
Itu" tunjuk Mauren pada seekor anjing berwarna coklat tua
"Dia??? " ucap Daffa dan Daffi serentak.
Mauren dengan santai mengangguk sambil tersenyum bangga
"Ku kira dia pintar, nyatanya bodoh" ucap Daffi menepuk keningnya sambil memutar bola matanya malas
"Ren-ren gak bodoh kak, cuma...." Davina menggigit jari tangannya berfikir kalimat yang tepat, ia tak suka di ejek oleh kakak kembarannya
"Cuma pikirannya dikit" celetuk Daffa datar
"Iya, iya cuma pikilannya dikit" ucap Davina mengulang ucapan kakaknya
"Kak, apa kita perlu mengganti adik??, rasanya Davina dan Mauren cocok jadi adik kakak" ucap daffi mengeluh
"Tidakkah kau lihat, Davina membawa gen mama" ucap Daffi menatap adiknya yang tampak sedih karena ucapan Daffi
"Atu gak mau di ganti" terima Davina dengan mata berkaca-kaca
"Kali ini aku setuju padamu, Davina memang Persis mama, dunia perlu balance kak Agar tidak jomplamg, semua berpasang-pasangan, ada pandai ada yang kurang pandai, seperti..."
"Atu pintal" teriak Davina menatap marah Daffi
"Jangan dengarkan Daffi, kau pintar, seperti mama , sedikit ceroboh. Tapi kau adik kakak yang paling cantik" ucap Daffa memeluk adiknya dan memelototi Daffi kesal. Mereka sedang panik mencari mama mereka, jika Davina nangis tak ada yang bisa membujuknya selain mama mereka dan itu akan membuat kepalanya makin pusing.
Daffi yang sadar ia sudah membuat kesalahan, langsung menggaruk kepalanya dan tersenyum bodoh
"Maafkan aku dek" ucpa Daffi mencoba merayu Davina
"Atu gak mau kak Daffi, kakak jahat, aku sayang kak Daffa" teriak Davina tak mau menerima jabatan tangan Daffi
"Davina, kalau orang minta maaf harus apa??, apa kamu lupa?" tanya Daffa menatap adik bungsunya
Davina menaruh kedua tangannya di belakang tubuh mungilnya, kepalanya menunduk
"Ayo baikan, kita harus mencari mama, setelah itu minta ice cream sama mama" bujuk Daffa membuat Davina langsung menatap dengan bola mata berbinar
__ADS_1
"Atu mau ice cream" teriaknya kegirangan
"Ayo baikan" ucap Daffa. lalu Daffi dengan malas berjabat tangan dengan Davina di bawah pandangan tajam Daffa
"Daf-daf pria impianku, suami masa depanku" ucap Mauren tiba-tiba dengan wajah memuja Daffa
"Bertingkah lah seperti anak kecil, kah masih terlalu hijau untuk memikirkan pacaran. tidur saja masih di Nina bobokan" cibir Daffa membuat mata Mauren berkaca-kaca, sedih
"Kau juga masih kecil, tapi berprilaku tua kak" sela Daffi, namun Daffi langsung menutup rapat mulutnya karena Daffa memelototinya dengan pandangan membunuh
"Tutup mulutmu selagi bisa, atau aku akan memblokir semua game yang ku pinjamkan padamu" ancam Daffa dingin.
Daffi merasa bulu kuduk ya berdiri. kakaknya itu terkadang seperti... setan kecil yang menyeramkan, Daffi kadang heran mengapa wajah mereka sama persis namun kakaknya memiliki aura menyeramkan dan dingin di saat yang sama
"Aiya kak, aku hanya bercanda, ya kan Davina???" Tya Daffi mencari dukungan
"Enggaaaakkk" teriak Davina bersedekap dada masih menabuh genderang perang diantara mereka, Daffi langsung lemas karena tidak di dukung adiknya itu
"Aku tetap suka kamu daf-daf, tunggu aku besar dan lihat kau pasti suka aku" ucap Mauren belum menyerah
"Urus gigi susumu yang bolong itu, baru kau pikirkan aku, aku takut gigimu tak akan numbuh!!!!, wanita tanpa gigi, siapa yang suka" ucap Daffa pedas,
Sementara tanpa mereka sadari Miss Dewi, wali kelas mereka.
