
"Sayang, apa yang terjadi padamu, aku benar-benar khawatir" ucap Aditya begitu masuk ke dalam ruangan tersebut
"Aku...
Aku memang biasa seperti ini, tak perlu khawatir.,aku tak paa-apa.
ini karena tubuh orang sakit-sakitan" ucap Ratih lirih
Aditya tertegun sejenak, ia melihat perubahan di sikap Ratih, namun ia berusaha tenang.
Bisanya Ratih akan berkata lemah lembut, namun Aditya merasa nada suara Ratih datar dan terkesan dingin.
"Kita pindah rumah sakit ya??"ucap Aditya tiba-tiba.
Ratih terkejut, ia memandang Aditya tajam lalu kembali menatap lurus ke dapan
"Memangnya kenapa kalau aku dirawat disini???
Apa kau takut aku tahu semua masa lalu ku???"
"Bu..bukan begitu, aku hanya ingin yang terbaik"
ucap Aditya gugup
"Apa menurutmu rumah sakit ini tidak bagus???
rumah sakit ini memang baru, tapi mereka langsung mendapatkan predikat baik dari pemerintah, di samping itu juga rumah sakit ini memiliki peralatan modern yang tidak ada di rumah sakit langganan kita, jadi alasan apa yang kau maksud" Yang Terbaik Itu????
apa rumah sakit langganan kita bagus???
atau kamu punya alasan lain memindahkan ku ke rumah sakit itu??? ada yang ingin kamu sembunyikan mas????" cecar Ratih memburu Aditya dengan pertanyaan.
Asia sampai terkejut, Sepertinya Ratih sudah mengetahui latar belakang dirinya.
"Sayang, kamu aneh.
Apa yang bisa aku sembunyikan dari istriku tercinta??? Ratih kita sudah menikah selama lebih dari dua puluh tahun, paa yang ingin kau katakan.
Aku selama ini jujur dan setia padamu.
Hanya kau wanita dalam hidupku"
"Mungkin kau setia, tapi siapa yang tahu apakah kau jujur atau tidak????. Apakah kau tulus atau tidak???
Aku tak pernah tahu" ucap Ratih lirih dan terdengar putus asa
"Sayang, apa mereka mengatakan sesuatu???
jangan dengarkan keluarga itu, mereka berbohong.
Mereka jahat ingin memisahkan kita" ucap Aditya langsung mencari alasan
"Orang yang kami fitnah, orang yang kamu bilang jahat adalah keluargaku mas, Anak , cucu dan mantan suamiku.
Apa keuntungan mereka membohongiku????
apa kau coba membohongiku dengan memutar balikan fakta???" Ratih berapi-api mengingat apa perkataan dokter yang tak sengaja ia dengar waktu dokter memeriksanya, dan ia pura-pura tertidur.
Selain itu Ratih tak tahu paa yang mereka bicarakan lagi, karena dokter meminta cucunya untuk menuju ruang kerjanya, Ratih menduga jika dokter itu ingin mengatakan sesuatu yang sifatnya rahasia dan sepertinya bukan hal yang baik
__ADS_1
Selama ini ia mengkonsumsi obat anti depresi alis obat yang bisa di resep kan dokter untuk pasien sakit jiwa.
Semua obat itu pasti di bawah pengetahuan Aditya, pasalnya ia hanya di perbolehkan berobat ke rumah sakit yang Aditya mau, baik di luar negeri maupun dal.negeri.
Awalnya Ratna tidak pernah curiga, walau akhirnya ia curiga obatnya bermasalah, namun melihat ketulusan Aditya, siapa Yaang percaya pria itu tega melakukannya??
Efek sampingnya jika di minum secara rutin dalam jangka waktu yang lama akan berbahaya, dan Ratih merasakan efek tersebut setelah sepuluh tahun lalu.
Ingatannya perlahan memudar.
"Aku tak akan pindah dari rumah sakit ini, sekalipun kamu memohon mas, jadi berhentilah membuatku marah.
Lagi pula ini rumah sakit cucuku, aku lebih nyaman disini"
"Apa aku tidak salah dengar Ratih bilang rumah sakit ini adalah milik cucunya??? apa Baskoro memiliki cucu yang sudah besar???
Yang aku tahu rumah sakit ini milik Davina sahabat Agatha, apa...
Apa Davina wanita yang terakhir ku temui bersama kedua pria kembar??? dimana Agatha , Vincent dan Axel memanggilnya bos?.
Aku sudah menyelidiki semua keluarga Baskoro, aku tak pernah tahu Baskoro memiliki cucu sesudah besar, yang kutahu....
Astaga, anak kecil yang ku culik bernama Davina, apa itu anak yang sama???? itu gak mungkin!!!!!!" gumam Aditya dalam hati tak percaya dengan pendengaran nya sendiri
Ratih memperhatikan wajah Aditya yang terlihat muram, namun Ratih tak perduli.
Saat ini ia merasa hatinya sakit karena sudah di tipu oleh Aditya, semakin ia melihat Aditya semakin kesal dan marah ia.
