
Davina meminta Agatha memeriksa kedatangan omnya di bandara, ia sendiri yang akan menjemput om nya.
Davina juga sudah menyiapkan tempat tinggal sementara untuk Tian jikalau dia tidak mau tinggal di kediaman Baskoro.
Begitu banyak yang terjadi dalam kehidupannya, Davina yakin jika Sebastian memerlukan keluarga untuk mendukungnya.
Davina juga takut jika Sebastian tahu bahwa Karen adalah salah Tante nya dari pihak papanya, Sebastian akan shock.
Namun saat ini yang terpenting adalah Deswita mau menjadi saksi atas perbuatan jahat Karen Chou.
Egois memang, tapi Davina harus melakukannya demi semua orang.
Sejak jam sebelas Davina sudah menunggu di lobby kedatangan bandara internasional di kota tersebut.
Ia memakai jaket hitam dipadukan dengan t-shirt dan celana Levis serta sepatu boot panjang membuat dirinya terlihat cantik dan elegan
walau terlihat berpakaian sederhana namun ia tetap menjadi pusat perhatian karena parasnya yang cantik.
Davina pula-pura tak melihat beberapa pasang mata yang memandang kagum padanya, ia lebih senang berselancar di dunia Maya sambil menghisap permen.
Setengah jam kemudian terdengar pemberitahuan kedatangan pesawat yang Sebagian naiki.
Lima belas menit kemudian terlihat Sebastian keluar dari dalam bandara. Sebastian memakai kemeja putih dengan celana Levis membuatnya terlihat sangat tampan dan santai
"Astaga om gue cakep bener" pekik Davina dalam hati melihat Sebastian yang terlihat tampan
Davina langsung bangkit dan mendekati om nya, namun langkahnya terhenti.
Davina tersenyum licik, di otaknya timbul suatu ide.
Dia berjalan menunduk dan pura-pura tak melihat Sebastian, dan menabraknya hingga tubuh mungil Davina terdorong, ia hampir jatuh.
Beruntung Sebastian menariknya dan jatuh dalam pelukan Sebastian.
Namun beberapa saat kemudian Sebastian yang kikuk langsung melepaskan Davina dari pelukannya, wajahnya merona merah.
Davina ingin tertawa kencang melihat om nya yang terlihat pemalu di depan seorang wanita
"Ma..maaf saya tak sengaja" ucap Sebastian membuka kacamatanya
"Bukan salah om kok" ucap Davina masih menunduk
"Apa saya terlihat seperti lelaki tua?? come on girls, saya setidaknya hanya beberapa tahun lebih tua darimu atau ...
Kita mungkin seumuran" ucap Sebastian tak terima di panggil om.
Davina cekikikan, ia tak tahan lagi dan tertawa
"Kalau aku mau panggil om, siapa yang melarang.
Lagi pula umur kita sangat beda jauh, dan om memang lebih tua dari saya. Kita beda empat belas tahun!!!" ucap Davina masih memegangi perutnya yang sakit karena puas tertawa.
Alis Sebastian bertaut. Ia seperti mengenali wanita di depannya, sebenarnya suaranya familiar, lalu ia ingat seseorang dan.....
"Davinaaaaa, anak nakal" ucap Sebastian membuat Davina merenggut kesal karena cepat sekali di kenali oleh Sebastian.
"Ih gak seru cepet ketahuan" gerutu Davina cemberut
"Anak nakal, bisa-bisanya mengerjai om.
Jika kau tidak bersuara, om lupa wajah dewasa mu" ucap Sebastian jujur
__ADS_1
"Ih keponakan sendiri di lupain" gerutu Davina kesal
Sebastian mengacak-acak rambut keponakannya.
Rasa lelahnya hilang melihat Davina yang menggemaskan apalagi ketika dia ngambek.
" Sudah om bilang jangan menjemput, ngomong-ngomong kok tahu om sampai di tanah air jam segini???" tanya Sebastian melirik keponakannya sambil berjalan
"Davina gitu loh om, masa lupa sih????" ucap Davina bangga membuat Sebastian dengan gemas mencubit pipi keponakannya
"Om, om kok tambah ganteng sih??? kalau bukan om sendiri udah aku embat om.
tapi om kita bisa nikah nih, om mau gak nunggu aku besar nanti????" ucap Davina cekikikan sendiri
"Anak bau kencur, mata di jaga jangan mesum.
kalau kamu dewasa om susah tua. lagian siapa yang mau sama ank bau kencur" ucap Sebastian makin gemas pada keponakannya
"Ih om, aku kan muji om, masa di bilang mesum???
Lagian ya om, wajah tampan om tuh makin mateng aja semenjak om di luar negeri.
Aku aja sampai naksir,, sumpah.
Apa gak ada gitu cewek yang kepincut sama om????" tanya Davina penasaran
"Kepo aja nih bocil, cepat yuk, om laper" ucap Sebastian mengalihkan pembicaraan
"Tapi habis makan kasih tau ya om???" ucap Davina berjalan cepat menyusul Sebastian yang berjalan di depannya
"Bawel, cepet" ucap seharian merangkul keponakan kecilnya, ya walau dalam mode dewasa, Davina tetap anak kecil, pemikirannya belum berkembang.
Itu lah yang Sebastian pikir.
Tanpa Sebastian ketahui, Davina bahkan lebih dewasa dari anak sekolah menengah atas.
Keduanya langsung meninggalkan bandara.
