan mereka" ucap ayudia menggandeng pengantin wanita menjauhi suami dan pengantin pria.
Willy tertawa terbahak-bahak dan mendapat sorot mata membunuh dari William dan Arjuna bersamaan.
Willy menaikan kedua tangannya mengibarkan bendera putih, ia lebih baik menyingkir daripada urusan nya panjang.
Davina yang dalam wujud dewasanya mendekati Willy
"Kemana Agatha ku? mengapa hanya kamu sendirian sis??"
"Jangan sok karen deh om, melihat papa dan om William, apa kamu akan tetap menikahi Agatha nanti??? aku yakin nasibmu tak jauh beda dengan papaku dan kakakmu" ucap Davina menakuti
Willy tersenyum kecut, ia masih ingat Arjuna yang kena hukum memalukan dari Ayudia dan kakaknya yang baru menikah namun sudah di tindas Emillia, dalam hati Willy, ia jadi ragu.
Di tambah agatha adalah sosok wanita yang mendominasi, apakah ia bisa hidup nyaman????
"Keponakanku tersayang, bisakah kita tak membahas ini, tapi apa yang kau katakan masuk akal,
Sepertinya aku perlu perjanjian pranikah nanti" ucap Willy lirih
"Siap yang mau melakukan perjanjian pranikah??? apa kau honey???" ucap Agatha tiba-tiba sudah berdiri di belakang Willy, membuat Willy terkejut dan tersedak minuman yang sedang ia minum
"Uhuk, uhuk, uhuk" Wajah Willy langsung memerah karena tersedak
"Sayang minum pelan-pelan, masih banyak stoknya tuh" ucap Agatha tak peka sama sekali
"Kau membuatku terkejut, bagaimana jika calon suamimu tewas krena tersedak????"
"Kubur, lu cari yang lain" ucap Agatha santai
"Dasar cewek gila" ucap Davina meninggalkan kedua pasangan aneh di belakangnya
"Agatha apa kau serius dengan ucapannya???"
"Lia belum menikah denganku tapi sudah merancang perjanjian pra nikah, kau sedang memikirkan rencana licik dengan keponakanmu kan???" tebak Agatha kesal
__ADS_1
"Sayang, kau terlalu banyak berfikir.
hapus imaginasi liar mu itu" ucap Willy menyentil dahi Agatha membuat wanita cantik itu meringis kesakitan
Jika saja itu bukan pria yang ia cintai, mungkin nasib Willy Kana berakhir di ruang IGD dengan beberapa tulang rusuk patah.
Namun agatha tak kan melakukan itu pada Willy karena ia sudah cinta mentok pada Willy.
"Willy sakit"
"Biar kau sadar, buang pikiran buruknya itu, mengganggu"
"Baik, baik, maaf jangan marah lagi, kita makan ok??? aku tak mu bertengkar denganmu" ucap Agatha menjilat
"Dasar bucin" ucap Davina seperti lalat yang terbang dan menempel lalu pergi dengan cepat
"Davinaaaa, aku orang pertama yang Kana menertawai mu saat nanti kamu cinta buta pada kekasihmu, saat itu aku akan bersorak di sisimu"
"Astaga saya aku berpacaran kau sudah tuir, jika saja kau tahu pasti kau tak akan berkata itu. Agatha !!! " ucap Davina tertawa licik
"Kau tidak akan bisa melakukan itu sayang" ucap Willy frustasi, ia lalu berjalan meninggalkan kekasihnya
"Honey apa maksudmu??? kenapa aku tidak bisa???" Agatha berjalan cepat mengejar Willy
"Pesta yang membosankan, aku lebih suka berpenampilan anak kecil.
tapi aku tak bisa karena Agatha di pesta ini" desah Davina memainkan sepatunya, ia duduk sambil menopang wajahnya di meja
Tiba-tiba senyum licik terlihat di wajah cantik Davina, ia berbinar senang melihat ke arah lurus di depannya,ya, dua orang anak laki-laki kembar yang tak lain adalah kakaknya sendiri
otak usilnya langsung bekerja, ia cekikikan sendiri
"Ada mangsa xixixi" gumamnya lirih lalu bangkit dan berjalan mendekati kedua kakaknya yang tentu saja tak akan mengenali Davina
"Eh Tante cantik iya, aku Daffi dia kak Daffa" ucap Daffi yang memang terkenal sopan, sementara Daffa terlihat tak suka.
Sedari kecil Daffa tidak suka orang asing memegangnya, terutama wanita, ia akan berteriak dan menangis saat ada orang yang menyentuhnya atau menciumnya apabila orang itu ia tak kenal
"Tante tolong jaga tangan Tante" ucap Daffi dengan wajah tak suka
"Kak, itu tak sopan, mama gak mengajarkan itu" ucap Daffi mencoba mengingatkan kakaknya, namun justru ia mendapat tatapan tajam Daffa
"Tanganku?? ada apa dengan tanganku??? Adik kecil kamu terlihat lebih tua dari usiamu.
