
Kini Baskoro dan kedua anaknya sedang menunggu dengan cemas di ruang tunggu, satu jam lalu mereka mendapati deswita bersimbah darah karena memotong urat di pergelangan tangannya, ia di larikan kerumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri karena kekurangan darah.
Kini Arjuna sedang mendonorkan darahnya, karena Bastian punya phobia jarum suntik, Baskoro tak mau memaksakan anaknya itu untuk mendonor, toh Arjuna sudah menghubungi asistennya untuk mencari karyawan yang bergolongan darah sama dengan mama tirinya untuk meminta mereka mendonorkan darahnya karena stock darah sedang kosong.
William sudah mengumumkan tentang hal tersebut, namun beberapa karyawan lama yang mengenal Deswita menolak memberikan darah mereka untuk menolong wanita itu, pasalnya mereka pernah kena makian Deswita ketika bertandang ke kantor menemui Baskoro, sebagian lagi karena mereka pernah di hina oleh Deswita sehingga mereka mengharamkan darah mereka untuk di donor kan pada Deswita, walau terkesan kejam, namun itu hak mereka, Willian tidak bisa memaksa, terlebih ini permintaan tolong, tak ada sangkut pautnya dengan urusan pekerjaan
William maupun Willy menyadari kenyataan itu, sehingga mereka terlihat lesu karena tak mendapatkan satu orangpun yang bersedia untuk mendonorkan darah mereka untuk nyonya besar pemilik perusahan ini, semua karena sikap arogan Deswita sendiri
William memilih menuju kantin, kepalanya berdenyut karena ia belum sarapan sejak pagi, ini sudah masuk jam makan siang, yang artinya ia sudah melewatkan sarapan paginya demi mencari donor darah untuk mama tiri bos nya.
William langsung memesan makanan, setelah sampai ia langsung memakan makan siangnya dengan sangat lahap, hingga saat semua bangku kantin sudah terisi dan Jovanka duduk di sampingnya.
Willian tak tahu karena fokus pada makannya,karena sejak beberapa waktu lalu cacing dalam perutnya sudah berdemo
Sementara Willy memilih menghubungi teman bahkan kerabatnya yang bergolongan darah sama dan mau mendonorkan darahnya.
"Laper banget kayanya pak" sapa Jovanka membuat William langsung menoleh, dan tersenyum malu
"Ah Bu Jovanka, iya nih gara-gara bos cari donor sampai lupa sarapan" ucap William yang memang sudah beberapa kali bertemu dengan Jovanka
"Owh jangan telat pak, bahaya loh bisa maag, jangan sepelekan makan pak" ucap Jovanka yang mendapat anggukan kecil William yang meneruskan makannya
Kini pesanan Jovanka sudah tiba, ia juga memesan dua gelas teh manis
"Nih pa, sepertinya bapak kepedesan" ucap Jovanka menyodorkan satu gelas es teh manis, rupanya ia sengaja karena melihat William yang air minumnya habis.
"Ya Ampun Bu Jo, baik banget, thanks ya" ucap William langsung menyeruput es teh manisnya
"Iya pak, sama-sama" ucap Jovanka langsung mengunyah makan siangnya.
"Oh ya di divisi ibu ada yang golongan darahnya Ab minus gak???"tanya William tiba-tiba
Jovanka terdiam sesaat, ia tidak tahu apakah karyawan di bawah naungannya ada yg memiliki golongan darah itu atau gak, namun yang pasti itu golongan darahnya
"Kalau team saya gak tahu ya pak, saya gak pernah mendata atau bertanya pada mereka, apa perlu saya tanyakan??? "
__ADS_1
"Boleh Bu, penting" ucap William bersemangat, karena hanya divisi perencanaan dan pemasaran yang tak pernah bertemu langsung dengan Deswita, mungkin saja mereka bersedia membantu
"Kalau boleh saya tahu untuk apa ya pa?"
"Itu, jadi ceritanya begini....." William mulai menceritakan jika ia sudah mencari di semua staf mereka tidak bersedia memberikan darah mereka karena sakit hati dengan istri bos yang menghina dan merendahkan mereka
Jovanka hanya mengangguk kecil menyimak cerita William
"Sebentar saya habiskan makannya dulu" ucap Jovanka segera menghabiskan makan siangnya.