Miss Dewi tertawa kecil mendengar percakapan si kembar, ia sangat terkagum-kagum dengan Daffa dan Daffi, percakapan mereka tidak seperti anak seusianya, dan keduanya seperti bukan murid taman kanak-kanak karena pemikiran mereka dewasa seperti anak sekolah menengah atas.
Miss Dewi jadi penasaran, apakah si kembar memiliki IQ diatas rata-rata???? mereka sudah pandai membaca, menulis, bahkan Daffi sudah pandai berbahasa inggris, hak tersebut pernah tanpa sengaja ia curi dengar saat kedua kembar identik itu bercakap-cakap rahasia di depan kembarannya yang bungsu.
"Anak-anak, sebentar lagi jam pelajaran di mulai, ayo bersiap masuk kelas" ucap Miss Dewi mengagetkan mereka
"Iiya Miss" ucap mereka serempak.
Miss Dewi lalu masuk ke dalam ruang kantor, bersiap membawa buku pelajaran
"Kalau tidak sekarang, kita akan terlambat" ucap Daffa, ia langsung menarik Davina berjalan menuju pagar tanaman di sisi belakang taman kanak-kanak, di sana memang ada celah kecil yang di sediakan untuk anjing pemilik taman kanak-kanak untuk berlalu lalang.
Daffa langsung membungkuk keluar dari lingkungan sekolahan melalui celah tersebut, lalu di ikuti Davina, dan Daffi,, terakhir Mauren yang keluar
__ADS_1
"Mauren, kamu gak usah ikut, kamu mau menemui mama" ucap Daffi
"Aku juga mau mama" ucap Mauren menundukkan kepalanya sedih, Daffa dan Daffi tahu jika orangtua Mauren sudah meninggal sejak ia kecil merasa kasian
"Baiklah, pegang tangan kak Daffa jangan sampai kau ilang" ucap Daffi serius
"Kau yang pegang dia, aku pegang Davina" ucap Daffa tak terima
"Baik-baik," ucap Daffi tak mau berdebat.
mereka berempat lalu berjalan sambil bergandengan tangan, wajah mereka yang tampan dan cantik membuat mereka menjadi pusat perhatian, bahkan ada yang sengaja memfoto mereka, yang pria kecil tampan dan terlihat sombong sedang yang wanita cantik dan imut seperti Barbie
Tiba-tiba langkah mereka di hentikan seorang wanita muda yang keheranan melihat empat anak kecil berjalan bergandengan tanpa ada yang mengawasi
"Adik kecil, kalian mau kemana??? mana orangtua kalian????" tanya wanita muda itu berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan ke empat anak kecil itu
"Mama kami hilang" ucap Davina dengan wajah ingin menangis
"Hilang???, bagaimana mungkin??? kalian mau kemana?" tanya wanita itu
"Mau ke kantor mama, mama di culik di sana" ucap Davina asal membuat Daffa melotot
"Kakak cantik, bisa tolong bantu kami, mama kami di kantor dan kami mau menemuinya,, tolong pesankan taksi online" ucap Daffa
"Ah itu....." wanita itu bengong, ia takut ketiga anak ini malah di bawa oleh orang jahat, mereka seperti boneka Barbie, terutama si kecil yang bergandengan tangan dengan kakaknya
"Apa kalian kembar???" tanya wanita itu kemudian setelah memperhatikan Daffa dan Daffi
"Kami kembar tiga" ucap Daffi bangga, mereka sudah biasa melihat tatapan kagum orang-orang
"Kembar empat" ucap Davina memegang Mauren
Daffa dan Daffi hanya memandang adiknya dan memutar bola mata mereka malas, Bagaimana kembar empat, kembar tiga saja tubuh mungil mamanya sudah susah menampung mereka, kembar empat, mamanya bukan kucing!!! pekik Daffa dan Daffi dalam hati
"Ya Tuhan, Kalina imut-imut sekali" ucap wanita itu kemudian
"Tante, apa kau mau menolong kami atau tidak???" ucap Daffa mulai kesal karena wanita itu malah sibuk selfie-selfie sendiri, kadang memeluk mereka erat, membuat Daffa jengah
__ADS_1
"Uhm kemana kalian pergi??? oh ya, nama Tante ....