Aku tak percaya jika kalian kembar.
walau ya wajah kalian serupa tapi melihat wajahmu, kamu seperti berusia dua belas tahun tapi kamu cebol" ucap Davina tersenyum, tapi di dalam hatinya guling-guling tertawa.
Daffa. paling benci dikatai tua, dan Davina berhasil menyentil emosinya
"Tante menilai aku tua, tapi apa Tante gak punya cermin, Tante dan ibuku masih terlihat cantik ibuku yang sudah berusia tiga puluh tahun, sedang Tante,..
berusia lebih dari tiga puluh tahun" ucap Daffa mencibir
"Aku tahu kamu mengejekku anak kecil.
Itu tidak sopan"
"Tapi...."
__ADS_1
"Daffa, minta maaf sama Tante nya... kamu gak sopan" ucap Ayudia kesal pada putra sulungnya, Jika saja ia tak penasaran dengan apa yang di bicarakan kedua anaknya dengan gadis cantik, ia tak akan tahu Daffa berkata kasar pada gadis muda tersebut.
"Ma... tapi"
"Dafffaaaaa" Ayudia menatap memperingati
"Maaf Tante Daffa sudah gak sopan" ucap Daffa dengan muka di tekuk
"Apa mereka anak anda??? betapa imutnya mereka berdua
"Itu tak seperti yang kau ucapkan beberapa saat lalu"
"Aku??? bukankah aku mengatakan kalian tampan dan kau marah??? bukan begitu da...fii" ucap Davina menatap Daffi
"Iya kak Daffa yang marah ma saat Tante menegurnya"
Daffa tak terima, adiknya mengkhianatinya demi wanita cantik di depannya.
Daffa mengerutkan alisnya dan melihat mama dan gadis tersebut secara bergantian,
mengapa wajah mamanya memiliki kemiripan dengan gadis di depannya, hanya saja rambut mereka berbeda itu karena Ayudia mengecat rambutnya dengan warna coklat.mata mereka sama biru
perbedaanya hanya di bibir gadis itu yang terlihat lebih penuh dan seksi. Apa adiknya jika besar akan seperti gadis di depannya ini???
Daffa menggelengkan kepalanya, ia hanya berharap gadis itu cantiknya sama dengan gadis itu, namun jangan sifatnya, Daffi melihat sekilas kilatan kelicikan di wajah cantiknya.
Ayudia menjewer kuping anaknya
"Maafkan putra sulung saya ya mba, dia memang sulit berinteraksi dengan orang baru dan mereka kembar tiga, sayang putri kecil saya mengantuk dan sedang tidur.
"Pasti putri mba nya cantik seperti mamanya" ucap Davina sengaja ingin mendengar komentar mama dan saudaranya
"Dia gadis kecil yang cantik dan imut membuat saya ingin terus menciumnya" ucap Ayudia dengan mata yang berbinar
"Itu karena dia bulat jadi terlihat menggemaskan,
kaya tahu bulat gitu . adikku hobby makan, dia pemakan segalanya."
Davina kesal bukan main kedua kakaknya ini bahkan bisa membicarakan hal yang buruk di depan orang asing, Davina langsung tersenyum dingin
"karena kalian yang memulainya duluan, baiklah kita lihat sebesar dan seluas apa perut kalian hehehe" Davina menyeringai lebar
Davina langsung meninggalkan kedua kakak dan mamanya setelah berpamitan, ia kembali ke kamar tidur yang terletak di lantai atas kediaman Baskoro, tentunya setelah melihat keadaan aman.
Setelah kembali ke wujud aslinya, ia langsung turun kebawah dengan ceria, mendekati stand minuman dan memasukkan sesuatu ke dalamnya
"Let's see, kalian akan membulat dengan sempurna" ucap Davina terkekeh
dengan senyum manis ia mendekati kedua kakaknya
"Kakak, aku menawarkan kalian minuman, ini enak sekali" ucap Davina dengan senyum manisnya
"Tumben kau baik? pasti kau merencanakan sesuatu yang buruk"ucap Daffa dengan sorot mata menyelidik
"Sudah sini kalau gak mau" ucap Davina ingin merebut minuman di tangan Daffa
"Kak, kau terlalu curiga, dia sudah berbaik hati memberi kita minuman" ucap Daffi langsung meneguk minuman di tangannya tanpa ragu, ada rasa kasian terlintas di hati Davina, pasalnya Daffi hanya mengikuti Daffa.
Daffa yang melihat Daffi baik-baik saja segera meminum air yang di berikan Davina, Davina menyunggingkan senyum licik
__ADS_1
" 1 2 3........10" Davina menghitung dalam hati, tiba tiba....
Hayo tiba-tiba kenapa???