Setelah itu ia menelpon asistennya, rupanya tak ada yang sama golongan darahnya
"Ah baiklah Sisi, makasih ya, oh ya, aku akan terlambat kembali ke kantor karena ada keperluan.
tolong kamu handle semua ya, terima kasih" ucap Jovanka lembut.
Semua tingkah laku Jovanka di perhatikan William.
William kagum pada sosok di sampingnya itu, sudah cantik, sopan dan baik hati pada bawahannya, ia tak segan mengucapkan permintaan tolong dan mengucapkan terima kasih atas bantuan dari anak buahnya, seorang pemimpin yang bijaksana seperti Baskoro.
Setelah membayar semua makanan dirinya dan William, Jovanka menghampiri William
"Kemana Bu??" tanya William bingung
"Loh, katanya mau donor??"
"Tapi kan staf ibu gak ada yang bergolongan darah sama" ucap William makin bingung
"Staf saya memang gak ada, tapi saya sendiri bergolongan darah AB minus"
"Serius Bu??" tanya William tak percaya
"Ibu mau mendonorkan darah ibu???" tanya William lagi masih tak percaya
"Sudah ayo pak, setiap detik berharga untuk pasien" ucap Jovanka menyadarkan keterkejutan William
__ADS_1
"Sebentar saya bayar makan siang saya"
"Sudah saya bayar, ayo cepat pak" ucap Jovanka, William langsung malu dan mengucapkan terima kasih berkali-kali, mereka langsung menaiki mobil kantor menuju rumah sakit
"Pak William saya izin telepon sejenak ya" ucap Jovanka langsung meraih ponselnya karena ia khawatir pada anak-anaknya
"Assalamu'alaikum sayang, bagaimana sudah sampai rumah???" tanya Jovanka di ujung telepon
William melirik sekilas dan tersenyum
"Rupanya dia sudah punya suami, mesra sekali" gumam William dalam hati
"Ah sayangnya mama, kalian gak nakal kan??? awas kalau nakal mama gak akan belikan mainan untuk kalian.
iya, iya, mama ingat Daffa minta helikopter remote kan??? Daffi... sama, Davina set kitchen mini.
Tentu aja sayang mama selalu inget kalian anak-anak mama yang cantik dan tampan" ucap Jovanka tertawa kecil
"Hah, anak-anak, tiga??? dua laki-laki satu wanita??? apa dia mengadopsi anak itu, wajahnya tak terlihat sudah memiliki anak, apa ia awet muda????.
Jadi dia menelpon anak-anaknya bukan suaminya???
Jadi penasaran bagaimana tampang suaminya, secara wanita ini sangat cantik, hanya saja ia menutupi kecantikannya dnegan bingkai mata yang jadul. aku yakin wanita ini cantik jika di poles sedikit" ucap William dalam hati
"Astaga apa-apaan aku ini, mengapa ku jadi perduli dengan wanita ini??? ini semua gara-gara bos sialan itu memintaku mencari informasi tentang bu Jovanka, sial aku jadi netizen yang pengen tahu jadinya" ucap William mengumpat dalam hati*
"Ehem, ehem" Wiliam berdehem, bukan maksud hatinya menganggu Jovanka yang sedang menelpon, namun ia bersikap demikian untuk menetralkan pikirannya yang menurutnya sudah seperti netizen yang sok mau tahu dan maha benar
"Sudah dulu ya, ingat tidur siang dan jangan menyusahkan nenek, mama akan pulang seperti biasa, bye anak-anak, assalamu'alaikum" panggilan berakhir
"Maaf ya pak William, saya mengecek anak-anak saya, maklum masih pra sekolah, jadi saya khawatir mereka menyusahkan neneknya"
"Iya gak apa-apa kok Bu, saya mengerti" ucap William tersenyum tipis.
Apa yang ia mengerti??? berumah tangga saja belum apalagi punya anak
__ADS_1
"Jadi berapa anak pak William??? tanya Jovanka polos.
Wiliam tersendak air liurnya sendiri mendapat pertanyaan Jovanka