Davina lambung melajukan kendaraannya menuju tempat makan favoritnya.
Selain makanannya anak, di sana suasananya juga cozy banget but sekedar santai atau makan sambil santai menikmati suasana yang di suguhkan tempat tersebut.
Setelah makan Sebastian meminta Davina mengantar dirinya ke lapas langsung untuk menemui Deswita, mamanya.
Awalnya Davina menolak karena kasihan pada Sebastian yang pastinya kelelahan setelah perjalanan jauh, namun Sebastian meyakinkan bahwa ia ingin segera menyelesaikan masalah ini, sehingga nantinya ia bisa sedikit tenang.
Sebastian hanya bisa berdoa dalam hati berharap Deswita masih memiliki hati dan kasih sayang padanya dan bisa mengabulkan permintaanya.
Sesampainya di lapas, Davina dan Sebastian langsung menemui Deswita.
Deswita sangat terkejut sekaligus bahagia, akhirnya penantiannya terbayar.
Deswita merasa menjadi wanita yang paling bahagia, putra kesayangannya akhirnya bersedia menemuinya .
Darah lebih kental dari air.
Namun begitu ia masuk ke dalam ruang pertemuan, Deswita tertegun sejenak melihat putranya terlihat akrab dengan seorang wanita cantik, apa itu kekasih anaknya???
Bagaimana Sebastian bisa membawanya ke tempat ini???
Deswita sangat malu dan merasa sedih di saat yang sama.
Jika saja ia tak jahat, mungkin putranya akan memiliki kehidupan yang baik dan memiliki pacar, mengenalkannya padanya.
Bahkan Deswita membayangkan jika Sebastian suatu saat nanti punya anak, ia akan menjadi nenek
__ADS_1
Jika dulu Deswita sangat percaya diri, namun kini??? ia bukan siapa-siapa, ia hina dan aib bagi putranya sendiri.
"Mama" ucap Sebastian menyadari kedatangan Deswita dan bangkit dari duduknya
Deswita yang ingin pergi membeku di tempatnya
"Ti...Tian" ucapnya canggung
"Ma, duduklah.
Bagaimana kondisi mama???" tanya Tian pedih melihat keadaan mamanya.
sebenci apapun ia pada Deswita, wanita ini tetap mama kandungnya, wanita yang sudah berjuang melahirkannya.
walau penasaran siapa papa kandungnya, Sebastian lebih memilih menyimpannya dalam hati.
Sebastian terlalu penakut untuk tahu kebenarannya.
Ia takut kenyataannya akan lebih buruk lagi.
Cukup Baskoro papanya, ya walau ia juga merasa kecewa dengan Baskoro, namun setidaknya Baksoro lebih baik dari papa kandungnya.
Sebastian menatap mamanya yang terlihat lebih kurus dan hitam, wajah cantik mamanya kini terlihat ada garis tua dan kelelahan.
"Mama baik-baik saja nak" ucap Deswita merasa hatinya hangat
"Apa mama kurang sehat?? wajah mama pucat" ucap Sebastian khawatir
"Mama baik saja sayang, jangan khawatirkan mama.
Bagaimana keadaanmu nak.
Kau juga terlihat lebih kurus dan tidak bercukur.
Kau terlihat lebih dewasa" ucap Deswita memegang wajah putra tercintanya.
"Aku baik-baik saja ma, aku hanya masih sedikit kecewa. Aku sudah mengikhlaskan semuanya dan ku harap mama bisa ikhlas menjalani Hukuman mama dan merenungi setiap kejahatan yang mama lakukan" ucap Sebastian Tanpa menutupi apapun
"Mama mengerti nak, mama menyadari kesalahan mama. maaf kan mama.
Mama tahu kamu sulit untuk memaafkan mama, tapi mama mohon jangan benci mama.
Hanya kamu satu-satunya keluarga mama" ucap Deswita setengah memohon.
"Beri aku waktu ma, tapi yang jelas mama tak usah khawatir. aku akan selalu jadi anak mama dan akan selalu menanti mama menyelesaikan hukuman mama" ucap Sebastian Menggenggam tangan Deswita.
Deswita menatap putranya, sedih bahagia dan bersyukur. Deswita menangis haru
"Terima kasih sayang, mama...
Mama menyayangimu nak, segenap hati mama" ucap Deswita lirih. kedua orang itu melupakan keberadaan Davina. Walau Deswita jahat Davina bisa melihat ketulusan Deswita menyayangi putranya.
"Ma, aku mau meminta sesuatu pada mama" ucap sebastian lirih
"Katakan nak, bahkan jika kamu meminta nyawa mama, mama akan menyerahkannya padamu" ucap Deswita penuh keyakinan
"Tian harap mama mau menjadi saksi atas kejahatan bi Atun" Deswita menyipitkan matanya menatap putranya
"Ma, aku mohon, anggap saja ini permohonan ku yang terakhir karena aku tak punya permohonan lain.
Tidak ada seorangpun yang memintaku untuk melakukanya. Aku hanya ingin membalas hutang jasa pada papa Baskoro.
Walau aku tahu dia bukan papa kandungku, bagiku dia papaku ma, aku menyayanginya seperti aku menyayangi mama.
Aku hanya ingin mama bebas secepatnya setelah menjalani hukuman dan kita bisa hidup bersama-sama lagi. Aku akan menjadi putramu yang penurut" Deswita terdiam dan terlihat sedang berfikir.
__ADS_1