Dari awal sampai akhir Ratih tak pernah berhutang sedikitpun pada Aditya, justru Aditya berhutang banyak padanya.
Sakitnya Ratih karena ulah Aditya, ia jauh dari putra dan putrinya juga mungkin karena Aditya.
"Ratih, kalau kau marah katakan padaku, jangan seperti ini. Aku datang dan meninggalkan pekerjaan kantor karena aku khawatir denganmu"
"Mas, please....." ucap Ratih memohon.
Aditya tak bisa berbuat apapun selain pergi, karena percuma juga jika masih di sana Ratih akan semakin marah. Dengan terpaksa Aditya mengalah.
Ia tak mau situasinya semakin buruk
"Baiklah aku pergi, tapi anak buah ku satu biarkan tetap berada disini baru aku setuju" ucap Aditya.
Ratih mendengus dalam hati,
"Aditya sungguh menyebalkan.
Mengapa ia baru tahu jika pria itu sangat licik.
Aditya sengaja meninggalkan anak buahnya untuk memata-matai aku dan orang yang berinteraksi denganku?" Gumam Ratih dalam hati
"Baik" ucap Ratih , saat Aditya ingin mencium kening Ratih, Ratih menghindar
"Sayang??? aku hanya ingin mencium mu"
"Mas, ini tempat umum"
Aditya mendengus kesal dan berjalan pergi di ikuti semua anak buahnya kecuali satu orang yang ia sengaja tinggal untuk mengawasi Ratih.
Sania ingin mencium punggung tangan Aditya, tapi pria itu tak menghiraukannya dan melewatkannya begitu saja.
__ADS_1
Sania merasa sangat sedih. Walaupun Aditya bukan pula kandungnya, tapi Sania sangat menyayangi papanya itu. Mata Sania langsung berkaca-kaca
"Sania, sini nak.
Jangan sedih, mungkin begitulah sifat sebenarnya.
Lagi pula dia bukan papamu"
"Tapi ma?"
"Sudah, jangan ambil pusing.
Mulai sekarang kamu hanya punya mama, mama tak akan meninggalkanmu" ucap Ratih tersenyum lebar
"Mama, Sania sangat sayang mama" ucap Sania merasa terharu.
Pintu kamar tersebut di buka dan masuklah Davina bersama Adrian, mereka menatap lurus ke depan dimana Sania an Ratih berpelukan
"Apa dia melakukan kekerasan pada Mama Ratih?" tanya Adrian khawatir
"Tidak nak, dia tidak berani melakukan apapun padaku"
" Tadi papa Aditya meneleponku, dia meminta aku membujuk mama Ratih dan memindahkan mama kerumah sakit langganan kalian, tapi aku menolak, karena rumah sakit ini jauh lebih baik dari segi fasilitas maupun SDM nya"
"Kau benar nak, itu karena aku menolak dan dia meninggalkan satu telinganya di luar" ucap Ratih sinis
"Telinga???"
"Maksudnya mata-mata pa, ih papa Adrian Lola" ucap Davina main ceplas ceplos membuat tawa Ratih pecah
Melihat kelucuan cucunya ia merasa terhibur.
Walau ia sempat merasa melihat sulap saat Davina kembali ke wujud aslinya, dan diantar semu orang yang baru mengetahui rahasia Davina, Ratih juaranya karena ia tak pingsan sama sekali, hanya menganga lebar dan tertawa.
"Ma, kita periksa yuk.
Hari ini aku dan Davina menjadwalkan mama general cek up, biar kami tahu bagaimana menangani penyakit mama.
Aku dan dokter Gibran yang menjadi dokter mama"
"Mama ikut apa kata Adrian, maaf merepotkan mu ya nak" ucap Ratih pada putra angkatnya
"Mama aneh aja, aku kan putra mama juga, aku gak keberatan" ucap Adrian tersenyum lebar.
"Lara, kamu ikut kami, biar kamu menjadi asisten dokter Adrian selama sesi ini"
"Siap bos" ucap Lara sigap.
Mereka.mendorong Ratih dengan kursi roda menuju ruang Radiologi.
Saat Sania menghubungi Davina, mereka sedang melakukan pembicaraan serius prihal penyakit Ratih.
Dokter Gibran menemukan adanya pertumbuhan yang tak normal di dalam kepala Ratih.
Untuk memastikannya mereka harus melakukan pemeriksaan lengkap.
Keesokan harinya Davina mendapat kabar yang mengejutkan, Axel tidak di temukan di apartemennya, dan apartemennya dalam kondisi berantakan seperti habis terjadi pertempuran Hebat.
Axel di culik Jimmy Chou yang merasa terhina atas ucapan merendahkan Axel beberapa hari lalu.
__ADS_1
Darah segar terlihat berceceran di lantai, sepertinya Axel luka parah. Jika hanya lima orang yang mengeroyoknya , Axel dengan mudah menjatuhkan mereka, namun mungkin Jimmy membawa banyak orang untuk melumpuhkan Axel. Jimmy benar-benar memiliki niat kuat menghukum Axel